TREK NOTES MENJELANG DAN PASCA PEMILU 9 APRIL 2014

25 Maret 2014

Hari Selasa ini sungguh sial–untungnya belakangan mampu mencarikan solusi. Satpol PP merampas bawaan, lalu menyerahkan ke Dinas Sosial Surabaya di Keputih (LIPONSOS). Masuk Barak-D, bagian Gepeng (gelandangan dan pengemis). Entah bagaimana menceritakannya. Yang jelas dari sini mampu mengubah jalan cerita hidup kita–sebagaimana akan dituliskan.

09 April 2014

Hari Rabu. Hari ini pemilu tahap pertama dilaksanakan.

Wilayah Denanyar, Jombang pinggiran. Tetapi suasana TPS tidak terlihat ramai. Ini berbeda dengan pengalaman penulis ikut nyoblos ketika masa reformasi baru muncul. Tampak di pagi ini beberapa warga duduk di kursi yang disediakan panitia. Tetapi banyak yang kosong, terutama bagian tengahnya. Tidak jauh beda dengan di TPS 19, wilayah yang sama. Suasana nampak sepi-sepi saja.

Adapun suasana di luar, penulis merasa ada nuansa yang berbeda. Tetapi jika dirasakan justru lebih mirip hari raya.

[Sisipan:

– Mengapa orang-orang sering terdengar menyanyi-nyanyikan atau melagu-lagukan suatu irama tertentu di saat suasana sunyi atau di tengah kesunyian. Pada awalnya penulis menduga itu adalah perilaku orang pada umumnya untuk mengatasi stres karena depresi tinggal di blok seperti ini. Tetapi baru kemudian ketahuan bahwa yang biasa melakukan ini adalah orang-orang buta, entah sejak dari sananya atau kemudian. Yang penulis amati adalah orang buta yang memiliki keadaan tubuh seperti seorang pria yang gagah. Ini menarik, karena lagu-lagu itu lebih mirip irama pembentuk sebagai ganti dari kehilangan penglihatannya, disamping orng buta itu nampaknya ia cacat dari sejak kecilnya, atau mungkin dari sejak lahir (sayang penulis tidak sempat bercakap-cakap).

– Menurut keterangan seorang yang dari Rembang, dia bisa dapat makan gratis berkali-kali adalah dari perayaan-perayaan pernikahan. Ini artinya dia menggunakan sesuatu kebaikan-kebaikannya sendiri yang pernah dilakukannya (menurut pengakuannya dia ini pernah menikah dan sudah punya anak, jadi tentu saja pernah menyelenggarakan pesta pernikahan juga kan?).

– Juga dari orang Rembang yang sama, dia mengaku kena masalah soal tanah. Dari sini penulis menyimpulkan bahwa persoalan tanah milik ini memang merupakan hal yang penting, bukan hanya sekedar orang mencari-cari masalah seperti di desa penulis.

– Berdasar keterangan seorang pengantar ‘Pemulangan’, penulis menangkap adanya ‘science of government’. Yang membuat penulis terkejut juga adalah adanya ‘rasionalisasi’ yang dimiliki sains semacam ini. Selain itu, meskipun cara pengajarannya cenderung ‘memanfaatkan’ kemampuan tingginya imajinasi, tetapi merupakan masukan yang menarik untuk dikaji dari sisi ‘seni pemerintahan’ di daerah, dhi adalah pemkot Surabaya.

– Dari pidato pembuka oleh bapak Supomo, kepala Dinsos Kota Surabaya, penulis kaget menemukan bahwa orang-orang dalam pemerintahan kota Surabaya ini memiliki ‘prestasi’ yang bisa dikatakan sebagai bagian dari kepandaian (kemampuan berpidato di depan umum merupakan sebuah prestasi). Penulis teringat pada almarhum ayah penulis sendiri yang memiliki semacam ini, meski tidak sampai pada tingkat Walikota.

– Perilaku orang-orang stres memang seperti kita temukan pada diri kita sendiri: ‘ngomong dhewe’. Tetapi ada yang wujudnya bukan ‘ngomong’, tapi ‘obah dhewe’. Fakta lain, bukan hanya orang-orang gila psikotik ataupun perilaku-perilaku seksual yang menyimpang atau melanggar norma saja yang melihat-lihat waktu. Waktu akan sholat, waktu maghrib, persis seperti kita ekspresikan dengan ‘diam’ itu, tetapi perilaku stres pun juga demikian.]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: