JURNALISTIK ISLAM

As-salaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh

Asy-hadu al-la ilaaha illallaah wa asy-hadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuulullaah

Allaahumma shalli wa sallim wa barik ‘alaa sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aalihi wa shahbihi aj-ma’iin

Para Blogger Rohimakumullah,

Mungkin di antara para blogger ada yang sedikit merasa asing dengan istilah jurnalistik. Akan tetapi jika kemudian disebutkan sebuah istilah lain untuk menjelaskannya spontan bibir akan membulat terperangah sambil latah mengeluarkan bunyi “Ooooh…!”. Istilah itu adalah wartawan.

Ya, istilah yang baru disebutkan itu memang sudah terlalu familiar–kalau tidak bisa dibilang terlalu ada–dalam keseharian kita. Demikian pula dengan istilah Islam, yang merupakan agama mayoritas dari penduduk Indonesia hingga saat ini–termasuk penulis sendiri. Tetapi bila dua istilah itu digabungkan, yaitu istilah jurnalistik dengan istilah Islam maka akan muncullah sebuah istilah yang masih belum populer hingga saat ini yaitu jurnalistik Islam.

Aneh juga sebenarnya apabila dibandingkan dengan perkembangan ilmu-ilmu lainnya. Ketika ilmu ekonomi bersinggungan dengan Islam lahirlah ekonomi syariah. Demikian pula ketika ilmu psikologi bersentuhan dengan Islam lahirlah psikologi Islam. Bagaimana ketika jurnalistik berhadapan dengan Islam? Memang istilah jurnalistik Islam kemudian lahir. Akan tetapi  penulis tidak pernah mendengar ataupun melihat adanya kesungguhan dari tokoh-tokoh yang membidani kelahiran istilah ini untuk mensosialisasikan bahkan kemudian mempopulerkan istilah ini kepada masyarakat luas. Terbukti dengan ketidakpopulerannya istilah ini di masyarakat luas.

Penulis sendiri tidak merasa sebagai orang yang berperan dalam melahirkan istilah jurnalistik Islam itu. Akan tetapi melihat perkembangan seperti yang penulis sebutkan itu, ada semacam kesadaran dari dalam diri penulis sendiri untuk–setidaknya–memikirkan dan–bahkan–kemudian menindak-lanjuti perkembangan dari jurnalistik Islam itu sendiri.

Selain dari itu, jurnalistik sendiri bermacam-macam, seperti halnya wartawan itu juga bermacam-macam. Dari sebuah sumber dikatakan bahwa “Berdasarkan jenis media dan teknik publikasinya, jurnalistik dapat dibedakan menjadi jurnalistik cetak, jurnalistik elektronik, dan jurnalistik online.” [http://jurnalistik-smpitpermatahati.blogspot.com/2013/02/apa-itu-jurnalistik.html]. Nah, untuk membatasi obyek bahasannya, maka yang dimaksud dengan jurnalistik oleh penulis adalah jurnalistik cetak (print journalistics). Hal ini sesuai dengan bidang jurnalistik yang penulis geluti. Selanjutnya sumber itu menyatakan bahwa “Jurnalistik cetak (print journalism) adalah proses jurnalistik yang produk atau laporannya ditulis dan disajikan dalam media massa cetak (printed media), seperti suratkabar, tabloid, dan majalah.

Teknik penulisannya menggunakan “bahasa tulis” (written language) bergaya “bahasa jurnalistik” (language of mass media), bercirikan antara lain hemat kata, sederhana, mudah dimengerti, tidak mengandung arti ganda, dan umum digunakan.
Perlu untuk ditinjau di sini mengenai istilah dan definisi jurnalistik cetak itu. Penulis lebih condong pada istilah jurnalistik media cetak daripada jurnalistik cetak. Hal ini bersesuaian dengan jenis medianya, yaitu media cetak seperti koran, majalah, tabloid, dan lain sebagainya itu. Sedangkan istilah jurnalistik cetak itu meragukan, karena apakah segala produk cetak itu bisa menjadi media jurnalistik. Sedangkan mengenai definisi dari jurnalistik media cetak itu sendiri penulis memiliki sebuah teori tentang pengaruh kemajuan di bidang teknologi percetakan terhadap perkembangan kemampuan di bidang jurnalistik. Teori tersebut menyatakan ada hubungan timbal balik yang saling menguntungkan antara jurnalistik dengan kemajuan teknologi di bidang percetakan. Di satu sisi kemajuan teknologi di bidang percetakan mendapat keuntungan berupa penyebarluasan kemajuan mutakhir yang berhasi dicapai di bidang teknologi percetakan. Di sisi lain, jurnalistik juga mendapat keuntungan dengan kecanggihan dari teknologi percetakan yang paing mutakhir itu untuk memperkembangkan produk-produk jurnalistiknya. Nah, berdasar teori itu, maka definisi mengenai jurnalistik media cetak adalah jurnalistik yang memanfaatkan teknologi percetakan untuk mempublikasikan produk-produk jurnalistiknya.

Para blogger yang disayangi Allah,

Apa yang dimaksud dengan jurnalistik Islam itu? Sebelum penulis membahasnya secara lebih ‘mengena‘ mengenai peristilahan jurnalistik Islam itu, pertama-tama penulis ingin membahas mengenai bagaimana proses Islamisasi sebuah ilmu itu. Dan untuk tujuan itu penulis mengajukan dua buah teori yang ditinjau dari latar belakang pendidikan dasar yang direncanakan akan dijalani oleh seseorang dengan asumsi dasar bahwa seseorang itu sebelum merencanakan jalur pendidikan untuk dirinya sendiri itu di dalam dirinya memang sudah ada bakat bawaan sebagai seorang jurnalis.

Teori pertama adalah seseorang itu merencanakan bahwa jalur pendidikan formalnya adalah sekolah-sekolah non-Islam dalam arti ia tidak sekolah di sekolah Islam yaitu SD, SMP, SMU, hingga Perguruan Tinggi yang non-Islam. Nah, untuk orang-orang seperti ini, hendaknya selalu diberi pengarahan dan bimbingan agar memberikan kepada dirinya sendiri tentang wawasan ke-Islam-an. Penulis rasa sudah banyak sekolah-sekolah non-Islam yang telah menerapkan kebijakan yang sejalan dengan teori pertama penulis tentang Islamisasi sebuah ilmu ini. Suatu misal diadakannya acara istighotsah sebelum UAN, lomba-lomba di perayaan Maulid Nabi, bahkan ada Pendidikan Agama Islam. Ini teori yang pertama.

Teori kedua adalah seseorang itu merencanakan bahwa jalur pendidikan formalnya adalah sekolah-sekolah Islam, baik di Pondok Pesantren atau tidak seperti MI, MTs, MA, hingga Universitas Islam. Nah, untuk orang-orang seperti ini, hendaknya selalu diberi pengarahan dan bimbingan agar memberikan kepada dirinya sendiri tentang wawasan ke-ilmu jurnalistik-an. Penulis melihat bahwa pendidikan formal dengan dasar Islam ini telah memperkenalkan pelajaran-pelajaran tentang ilmu lain selain tentang ke-Islam-an, seperti ilmu sosial, ilmu alam, ilmu psikologi, dan sebagainya.

Para blogger yang dirahmati Allah,

Selanjutnya penulis perlu menjelaskan mengenai apa wawasan ke-Islam-an bagi jurnalistik itu dan apa wawasan ke-ilmu jurnalistik-an itu bagi Islam. Tetapi sebelum memasuki pada tahap pemberian wawasan ini, pengkondisian perlu diciptakan terlebih dahulu. Ibarat petani yang ingin menanam padi di sawah, maka agar memberikan hasil yang memuaskan lahan pertaniannya terlebih dahulu diolah dahulu seperti dicangkuli, dibajak, dan lain sebagainya sehingga membentuk suatu kondisi yang memungkinkan bagi padi untuk tumbuh di lahan itu. Dan untuk tujuan ini–lagi-lagi–penulis mengajukan dua buah teori.

Teori pertama adalah jurnalistik itu adalah merupakan suatu disiplin ilmu sebagaimana ilmu-ilmu lain seperti psikologi, ekonomi, dan lain sebagainya. Nah, sebagai sebuah disiplin ilmu, maka jurnalistik juga perlu mengalami perkembangan selayaknya sebuah ilmu. Artinya semua pengetahuan tentang jurnalisme baik yang telah, sedang, maupun akan berkembang untuk kepentingan jurnalisme itu sendiri diberi ruang tersendiri. Suatu contoh adalah sebelum diketemukannya mesin cetak, segala hal yang bernilai jurnalistik adalah kerja tangan manusia. Nah, seiring dengan perkembangan jaman, dunia telah mengenal mesin cetak sehingga jurnalistik kemudian dikenal tidak lagi sebagai karya tangan melainkan sebuah industri yang pengerjaannya telah melibatkan mesin yang penemuannya dipelopori oleh Guttenberg itu. Secara teknis, dulu dalam menulis suatu berita misalnya, maka orang memikirkan bagaimana hasil akhirnya jika berita itu dipindah-tangankan ke media daun lontar misalnya. Tetapi ketika kemudian mesin cetak diketemukan, maka orang akan memikirkan bagaimana hasil akhirnya jika tulisan yang mula-mula ditulis di atas kertas itu dikerjakan oleh mesin pada media kertas. Mesin cetak itu sendiri kemudian mengalami perkembangan yang makin canggih. Dan akhirnya, di jaman ini, komputer telah ikut berperan dalam pengelolaan materi-materi jurnalistik, di mana persebarannya pun telah mengalami revolusi pula: tidak hanya di dunia ‘nyata‘ tetapi juga di dunia ‘maya‘ yaitu melalui Internet. Sekali lagi, secara teknis orang akan berpikir bagaimana hasil akhirnya jika tulisannya yang diketik dengan komputer itu ditampilkan dengan ‘wajah ‘ online. Ini semua adalah gambaran secara umumnya yang intinya adalah jurnalisme itu merupakan suatu disiplin ilmu pula sebagaimana disiplin ilmu yang lain.

Teori kedua adalah tentang hubungan simbiosis mutualisma antara jurnalistik sebagai disiplin ilmu dan Islam sebagai agama. Teori ini menyatakan bahwa antara ilmu jurnalistik dengan Islam itu hendaknya terjalin hubungan timbal balik yang saling memberi manfaat satu sama lainnya. Itulah: ilmu jurnalistik memberikan manfaat pada Islam, dan Islam memberikan manfaat pada ilmu jurnalistik. Kemajuan di bidang jurnalisme misalnya, diharapkan bisa turut memberikan sumbangan bagi perkembangan Islam. Contoh yang sederhana adalah bila koran bisa dikerjakan dengan mesin cetak, mengapa mesin cetak untuk koran itu tidak disumbangkan saja untuk mencetak dan menyebarluaskan al-Qur’an? Sebaliknya Islam diharapkan juga memberikan manfaat bagi jurnalisme. Misalnya saja, dalam Islam dikenal ilmu sanad untuk meneliti kesahihan hadits. Nah, mengapa wawasan tentang ilmu sanad ini tidak diberikan kepada para jurnalis biar dalam menyusun sebuah berita para jurnalis itu menjadi kian selektif?

Para blogger yang dirahmati Allah,

Apa yang dimaksud dengan wawasan ke-ilmu jurnalistik-an bagi Islam itu? Apa yang dimaksud dengan wawasan ke-Islam-an bagi jurnalistik itu? Berikut akan penulis coba untuk menguraikannya satu per satu.

Pada dasarnya yang dimaksud dengan wawasan ke-ilmu jurnalistik-an itu tidak lain adalah bagaimana jurnalistik itu bisa menjadi suatu disiplin ilmu yang mandiri dalam arti tidak tercampur dengan disiplin-disiplin ilmu yang lain, dan ini artinya adalah memahami apa jurnalistik itu.

Robbanaa aatinaa fid-dunya khasanah, wa fil aakhirati khasanah, wa qina adzaban naar

Alhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin

As-salaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: