FENOMENA SEKS BEBAS DI KALANGAN GENERASI MUDA

As-salaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh

Asy-hadu al-la ilaaha illallaah wa asy-hadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuulullaah

Allaahumma shalli wa sallim wa barik ‘alaa sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aalihi wa shahbihi aj-ma’iin

Para Blogger Rohimakumullah,

Membahas topik seks bebas sama artinya dengan membahas cara mengekspresikan cinta yang paling melanggar norma-norma masyarakat [http://sight-wigen.blogspot.com/]. Tetapi bukan itu, yaitu bukan tentang bagaimana cara mengekspresikan cinta yang paling melanggar norma-norma masyarakat, yang ingin penulis bahas dalam tulisan kali ini. Tetapi suatu upaya menjelaskan bagaimana fenomena ini mewabah di kalangan generasi muda saat ini.

Para blogger yang dikasihi Allah,

Pertama-tama penulis ingin membahas mengenai peran IT sebagai media promosi. Perkembangan yang pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini memang berkaitan erat dengan fenomena seks bebas di kalangan generasi muda itu. Penulis tidak berprasangka tetapi memang mencurigai bahwa pesatnya perkembangan IT itu memiliki peran yang paling dominan dalam memunculkan fenomena seks bebas itu. Katakanlah bahwa fenomena seks bebas itu sudah ada bahkan jauh sebelum kemunculan era IT ini, itu karena media untuk mempromosikannya berbeda. Kalau dulu, tidak usah jauh-jauh katakanlah di era kemunculan televisi, maka televisi merupakan media yang ampuh pada masa itu untuk mempromosikan paham seks bebas ini, apakah melalui film, tayangan berita, maupun iklan. Tetapi media televisi masih dapat dikontrol bahkan dikuasai oleh pemerintah. Karena itu ledakan pengaruhnya tidak terlihat massal. Berbeda dengan IT ini, pengontrolan nampaknya mustahil sehingga dampak yang ditimbulkan terhadap pelanggaran norma-norma yang berlaku di masyarakat ini bak gelombang tsunami yang sangat sulit untuk dibendung lagi! Ketika seorang ayah, misalnya, mengetahui bahwa anaknya yang mulai tumbuh remaja telah berani melanggar peraturan rumah yang ditetapkannya, maka secara otomatis sang ayah akan mencari tahu penyebabnya dari lingkungan bergaulnya. Ketika kemudian diketahui bahwa sang anak banyak bergaul dengan si ‘anu‘ yang memiliki perilaku yang berlawanan dengan norma-norma yang dibuat sang ayah ini di rumah, maka sang ayah segera tahu bahwa ini anak telah terpengaruh oleh si ‘anu‘ itu. Maka demikianlah jika kita ingin mencari tahu penyebab yang dominan dari marak dan mewabahnya seks bebas di kalangan remaja itu, kita tinggal merunutnya pada media atau sarana promosi apa yang paling canggih sekarang ini, hingga pada akhirnya kemudian semuanya bermuara pada pesatnya perkembangan IT dewasa ini.

Para blogger yang budiman,

Seorang pedagang es misalnya, tentu tidak akan bilang ‘awas nanti dimarahi ayahmu lho‘ kepada seorang anak SD yang kelihatannya tertarik ingin membeli es yang dijajakannya. Tetapi mereka akan menggunakan bahasa promosi seperti ‘nggak akan aku bilangin kok‘, atau ‘nggak ada yang tahu kok‘.

JIka kita perhatikan, entah itu video-video porno, foto-foto, gambar-gambar, atau tulisan-tulisan yang ditampilkan dalam IT itu sebenarnya tidak jauh beda kontennya dengan yang dulu-dulu ketika IT belum ditemukan orang, baik dari segi kualitas maupun dari segi kuantitas. Akan tetapi muatan informasi yang dibawanya itu sedemikian kuatnya sehingga, jika diibaratkan sebagai virus yang melewati suatu tempat,  ini mudah sekali menjangkiti siapapun yang berhasil mengaksesnya. Nah, kebanyakan dari kita tidak–kalau tidak bisa dikatakan belum–sepenuhnya aware dengan bahaya ini. Maka ketika tiba-tiba mendung lalu turun hujan seperti yang akhir-akhir ini sering terjadi kita tidak siap dengan payungnya atau jas hujannya!

Kembali ke contoh penjual es tadi. Kita semua tentu tahu bahwa es itu di mana-mana sama: rasanya dingin. Tetapi penjualnya tidak akan kehilangan akal dengan menambahkan bumbu-bumbu seperti warna, aroma, hingga rasanya, sehingga sensasi dingin itu akan terasa tidak persis sama. Baru setelah kita mengkonsumsinya kita mendadak tahu mengapa kita kemudian terserang batuk atau flu. Lalu kita menyalahkan es tadi sebagai penyebabnya. Mengapa tidak kita salahkan sekalian penjualnya? Yaitu yang paling berperan dalam mempromosikan es itu sehingga akhirnya kita membelinya juga?

Para blogger yang budiman,

 

Robbanaa aatinaa fid-dunya khasanah, wa fil aakhirati khasanah, wa qina adzaban naar

Alhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin

As-salaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: