SAINS YANG BERWAWASAN KE-ISLAM-AN

As-salaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh

Asy-hadu al-la ilaaha illallaah wa asy-hadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuulullaah

Allaahumma shalli wa sallim wa barik ‘alaa sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aalihi wa shahbihi aj-ma’iin

Para Blogger Rohimakumullah,

Jika kita semua ditanya tentang apakah obyek ilmu Fisika itu? tentu semua sepakat menjawab bahwa Fisika adalah ilmu yang obyeknya benda-benda mati. Hal ini sejalan dengan ilmu kimia yang obyeknya juga benda-benda mati. Nah, penulis adalah satu-satunya orang yang tidak setuju dengan jawaban itu. Apabila dilawankan dengan ilmu biologi, yaitu ilmu yang obyeknya mahluk hidup, maka jawaban seperti itu cukup masuk akal. Akan tetapi kita harus ingat bahwa ide dasar ilmu fisika itu adalah mempelajari segala hal yang bisa bisa dieksperimentasi dan dieksplorasi secara empiris. Sehingga dalam menghadapi pertanyaan seperti itu, hendaknya kita balik bertanya, obyek untuk tujuan apa?

Para blogger yang budiman,

Pemikiran positivistik memang memiliki pengaruh yang besar dalam bidang sains. Pemikiran ini pada dasarnya menolak segala hal yang tidak bisa dieksperimentasi dan dieksplorasi secara empiris. Nah, jiwa adalah sesuatu yang abstrak sehingga tidak bisa diekspeimentasi dan dieksplorasi secara empiris. Kesimpulannya, ilmu sains, termasuk fisika dan kimia, membatasi obyeknya hanya pada benda-benda mati saja. Yang menjadi tanda tanya adalah, apakah memang benda-benda mati itu tidak memiliki jiwa?

Allah SWT berfirman,

سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). dan dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. ( Surat Al Hadid ayat 1).

“Alam semesta itu bertasbih kepada Allah SWT seluruhnya, seperti bumi, gunung, air, api, udara, halilintar, benda-benda langit dan semuanya. Tasbihnya alam itu sepanjang yang diketahui manusia mentaati hukum sunatullah dan tunduk pada Iradat (kehendak) Allah SWT. Bagaimana alam itu bertasbih dirahasiakan Allah SWT terhadap manusia, tetapi sedikit banyak dapat dipahami dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.” [http://hidayatilquran.wordpress.com/alam-bertasbih/]

Demikianlah kutipan dari sebuah sumber di Inernet. Nah, jika demikian halnya, benar bukan bahwa benda mati itu sebenarnya ‘tidak benar-benar mati’? Karena hanya sesuatu yang ‘tidak benar-benar matilah’ yang bisa bertasbih.

Mengutip lagi seorang blogger, “ruh dan jiwa pada hakikat nya adalah sama..sebagaimana tersebut didalam ALQuran dan Hadist.. berarti ruh dan jiwa adalah satu..tetapi ada dua nama  ..dinamakan ruh karena dia sangatlah lembut..dan dinamakan Annafsu (jiwa) karena kesangkut pautan nya dengan badan…berarti ruh dan jiwa adalah sama..” [http://ahmadraehan.blogspot.com/2012/05/perbedaan-roh-nyawa-dan-jiwa.html] Dari kutipan ini penulis berkesimpulan bahwa benda mati itu ‘tidak benar-benar mati’ tetapi memiliki sesuatu yang membuatnya bisa bertasbih. Sesuatu ini penulis ijtihad-kan adalah jiwa. Tetapi berbeda dengan jiwa manusia yang memiliki kecenderungan hawa nafsu, jiwa benda mati itu tidak memiliki kecenderungan demikian ini. Jiwa benda mati itu hanya bisa bertasbih saja. Dia tidak bisa sepeti manusia yang jika cenderung pada kejahatan maka bukan tasbih yang diucapkannya melainkan umpatan dan kata-kata kotor sejenisnya. Nah, hanya sesuatu yang memiliki jiwa saja yang bisa bertasbih, bukan?

Nah, dengan demikian bearti percabangan ilmu dalam sains perlu mengalami perubahan secara revolusioner. Ilmu fisika misalnya, ada ilmu fisika yang membahas tentang benda matinya saja (kita sebut saja ilmu fisika materi), dan ada pula yang membahas tentang jiwa benda mati (kita sebut saja ilmu jiwa fisika). Demikian pula ilmu kimia, bisa dibagi ke dalam dua jurusan utama, yaitu ilmu kimia materi dan ilmu jiwa kimia. Tak ketinggalan ilmu biologi kita bagi pula menjadi ilmu biologi materi dan ilmu jiwa biologi. Adalah mudah mendapatkan gambaran percabangan yang lebih spesifik lagi dengan mengambil contoh ilmu biologi, dimana ilmu jiwa biologi itu bisa dibagi ke dalam ilmu jiwa tumbuhan, ilmu jiwa hewan, dan seterusnya.

Para blogger yang dirahmati Allah,

Sampai di sini penulis berkesimpulan bahwa sains yang dipelopori oleh kaum non-Islam itu perlu diberikan wawasan tentang dunia ke-Islam-an. Karena dengan memiliki wawasan ke-Islam-an inilah dalam dunia sains itu tidak hanya dikenal bahwa fisika dan kimia itu hanya melulu berurusan dengan benda-benda mati saja.

Coba kita menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan dunia sejenak. Entah menyepi di luar kota atau di mana saja meski di tengah-tengah keramaian (di taman kota misalnya). Lalu marilah kita coba untuk memusatkan perhatian kita bukan pada suara-suara yang bisa didengan oleh telinga saja. Jika kita tekun melatih ini, insya Allah kita akan mendengar bahwa benda-benda mati itu sebenarnya tidak hanya diam saja. Insya Allah kita–bahkan–akan bisa mendengar keluhan-keluhannya. Seperti air yang akan bekata–dalam diamnya–bahwa dirinya telah tercemar berat akhir-akhir ini. Atau kayu-kayu akan bercerita tentang perlakuan manusia terhadap hutan tempat tinggalnya. Wallahu ‘alam.

Robbanaa aatinaa fid-dunya khasanah, wa fil aakhirati khasanah, wa qina adzaban naar

Alhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin

As-salaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: