Archive

Monthly Archives: January 2014

As-salaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh

Asy-hadu al-la ilaaha illallaah wa asy-hadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuulullaah

Allaahumma shalli wa sallim wa barik ‘alaa sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aalihi wa shahbihi aj-ma’iin

Para Blogger Rohimakumullah,

Membahas topik seks bebas sama artinya dengan membahas cara mengekspresikan cinta yang paling melanggar norma-norma masyarakat [http://sight-wigen.blogspot.com/]. Tetapi bukan itu, yaitu bukan tentang bagaimana cara mengekspresikan cinta yang paling melanggar norma-norma masyarakat, yang ingin penulis bahas dalam tulisan kali ini. Tetapi suatu upaya menjelaskan bagaimana fenomena ini mewabah di kalangan generasi muda saat ini.

Para blogger yang dikasihi Allah,

Pertama-tama penulis ingin membahas mengenai peran IT sebagai media promosi. Perkembangan yang pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini memang berkaitan erat dengan fenomena seks bebas di kalangan generasi muda itu. Penulis tidak berprasangka tetapi memang mencurigai bahwa pesatnya perkembangan IT itu memiliki peran yang paling dominan dalam memunculkan fenomena seks bebas itu. Katakanlah bahwa fenomena seks bebas itu sudah ada bahkan jauh sebelum kemunculan era IT ini, itu karena media untuk mempromosikannya berbeda. Kalau dulu, tidak usah jauh-jauh katakanlah di era kemunculan televisi, maka televisi merupakan media yang ampuh pada masa itu untuk mempromosikan paham seks bebas ini, apakah melalui film, tayangan berita, maupun iklan. Tetapi media televisi masih dapat dikontrol bahkan dikuasai oleh pemerintah. Karena itu ledakan pengaruhnya tidak terlihat massal. Berbeda dengan IT ini, pengontrolan nampaknya mustahil sehingga dampak yang ditimbulkan terhadap pelanggaran norma-norma yang berlaku di masyarakat ini bak gelombang tsunami yang sangat sulit untuk dibendung lagi! Ketika seorang ayah, misalnya, mengetahui bahwa anaknya yang mulai tumbuh remaja telah berani melanggar peraturan rumah yang ditetapkannya, maka secara otomatis sang ayah akan mencari tahu penyebabnya dari lingkungan bergaulnya. Ketika kemudian diketahui bahwa sang anak banyak bergaul dengan si ‘anu‘ yang memiliki perilaku yang berlawanan dengan norma-norma yang dibuat sang ayah ini di rumah, maka sang ayah segera tahu bahwa ini anak telah terpengaruh oleh si ‘anu‘ itu. Maka demikianlah jika kita ingin mencari tahu penyebab yang dominan dari marak dan mewabahnya seks bebas di kalangan remaja itu, kita tinggal merunutnya pada media atau sarana promosi apa yang paling canggih sekarang ini, hingga pada akhirnya kemudian semuanya bermuara pada pesatnya perkembangan IT dewasa ini.

Para blogger yang budiman,

Seorang pedagang es misalnya, tentu tidak akan bilang ‘awas nanti dimarahi ayahmu lho‘ kepada seorang anak SD yang kelihatannya tertarik ingin membeli es yang dijajakannya. Tetapi mereka akan menggunakan bahasa promosi seperti ‘nggak akan aku bilangin kok‘, atau ‘nggak ada yang tahu kok‘.

JIka kita perhatikan, entah itu video-video porno, foto-foto, gambar-gambar, atau tulisan-tulisan yang ditampilkan dalam IT itu sebenarnya tidak jauh beda kontennya dengan yang dulu-dulu ketika IT belum ditemukan orang, baik dari segi kualitas maupun dari segi kuantitas. Akan tetapi muatan informasi yang dibawanya itu sedemikian kuatnya sehingga, jika diibaratkan sebagai virus yang melewati suatu tempat,  ini mudah sekali menjangkiti siapapun yang berhasil mengaksesnya. Nah, kebanyakan dari kita tidak–kalau tidak bisa dikatakan belum–sepenuhnya aware dengan bahaya ini. Maka ketika tiba-tiba mendung lalu turun hujan seperti yang akhir-akhir ini sering terjadi kita tidak siap dengan payungnya atau jas hujannya!

Kembali ke contoh penjual es tadi. Kita semua tentu tahu bahwa es itu di mana-mana sama: rasanya dingin. Tetapi penjualnya tidak akan kehilangan akal dengan menambahkan bumbu-bumbu seperti warna, aroma, hingga rasanya, sehingga sensasi dingin itu akan terasa tidak persis sama. Baru setelah kita mengkonsumsinya kita mendadak tahu mengapa kita kemudian terserang batuk atau flu. Lalu kita menyalahkan es tadi sebagai penyebabnya. Mengapa tidak kita salahkan sekalian penjualnya? Yaitu yang paling berperan dalam mempromosikan es itu sehingga akhirnya kita membelinya juga?

Para blogger yang budiman,

 

Robbanaa aatinaa fid-dunya khasanah, wa fil aakhirati khasanah, wa qina adzaban naar

Alhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin

As-salaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh

Advertisements

As-salaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh

Asy-hadu al-la ilaaha illallaah wa asy-hadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuulullaah

Allaahumma shalli wa sallim wa barik ‘alaa sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aalihi wa shahbihi aj-ma’iin

Para Blogger Rohimakumullah,

Mungkin di antara para blogger ada yang sedikit merasa asing dengan istilah jurnalistik. Akan tetapi jika kemudian disebutkan sebuah istilah lain untuk menjelaskannya spontan bibir akan membulat terperangah sambil latah mengeluarkan bunyi “Ooooh…!”. Istilah itu adalah wartawan.

Ya, istilah yang baru disebutkan itu memang sudah terlalu familiar–kalau tidak bisa dibilang terlalu ada–dalam keseharian kita. Demikian pula dengan istilah Islam, yang merupakan agama mayoritas dari penduduk Indonesia hingga saat ini–termasuk penulis sendiri. Tetapi bila dua istilah itu digabungkan, yaitu istilah jurnalistik dengan istilah Islam maka akan muncullah sebuah istilah yang masih belum populer hingga saat ini yaitu jurnalistik Islam.

Aneh juga sebenarnya apabila dibandingkan dengan perkembangan ilmu-ilmu lainnya. Ketika ilmu ekonomi bersinggungan dengan Islam lahirlah ekonomi syariah. Demikian pula ketika ilmu psikologi bersentuhan dengan Islam lahirlah psikologi Islam. Bagaimana ketika jurnalistik berhadapan dengan Islam? Memang istilah jurnalistik Islam kemudian lahir. Akan tetapi  penulis tidak pernah mendengar ataupun melihat adanya kesungguhan dari tokoh-tokoh yang membidani kelahiran istilah ini untuk mensosialisasikan bahkan kemudian mempopulerkan istilah ini kepada masyarakat luas. Terbukti dengan ketidakpopulerannya istilah ini di masyarakat luas.

Penulis sendiri tidak merasa sebagai orang yang berperan dalam melahirkan istilah jurnalistik Islam itu. Akan tetapi melihat perkembangan seperti yang penulis sebutkan itu, ada semacam kesadaran dari dalam diri penulis sendiri untuk–setidaknya–memikirkan dan–bahkan–kemudian menindak-lanjuti perkembangan dari jurnalistik Islam itu sendiri.

Selain dari itu, jurnalistik sendiri bermacam-macam, seperti halnya wartawan itu juga bermacam-macam. Dari sebuah sumber dikatakan bahwa “Berdasarkan jenis media dan teknik publikasinya, jurnalistik dapat dibedakan menjadi jurnalistik cetak, jurnalistik elektronik, dan jurnalistik online.” [http://jurnalistik-smpitpermatahati.blogspot.com/2013/02/apa-itu-jurnalistik.html]. Nah, untuk membatasi obyek bahasannya, maka yang dimaksud dengan jurnalistik oleh penulis adalah jurnalistik cetak (print journalistics). Hal ini sesuai dengan bidang jurnalistik yang penulis geluti. Selanjutnya sumber itu menyatakan bahwa “Jurnalistik cetak (print journalism) adalah proses jurnalistik yang produk atau laporannya ditulis dan disajikan dalam media massa cetak (printed media), seperti suratkabar, tabloid, dan majalah.

Teknik penulisannya menggunakan “bahasa tulis” (written language) bergaya “bahasa jurnalistik” (language of mass media), bercirikan antara lain hemat kata, sederhana, mudah dimengerti, tidak mengandung arti ganda, dan umum digunakan.
Perlu untuk ditinjau di sini mengenai istilah dan definisi jurnalistik cetak itu. Penulis lebih condong pada istilah jurnalistik media cetak daripada jurnalistik cetak. Hal ini bersesuaian dengan jenis medianya, yaitu media cetak seperti koran, majalah, tabloid, dan lain sebagainya itu. Sedangkan istilah jurnalistik cetak itu meragukan, karena apakah segala produk cetak itu bisa menjadi media jurnalistik. Sedangkan mengenai definisi dari jurnalistik media cetak itu sendiri penulis memiliki sebuah teori tentang pengaruh kemajuan di bidang teknologi percetakan terhadap perkembangan kemampuan di bidang jurnalistik. Teori tersebut menyatakan ada hubungan timbal balik yang saling menguntungkan antara jurnalistik dengan kemajuan teknologi di bidang percetakan. Di satu sisi kemajuan teknologi di bidang percetakan mendapat keuntungan berupa penyebarluasan kemajuan mutakhir yang berhasi dicapai di bidang teknologi percetakan. Di sisi lain, jurnalistik juga mendapat keuntungan dengan kecanggihan dari teknologi percetakan yang paing mutakhir itu untuk memperkembangkan produk-produk jurnalistiknya. Nah, berdasar teori itu, maka definisi mengenai jurnalistik media cetak adalah jurnalistik yang memanfaatkan teknologi percetakan untuk mempublikasikan produk-produk jurnalistiknya.

Para blogger yang disayangi Allah,

Apa yang dimaksud dengan jurnalistik Islam itu? Sebelum penulis membahasnya secara lebih ‘mengena‘ mengenai peristilahan jurnalistik Islam itu, pertama-tama penulis ingin membahas mengenai bagaimana proses Islamisasi sebuah ilmu itu. Dan untuk tujuan itu penulis mengajukan dua buah teori yang ditinjau dari latar belakang pendidikan dasar yang direncanakan akan dijalani oleh seseorang dengan asumsi dasar bahwa seseorang itu sebelum merencanakan jalur pendidikan untuk dirinya sendiri itu di dalam dirinya memang sudah ada bakat bawaan sebagai seorang jurnalis.

Teori pertama adalah seseorang itu merencanakan bahwa jalur pendidikan formalnya adalah sekolah-sekolah non-Islam dalam arti ia tidak sekolah di sekolah Islam yaitu SD, SMP, SMU, hingga Perguruan Tinggi yang non-Islam. Nah, untuk orang-orang seperti ini, hendaknya selalu diberi pengarahan dan bimbingan agar memberikan kepada dirinya sendiri tentang wawasan ke-Islam-an. Penulis rasa sudah banyak sekolah-sekolah non-Islam yang telah menerapkan kebijakan yang sejalan dengan teori pertama penulis tentang Islamisasi sebuah ilmu ini. Suatu misal diadakannya acara istighotsah sebelum UAN, lomba-lomba di perayaan Maulid Nabi, bahkan ada Pendidikan Agama Islam. Ini teori yang pertama.

Teori kedua adalah seseorang itu merencanakan bahwa jalur pendidikan formalnya adalah sekolah-sekolah Islam, baik di Pondok Pesantren atau tidak seperti MI, MTs, MA, hingga Universitas Islam. Nah, untuk orang-orang seperti ini, hendaknya selalu diberi pengarahan dan bimbingan agar memberikan kepada dirinya sendiri tentang wawasan ke-ilmu jurnalistik-an. Penulis melihat bahwa pendidikan formal dengan dasar Islam ini telah memperkenalkan pelajaran-pelajaran tentang ilmu lain selain tentang ke-Islam-an, seperti ilmu sosial, ilmu alam, ilmu psikologi, dan sebagainya.

Para blogger yang dirahmati Allah,

Selanjutnya penulis perlu menjelaskan mengenai apa wawasan ke-Islam-an bagi jurnalistik itu dan apa wawasan ke-ilmu jurnalistik-an itu bagi Islam. Tetapi sebelum memasuki pada tahap pemberian wawasan ini, pengkondisian perlu diciptakan terlebih dahulu. Ibarat petani yang ingin menanam padi di sawah, maka agar memberikan hasil yang memuaskan lahan pertaniannya terlebih dahulu diolah dahulu seperti dicangkuli, dibajak, dan lain sebagainya sehingga membentuk suatu kondisi yang memungkinkan bagi padi untuk tumbuh di lahan itu. Dan untuk tujuan ini–lagi-lagi–penulis mengajukan dua buah teori.

Teori pertama adalah jurnalistik itu adalah merupakan suatu disiplin ilmu sebagaimana ilmu-ilmu lain seperti psikologi, ekonomi, dan lain sebagainya. Nah, sebagai sebuah disiplin ilmu, maka jurnalistik juga perlu mengalami perkembangan selayaknya sebuah ilmu. Artinya semua pengetahuan tentang jurnalisme baik yang telah, sedang, maupun akan berkembang untuk kepentingan jurnalisme itu sendiri diberi ruang tersendiri. Suatu contoh adalah sebelum diketemukannya mesin cetak, segala hal yang bernilai jurnalistik adalah kerja tangan manusia. Nah, seiring dengan perkembangan jaman, dunia telah mengenal mesin cetak sehingga jurnalistik kemudian dikenal tidak lagi sebagai karya tangan melainkan sebuah industri yang pengerjaannya telah melibatkan mesin yang penemuannya dipelopori oleh Guttenberg itu. Secara teknis, dulu dalam menulis suatu berita misalnya, maka orang memikirkan bagaimana hasil akhirnya jika berita itu dipindah-tangankan ke media daun lontar misalnya. Tetapi ketika kemudian mesin cetak diketemukan, maka orang akan memikirkan bagaimana hasil akhirnya jika tulisan yang mula-mula ditulis di atas kertas itu dikerjakan oleh mesin pada media kertas. Mesin cetak itu sendiri kemudian mengalami perkembangan yang makin canggih. Dan akhirnya, di jaman ini, komputer telah ikut berperan dalam pengelolaan materi-materi jurnalistik, di mana persebarannya pun telah mengalami revolusi pula: tidak hanya di dunia ‘nyata‘ tetapi juga di dunia ‘maya‘ yaitu melalui Internet. Sekali lagi, secara teknis orang akan berpikir bagaimana hasil akhirnya jika tulisannya yang diketik dengan komputer itu ditampilkan dengan ‘wajah ‘ online. Ini semua adalah gambaran secara umumnya yang intinya adalah jurnalisme itu merupakan suatu disiplin ilmu pula sebagaimana disiplin ilmu yang lain.

Teori kedua adalah tentang hubungan simbiosis mutualisma antara jurnalistik sebagai disiplin ilmu dan Islam sebagai agama. Teori ini menyatakan bahwa antara ilmu jurnalistik dengan Islam itu hendaknya terjalin hubungan timbal balik yang saling memberi manfaat satu sama lainnya. Itulah: ilmu jurnalistik memberikan manfaat pada Islam, dan Islam memberikan manfaat pada ilmu jurnalistik. Kemajuan di bidang jurnalisme misalnya, diharapkan bisa turut memberikan sumbangan bagi perkembangan Islam. Contoh yang sederhana adalah bila koran bisa dikerjakan dengan mesin cetak, mengapa mesin cetak untuk koran itu tidak disumbangkan saja untuk mencetak dan menyebarluaskan al-Qur’an? Sebaliknya Islam diharapkan juga memberikan manfaat bagi jurnalisme. Misalnya saja, dalam Islam dikenal ilmu sanad untuk meneliti kesahihan hadits. Nah, mengapa wawasan tentang ilmu sanad ini tidak diberikan kepada para jurnalis biar dalam menyusun sebuah berita para jurnalis itu menjadi kian selektif?

Para blogger yang dirahmati Allah,

Apa yang dimaksud dengan wawasan ke-ilmu jurnalistik-an bagi Islam itu? Apa yang dimaksud dengan wawasan ke-Islam-an bagi jurnalistik itu? Berikut akan penulis coba untuk menguraikannya satu per satu.

Pada dasarnya yang dimaksud dengan wawasan ke-ilmu jurnalistik-an itu tidak lain adalah bagaimana jurnalistik itu bisa menjadi suatu disiplin ilmu yang mandiri dalam arti tidak tercampur dengan disiplin-disiplin ilmu yang lain, dan ini artinya adalah memahami apa jurnalistik itu.

Robbanaa aatinaa fid-dunya khasanah, wa fil aakhirati khasanah, wa qina adzaban naar

Alhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin

As-salaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh

As-salaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh

Asy-hadu al-la ilaaha illallaah wa asy-hadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuulullaah

Allaahumma shalli wa sallim wa barik ‘alaa sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aalihi wa shahbihi aj-ma’iin

Para Blogger Rohimakumullah,

Jika kita semua ditanya tentang apakah obyek ilmu Fisika itu? tentu semua sepakat menjawab bahwa Fisika adalah ilmu yang obyeknya benda-benda mati. Hal ini sejalan dengan ilmu kimia yang obyeknya juga benda-benda mati. Nah, penulis adalah satu-satunya orang yang tidak setuju dengan jawaban itu. Apabila dilawankan dengan ilmu biologi, yaitu ilmu yang obyeknya mahluk hidup, maka jawaban seperti itu cukup masuk akal. Akan tetapi kita harus ingat bahwa ide dasar ilmu fisika itu adalah mempelajari segala hal yang bisa bisa dieksperimentasi dan dieksplorasi secara empiris. Sehingga dalam menghadapi pertanyaan seperti itu, hendaknya kita balik bertanya, obyek untuk tujuan apa?

Para blogger yang budiman,

Pemikiran positivistik memang memiliki pengaruh yang besar dalam bidang sains. Pemikiran ini pada dasarnya menolak segala hal yang tidak bisa dieksperimentasi dan dieksplorasi secara empiris. Nah, jiwa adalah sesuatu yang abstrak sehingga tidak bisa diekspeimentasi dan dieksplorasi secara empiris. Kesimpulannya, ilmu sains, termasuk fisika dan kimia, membatasi obyeknya hanya pada benda-benda mati saja. Yang menjadi tanda tanya adalah, apakah memang benda-benda mati itu tidak memiliki jiwa?

Allah SWT berfirman,

سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). dan dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. ( Surat Al Hadid ayat 1).

“Alam semesta itu bertasbih kepada Allah SWT seluruhnya, seperti bumi, gunung, air, api, udara, halilintar, benda-benda langit dan semuanya. Tasbihnya alam itu sepanjang yang diketahui manusia mentaati hukum sunatullah dan tunduk pada Iradat (kehendak) Allah SWT. Bagaimana alam itu bertasbih dirahasiakan Allah SWT terhadap manusia, tetapi sedikit banyak dapat dipahami dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.” [http://hidayatilquran.wordpress.com/alam-bertasbih/]

Demikianlah kutipan dari sebuah sumber di Inernet. Nah, jika demikian halnya, benar bukan bahwa benda mati itu sebenarnya ‘tidak benar-benar mati’? Karena hanya sesuatu yang ‘tidak benar-benar matilah’ yang bisa bertasbih.

Mengutip lagi seorang blogger, “ruh dan jiwa pada hakikat nya adalah sama..sebagaimana tersebut didalam ALQuran dan Hadist.. berarti ruh dan jiwa adalah satu..tetapi ada dua nama  ..dinamakan ruh karena dia sangatlah lembut..dan dinamakan Annafsu (jiwa) karena kesangkut pautan nya dengan badan…berarti ruh dan jiwa adalah sama..” [http://ahmadraehan.blogspot.com/2012/05/perbedaan-roh-nyawa-dan-jiwa.html] Dari kutipan ini penulis berkesimpulan bahwa benda mati itu ‘tidak benar-benar mati’ tetapi memiliki sesuatu yang membuatnya bisa bertasbih. Sesuatu ini penulis ijtihad-kan adalah jiwa. Tetapi berbeda dengan jiwa manusia yang memiliki kecenderungan hawa nafsu, jiwa benda mati itu tidak memiliki kecenderungan demikian ini. Jiwa benda mati itu hanya bisa bertasbih saja. Dia tidak bisa sepeti manusia yang jika cenderung pada kejahatan maka bukan tasbih yang diucapkannya melainkan umpatan dan kata-kata kotor sejenisnya. Nah, hanya sesuatu yang memiliki jiwa saja yang bisa bertasbih, bukan?

Nah, dengan demikian bearti percabangan ilmu dalam sains perlu mengalami perubahan secara revolusioner. Ilmu fisika misalnya, ada ilmu fisika yang membahas tentang benda matinya saja (kita sebut saja ilmu fisika materi), dan ada pula yang membahas tentang jiwa benda mati (kita sebut saja ilmu jiwa fisika). Demikian pula ilmu kimia, bisa dibagi ke dalam dua jurusan utama, yaitu ilmu kimia materi dan ilmu jiwa kimia. Tak ketinggalan ilmu biologi kita bagi pula menjadi ilmu biologi materi dan ilmu jiwa biologi. Adalah mudah mendapatkan gambaran percabangan yang lebih spesifik lagi dengan mengambil contoh ilmu biologi, dimana ilmu jiwa biologi itu bisa dibagi ke dalam ilmu jiwa tumbuhan, ilmu jiwa hewan, dan seterusnya.

Para blogger yang dirahmati Allah,

Sampai di sini penulis berkesimpulan bahwa sains yang dipelopori oleh kaum non-Islam itu perlu diberikan wawasan tentang dunia ke-Islam-an. Karena dengan memiliki wawasan ke-Islam-an inilah dalam dunia sains itu tidak hanya dikenal bahwa fisika dan kimia itu hanya melulu berurusan dengan benda-benda mati saja.

Coba kita menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan dunia sejenak. Entah menyepi di luar kota atau di mana saja meski di tengah-tengah keramaian (di taman kota misalnya). Lalu marilah kita coba untuk memusatkan perhatian kita bukan pada suara-suara yang bisa didengan oleh telinga saja. Jika kita tekun melatih ini, insya Allah kita akan mendengar bahwa benda-benda mati itu sebenarnya tidak hanya diam saja. Insya Allah kita–bahkan–akan bisa mendengar keluhan-keluhannya. Seperti air yang akan bekata–dalam diamnya–bahwa dirinya telah tercemar berat akhir-akhir ini. Atau kayu-kayu akan bercerita tentang perlakuan manusia terhadap hutan tempat tinggalnya. Wallahu ‘alam.

Robbanaa aatinaa fid-dunya khasanah, wa fil aakhirati khasanah, wa qina adzaban naar

Alhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin

As-salaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh

As-salaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh

Asy-hadu al-la ilaaha illallaah wa asy-hadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuulullaah

Allaahumma shalli wa sallim wa barik ‘alaa sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aalihi wa shahbihi aj-ma’iin

Para Blogger Rohimakumullah,

Pers sering disebut sebagai pilar keempat demokrasi setelah eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Walaupun berada di luar sistem politik formal, keberadaan pers memiliki posisi strategis dalam informasi massa, pendidikan kepada publik sekaligus menjadi alat kontrol sosial. Demikianlah yang penulis kutip dari sebuah sumber di Internet (http://www.tjahjokumolo.com/2011/04/pers-sebagai-pilar-demokrasi/).

Menarik di sini adalah penempatan pers pada posisi yang secara non-formal disejajarkan dengan tiga kekuasaan dalam sistem demokrasi. Jika memang demikian halnya, maka sebenarnya sejak demokrasi itu lahir ke dunia fana ini maka sejak itu pers pun muncul sebagai pilar keempatnya–dan ini terjadinya secara otomatis. Tetapi yang menjadi pertanyaannya adalah kenapa keberadaan pers tidak penah dilembagakan secara formal sebagaimana halnya tiga kekuasaan dalam ajaran trias politika itu dilembagakan dalam negara-negara yang menganut paham demokrasi itu?

Para blogger yang demokratis,

Lord Acton pernah menulis dalam sebuah suratnya kepada Bishop Mandell Creighton di tahun 1887, “Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely. Great men are almost always bad men.” Perlu penulis tambahkan di sini, bahwa kekuasaan itu juga cenderung untuk melembaga, di mana kekuasaan mutlak juga mutlak melembaga. Karena ini merupakan kecenderungan yang sifatnya alami, maka tidak menjadi masalah. Tetapi alangkah bagusnya jika kecenderungan ini kemudian diiringi dengan sikap bukan dirinya sendiri semata yang berhak untuk melembaga, yang kemudian dimanifestasikan dalam tindakan pemberian kesempatan kepada institusi lain untuk turut melembaga.

Robbanaa aatinaa fid-dunya khasanah, wa fil aakhirati khasanah, wa qina adzaban naar

Alhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin

As-salaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh

As-salaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh

Asy-hadu al-la ilaaha illallaah wa asy-hadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuulullaah

Allaahumma shalli wa sallim wa barik ‘alaa sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aalihi wa shahbihi aj-ma’iin

Para Blogger Rohimakumullah,

Membuka-buka Jawa Pos yang terbit hari ini (tanggal 19 Maret 2014), penulis menemukan sebuah artikel menarik di halaman pertama (“Bertemu Cewek Mungil Calon Doktor Astronomi – Mengintip “Bulan Sabit” Terbit di Eropa“). Artikel yang merupakan catatan perjalanan AGUS MUSTOFA (penulis buku Tasawuf Modern) dari Spanyol dan Perancis itu menyatakan di salah satu bagian tulisannya itu yang penulis kutipkan sebagai berikut:

Menurut Slimane Nador, pria Perancis yang menjadi juru bicara Grende Mosquee, masyarakat musim Prancis memiliki “jenis sekularisme” yang berbeda dengan kebanyakan masyarakat di Eropa. Yakni, “sekuler” dalam arti mau belajar dan menuntut ilmu apa pun dari kalangan nonmuslim, sebagaimana yang telah dilakukan averroes atau Ibn Rusyd pada zaman keemasan Islam. Tidak harus dari para ulama muslim sebagaimana yang ‘diwajibkan’ sebagaimana kalangan Islam konvensional.

Tiba-tiba penulis menyadari bahwa arti sekuler itu bukan seperti yang selama ini penulis ketahui–atau malahan apa yang diketahui orang lain. Sekuler itu bukan memisahkan agama dari kehidupan. Bukan itu! Karena sekuler sendiri memiliki latar belakang sejarah munculnya. Jadi tidak begitu saja memisahkan agama–apalagi Islam–dari kehidupan ini.

Para blogger yang dirahmati Allah,

Penulis teringat dengan apa yang pernah diungkapkan oleh almarhum da’i kondang Zainuddin MZ tentang ke-Islam-an rata-rata orang Indonesia itu. Almarhum pernah mengungkapan bahwa rata-rata ke-Islam-an orang Indonesia itu adalah ketika di masjid. Di luar itu, apakah di pasar, kantor, dan sebagainya, Islam kita simpan dalam lemari.

Sebenarnya apa yang diungkapkan oleh almarhum da’i sejuta umat itu sudah cukup mewakili gambaran tentang apa sebenarnya sekuler itu. Mungkin saja yang dimaksud adalah sekuler ala Indonesia. Tetapi mengingat masalah ini adalah masalah yang sensitif, penulis rasa akan lebih aman jika penulis menyatakan tidak tergesa-gesa dahulu mengambil kesimpulan seperti itu.

Dalam bagian lain Agus Mustofa mengungkapkan, “Begitulah rata-rata masyarakat Eropa enggan beragama meski mengaku bertuhan.” Nah, enggan beragama itulah inti orang seperti apa mereka, yaitu orang Eropa itu. Adapun yang ditunjukkan oleh fenomena masyarakat kita pada umumnya adalah bukan enggan beragama, melainkan enggan beragama secara kaffah! Kita beragama–baik Islam atau non-Islam, tetapi enggan secara kaffah! Fenomena lahirnya Islam abangan atau Islam kejawen, juga Kristen kejawen, membuktikan fakta yang penulis ungkap ini!

Para blogger yang disayangi Allah,

Kembali ke pokok bahasan, lalu apa sebenarnya sekuler itu? Secara ringkas dapat penulis jawab: suatu paham yang dilahirkan oleh gerakan renaissance. Agus mustofa juga menulis seperti ini, “Renaissance dalam bahasa Prancis bermakna kebangkitan atau kelahiran kembali peradaban Eropa setelah mengalami masa kegelapan karena pertentangan serius ilmuwan-budayawan dengan kekuasaan gereja yang otoriter.” Ini sesuai dengan pemikiran Ibnu Rusyd, sebagaimana yang termaktub dalam kutipan paling awal tentang sekuler ala Perancis. Pada waktu itu pihak yang berkuasa adalah golongan agamawan, yang dalam hal ini diwakili oleh gereja. Akan tetapi sikap otoriter ini kemudian (agaknya) ditentang oleh banyak kalangan dari rakyat sendiri yang dibawah kekuasaan gereja itu. Nah, para ilmuwan-budayawan adalah golongan yang (agaknya juga) menjadi motor penggerak massa itu. Maka lahirlah gerakan renaissance. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya, gerakan yang mula-mula dimaksudkan sebagai perlawanan atas sikap otoriter kaum penguasa itu semakin mejurus kepada meninggalkan agama benar-benar. Agus Mustofa juga menulis demikian, “Perkembangan sains, teknologi, dan budaya pada abad pertengahan lantas menjurus ke sekularisasi peradaban Eropa yang cenderung meninggalkan agama, khususnya gereja yang waktu itu sangat berkuasa. Sekularisme tersebut semakin kuat pada abad-abad sesudahnya sampai kini. Bukan hanya di kalangan budayawan dan ilmuwan, melainkan juga di kalangan awam.

Para blogger yang dirahmati Allah,

Berdasarkan fakta sejarah itu, marilah kita introspeksi kepada diri kita masing-masing. Apakah kita ini sedang menuju kepada sikap sekuler? Ataukah sebenarnya hanya ikut-ikutan arus budaya asing saja tanpa mengetahui latar belakang sejarahnya? Atau kalau kita memang menganut Islam, sudah kaffahkah ke-Islam-an kita?

Demikianlah yang ingin penulis sampaikan. Mudah-mudahan ada guna dan manfaatnya.

Robbanaa aatinaa fid-dunya khasanah, wa fil aakhirati khasanah, wa qina adzaban naar

Alhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin

As-salaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh

As-salaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh

Asy-hadu al-la ilaaha illallaah wa asy-hadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuulullaah

Allaahumma shalli wa sallim wa barik ‘alaa sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aalihi wa shahbihi aj-ma’iin

Para Blogger Rohimakumullah,

Sebenarnya ide dasarnya sederhana saja: kebutuhan akan memory. Penulis sering menemukan bahan-bahan yang ‘harus dibagaimanakan’ ketika sedang surfing dan saat itu kebetulan tidak sedang ada mood untuk menyusun artikel atau tulisan bentuk apapun di WordPress tetapi bukannya tidak mungkin nanti–kapan waktunya tidak tentu–akan dibuat ‘sesuatu’, entah dalam bentuk artikel, berita, dsb. Karena itulah penulis lantas berinisiatif untuk membuka sebuah special new post di blog penulis ini yang, sesuai dengan namanya, dikhususkan untuk men-save sekumpulan bahan yang ditemukan secara tidak sengaja itu. (Tambahan: bahan yang ditemukan dari bacaan lain selain dari surfing di Internet seperti  dari buku, majalah, dsb juga termasuk)

Dan… inilah dia!

1. [http://en.wikipedia.org/wiki/Spherical_Earth]

Though the earliest evidence of a spherical Earth comes from ancient Greek sources, there is no account of how the sphericity of the Earth was discovered.[10] A plausible explanation is that it was “the experience of travellers that suggested such an explanation for the variation in the observable altitude and the change in the area of circumpolar stars, a change that was quite drastic between Greek settlements” around the eastern Mediterranean Sea, particularly those between the Nile Delta and the Crimea.[11]

According to Diogenes Laertius, “[ Pythagoras ] was the first [Greek] who called the earth round; though Theophrastus attributes this to Parmenides, and Zeno to Hesiod.”

Krüger’s list of the 79 authors known by name can be studied by clicking on “show”:

Late Antiquity

Ampelius, Chalcidius, Macrobius, Martianus Capella, Basil of Caesarea, Ambrose of Milan, Aurelius Augustinus, Paulus Orosius, Jordanes, Cassiodorus, Boethius, Visigoth king Sisebut.

Early Middle Ages

Isidore of Seville, Beda Venerabilis, Theodulf of Orléans, Vergilius of Salzburg, Irish monk Dicuil, Rabanus Maurus, King Alfred of England, Remigius of Auxerre, Johannes Scotus Eriugena, Leo of Naples (German), Gerbert d’Aurillac (Pope Sylvester II).

High Middle Ages

Notker the German of Sankt-Gallen, Hermann of Reichenau, Hildegard von Bingen, Petrus Abaelardus, Honorius Augustodunensis, Gautier de Metz, Adam of Bremen, Albertus Magnus, Thomas Aquinas, Berthold of Regensburg, Guillaume de Conches, Philippe de Thaon (French), Abu-Idrisi, Bernardus Silvestris, Petrus Comestor, Thierry de Chartres, Gautier de Châtillon, Alexander Neckam, Alain de Lille, Averroes, Snorri Sturluson, Moshe ben Maimon, Lambert of Saint-Omer, Gervasius of Tilbury, Robert Grosseteste, Johannes de Sacrobosco, Thomas de Cantimpré, Peire de Corbian, Vincent de Beauvais, Robertus Anglicus, Juan Gil de Zámora (Spanish), Ristoro d’Arezzo, Roger Bacon, Jean de Meung, Brunetto Latini, Alfonso X of Castile.

Late Middle Ages

Marco Polo, Dante Alighieri, Meister Eckhart, Enea Silvio Piccolomini (Pope Pius II), Perot de Garbalei (divisiones mundi), Cecco d’Ascoli, Fazio degli Uberti (Italian), Levi ben Gershon, Konrad of Megenberg, Nicole Oresme, Petrus Aliacensis, Alfonso de la Torre (German), Toscanelli, Brochard the German (German), Jean de Mandeville, Christine de Pizan, Geoffrey Chaucer, William Caxton, Martin Behaim, Christopher Columbus.

Summary of evidence for a spherical earth

These are given in an order which approximates how they were observed historically:

  1. When at sea it is possible to see high mountains or elevated lights in the distance before lower lying ground and the masts of boats before the hull. It is also possible to see further by climbing higher in the ship, or, when on land, on high cliffs.
  2. The sun is lower in the sky as you travel away from the tropics. For example, when traveling northward, stars such as Polaris, the north star, are higher in the sky, whereas other bright stars such as Canopus, visible in Egypt, disappear from the sky.
  3. The length of daylight varies more between summer and winter the farther you are from the equator.
  4. The earth throws a circular shadow on the moon during a lunar eclipse.
  5. The times reported for lunar eclipses (which are seen simultaneously) are many hours later in the east (e.g. India) than in the west (e.g. Europe). Local times are confirmed later by travel using chronometers and telegraphic communication.
  6. When you travel far south, to Ethiopia or India, the sun throws a shadow south at certain times of the year. Even farther (e.g. Argentina) and the shadow is always in the south.
  7. It is possible to circumnavigate the world; that is, to travel around the world and return to where you started.
  8. Travelers who circumnavigate the earth observe the gain or loss of a day relative to those who did not. See also International Date Line.
  9. An artificial satellite can circle the earth continuously and even be geostationary.
  10. The earth appears as a disc on photographs taken from space, regardless of the vantage point.

Several of these arguments have alternative explanations by themselves. e.g. the shadow thrown by a lunar eclipse could be caused by a disk-shaped earth. Similarly the north-south movement of stars in the sky with travel could mean they are much closer to earth. However, the arguments strengthen each together.

2. [http://www.meteo-technology.com/metvar.htm]

METEOROLOGICAL VARIABLES

Meteorology is the science that deals with the atmosphere and its phenomena. Major area’s of research concern the weather, weather forecasting and atmospheric composition.

When discussing technology of instruments, sensors and observing systems, as much as possible we follow the categories of WMO, World Meteorological Organisation, laid down in the Manual on Instruments and Methods of Observation.

However, some adaptations have been made:

We have added categories of soil heat flux, soil conductivity, soil thermal properties (conductivity / resistivity), ground water level, water level, water flow, water temperature, water composition, cloud properties, acoustic noise and lightning.

Atmospheric composition has been separated into atmospheric gasses and aerosols. The gasses include ozone, which is no longer treated as a separate category. The “state of the ground” has been separated from past and present weather. Radiation includes sunshine duration.

Meteorological Variables:

Temperature
Atmospheric Pressure
Humidity
Surface Wind
Precipitation
Radiation
Visibility
Evaporation
Soil: Moisture, Temperature, Heat Flux, Conductivity, Thermal Properties
State of the Ground
Ground Water level
Upper Air: Pressure, Temperature, Humidity, Wind
Present and Past Weather
Clouds: Observation, Properties
Atmospheric Composition: Gasses, Aerosols
Lightning
Water: Flow, Temperature, Level, CompositionAcoustic noise: LevelAnd on the sideline for agro-meteorology:Plants: Sap flow, leaf parameters, plant physiology etcSensors need to be calibrated: see Calibration.

3. “Vikas General Knowledge Refresher 1979” by: CS Bedi

(pages 234-303)

Chapter 8

SCIENCE

INVENTIONS AND DISCOVERIES

Some Famous Discoveries

Discovery                                                    The Discoverer

PHYSICS

Physics is that branch of science which is concerned with the fundamental relations between matter and energy. Generally speaking, it deals with the effect of various forms of energy, the position, motion and state of matter and the laws expressing the relation between physical phenomena and their causes. The various branches of physics include mechanics, heat, sound, magnetism, electricity and atomic theory.

MECHANICS

Mechanics is the most fundamental of all the branches of physics. It is concerned with action of forces upon bodies, e.g., solids, liquids and gases. Mechanics treats primarily of motion, of effects of forces applied to bodies in motion considering causes such as mass and force. Kinetics and kinematics, on the other hand, are sometimes grouped together under Dynamics. Mechanics of liquids deals with hydrostatics (bodies of liquids in equilibrium), hydrodynamics (motion of these principles involved) and hydraulics (application of these principles to machines). Mechanics of gases (pneumatics) is concerned largely with pressure exerted by atmosphere and with physical properties of gases in general.

Matter and its characteristics. Anything that occupies space, has weight and mass and which we perceive through our senses–touch, sight, hearing, smell and taste–is called matter. Thus the various objects which constitute our external world including our bodies are matter. Matter exists in four states namely, solid, liquid, gaseous, and plasma. Stone, water and air are all matter but their physical states are different. Their chief controlling conditions are temperature and pressure. With variation in temperature and pressure matter changes its physical state. Most substances are solid at ordinary temperatures but, when heated sufficiently, can be converted to liquid, gaseous and plasma states.

Matter is composes of many minute particles, called molecules, not visible even with a high powered microscope. In solids the molecules are nearer together while in liquids and gases they are rigid–not free to move about in various directions–while liquids and gases allow free motion. Molecules are made up of atoms consists of a positively charged central core called the nucleus (wherein resides all the mass of atom) and surrounded by one or more negatively charged electrons.

Mass. It is the quantity of matter in a body without regard to volume or pull of gravity.

weight. The force of attraction of the earth on a given mass is the weight of the mass.

Motion. It is the change of position of a body relative to the position of other objects. Motion and rest are relative, not absolute. For example, a person sitting in a car is at rest so far as the car is concerned but is in motion relative to the road and the other surrounding objects.

Newton’s Laws of Motion. To explain the nature of motion, Newton framed three fundamental laws on which classical dynamics is based. They are as follows:

  1. Every body continues in its state of rest or uniform motion in a straight line except in so far as it is compelled by external forces to change that state.
  2. Rate of change of momentum is proportional to the applied force, and takes place in the direction in which the force acts.
  3. To every action there is an equal and opposite reaction.

Friction. Friction is resistance to motion when two bodies in contact are moved over one another. Friction may be of two kinds, e.g., rolling friction or sliding friction. The former occurs when a body rolls over hard and smooth surface. The friction in this case is greatly reduced. The latter occurs when a body, instead of rolling over, slides. In this case, the friction is enormous and rapidity of motion experiences a great hindrance. Lubricants, use of either spherical or circular surfaces and ball bearings remove the hindrance in the way of free motion. Yet without friction life would be impossible. The actual friction between the rails and the wheels gives motion to the train; while walking, friction between our feet and the ground is a necessary condition of forward motion. friction is used to stop cars, trains and other vehicles in motion. In short, friction is a necessary evil.

Momentum. Momentum is the quantity of motion in a moving body. The amount of momentum depends upon the amount of matter or mass of the object and its velocity.

Specific Gravity. It expresses the ratio of the density or weight of a unit volume of substance to that of water or other standard substance. In simple words, the weight of any substance or the force of gravity upon it is directly proportional to its relative density. The specific gravity of a substance equals to:

weight of a definite volume of substance

———————————————————–

weight or equal volume of water

Any object having a specific gravity greater than that of water would sink in it, but the one having a specific gravity less than that of water would float in it. The ship, therefore, floats because its specific gravity as a whole is much less than the water. In other words, the volume of water it displaces by immersion is weightier than the ship itself. Similarly ice which is less heavy as compared to the same volume of water floats in water.

Force. Force may be defined as any “push” of  “pull” acting on a body or as that effort acting to change its state of motion or state of rest.

Centrifugal force. It is the force that helps an object to fly away from the centre at the tangent from its path. This force must be balanced, if equilibrium is to be maintained, by another force called the Centripetal force, a force acting in the body in its regular path. Therefore, for every force there is an equal and opposite force. Centrifugal force is employed in cream separators, drying machines and concentrators in mining.

Energy. Energy means capacity for doing work. It has various forms such as potential, kinetic, electrical, heat, chemical, nuclear and radiant as potential, kinetic, electrical, heat, chemical, nuclear and radiant energy. They are interconvertible by suitable means, the interconversion taking place in the presence of matter. Radiant energy can, however, exist without the presence of matter.

Potential energy. It is the energy which a body possess by virtue of its position, e.g., coiled spring or a car at the top of a hill posses potential energy. Kinetic Energy is the enrgy is capable which can also be transformed into other kinds of energy. For example, the coal burns with the help of oxygen of the air but at the same time develops heat, another kind of energy. The heat turns water into steam, which in turn expands and exert a pressure. This pressure causes the piston (in an engine) to move and develop kinetic energy that forces a wheel to rotate. The wheel, let us assume, is connected with the armature of a dynamo which moves and the electricity is generated. The electricity thus produced may be distributed to far off places and made useful for running factories and tramcars, lighting houses and streets, making people cooler in summer and warmer in winter and performing numerous other jobs.

 Work. Work is an action of some kind or force upon some object in which friction or other resistance is overcome. It is thus the product of motion and force and is expressed in terms of distance and force.

Horse power. Power is the rate at which work is done. Horse power is the unit of work, employed to estimate the power of an engine. A British unit of power, it is the work done at the rate of 550 foot-pounds per second equivalent in electrical units to 746 watts, or the force required to raise a weight of 33,000 lb through one foot in one minute. It was originated by James Watt.

Lever. It is a simple mechanism, consisting of a long rod and pivoting point called fulcrum about which the rod turns. There are three classes of levers; in the first, the fulcrum is between the weight and power; in the second, weight lies between the other two; in the third, the power is between the weight and fulcrum. Lever mechanism is extremely useful and is capable of doing heavy duty for man with little effort.

Gravity. Gravity is the pulling force that the earth exerts on all other material objects. This force is the cause of a body’s having weight, and it is considered to act upon the whole body at a definite point, called the centre of gravity, within the body. The force of gravity is subject to slight variations in different places. That is why the weight of a body varies at different places on the surface of earth.

Law of gravitation. The law states that all bodies in the universe exert a mutual attraction (or pull) on each other. Propounded by Newton, the law further states that every force which is directly proportional to the product of the square of the distance between them. Gravitation accounts for the orbital movements of the planets round the sun and the movements of satellites round the planets. In fact, “Gravity rules the universe” because of our Milky Way are bound together. It also plays a great part in the creation and destruction of a star or a satellite.

Principle of Archimedes. Archimedes, the Greek mathematician, established the principle that a body, when weighed in a fluid, loses as much of its weight a is equal to the weight of the fluid displaced. As discussed earlier, a body floats in the water only when its weight equals the weight of an equal volume of water.

HEAT

Heat is a form of energy. Energy, as we have discussed earlier, is the capacity of doing work, and heat does work when it transforms water into steam which moves the engine. It is the most widely used form of energy and the various machines which are in use at present are not possible without using the instrumentality of heat. Without this we cannot cook our meals, dry our clothes, keep ourselves warm and alive.

Transmission of heat. When and where possible, heat passes from one body at higher temperature to another at a lower temperature. It travels in three ways, namely by (i) Conduction, (iiConvection, and (iii) Radiation.

Conduction. It is the process of heat transfer in which heat flows from the hotter at higher parts of a substance to its colder parts without any visible movement of the particles taking place. When heat is transmitted through a solid body in this manner, this process is termed as conduction.

Convection. It is the process of heat transfer in which heat spreads in a body by the actual movement of its particles. The particles near the source of heat get hotter, expand and move upwards giving their place to colder ones.

Radiation. It is the process of heat transfer in which heat travels from one place to another in straight lines without heating the medium through which it passes. The radiant energy travels at a terrific speed of 1,86,000 [sic] miles per second–the speed of light. It is the radiant energy that warms the earth. The radiant heat travels in a vacuum as well as in air and it always travels in a straight line.

Thermos bottle (Vacuum flask). It is an apparatus that almost completely prevents the escape of heat through conduction, convection and radiation. This apparatus comprises an inner vessel closely surrounded by another outer vessel, the space between the two vessels being a vacuum. The outer surface of the inner wall and the inner surface of the outer wall are silvered. A hot liquid placed in the inner vessel keeps its heat because the vacuum prevents any loss of heat which does escape due to radiation is minimised [sic] due to the reflecting surface being silvered. Thus the hot liquid placed in the flask remains hot for a pretty long time.

Evaporation. The conversion of liquid into vapours is called evaporation. The amount of heat required to evaporate a unit of liquid is called ‘latent heat of evaporation.’ Evaporation depends upon the following factors:

  1. Nature of the liquid. Liquids like the methylated spirit evaporate  very rapidly. They are also called volatile. Others like glycerine may not evaporate at all.
  2. Temperature. The higher the temperature, greater the evaporation.
  3. Pressure. The lower the pressure exerted on the liquid, the quicker i the evaporation.
  4. Dryness or otherwise of air. If the air is dry, the evaporation is greater and more rapid. damp air hardly makes evaporation possible.
  5. Extent of the exposed surface. Larger the area of exposed surface of the liquid, greater the evaporation.

Evaporation and cooling. (i) In summer, the water is kept porous earthen pots. The water which oozes out of the pores of the pot evaporates taking the necessary latent heat from the remaining water which is thereby cooled. (ii) When water is sprinkled on the roads in summer it immediately evaporates taking the heat of evaporation from the road and the surrounding air. A cooling effect is thus generated. (iii) Manufacture of ice is possible only by the cooling effect of evaporation. (iv) The human body is also cooled in the similar way. When we perspire due to heat and sit under a fan or a shady tree, the air causes evaporation and consumes much of our body heat. The result is the cooling effect.

Condensation. As explained earlier, heat causes evaporation and water is turned into vapour. If these vapours are cooled, they come back to the liquid form. This conversion of vapors into liquid is called condensation and it takes place when the pressure of the liquid at the temperature. Condensation helps formation of dew, rain, show [snow?], mist and fog.

LIGHT

It is the name given to the agency by means of which a viewed object influence the observer’s eye. Light itself is not visible; it is the object illumined by light that is seen. Light is a form of energy having the properties of vibration or wave motion at a terrific speeds 1,86,000 [sic] miles per second. The light of the sun takes about 8 1/2 minutes to reach the earth.

The sun, stars, fires, candle flames or burning lamps emit their own light but certain cold object like moon, earth, hoses, wood and the numerous objects we come into contact with in daily life merely reflect light, received from other sources of light. The former are called luminous bodies and the latter non-luminous bodies. Of the latter, those objects which allow the light to pass through them readily so that other objects can be seen through them are called transparent bodies and include glass, air and water. On the other hand, objects like metals, wood etc. which do not allow light to pass through them are called opaque bodies. There are yet other objects which allow light to penetrate them but not sufficient enough for the objects beyond them to be seen clearly. They are called translucent substances.

Reflection of light. A part of light that falls on an object is absorbed and the rest is reflected. The degree of reflection depends on the nature of the object or surface. A piece of white paper or a smooth, polished surface reflects most of the light striking it, but a black, dull surface absorbs almost the whole of the incident light. Our ability to read something represented by writing on a paper is a good example. The black letters on a sheet of paper absorb almost whole of light but the white surroundings reflect most of the light. This contrast of black and white makes reading possible.

Refraction of light. Light travels slower in a dense medium than in a rare medium. Water and glass, for example, are denser than air. When a ray of light leaves a rare medium and strikes the surface of a denser medium at an angle other than the right angle, it bends or deviates from its straight path. Ths deviation or alteration is called Refraction. The extent of bending depends on the relative optical densities or int the refractive indices of the two media; the greater the difference in the refractive indices of the two media, the greater is the refractive effect. (i) When stick is placed in water, a denser medium than air, it appears bent due to refraction. For the same reason, a pond does not look as deep as it actually is. When the light rays strike its bottom, they are refracted in water and the bottom appears to be nearer the surface of the water than it actually is. (ii) The sun rises about two minutes earlier than it is really seen and sets two minutes later on account of refraction. (iii) The stars seen in the sky look more distant than their actual position because their rays of light, when they pass through the denser air near the earth, are inwardly bent because of refraction.

MAGNETISM AND ELECTRICITY

Magnetism. Magnetism is the property of attracting iron and a few other metals. It was first observed in a form of magnetite called loadstone which is also called a natural magnet. The name magnet is derived from Magnesia in Asia Minor, where about 1,000 BC, people were aware of a certain rusty-brown or black mineral compound called loadstone which had the property of attracting pieces of iron towards it. The earth possesses a magnetic field, the intensity of which varies with time and locality. The field is similar to that which would be produced by a powerful magnet situated at the centre of the earth and pointing approximately North and South. The magnetic force of attraction appears to be more concentrated at these poles or positions near the ends.

The magnetic field.  A magnetic field is a region around any magnet (no matter whether it is earth or a small compass) in which the influence of the magnet can be experienced by other magnetic bodies like pieces of iron or steel. A magnetic field may exist at a point as a result of the presence of either a permanent magnet or of a circuit carrying an electric current in the neighbourhood of the point.

Electricity. Certain phenomena related to frictional electricity have been noticed from early times. About 600 BC, Thales, a Greek philosopher, recorded that a hard yellow substance (amber) had the properties of attracting light bodies. Dr Gilbert, in the 16th century, proved that some other bodies also possessed this property and to these he gave the name of Electrics after the Greek word electron which meant amber. This gave a new impetus to the study of electricity leading to important researches and resulting in the production of frictional machines which gave out a spark several inches in length.

The Leyden Jar, an electrical condenser, was invented in 1746 by Cunaeus at the Leiden University, giving as understanding of the principles of induction. Franklin, a few years later, indentified [sic] the electric spark with the lightning. In 1800, Volta discovered a new source of electricity, afterwards developed as primary battery or cell. Later, the studies and researches of Davy, Faraday, Oersted, Ohm, Hertz, Johnstone and Thomson resulted in the enunciation of the principles governing electrolysis, electromagnetism, electrical resistance, working of electrical forces, atomic nature of electricity and the elaboration of the electron theory.

As the most flexible form of energy which can be easily produced, conveniently transmitted, electricity is being put into numerous uses. it serves man in a greater variety of ways than any other form of energy. It is used as source of power, as a source of heat and light and has been of help in the treatment of various diseases. It carries messages across land and sea by wires and through diseases. It transmits music and pictures (radio and television) from one place to the other thousands of miles apart in no time. It has helped to split the atom and evolve the atomic weapons. It has enabled man to reach the outer space and to explore the universe beyond.

Static electricity. Static electricity is concerned with nature, strength and effect of charge on bodies. As explained earlier, hundreds of years BC it was known that a piece of amber rubbed with wool possessed the power of attracting other substances. Electricity was, therefore, termed as a power that attracted other small bodies. Franklin demonstrated that electricity was of two distinct kinds, namely the positive and negative. Electric charges of the same kind repel each other (similar to the repulsion between magnetic poles of the same kind) and the dissimilar ones exert a mutual force of attraction. Because of the rubbing process, electricity of the obove [above?] kind was called frictional electricity. Since this kind of electricity does not flow as a current, it was named as static electricity.

Dynamic or current electricity. Since electricity flows along wires at a great speed and can be transferred from one body to another, it is called current electricity. Atom, the smallest conceivable particle of matter, is composed of a nucleus, consisting of one or more protons and neutrons surrounded by a space in which one or more electrons or particles of negative electricity revolve at a great speed. An atom with its nucleus and electrons may be likened to an exceedingly small solar system, corresponding to the sun and the planets revolving about it. The atom of hydrogen is considered one of the simplest, consisting of a single proton forming the nucleus around which a single electron is revolving. Atoms of other forms of matter are more complicated.

In the process of electrification some of the electrons are torn away from atoms so that the remainder, being deficient in negative electricity, appears to be charged positively and in its state to capture electrons, it exerts an attracting force for negative electricity. The escaped electrons give a charge of so-called negative electricity to the body to which they become attached. Thus a current of electricity consists of an extremely rapid motion of free negative electrons along a wire or other conductor.

Good conductors. These are the substances which allow electric current t pass through them. There are also super conductors with zero magnetic induction, their properties being (i) perfect diamagnetism, and (ii) infinite conductivity. Those substances which resist the flow of the electric current through them are called Insulators or bad conductors.

Lightning. The disturbances in the atmosphere, especially the rapid movement of air columns due to sudden changes in temperature, are responsible for producing good amount of electricity (static) which collects in the clouds. When a cloud charged with positive or negative electricity comes near another cloud or objects like buildings, trees etc. on earth, the charged cloud induces an opposite charge in the second cloud or in the objects on earth which get charged oppositely by induction. The air between the two clouds or the charged cloud and the earth acts as an insulator, but when this resistance broken, the discharge results in a flash of lightning, with a loud thundering noise. Air offers a very large resistance to the passage of electricity and it requires millions of volts of it to break the air resistance and cause a flash of lightning. A Lightning Conductor is a mechanism by which buildings can be saved from damage caused by lightning. It consists of metallic rod with pointed ends at the top and connected with a metallic plate buried in the earth down blow [below?]. It is placed on a high chimney of on the top of the building. The conductor allows the charge to pass harmlessly into the earth without in anyway damaging the building. (SO, 1975)

The heating effect of electricity. Electric current is easily convertible into heat. Conductors of certain metals (generally alloys) become red hot when electric current at the right pressure passes through them. Electric cookers, kettles, sauce pans, and other electrical appliances meant for domestic use as heaters consist of wires embedded in oxide of magnesium and completely covered by an outer casing.

The light effect of electricity. Electricity is turned into light in an electric lamp. The ordinary glass bulb consists of a tungsten wire, called the filament, sealed into the glass covering and filled with mixture of nitrogen and argon to prevent the burning of filament. The electric current makes the filament extremely hot and it consequently gives out yellow white light.

The magnetic effect of electricity. Electricity is solely responsible for the formation of artificial magnets, called the electro-magnets. An electromagnet is a temporary magnet, formed by winding a coil of wire round a piece of soft iron. When the electric current passes through the wire, the iron bar becomes a magnet but it remains a magnet only so long as current flows. The magnetic strength of the iron bar depends on the number of turns in the coil and the current strength. Such magnetic strength of the iron bar depends on the number of turns in the coil and the current strength. Such magnets are used in telephone, telegraph, electric bell, electric generator and motor.

SOUND

The term sound is applied to the sensation produced upon the organ of hearing caused by the incidence of vibration consisting of alternate compression and refraction of the air. Sound wave is longitudinal since vibration is along the direction of wave. Wavelength depends on velocity in a given medium at a given temperature and on frequency of vibration of body causing sound. The vibration of sound can pass through many solid, liquid and gaseous substances but will not pass through vacuum. The sound travels at a speed of 1,100 ft per second (about 760 miles per hour) in the air at ordinary temperatures. Its speed in solids and liquids is much higher.

The pitch or frequency of the sound is dependent on wavelength of the vibration. Whether the sound is soft or loud depends on the amplitude or height of the wave. Sounds of frequencies of about 20,20,000 [sic] vibrations per second are audible to the human ear. Sounds having frequencies below 16 cycles per second (cps) are called infrasonics, about 20,000 cps ultrasonics and above 1,000 million cps hypersonics. A sense of feeling starts at 16 cps but actual sense of hearing is produced at 20 cps. Sound waves can be reflected. [sic] refracted or absorbed.

Uses of ultrasonics. Development in the field of ultrasonic techniques during the world wars led to the two submarine detecting. Ultrasonics are now extensively used to explore the sea beyond the directly-observed range. This is called echosounding. The depth of sea at a place can be measured by noting the lapse of time between transmission and reception of an acoustic impulse, transmitted downward into the sea. On this is based the sophisticated modern application called SONAR–sound navigation and ranging. Ultrasonics has found an extensive use in biology and medicine–ultrasonic massage, ultrasonic cleaning and brain surgery using ultrasonics being some of such uses. (I AS, 1979)

CHEMISTRY

Chemical change. Chemical change means the formation of a new substance and is also accompanied by alteration in weight. Once a substance undergoes chemical change, it is permanent and its former state cannot be retrieved. When oxygen combines with iron o form rust, it is a chemical change. Similarly the burnt up candle becomes part and parcel of the atmosphere and its properties as candle cannot be restored.

Physical change. Physical change is the change or alteration of only properties of a substance, not accompanied by a chemical change. Formation of ice or steam are but physical alteration of water. Under proper conditions they can be changed from their gaseous and solid states back to water.

Element. An element is a simple substance, which cannot be chemically split into two or more unlike substances. For example, we cannot reduce a piece of iron into anything else than iron. There are 105* stable elements so far known to us and some of them are rare, their properties little understood as yet. Elements may be gas, liquid, solid, metals or non metals. Oxygen, for example, is the most abundant element.

The latest researches have succeeded in bringing about trans-mutation of elements during atomic fission, fusion. and radioactivity which can be caused by bombardment of elements in the cyclotron or in a nuclear reactor.

*The 104th element, named Kurchatovium, with mass number as 260 and the 105th (Hahnium) have been synthesized recently by the scientists. Of these, 88 could be obtained naturally and the rest were created by alchemy of the modern laboratories using powerful particle accelerators. As per latest reports from USSR, the 106th element has also been discovered. Further confirmation is awaited.

Compound. A compound is a substance, produced by the chemical combination in definite proportions (by weight) of two or more elements. It has properties distinct from those of its constituents. Thus H2O symbolising [sic] the compound water, means that each molecule of water contains two atoms of hydrogen and one of oxygen.

Air. The air or the gaseous envelope which surrounds the earth is a mixture of several gases. It is neither an element nor a compound. The composition of air slightly differs at different places but its average composition is: Oxygen: 20.95%, Nitrogen: 78.09%, Carbon dioxide: 0.04%, other gases: 0.92%, Water vapour: variable. Gas is breathed by men in burning. If a flame is shut upin a jar, it will burn for a little while till it consumes the oxygen in its entirely and will then go out. Oxygen is, therefore, the essential element for the process of burning. Nitrogen, the colourless, odoourless, and tasteless gaseous element, is relatively inactive.

Oxygen. It is the colourless, odorless and tasteless gaseous element having the symbol O and atomic weight 16. It is the most abundant of all the elements in the earth’s crust including the seas and the atmosphere. It constitutes nearly one-fifth of the atmosphere. It is essential for most forms of life and its compounds (oxides) are very widely distributed. The pure element is made by the fractional distillation of liquid air. It is used in welding and metal cutting. It is heavier than air, slightly soluble in water and is a poor conductor. It exists in a free state in the atmosphere, supports combustion but is itself incombustible. active and important chemically, it is involved in oxidation, combustion, respiration, rusting and corrosion. It is of great commercial importance and is being used in medical practice and also in the production of high temperatures.

Hydrogen. It is colourless, inodourus, tasteless and the lightest known gaseous element. It occurs in nature combined with oxygen, forming water and uncombined in small quantities in volcanic gases. Its symbol is H, atomic weight 1.008 [sic] and boiling point 252OC. It is made commercially by the electrolytic decomposition of water or by other methods. It can also be obtained from acids of alkalis. In the laboratory, it is prepared by the action of dilute sulphuric acid on commercial zinc. Hydrogen is colourless, inodorous, tasteless and inflammable, burning with a non-luminous falme. It is the lightest gaseous substance known. Its molecule is diatomic (containing two atoms written as H2). It occurs as water (H2O), in organic compounds and in all living things.

Nitrogen. Gaseous element having the symbol N and atomic weight 14.0067. It forms four-fifths by volume of the atmosphere and occurs in nature in the form of nitrates and also as a constituent of many animal and vegetable compounds. It is prepared commercially from ammonia or by distillation methods from the air. It is a colourless, tsteless and odourless element which does not burn nor supports combustion. It is relatively inactive but combines with some active acid,amino [sic] acids and many explosives. It is present in all living matter and its compounds are most essential to life.

Nitrogen cycle. It is the corculation of nitrogen compounds in nature through the various organisms to which nitrogen is essential. Nitrogen compounds are stored in plants which are used by animals for food. Nitrogen enters into other compounds in the body of animals. Animal waste matter with high nitrogen content passes into forms which can be utilised [sic] by plants and then transformed into compounds unable by plants and then transformed into compounds usable by animals again. The cycle is thus completed.

Carbon dioxide. It is carbonic acid gas occuring in atomsphere [atmosphere?] and having the symbol CO2. It results from burning of carbon, hydrocarbons and from decomposition of carbonate. It is also the result of respiration. It is a colourless gas with a very faint tingling smell and taste. It is heavier than air and neither burns nor supports combustion. It is soluble in water and can be liquefied under pressure. When allowed to accumulate as in coal pits and disused cellars, it can cause death because human being cannot live on air with more than 15to 20 per cent of carbon dioxide. A small quantity of it can cause discomfort.

Water. One of the most essentials of life, water covers about 70 per sent of earth’s surface. It is constantly wearing down land and carrying and depositing it elsewhere. Rain, humidity and also the presence of large body of water are important factors in climate. Water, which forms greater part of animal and plant protoplasm, is present in plant sap and animal blood and is essential to photosynthesis. When cooled to 0OC, it changes to colourless, crystalline solid called ice. It expands in freezing (causing bursting of pipes). When heated to coiling point, it vapourises to steam and expands about 1,700 times. It also evaporates at ordinary temperatures. It is a compound of hydrogen (two atoms) and oxygen (one atom), its symbol being H2O. Pure water is a poor conductor of electricity and heat. Water is one of the best solvents. Temporary hardness of water occurs when bicarbonates of calcium or magnesium are present; a permanent one occurs when sulphates or chlorides of these are there. Temporary hardness can be eliminated by boiling or by adding lime; permanent hardness can be eliminated by adding substances as sodium carbonate or sodium hydoxide.

Carbon. It is the abundant, non metallic element, scientifically denoted at c, found in all organic matter. All life on earth is based on the chemistry of carbon, hydrogen, and oxygen. Its atomic weight is 12,001. It occurs in nature as carbonate, in air as carbon dioxide, in crystalline form as the diamond and graphite and in amorphous form as charcoal. Our chief sources of power, light and heat are derived from the compounds or forms of carbon known as coal, petroleum and alcohol. Carbon forms hydrocarbon and carbohydrate compounds. Oxidation or burning of carbon in food provides the chemical energy for biological processes. Perfect oxidation results in carbon dioxide and incomplete oxidation in carbon monoxide. Steel is a compound of iron and carbon.

Graphite. It is the natural allotropic form of carbon. It occurs as a soft, black mineral, greasy to touch, with a metallic lustre and containing iron oxide and other impurities. It is a good conductor of heat and electricity. (SSC, 1974)

Diamond. The purest, crystalline form of carbon. It is the hardest substance known. When pure, it is colourless. It is sometimes coloured by traces of impurities. It has a very high refractive index and dispersive power. It is used for cutting tools and drills and also as a gem. Most of the world’s gem diamonds come from South Africa. It is also produced synthetically for use in industry.

Coal. Material, occurring in large underground deposits, consisting of carbon and various other carbon compounds. It represents the remains of ancient land vegetation which has undergone chemical change–reducing the oxygen and increasing the carbon content u[ to 75 or 90 per cent. There are various and volatile substances. They include peat, lignite and anthracite. Coal tar is obtained by heating coal in the manufacture of chemicals, dyes and explosives.

Charcoal. It is the general name of numerous varieties of carbon, usually impure. It is the carbonaceous residue obtained by the smothered or combustion (in the absence of air) of vegetable, animal or combustible mineral substances. Wood charcoal is an impure, amorphous form of carbon and is a porous solid which burned as fuel, is flameless and smokeless. Charcoal is used in making gun-powder in sugar refining, in purification of water and air and in gas masks.

Lampblack. It is the impure form of soot, constituting a morphous carbon and hydrocarbons obtained from burning of certain substances like oil, resin and other organic material. Lampblack is used for the manufacture of inks and black paint. It is also a colouring agent.

Acid. It is substance that liberates hydrogen ions in solution or the one containing hydogen which may be replaced by a metal to form a salt or the one having a tendency to lose protons. Most of the acids are corrosive, have a sour taste and turn litmus red. All acids are corrosive, have a sour taste and turn litmus red. All acids contain hydrogen and most of them contain oxygen too. The ones without oxygen are distinguished by hydrochloric acid and those with a high proportion of oxygen by perchloric acid.

Acid can conduct electricity. Most acids are solid, ony a few of them are liquids and very few are gases. It is the opposite of alkali.

Alakalis. These are the goups of compounds, oxide or carobonates which are soluble in water and neutralize the acids forming salts. They have a caustic taste and turn red litmus blue. The common alkalis are ammonia, caustic soda, caustic potash, sodium and potassium carbonates. They are of great commercial importance and are manufactured on a very large scale.

Base. It is a substance that reacts with an acid to form water and a salt only. It has a negative charge, tastes bitter, feels soapy soft and turns red litmus blue, such as calcium hydroxide or magnesim hydroxide.

Salt. Chemical compound which is formed when he hydrogen of an acid has been replaced by a metal. Salts are named according to the acid and the metal from which the salt is derived. Thus copper sulphate is a salt derived from copper and sulphuric acid.

SOME IMPORTANT QUESTIONS RELATING TO SCIENTIFIC AND GEOGRAPHICAL PHENOMENA

Q. When did the life originate on Earth?

Ans. Evidence that life in the form found today probalby originated on earth 3 billion years ago has been provided by the three researchers belonging to the Exobiology Division of NASA Ames Research Centre, Califoprnia (USA). The last word on this riddle is nevertheless yet to come.

Q. Why does the sky look blue?

Ans. The gaseous envelope around the earth comprises air, dust particles and water vapour. The light of the sun, consisting of colours of the spectrum, is broken up and scattered by this atmosphere. Since the blue colour has shorter wavelength than other colours like red and orange, it is prominently scattered by the water vapour and the dust particles. Thus the sky appears as blue in colour. (IES, 1974)

4. [http://www.youtube.com/watch?v=HDgFPrjSsjg]

Yang ini adalah tentang pria tercantik sedunia dan wanita termaskulin sedunia dari youtube.

5. [http://en.wikipedia.org/wiki/Mass_communication]

Mass communication

Mass communication is the study of how individuals and entities relay information through mass media to large segments of the population at the same time. It is usually understood to relate to newspaper, magazine, and book publishing, as well as radio, television and film, as these mediums are used for disseminating information, news and advertising. Mass communication differs from the studies of other forms of communication, such as interpersonal communication or organizational communication, in that it focuses on a single source transmitting information to a large group of receivers. The study of mass communication is chiefly concerned with how the content of mass communication persuades or otherwise affects the behavior, attitude, opinion, or emotion of the person or people receiving the information.

Field of study

Mass communication is “the process by which a person, group of people, or large organization creates a message and transmits it through some type of medium to a large, anonymous, heterogenous audience.” [1] Mass communication is regularly associated with media influence or media effects, and media studies. Mass communication is a branch of social science that falls under the larger umbrella of communication studies or communication
The history of communication stretches from prehistoric forms of art and writing through modern communication methods such as the Internet. Mass communication began when humans could transmit messages from a single source to multiple receivers. Mass communication has moved from theories such as the hypodermic needle model (or magic bullet theory) through more modern theories such as computer-mediated communication.

In the United States, the study of mass communication is often associated with the practical applications of journalism (Print media), television and radio broadcasting, film, public relations, or advertising. With the diversification of media options, the study of communication has extended to include social media and new media, which have stronger feedback models than traditional media sources. While the field of mass communication is continually evolving, the following four fields are generally considered the major areas of study within mass communication. They exist in different forms and configurations at different schools or universities, but are (in some form) practiced at most institutions that study mass communication.

Advertising

Advertising, in relation to mass communication, refers to marketing a product or service in a persuasive manner that encourages the audience to buy the product or use the service. Because advertising generally takes place through some form of mass media, such as television, studying the effects and methods of advertising is relevant to the study of mass communication

Broadcasting

Broadcasting is the act of transmitting audio and/or visual content through a communication medium, such as radio, television, or film. In the study of mass communication, broadcasting can refer to the practical study of how to produce communication content, such as how to produce a television or radio program

Journalism

Journalism, is the collection and editing of news for presentation through the media, in this sense, refers to the study of the product and production of news. The study of journalism involves looking at how news is produced, and how it is disseminated to the public through mass media outlets such as newspapers, news channel, radio station, television station, and more recently, e-readers and smartphones.

Public Relations

Public relations is the process of providing information to the public in order to present a specific view of a product or organization. Public relations differs from advertising in that it is less obtrusive, and aimed at providing a more comprehensive opinion to a large audience in order to shape public opinion.

Major Theories

Communication researchers have identified several major theories associated with the study of mass communication. Communication theory addresses the processes and mechanisms that allow communication to take place.

  • Cultivation theory, developed by George Gerbner and Marshall McLuhan, discusses the long-term effects of watching television, and hypothesizes that the more television an individual consumes, the more likely that person is to believe the real world is similar to what they have seen on television.[2] Cultivation is closely related to the idea of the mean world syndrome.
  • Agenda setting theory centers around the idea that media outlets tell the public “not what to think, but what to think about.” Agenda setting hypothesizes that media have the power to influence the public discourse, and tell people what are important issues facing society.[3]
  • The spiral of silence, developed by Elisabeth Noelle-Neumann, hypothesizes that people are more likely to reveal their opinion in public if they believe that they are of the majority opinion, for fear that revealing an unpopular opinion would subject them to being a social outcast. This theory is relevant to mass communication because it hypothesizes that mass media have the power to shape people’s opinions, as well as relay the opinion that is believed to be the majority opinion.[4]
  • Media ecology hypothesizes that individuals are shaped by their interaction with media,[5] and that communication and media profoundly affect how individuals view and interact with their environment.[6]
  • According to the Semiotic theory, communication characteristics such as words, images, gestures, and situations are always interpretive. All sign systems, entitled to be “read” or interpreted, regardless of form, may be referred to as “texts.” In the study of Semiotics, there is no such thing as a literal reading. [7]

Methods of Study

Communication researchers study communication through various methods that have been verified through repetitive, cumulative processes. Both quantitative and qualitative methods have been used in the study of mass communication. The main focus of mass communication research is to learn how the content of mass communication affects the attitudes, opinions, emotions, and ultimately behaviors of the people who receive the message. Several prominent methods of study are as follows:

  • Studying cause and effect relationships in communication can only be done through an experiment. This quantitative method regularly involves exposing participants to various media content and recording their reactions. To show causation, mass communication researchers must isolate the variable they are studying, show that it occurs before the observed effect, and that it is the only variable that could cause the observed effect.[8]
  • Survey, another quantitative method, involves asking individuals to respond to a set of questions in order to generalize their responses to a larger population.[9]
  • Content analysis (sometimes known as textual analysis) refers to the process of identifying categorial properties of a piece of communication, such as a newspaper article, book, television program, film, or broadcast news script. This process allows researchers to see what the content of communication looks like.[10]
  • A qualitative method known as ethnography allows a researcher to immerse themselves into a culture to observe and record the qualities of communication that exist there.[11]

Professional organizations

The Association for Education in Journalism and Mass Communication[12] is the major membership organization for academics in the field, offering regional and national conferences and refereed publications. The International Communication Association [13] and National Communication Association (formerly the Speech Communication Association) are also prominent professional organizations. Each of these organizations publishes a different refereed academic journal that reflects the research that is being performed in the field of mass communication.

Notes

  1. ^ Pearce 2009, p. 624
  2. ^ Gerbner, G., Gross, L., Morgan, M., & Signorielli, N. (1986). “Living with television: The dynamics of the cultivation process” in J. Bryant & D. Zillman (Eds.), Perspectives on media effects (pp. 17–40) Hilldale, NJ: Lawrence Erlbaum Associates
  3. ^ McCombs, Maxwell E.; Donald L. Shaw (1972). “The Agenda-Setting Function of Mass Media”. Public Opinion Quarterly 36 (2): 176
  4. ^ Noelle-Neumann, E. (1974). The spiral of silence: a theory of public opinion. Journal of Communication, 24, 43-51
  5. ^ Postman, Neil. “The Humanism of Media Ecology”. Retrieved 9 November 2012
  6. ^ McLuhan, M.; Fiore Q.; Agel J. (1996). The medium is the massage: an inventory of effects. San Francisco: HardWired. ISBN 978-1-888869-02-6
  7. ^ Encyclopedia of Curriculum Studies
  8. ^ Babbie, E. (2007). The practice of social research. Thomas Higher Education: Belmont, California. ISBN 0-495-09325-4
  9. ^ Babbie, E. (2007). The practice of social research. Thomas Higher Education: Belmont, California. ISBN 0-495-09325-4
  10. ^ Babbie, E. (2007). The practice of social research. Thomas Higher Education: Belmont, California. ISBN 0-495-09325-4
  11. ^ Babbie, E. (2007). The practice of social research. Thomas Higher Education: Belmont, California. ISBN 0-495-09325-4
  12. ^ AEJMC
  13. ^ ICA

6. [http://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi_massa]

Komunikasi massa

Komunikasi massa adalah proses dimana organisasi media membuat dan menyebarkan pesan kepada khalayak banyak (publik).[1]

Organisasi – organisasi media ini akan menyebarluaskan pesan-pesan yang akan memengaruhi dan mencerminkan kebudayaan suatu masyarakat, lalu informasi ini akan mereka hadirkan serentak pada khalayak luas yang beragam. Hal ini membuat media menjadi bagian dari salah satu institusi yang kuat di masyarakat.

Dalam komunikasi masa, media masa menjadi otoritas tunggal yang menyeleksi, memproduksi pesan, dan menyampaikannya pada khalayak.

Daftar isi

Ciri-ciri komunikasi massa

  1. Menggunakan media masa dengan organisasi (lembaga media) yang jelas.
  2. Komunikator memiliki keahlian tertentu
  3. Pesan searah dan umum, serta melalui proses produksi dan terencana
  4. Khalayak yang dituju heterogen dan anonim
  5. Kegiatan media masa teratur dan berkesinambungan
  6. Ada pengaruh yang dikehendaki
  7. Dalam konteks sosial terjadi saling memengaruhi antara media dan kondisi masyarakat serta sebaliknya.
  8. Hubungan antara komunikator (biasanya media massa) dan komunikan (pemirsanya) tidak bersifat pribadi.

Efek komunikasi masa

Berdasarkan teorinya, efek komunikasi masa dibedakan menjadi tiga macam efek, yaitu efek terhadap individu, masyarakat, dan kebudayaan.

Efek komunikasi masa terhadap individu

Menurut Steven A. Chafee, komunikasi masa memiliki efek-efek berikut terhadap individu:

  1. Efek ekonomis: menyediakan pekerjaan, menggerakkan ekonomi (contoh: dengan adanya industri media massa membuka lowongan pekerjaan)
  2. Efek sosial: menunjukkan status (contoh: seseorang kadang-kadang dinilai dari media massa yang ia baca, seperti surat kabar pos kota memiliki pembaca berbeda dibandingkan dengan pembaca surat kabar Kompas.
  3. Efek penjadwalan kegiatan
  4. Efek penyaluran/ penghilang perasaan
  5. Efek perasaan terhadap jenis media

Menurut Kappler (1960) komunikasi masa juga memiliki efek:

  1. conversi, yaitu menyebabkan perubahan yang diinginkan dan perubahan yang tidak diinginkan.
  2. memperlancar atau malah mencegah perubahan
  3. memperkuat keadaan (nilai, norma, dan ideologi) yang ada.

Efek komunikasi masa terhadap masyarakat dan kebudayaan

  1. Teori Penentuan Agenda oleh Combs dan Shaw Achil

Teori-teori komunikasi massa

  1. Hypodermic needle theory
  2. Cultivation theory
  3. Cultural imperalism theory
  4. Media equation theory
  5. Spiral silence theory
  6. Technological determinism theory
  7. Uses and gratification theory
  8. Agenda setting theory
  9. Media critical theory

Catatan kaki

  1. ^ (Inggris) Littlejohn, Stephen W. Theories of Human Communication. Seventh edition.

7. [http://itha911.wordpress.com/jurnalistik/jurnalistik-investigasi/]

Jurnalistik Investigasi

Jurnalisme Investigasi

Definisi jurnalisme investigatif menurut Steve Weinberg adalah “Reportase melalui inisiatif sendiri dan hasil kerja pribadi, yang penting bagi pembaca, pemirsa dan pemerhati. Dalam banyak hal, subjek yang diberitakan menginginkan bahwa perkara yang berada dalam penyelidikan tetap tidak tersingkap.”

Menurut Greence Roberts, reportase investigatif adalah reportase, terutama melalui hasil kerja dan inisiatif sendiri, yang artinya penting yang oleh beberapa pribadi atau organisasi ingin dirahasiakan.
Tiga unsur dasarnya adalah bahwa investigasi itu merupakan kerja wartawan, bukan laporan investigas yang dilakukan oleh orang lain, bahwa masalah yang diberitakan melibatkan sesuatu yang sangat penting bagi pembaca atau pemirsa dan bahwa pihak-pihak lain berusaha menutup-nutupi masalah ini dari publik.
Dari definisi tersebut jelaslah bahwa para wartawan investigatif tidak mengikuti agenda orang lain. Mereka sendirilah yang memutuskan apa yang bernilai untuk diliput, bukan karena seorag pejabat atau seseorang lain meminta mereka meliput sesuatu.

Unsur lainnya yang membedakan wartawan investigatif adalah adanya kerahasiaan dalam berita yang akan diliput dan adanya pengelakan terhadap wartawan yang akan meliput. Menurut kebanyakan wartawan, jika pejabat yang berwenang tidak menyembunyikan informasi, maka berita yang diliput bukanlah berita hasil investigasi.

Menurut Roberts, jurnalisme investigatif bukanlah semata-mata untuk menjebak politisi dalam keadaan yang sangat memalukan atau memfokuskan perhatian pada kebiadaban akan tetapi menggali kebawah permukaan atau menyingkap penyimpangan yang ditutup-tutupi, sehingga kita dapat membantu para pembaca memahami apa yang sedang terjadi di dunia yang semakin kompleks.
Memilih Sasaran untuk Investigasi. Sebelum beroperasi, wartawan investigasi harus memilih dulu apa sasaran investigasinya. Beberapa sasaran selalu pantas diselidiki, termasuk korupsi di pemerintahan, kualitas pendidikan, dan lain-lain.

Memulai Investigasi. Investigasi dimulai dengan datangnya panggilan telepon dari seseorang yang memberikan petunjuk tentang adanya suatu kejanggalan di suatu instansi atau institusi atau di suatu tempat.
Narasumber yang Tidak Bersahabat. Reportase investigatif merupakan kerja jurnalistik yang paling berisko. Pihak-pihak yang menjadi sasaran investigasi seringkali melakukan tindakan yang tidak terpuji terhadap media dan wartawan media yang bersangkutan. Itulah sebabnya, wartawan yang melakukan kerja jurnalisme investigatif harus siap-siap menerima resiko. Inilah tantangan bagi para wartawan yang benar-benar ingin menegakkan integritas profesinya.

Membuat Hipotesis. Hipotesis merupakan teknik berfikir yang paling penting dalam melakukan investigasi. Fungsi hipotesis yang penting adalah membantu melihat makna dari suatu objek atau peristiwa. Misalnya, pikiran yang sudah siap dengan hipotesis-hipotesis tentang evolusi akan membuat pengamatan-pengamatan berarti yang lebih banyak tentang suatu ekskursi lapangan daripada pikiran yang tidak siap.

Hipotesis-hipotesis harus digunakan sebagai alat untuk menyingkap fakta-fakta baru dan bukan sebagai tujuan. Hipotesis dikemukakan disini karena dua faktor yaitu: Pertama, hipotesis masih merupakan cara terbaik untuk mencari tahu apa yang terjadi. Kedua, sebuah reportase investigatif dimulai dan diakhiri dengan suatu anggapan.

Lima Elemen Investigasi, yaitu:
1. Mengungkap kejahatan terhadap kepentingan publik, atau tindakan yang merugikan orang lain.
2. Skala dari kasus yang diungkap cenderung terjadi secara luas atau sistematis (ada kaitan atau benang merah).
3. Menjawab semua pertanyaan penting yang muncul dan memetakan persoalan dengan gamblang.
4. Mendudukan altor-aktor yang terlibat secara lugas, didukung bukti-bukti yang kuat.
5. Publik bisa memahami kompleksitas masalah yang dilaporkan dan bisa membuat keputusan atau perubahan berdasarkan laporan itu.

Tanpa kelima elemen tersebut, sebuah laporan panjang barangkali hanya bisa disebut sebagai laporan mendalam (in-depth reporting).

Regular News
Laporan yang menceritakan.
Menceritakan apa, siapa, di mana, kapan, mengapa, bagaimana (5W+IH)
Sebagai informasi (data) bagi publik

In-depth
Laporan yang menjelaskan
Lebih menjelaskan bagaiamana dan mengapa (how and why)
Memberi pengetahua dan pemahaman

Investigative
Laporan yang menunjukkan
Lebih menunjukan apa dan siapa (what and who)
Membeberkan dan meluruskan persoalan dengan bergerak maju ke pertanyaan: bagaimana bisa, sampai sejauh apa, dan siapa saja.

Lima modal dasar dalam investigasi:
1. Kemauan, ketekunan, dan keberanian.
2. Jejaring yang luas.
3. Meningkatkan pengetahuan yang memadai.
4. Keterampilan menyusun dan mengemas laporan.
5. Dukungan institusi media.

Tanpa membeda-bedakan jenis medianya (cetak, radio, televisi), setelah menentukan topik dan menakar bobot isunya (assessment), maka garis besar perencanaan dalam sebuah proyek investigasi adalah sebagai berikut:
• Membentuk tim (multi-spesialisasi).
• Melakukan riset, observasi awal, atau survei.
• Menentukann angle (fokus) dan memutuskan hipotesis.
• Merancang strategi eksekusi (teknik. Logistik, dll)
• Menyiapkan skenario pasca-publikasi.

Tiga Elemen dalam Pelaksanaan atau Eksekusi Investigasi:
1. Tahap: mencari bukti dan mencari kesaksian.
2. Metode: menelusuri dokumen, menelusuri orang.
3. Teknik: undercover, observation, surveillance, embedded, atau immerse.

Lima Unsur dalam Strategi Investigasi:
1. Tahapan yang jelas.
2. Metode yang digunakan.
3. Teknik yang dipakai.
4. Pemilihan sumber daya manusia.
5. Logistic (keuangan, alat, dll).

Unsur-unsur awal yang mempengaruhi minat penonton televisi/pendengar radio:
1. Gambar atau suara yang menarik perhatian.
2. Relevansi berita dengan kehidupan mereka sehari-hari.
3. Pengantar cerita yang memikat.
4. Otoritas presenter atau announcer yang mengantarkan cerita.

Menyusun sebuah laporan investigasi adalah mengajak publik berjalan melalui rute yang sama dengan yang pernah kita lewati hingga kita memahami sebuah persoalan.

8. [http://harianandalas.com/kanal-ragam/jurnalis-harus-miliki-tiga-kecerdasan]

Jurnalis Harus Miliki Tiga Kecerdasan

Medan-andalas Seorang jurnalis profesional menurut kacamata psikolog, setidaknya harus memiliki tiga kecerdasan, yakni kecerdasan intelektual, kecerdasan interpersonal dan kecerdasan bahasa.

Demikian Psikolog Universitas Sumatera Utara (USU) Elvi Andriani Yusuf MSi saat menjadi narasumber pada Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Pers bertema “Etika Jurnalisme” di Gedung Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Sumut Jalan Adinegoro No.4 Medan, Kamis (12/12).

Diklat yang diikuti 50 orang Anggota PWI Sumut dari PWI Perwakilan Langkat, Binjai, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Tebing Tinggi, Pematang Siantar, Simalungun dan yang bertugas di Kota Medan itu terselenggara atas dukungan Asian Agri Group dan dibuka Ketua PWI Sumut Drs  Muhammad Syahrir.

Selain Elvi Andriani, tampil sebagai narasumber Kepala Pusat Studi Hak Asasi Manusia (Kapusham) Universitas Negeri Medan (Unimed) Majda El Muhtaj MHum, dan Direktur Diklat PWI Sumut H War Djamil SH, dengan moderator Muhammad Arifin MPd. Turut hadir Humas Asian Agri Group Lidia Veronika.

Menurut Elvi, kecerdasan intelektual merupakan parameter utama yang sangat diperlukan seorang jurnalis. Hal ini mengingat latar belakang pendidikan bukan satu-satunya tolok ukur keberhasilan, namun sikap kritis dan mau terus belajar merupakan kunci keberhasilan jurnalis dalam menjalankan tugas.

Kemudian kecerdasan interpersonal mengharuskan seorang wartawan mudah beradaptasi dengan lingkungan sosial, mudah bergaul dengan orang lain dan terbuka dalam mengeluarkan pendapat. Sedangkan kecerdasan bahasa menuntut seorang wartawan mampu berkomunikasi secara verbal dan tulisan.

Di samping tiga kecerdasan itu, kata Elvi, kinerja seorang wartawan menuntut sikap kerja yang sistematis, cepat dan teliti. Memiliki motivasi tinggi untuk berprestasi, jujur dan bertanggungjawab.

Selanjutnya memiliki networking yang luas dan baik sehingga mudah mendapatkan akses terhadap sumber berita. Memiliki emosi stabil, mampu mengendalikan diri, serta mampu berprilaku sesuai norma berlaku berdasarkan kode etik jurnalistik (KEJ).

Kapusham Unimed Majda El Muhtaj mengatakan, untuk mengimplementasikan KEJ berkaitan jurnalisme berbasis HAM dibutuhkan langkah-langkah strategis melalui komitmen yang teruji dari penegak hukum untuk tunduk pada mekanisme penyelesaian berbasis HAM.

Kemudian, kata Majda, perlu penguatan kelembagaan pers dan insan pers dalam memperkuat profesi jurnalis berbasis HAM, serta peningkatan kesejahteraan insan pers yang mendukung kemandirian dan profesionalitas.

Sementara Direktur Diklat PWI Sumut War Djamil melihat, ketika ada pemberitaan bermasalah yang menjurus pelanggaran KEJ, penanganannya harus melalui pendekatan Undang-Undang (UU) No.40 Tahun 1999 tentang Pers, bukan mengacu pada Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Hal ini diatur dalam nota kesepahaman (MoU) antara Dewan Pers dengan Polri yang ditandatangani di Jambi 9 Februari 2012.

Berdasarkan MoU tersebut, kata War Djamil, pihak Polri harus melakukan koordinasi dan konsultasi dengan Dewan Pers. Sebab, belum semua pemberitaan misalnya berkaitan pencemaran nama baik diproses melalui KUHP, karena belum tentu pemberitaan tersebut melanggar KEJ. “Artinya, pemberitaan itu patut diteliti apakah melanggar KEJ atau tidak, dan kewenangan itu ada di Dewan Pers,” paparnya. (REL)

9. [http://adinugrohosemarang.wordpress.com/2012/04/07/apa-dan-bagaimana-jurnalisme-investigasi/]

Apa dan Bagaimana Jurnalisme Investigasi

Konsep Jurnalisme Investigasi

Jurnalisme investigasi merupakan salah satu bagian penting dalam dunia keilmuan jurnalistik. Jurnalisme investigasi tidak hanya sekedar meliput, mencatat jawaban who, what, where, when, how dan why, kemudian merekamnya dan membuatnya menjadi berita. Wartawan yang menggeluti dunia investigasi harus bisa mencari data dan fakta yang lebih mendalam yang berhubungan dengan kasus yang sedang digelutinya. Mulai dari data dan fakta yang tampak di hadapan publik hingga data dan fakta yang belum terungkap di depan publik.

Kasus investigasi meliputi hal-hal yang memalukan, penyalahgunaan kekuasaan, dasar faktual dari hal-hal aktual yang tengah menjadi pembicaraan publik, keadilan yang korup, manipulasi laporan keuangan, bagaimana hukum dilanggar, perbedaaan antara profesi dan praktisi, hal-hal yang disembunyikan, dan lain-lain. Wartawan investigasi mencoba mendapatkan kebenaran yang tidak jelas, samar, atau tidak pasti. Topik-topik investigasi mereka mengukur moralitas benar atau salah, dengan pembuktian yang tidak memihak yang didapat melalui riset atau penelitian. Tidak hanya sekedar menolak kesepakatan melainkan juga menyatakan apakah sesuatu yang terjadi itu sesuai dengan moral atau tidak.

Robert Greene dari newsday memberikan devinisi bahwa investigasi adalah karya sesorang atau tim untuk menguak sesuatu yang disembunyikan dari publik demi kepentingan masyarakat. Kegiatan investigasi sendiri memiliki tiga elemen dasar. Pertama, kegiatan ini merupakan ide orisinil dari investigatornya, bukan merupakan hasil investigasi orang lain yang dilanjutkan oleh sebuah media. Kedua, subjek investigasi merupakan kepentingan bersama yang mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat. Serta yang ketiga adalah bahwa ada pihak-pihak yang mencoba menyembunyikan kasus tersebut dari publik.

Sedangkan Goenawan Mohammad menyatakan bahwa kegiatan jurnalistik investigasi merupakan jurnalisme “membongkar investigasi”. Secara umum investigasi bisa diartikan sebagai upaya pencarian dan pengumpulan data, informasi dan temuan lainnya untuk mengetahui kebenaran atau bahkan kesalahan sebuah fakta. Umumnya memang hanya kalangan-kalangan tertentu saja yang bisa melakukan investigasi akan tetapi tidak menutup kemungkinan bagi masyarakat untuk bisa melakukannya sehingga kegiatan investigasi ini bisa diperluas menjadi kegiatan publik.

Aktifitas jurnalisme investigasi mencakup fungsi-fungsi to describe, to explain, and to persuade. Reporter investigasi mengumpulkan akumulasi materi faktual ke dalam gambaran pengisahan yang utuh. Banyak dari berbagai materi itu yang perlu diperjelas dengan mengurutkan kembali letaknya pada sebuah konteks, kemudian menunjukkan keterkaitannya, sebab dan akibatnya, serta konsekuensinya.

Pada akhirnya, pekerjaan jurnalisme investigasi justru mengajak masyarakat untuk memerangi pelanggaran yang tengah berlangsung dan dilakukan oleh pihak-pihak tertentu. Kerja jurnalisme investigasi masuk ke dalam berbagai wacana publik yang tengah bergejolak atau berkonflik. Pada saat-saat tertentu, para juranalis investigasi ikut terlibat di dalam alur perkembangan politik nasional

 Jurnalisme Investigasi di Indonesia

Di indonesia, jurnalisme investigasi banyak dipengaruhi oleh sistem politik “keterbukaan dan kemerdekaan pers”. Harian Indonesia Raya merupakan salah satu media di Indonesia yang banyak dinilai fenomenal dalam melaporkan investigasinya. Visi jurnalisme yang dibangun mengambil konsep advocacy jurnalism. Sebuah aliran jurnalisme baru yang berkembang di Amerika Serikat sekitar tahun 1960-an. Format advocacy digunakan untuk satu gaya jurnalistik yang teguh dalam pendiriannya untuk mencapai suatu “perbaikan keadaan”.

Harian Indonesia Raya bisa dikatakan tipikal awal penerbitan pers yang mengarahkan liputan beritanya ke dalam bentuk investigasi. Pada periode pertama penerbitan (1949-1958), harian ini memiliki visi investigatif untuk melawan kekuasaan yang dianggap bertanggung jawab atas semua keburukan yang terdapat dalam masyarakat. Sedangkan pada periode kedua (1968-1974) harian ini menyoroti kasus-kasus korupsi dan penyalahgunaan kekauasaan dalam perspektif peristiwa kemasyarakatan. Pengaruh tiga dekade kekuasaan Orde Baru yang merepresi kehidupan pers Indonesia, telah menjadikan pengenalan istilah investigasi tidak begitu dikenali secara utuh dalam pedoman peliputan pers Indonesia.

Laporan investigasi sendiri memang belum menjadi suatu tradisi yang melembaga di dalam tubuh pers Indonesia. Pekerja pers Indonesia masih mengerjakan laporan jenis ini sebagai sebuah pendekatan yang bersifat temporer.Ketertutupan politik di era lama membuat wartawan terjebak dalam “teori konspirasi” yang berbau tahayul dan diilhami kemalasan. Hal ini membuat mereka tidak terbiasa menggali dan menemukan data atau informasi empiris dari lapangan. Jurnalisme investigasi tidak hanya menuntut keberanian namun juga keterampilan untuk mengolah apa yang mereka temukan di lapangan.

Karakteristik Jurnalisme Investigasi

Jurnalisme investigasi memiliki beberapa karakteristik. Andreas Harsono, seorang wartawan jurnalistik senior mengindikasikan liputan investigasi sebagai berikut:

  • Riset dan reportase yang mendalam dan berjangka waktu panjang untuk membuktikan kebenaran atau kesalahan hipotesis.
  • Paper trail yang dilakukan untuk mencari kebenaran dan mendukung hipotesis.
  • Wawancara yang mendalam dengan pihak-pihak yang terkait dengan kasus yang sedang diinvestigasi.
  • Pemakaian metode penyelidikan polisi dan peralatan anti kriminalitas. Termasuk metode penyamaran serta memakai kamera tersembunyi.

Jurnalisme investigasi berbeda dengan kegiatan jurnalisme investigasi lainnya. Liputan jurnalisme investigasi tidak berdasarkan pada agenda pemberitaan yang terjadwal. Peliputannya pun tidak dibatasi pada tekanan-tekanan waktu. Wartawan investigasi memaparkan kebenaran yang mereka temukan, melaporkan adanya kesalahan-kesalahan serta menyentuh dan mengafeksi masyarakat terhadap persoalan yang ditemukan.

Jurnalisme investigasi tidak terikat dengan deadline, yang artinya seorang reporter infestigasi tidak diminta untuk membuat laporan harian. Ia memiliki rentan waktu yang lebih lama sehingga ada kebebasan mengembangkan bahan-bahan yang sudah diperoleh. Ia harus menelusuri kasus tersebut sampai benar-benar tuntas serta membuat masyarakat mengetahui akan kebenaran dari kasus tersebut.

Mengapa penting Jurnalisme Investigasi

Tujuan jurnalisme investigasi adalah memberi tahu kepada masyarakat tentang adanya pihak-pihak yang telah berbohong atau menutup-nutupi sebuah kebohongan dari publik. Masyarakat diharap untuk menjadi waspada terhadap pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh berbagai pihak, setelah mendapatkan bukti-bukti yang dilaporkan. Bukti-bukti itu ditemukan melalui pencarian dari berbagai sumber dan tipe informasi, penelaahan terhadap data-data yang signifikan dan pemahaman terhadap data-data statistik.

Apa yang dilakukan oleh wartawan investigasi di latar belakangi oleh hasrat untuk mengoreksi keadilan, menunjukkan adanya kesalahan. Adanya dorongan moral dalam diri mereka untuk memberitahukan kepada masyarakat akan adanya ketidakberesan dalam lingkungan sekitar mereka. Wartawan investigasi sering kali menarik masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan jurnalistik mereka.

Panduan Investigasi Jurnalistik

Seperti yang sudah kita ketahui sebelumnya bahwa investigasi tidak hanya sekedar mengumpulkan data kemudian mengolahnya menjadi berita.namun ada tahapan-tahapan tertentu yang harus dilakukan oleh wartawan investigasi untuk mensukseskan laporan investigasinya. Seperti yang dituliskan Paul N. Williams, seorang wartawan investigasi yang mengidealisasikan gambaran reportase investigasi secara lengkap melalui bukunya Investigatve Reporting and Writing. Williams memberikan sebelas langkah investigative reporting, yang terdiri dari:

1.        Conception

Tahap pertama yang harus dilakukan adalah mencari ide atau gagasan. Menurut Williams, ide atau gagasan bisa didapat melaluisaran seseorang, menyimak berbagai narasumber eguler, membaca, memanfaatkan potongan berita, mengembangkan sudut pandang lain dari peristiwa berita, dan observasi langsung.

2.        Feasibility Study.

Setelah mempunyai konsep gagasan, langkah selanjutnya adalah mengukur kemampuan dan perlengkapan yang diperlukan. Hal-hal yang perlu dipelajari watawan sebelum melakukan investigasi antara lain berbagai halangan yang harus diatasi, orang-orang yang diperlukan, kemungkinan adanya tekanan terhadap media, serta bagaimana menjaga kerahasiaan dari media lain.

3.        Go-No-Go Decision

Langkah ini merupakan pengukuran terhadap hasil investigasi yang akan dilakukan. Setiap liputan investigasi harus memperhitungkan hasil akhir dari proyek penyelidikan yang akan dikerjakan.

4.        Basebuilding

Langkah ini berkaitan dengan upaya wartawan untuk mencari dasar pijakan dalam menganalisis sebuah kasus.

5.        Planning

Langkah perencanaan ini berkaitan dengan kerja pengumpulan, penyusunan, dan pemilihan orang yang akan melaksanakan tugas-tugas tertentu.

6.        Original Research

Kegiatan riset disini berarti kerja pencarian data, penggalian bahan, yang umumnya terdiri dari dua kerja penelusuran, yaitu penelusuran paper trails dan penelusuran people trails.

7.        Reevaluation

Setelah segala tindakan investigasi dilaksanakan dan mendapat banyak masukan data dan informasi, diadakan kegiatan mengevaluasi kembali segala hal yang telah dikerjakan dan didapatkan.

8.        Filling the Gaps

Pada fase ini, kegiatan investigasi mengupayakan menutupi beberapa bagian bahan yang belum terdata.

9.        Final Evaluation

Tahap evaluasi ini adalah pekerjaan mengukur hasil investigasi dengan kemungkinan buruk atau negatif. Yang terpenting adalah mengevaluasi keakurasian pihak-pihak yang hendak dilaporkan di dalam standar pekerjaan jurnalistik.

10.    Writing and Rewriting

Pekerjaan menulis laporan memerlukankesabaran dan ketekunan, serta kemauan untuk terus memperbaiki penulisan berita jika diperlukan.

11.    Publication and Follow up Stories

Pelaporan berita investigasi biasanya tidak hanya muncul di dalam satu kali penerbitan. Masyarakat kerap memerlukan perkembangan dari masalah yang diungkap.

Setelah memahami konsep-konsep investigasi, wartawan harus juga memahami apa yang dikatakan seorang sumber dan memahami informasi itu untuk melindungi atau menjamin kerahasiaan identitas sumber agar yang memberikan keterangan bisa terbebas dari ancaman yang mungkin terjadi terhadap dirinya. Berikut adalah beberapa aturan dasar sederhana mengenai keterangan dari sumber:

1.    On the record

Semua pernyataan boleh dikutip dengan menyertakan nama serta gelar orang yang membuat pernyataan tersebut.

2.    On background

Semua pernyataan boleh dikutip tetapi tanpa menyertakan nama dan gelar orang yang memberi pernyataan tersebut.

3.    On deep background

Apapun yang dikatakan boleh digunakan tetapi tidak dalam bentuk kutipan langsung dan tidak untuk sembarang jenis penyebutan.

4.    Off the record

Informasi yang diberikan tidak boleh disebarluaskan. Dan juga tidak boleh dialihkan kepada narasumber lain dengan harapan bahwa informasi itu kemudian boleh dikutip.

5.    Affidavit

Merupakan bahan yang dapat memperkuat berita investigatif karena berbentuk pernyataan tertulis yang dibuat dibawah sumpah dihadapan notaris publik. Keterangan affidavit menepis kemungkinan penyangkalan narasumber yang menyatakan dirinya telah salah dikutip.

Prinsip-prinsip dasar investigasi:

  1. Tidak memihak, yang artinya adalah wartawan harus terbebas dari segala bentuk tekanan. Tidak memihak pada pihak yang dianggap benar maupun pihak dianggap salah.
  2. Akurasi data tinggi
  3. Nyata, yang artinya adalah bahwa investigasi ini benar-benar dilakukan. Bukan hasil dari konstruksi atau rekayasa wartawan semata.
  4. Melibatkan sebanyak mungkin sumber, hal ini dimaksudkan agar wartawan memperoleh banyak informasi sehingga tidak terpaku pada satu sudut pandang saja.
  5. Menjamin keamanan sumber berita, jika diminta.wartawan wajib menghormatinya.

 Bacaan:

Blog Ahmad Taufik,Blog Lalakomunis, Theocratesmedia.com  dan Catatan Calon Wartawan.Blogspot.

Catatan: Majalah Tempo,paling rajin menulis  Jurnalisme berdasarkan prinsip-prinsip Jurnalisme Investigasi

10. [http://tiyaarsyilia.blogspot.com/2013/05/bab-i-pendahuluan-a_2528.html]

E.     KOMUNIKASI MASSA

1.      Definisi Komuniksai Massa
Komunikasi massa berasal dari istilah bahasa Inggris, mass communication, sebagaikependekan dari mass media communication, artinya, komunikasi yang menggunakan media massa atau komunikasi yang mass mediated. Istilah mass communication atau communications diartikan sebagai salurannya, yaitu media massa (mass media) sebagai kependekan dari media of mass communication. Massa mengandung pengertian orang banyak, mereka tidak harus berada di lokasi tertentu yang sama, mereka dapat tersebar atau terpencar di berbagai lokasi, yang dalam waktu yang sama atau hampir bersamaan dapat memperoleh pesan-pesan komunikasi yang sama. Menurut Michael W Gamble dan Teri Kwal Gamble (1986) sesuatu bisa didefinisikan komunikasi massa jika mencakup hal-hal sebagai berikut:
1.      Komunikator dalam komunikasi massa mengandalkan peralatan modern untuk menyebarkan dan mentransmisikan pesan kepada khalayak yang luas dan tersebar.
2.      Komunikator dalam komunikasi massa mencoba untuk berbagi pengetahuan dengan jutaan orang yang tidak saling kenal atau mengetahui satu sama lain.
3.      Pesan yang disampaikan bisa didapatkan dan diterima oleh banyak orang, dengan jutaan orang yang tidak saling kenal atau mengetahui satu sama lain.
4.      Komunikator dalam komunikasi massa biasanya berupa organisasi formal atau berbentuk suatu lembaga.
5.      Komunikasi massa dikontrol oleh gatekeeper, artinya pesan yang disampaikan atau disebarkan dikontrol oleh sejumlah individu dalam lembaga tersebut sebelum disiarkan lewat media massa.
6.      Umpan balik yamg diterima dalam komunikasi massa sifatnya tertunda
Bittner: Mass communication is messages communicated throught a massa medium to a large number of people.
Komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan dengan mengunakan media massapada sejumlah besar orang.
Joseph R. Dominick: Komunikasi massa adalah suatu proses dimana suatu organisasi yang kompleks dengan bantuan satu atau lebih mesin memproduksi dan mengirimkan pesan kepada khalayak yang besar, heterogen, dan tersebar.
Jalaluddin Rakhmat merangkum: Komunikasi massa adalah jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen dan anonim melalui media cetak atau elektronik sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat.
Joseph A. Devito dalam bukunya, Communicology : An Introduction to the study of communication,
Pengertian pertama: komunikasi massa adalah komunikasi yang dijtujukan kepada massa, kepada khlayak yang luar biasa banyaknya. Ini bukan berarti khlayak meliputi seluruh penduduk atau semua orang yang membaca atau semua orang ang menonton televisi, setidaknya cakupan khlayak itu besar dan pada umumnya sukar untuk didefinisikan.
Pengertian kedua :Komunikasi massa adalah komunikasi yang disalurkan oleh pemancar-pemancar audio dan visual. Komunikasi barangkali akan lebih mudah dan lebih logis bila didefinisikan menurut bentuknya, seperti : (televisi, radio, surat kabar, majalah, film, buku dan pita.)
William R. Rivers dkk komunikasi massa dapat diartikan dalam dua cara:
1.      Komunikasi oleh media.
2.      Komunikasi untuk massa.
Namun, Komunikasi Massa tidak berarti komunikasi untuk setiap orang. Pasalnya, media cenderung memilih khalayak; demikian pula, khalayak pun memilih-milih media.
Karakteristik Komunikasi Massa menurut William R. Rivers dkk.:
1.      Satu arah.
2.      Selalu ada proses seleksi –media memilih khalayak.
3.      Menjangkau khalayak luas.
4.      Membidik sasaran tertentu, segmentasi.
5.      Dilakukan oleh institusi sosial (lembaga media/pers); media dan masyarakat saling memberi pengaruh/interaksi.
McQuail menyebut ciri utama komunikasi massa dari segi:
1.       Sumber : bukan satu orang, tapi organisasi formal, “sender”-nya seringkali merupakan komunikator profesional.
2.       Pesan : beragam, dapat diperkirakan, dan diproses, distandarisasi, dan selalu diperbanyak; merupakan produk dan komoditi yang bernilai tukar.
3.       Hubungan pengirim-penerima bersifat satu arah, impersonal, bahkan mungkin selali sering bersifat non-moral dan kalkulatif.
4.       Penerima merupakan bagian dari khalayak luas.
5.       Mencakup kontak secara serentak antara satu pengirim dengan banyak penerima.
Lengkapnya, Karakteristik Komunikasi Massa menurut para pakar komunikasi :
1.      Komunikator Melembaga (Institutionalized Communicator) atau Komunikator Kolektif (Collective Communicator) karena media massa adalah lembaga sosial, bukan orang per orang.
2.      Pesan bersifat umum, universal, dan ditujukan kepada orang banyak.
3.      Menimbulkan keserempakan (simultaneous) dan keserentakan (instantaneos) penerimaan oleh massa.
4.      Komunikan bersifat anonim dan heterogen, tidak saling kenal dan terdiri dari pribadi-pribadi dengan berbagai karakter, beragam latar belakang sosial, budaya, agama, usia, dan pendidikan.
5.      Berlangsung satu arah (one way traffic communication).
6.      Umpan Balik Tertunda (Delayed Feedback) atau Tidak Langsung (Indirect Feedback); respon audience atau pembaca tidak langsung diketahui seperti pada komunikasi antarpribadi.
Ada lima tahap yang berbeda yang membentuk proses komunikasi massa:
1.      Sebuah pesan diformulasikan oleh komunikator profesional.
2.      Pesan akan dikirim dengan cara yang relatif cepat dan berkelanjutan melalui penggunaan media (biasa dipergunakan cetak, film, atau siaran).
3.      Pesan mencapai relatif besar dan beragam (yaitu, massa) penonton, yang hadir ke media dengan cara selektif.
4.      Setiap anggota dari penonton menafsirkan pesan sedemikian rupa sehingga mereka mengalami makna yang kurang lebih paralel dengan yang dimaksudkan oleh komunikator professional.
5.      Sebagai hasil dari ini mengalami makna, anggota audiens dipengaruhi dalam beberapa cara: yaitu, komunikasi memiliki beberapa efek.
2.      Asumsi Dasar Komunikasi Massa
Asumsi dasar adanya teori ini karena zaman terus berkembang dimana manusia semakin kritis dan perkembangan teknologi tidak bisa dan tidak bolehdihentikan. Informasi semakin mudah diciptakan dan didapatkan karenaperkembangan media massa yang sedemikian pesat. Pesatnya perkembangan teknologi di bidang komunikasi massa mau tak mau akan memberikan banyak efek yang beragam bagi setiap individu yang menerimanya, efek ini dapatmembuat pintar publik namun dapat juga menyebabkan pembodohan terhadap publik. Namun demikian, komunikasi massa tetap menjadi sebuah perwujudan dari perkembangan zaman yang seharusnya dilihat dan dijaga agar tetap selalu berefek positif sesuai dengan fungsi dari komunikasi massa itu sendiri. Berikut ini adalah fungsi-fungsi dari komunikasi massa, antara lain :
1.      Fungsi pengawasan
·         Pengawasan peringatan
·         Pengawasan instrumental
2.      Fungsi interpretasi
3.      Fungsi hubungan (linkage)
4.      Fungsi sosialisasi
5.      Fungsi hiburan
Disamping itu dalil yang mendasari munculnya komunikasi massa, diantaranya :
·         Media merupakan industri yang berubah dan berkembang yang menciptakan lapangan kerja, barang, dan jasa, serta menghidupkan industri lain yang terkait; media juga merupakan industri tersendiri yang memiliki aturan dan norma-norma yang menghubungkan institusi tersebut dengan masyarakat dan institusi sosial lainnya. Di lain pihak, institusi media diatur oleh masyarakat.
·         Media massa merupakan sumber kekuatan atau alat kontrol, manajemen dan inovasi dalam masyarakat yang dapat didayagunakan sebagai pengganti kekuatan atau sumber daya lainnya.
·         Media merupakan lokasi (atau forum) yang semakin berperan, untuk menampilkan peristiwa-peristiwa kehidupan masyarakat, baik yang bertaraf nasional atau internasional.
·         Media sering sekali berperan sebgai wahana pengembangan kebudayaan, bukan saja dalam pengertian pengembanagan tata-cara, mode , gaya hidup dan norma-norma.
·         Media telah menjadi sumber dominan bukan saja bagi individu untuk memperoleh gambaran dan citra realitas, tetapi juga bagi masyarakat dan kelompok secara kolektif; media menyuguhkan nilai-nilai dan penilaian normatif yang dibaurkan dengan berita dan hiburan.
3.      Para Pencetus dan Teori-teori Komunikasi Massa
a)      Teori Kegunaan dan Kepuasan(Uses and Gratifications Theory)
Teori kegunaan dan kepuasan diperkenalkan pertama kali pada tahun 1974 oleh Elihu Katz, Jay G. Blumler dan Michael Gurevitch. Teori ini mengatakan bahwa pengguna media memainkan peran aktif dalam memilih dan menggunakan media massa. Audience atau khalayak memiliki peran yang aktif dalam memilih media dalam rangka memenuhi kebutuhannya dan khalayak juga selektif dalam memilih media yang tepat dalam rangka memenuhi kebutuhannya. Teori ini merupakan kebalikan dari teori jarum hipodermik atau teori peluru dimana pada teori tersebut audience atau khalayak dianggap pasif dan media sangat powerful dalam menyuntikkan pesan-pesannya kepada khalayak. Sementara dalam teori ini khalayak yang justru powerful dalam memilih media dalam rangka memenuhi kebutuhannya. Hal ini memiliki arti bahwa terjadi proses seleksi media yang dilakukan oleh khalayak. Formula yang dirumuskan untuk menjelasakan teori ini adalah probabilitas seleksi akan sama dengan janji imbalan dibagi dengan upaya yang diperlukan. Formula ini menjelaskan bahwa imbalan atau hal yang didapat oleh khalayak dalam memenuhi kebutuhannya dibandingkan dengan upaya yang diperlukan dalam mengakses media tersebut atau manfaat yang akan diperoleh akan menghasilkan kemungkinan dipilihnya media massa tersebut oleh khalayak dalam rangka memenuhi kebutuhannya. Gratifikasi atau kepuasan yang bersifat umum antara lain pelarian dari rasa khawatir, peredaan rasa kesepian, dukungan emosional, perolehan informasi dan kontak sosial.
Bahkan sebelumnya karya klasik oleh Herta Herzog (1944) memulai tahap awal penelitian Kegunaan dan Gratifikasi. Dia berusaha membagi alsan-alasan orang melakukan bentuk-bentuk alsan yang berbeda mengenai perilaku media, seperti membaca surat kabar dan membaca radio. Herxog mempelajari mengenai peran dari keinginan dan kebutuhan khalayak, dan ia sering kali diasosiakan sebagai pelopor asli teori Kegunaan dan Gratifikasi (meskipun label ini baru muncul di kemudian hari)
Asumsi Dasar Teori dan Uraian Teori
Menurut Katz, Blumler, Gurevitch, (1974:20) mereka juga merumuskan asumsi-asumsi dasar teori ini, diantaranya :
1.      Khalayak dianggap aktif; artinya,sebagian penting dari penggunaan meida massa dirumuskan mempunyai tujuan.
2.      Dalam proses komunikasi massa banyak inisiatif untuk mengaitkan pemuasan kebutuhan dengan pemilihan media terletak pada anggota khalayak.
3.      Media massa harus bersaing dengan sumber-sumber lain untuk memuaskan kebutuhannya.
4.      Banyak tujuan pemilih media massa disimpulkan dari dat yang diberikan anggota khalayak; artinya, orang dianggap cukup mengerti untuk melaporkan kepentingan dan motif pada situasi-situasi tertentu.
5.      Penilaian tentang aarti kultural dari media massa harus ditangguhkan sebelum diteliti lebih dahulu oleh khlayak. (Blummler, dan Katz 1974:22).
Studi pengaruh yang klasik pada mulanya mempunyai anggapan bahwa konsumen media, bukannya pesan media, sebagai titik awal kajian dalam komunikasi massa. Dalam kajian ini yang diteliti adalah perilaku komunikasi khalayak dalam relasinya dengan pengalaman langsungnya dengan media massa. Khalayak diasumsikan sebagai bagian dari khalayak yang aktif dalam memanfaatkan muatan media, bukannya secara pasif saat mengkonsumsi media massa(Rubin dalam Littlejohn, 1996 : 345).
Di sini khalayak diasumsikan sebagai aktif dan diarahkan oleh tujuan. Anggota khalayak dianggap memiliki tanggung jawab sendiri dalam mengadakan pemilihan terhadap media massa untuk mengetahui kebutuhannya, memenuhi kebutuhannya dan bagaimana cara memenuhinya. Media massa dianggap sebagai hanya sebagai salah satu cara memenuhi kebutuhan individu dan individu boleh memenuhi kebutuhan mereka melalui media massa atau dengan suatu cara lain.
Riset yang dilakukan dengan pendekatan ini pertama kali dilakukan pada tahun 1940-an oleh Paul Lazarfeld yang meneliti alasan masyarakat terhadap acara radio berupa opera sabun dan kuis serta alasan mereka membaca berita di surat kabar (McQuail, 2002 : 387). Kebanyakan perempuan yang mendengarkan opera sabun di radio beralasan bahwa dengan mendengarkan opera sabun mereka dapat memperoleh gambaran ibu rumah tangga dan istri yang ideal atau dengan mendengarkan opera sabun mereka merasa dapat melepas segala emosi yang mereka miliki. Sedangkan para pembaca surat kabar beralasan bahwa dengan membeca surat kabar mereka selain mendapat informasi yang berguna, mereka juga mendapatkan rasa aman, saling berbagai informasi dan rutinitas keseharian (McQuail, 2002 : 387).
Teori kegunaan dan kepuasan juga adalah salah satu dari teori komunikasi massa yang populer dan sering digunakan sebagai kerangka teori dalam mengkaji realitas komunikasi massa adalah uses and gratifications. Pendekatan uses and gratifications menekankan riset komunikasi massa pada konsumen pesan atau komunikasi dan tidak begitu memperhatikan mengenai pesannya. Kajian yang dilakukan dalam ranah uses and gratifications mencoba untuk menjawab pertanyan : “Mengapa orang menggunakan media dan apa yang mereka gunakan untuk media?”
Riset yang lebih mutakhir dilakukan oleh Dennis McQuail dan kawan-kawan dan mereka menemukan empat tipologi motivasi khalayak yang terangkum dalam skema media persons interactions sebagai berikut :
1.      Diversion, yaitu melepaskan diri dari rutinitas dan masalah; sarana pelepasan emosi
2.      Personal relationships, yaitu persahabatan; kegunaan social
3.      Personal identity, yaitu referensi diri; eksplorasi realitas; penguatan nilai
4.      Surveillance (bentuk-bentuk pencarian informasi) (McQuail, 2002 : 388).
Teori ini juga membahas mengenai kebutuhan dan biasanya sangat erat kaitannya dengan teori Maslow, yang terdiri atas :
·         Physiological Needs
·         Safety Needs
·         Belonging Needs
·         Esteem Needs
·         Self-actualization Needs
Uses and Gratifications merupakan suatu gagasan menarik, tetapi pendekatan ini tidak mampu melakukan eksplorasi terhadap berbagai hal secara lebih mendalam.
b)     Teori Agenda Setting (Agenda Setting Theory)
Teori Penentuan Agenda (Agenda Setting Theory) adalah teori yang menyatakan bahwa media massa berlaku merupakan pusat penentuan kebenaran dengan kemampuan media massa untuk mentransfer dua elemen yaitu kesadaran dan informasi ke dalam agenda publik dengan mengarahkan kesadaran publik serta perhatiannya kepada isu-isu yang dianggap penting oleh media massa. Dua asumsi dasar yang paling mendasari penelitian tentang penentuan agenda adalah:
1.       Masyarakat pers dan mass media tidak mencerminkan kenyataan; mereka menyaring dan membentuk isu;
2.       Konsentrasi media massa hanya pada beberapa masalah masyarakat untuk ditayangkan sebagai isu-isu yang lebih penting daripada isu-isu lain;
Salah satu aspek yang paling penting dalam konsep penentuan agenda adalah peran fenomena komunikasi massa, berbagai media massa memiliki penentuan agenda yang potensial berbeda termasuk intervensi dari pemodal
“Pers mungkin tidak berhasil banyak waktu dalam menceritakan orang-orang yang berpikir, tetapi berhasil mengalihkan para pemirsa dalam berpikir tentang apa” Bernard C. Cohen, 1963.
Teori Agenda Setting pertama dikemukakan oleh Walter Lippman (1965) pada konsep “The World Outside and the Picture in our head”, penelitian empiris teori ini dilakukan Mc Combs dan Shaw ketika mereka meniliti pemilihan presiden tahun 1972.
Mereka mengatakan antara lain walaupun para ilmuwan yang meneliti perilaku manusia belum menemukan kekuatan media seperti yang disinyalir oleh pandangan masyarakat yang konvensional, belakangan ini mereka menemukan cukup bukti bahwa para penyunting dan penyiar memainkan peranan yang penting dalam membentuk realitas social kita, ketika mereka melaksanakan tugas keseharian mereka dalam menonjolkan berita. Khalayak bukan saja belajar tentang isu-isu masyarakat dan hal-hal lain melalui media, meraka juga belajar sejauhmana pentingnya suatu isu atau topik dari penegasan yang diberikan oleh media massa.
Media massa berfungsi menyusun agenda untuk diskusi, kebutuhan-kebutuhan dan kehidupan orang-orang. penting atau tidaknya diskusi tersebut ditentukan dan diperluas oleh media massa. Menurut teori ini media massa mempunyai fungsi yang berbeda sesuai dengan jenis mediannya.
Misalnya, televisi mempunyai agenda settingnya berlaku dalam waktu pendek yang memprioritaskaan pada agenda setting sebagai lampu sorot. Adapun pada surat kabar sangat memperhatikan agenda setting tentang masalah publik, politik, atau masalah-masalah yang sedang aktual di masyarakat.
Mengikuti pendapat Chaffed dan Berger (1997) ada beberapa catatan penting yang perlu dikemukakan untuk memperjelas teori ini:
1.      Teori ini mempunyai kekuatan penjelas untuk menerangkan mengapa orang sama-sama menganggap penting suatu isu.
2.      Teori ini mempunyai kekuatan memprediksikan sebab memprediksi bahwa jika orang-orang mengekspos pada satu media yang sama, mereka akan merasa isu yang sama tersebut penting.
3.      Teori ini dapat dibuktikan salah jika orang-orang tidak mengekspos media yang sama maka mereka tidak akan mempunyai kesamaan bahwa isu media itu penting.
Sementara itu, Stephen W. Littlejhon (1992) pernah mengatakan, agenda setting ini beroperasi dalam tiga bagian sebagai berikut:
·         Agenda media itu sendiri harus diformat. Proses ini akan memunculkan masalah bagaimana agenda setting media itu terjadi pada waktu pertama kali.
·         Agenda media dalam banyak hal mempengaruhi atau berinteraksi dengan agenda publik atau kepentingan isu tertentu bagi publik. Pernyataan ini memunculkan pertanyaan, seberapa besar kekuatan media mampu mempengaruhi agenda publik dan bagaimana publik itu melakukannya.
·         Agenda pubik mempengaruhi atau berinteraksi ke dalam agenda kebijakan. Agenda kebijakan adalah pembuatan kebijakan publik yang dinggap penting bagi individu.
Dengan demikian, agenda setting ini memprediksikan bahwa agenda media mempengaruhi agenda publik, semantara agenda publik sendiri akhirnya mempengaruhi agenda kebijakan.
Asumsi Dasar dan Uraian Teori
Teori Agenda Setting dimulai dengan suatu asumsi bahwa media massa menyaring berita, artikel, atau tulisan yang akan disiarkannya. Secara selektif, “gatekeepers” seperti penyunting, redaksi, bahkan wartawan sendiri menentukan mana yang pantas diberitkan dan mana yang harus disembunyikan. Setiap kejadian atau isu diberi bobot tertentu dengan panjang penyajian (ruang dalam surat kabar, waktu pada televisi dan radio) dan cara penonjolan (ukuran judul, letak pada suratkabar, frekuensi penayangan, posisi dalam suratkabar, posisi dalam jam tayang). Karena pembaca, pemirsa, dan pendengar memperoleh kebanyakan informasi melalui media massa, maka agenda media tentu berkaitan dengan agenda masyarakat (public agenda). Agenda masyarakat diketahui dengan menanyakan kepada anggota-anggota masyarakat apa yang mereka pikirkan, apa yang mereka bicarakan dengan orang lain, atau apa yang mereka anggap sebagai masalah yang tengah menarik perhatian masyarakat (Community Salience).
Model agenda setting menghidupkan kembali model jarum hipodermik, tetapi fokus penelitian telah bergeser dari efek pada sikap dan pendapat kepada efek kesadaran dan efek pengetahuan. Asumsi dasar teori ini, menurut Cohen (1963) adalah : The press is significantly more than a surveyor of information and opinion. It may not be successful much of the time in telling the people what to think, but it stunningly successful in telling leaders what to think about. To tell what to think about. artinya membentuk persepsi khalayak tentang apa yang dianggap penting. Dengan teknik pemilihan yang menonjol, media memberikan test case tentang isu apa yang lebih penting. Asumsi agenda setting model ini mempunyai kelebihan karena mudah untuk diuji. Dasar pemikirannya adalah di antara berbagai topik yang dimuat media massa, topik yang lebih banyak mendapat perhatian dari media massa akan menjadi lebih akrab bagi pembacanya, akan dianggap penting dalam suatu periode waktu tertentu, dan akan terjadi sebaliknya bagi topik yang kurang mendapat perhatian media massa. oleh karena itu agenda setting model menekankan adanya hubungan positif antara penilaian yang diberikan media pada suatu persoalan dengan perhatian yang diberikan khalayak pada persoalan tersebut. Dengan kata lain, apa yang dianggap penting oleh media, akan dianggap penting pula oleh masyarakat. Apa yang dilupakan media, akan luput juga dari perhatian masyarakat (Elvinaro, dkk, 2007: 76-77).
Dampak media massa, kemampuan untuk menimbulkan perubahan kognitif di antara individu-individu, telah dijuluki sebagai fungsi agenda setting dari komunikasi massa. Disinilah terletak efek komunikasi massa yang terpenting, kemampuan media untuk menstruktur dunia buat kita. Tapi yang jelas Agenda Setting telah membangkitkan kembali minat peneliti pada efek komunikasi massa.
c)      Teori Norma Budaya (Cultural Norms Theory)
Cultural Norms Theory dikemukakan oleh Melvin DeFleur. Dalam teori inimedia massa melalui penyajiannya yang selektif dan penekanannya padatema-tema tertentu, menciptakan kesan-kesan pada khalayak di mana norma-norma budaya umum mengenai topik yang diberi bobot itu, dibentuk dengancara-cara tertentu.Perilaku individual biasanya dipandu oleh norma-norma budayamengenai suatu hal tertentu, maka media komunikasi secara tidak langsungakan mempengaruhi perilaku.
Asumsi Dasar Teori dan Uraian Teori
Cultural norms theory bahwa norma budaya yang ada di masyarakat berkaitan dengan media komunikasi dan komunikasi massa.
Ada tiga cara di mana media secara potensial mempengaruhi situasi dannorma bagi individu-individu, terdiri atas:
·         Pesan komunikasi massa akan memperkuat pola-pola yang sedang berlakudan memadu khalayak untuk percaya bahwa suatu bentuk sosial tertentutengah dibina oleh masyarakat.
·         Media komunikasi dapat menciptakan keyakinan baru mengenai hal-hal dimana khalayak sedikit banyak telah memiliki pengalaman.
·         Komunikasi massa dapat mengubah norma-norma yang tengah berlaku dankarenanya mengubah khalayak dari suatu bentuk perilaku mejadi bentuk perilaku yang lain.
Media massa melalui informasi yang disampaikannya dengan cara-cara tertentu dapat menimbulkan kesan yang oleh khalayak disesuaikan dengan norma-norma dan nilai-nilai budayanya.Media massa mempengaruhi budaya-budaya masyarakatnya dengan cara :
·         Pesan-pesan yang disampaikan media massa memperkuat budaya yang ada. Ketika suatu budaya telah kehilangan tempat apresiasinya, kemudian media massa memberi lahan atau tempat maka budaya yang pada awalnya sudah mulai luntur menjadi hidup kembali.
·         Media massa telah menciptakan pola baru tetapi tidak bertentangan bahkan menyempurnakan budaya lama.
·         Media massa mengubah budaya lama dengan budaya baru yang berbeda dengan budaya lama.
Menurut Paul Lazarfeld dan Robert K Merton terdapat empat sumber utama kekhawatiran masyarakat terhadap media massa, yaitu :
Sifat Media Massa yang mampu hadir dimana-mana (Ubiquity) serta kekuatannnya yang potensial untuk memanipulasi dengan tujuan-tujuan tertentu
Dominasi kepentingan ekonomi dari pemilik modal untuk menguasai media massa dengan demikian media massa dapat dipergunakan untuk menjamin ketundukan masyarakat terhadap status quo sehingga memperkecil kritik sosial dan memperlemah kemampuan khalayak untuk berpikir kritis.
·         Media massa dengan jangkauan yang besar dan luas dapat membawa khalayaknya pada cita rasa estetis dan standar budaya populer yang rendah.
·         Media massa dapat menghilangkan sukses sosial yang merupakan jerih payah para pembaharu selama beberapa puluh tahun yang lalu.
d)     Teori Ketergantungan (Dependency Theory)
Teori ini memprediksikan bahwa khalayak tergantung kepada informasi yang berasal dari media massa dalam rangka memenuhi kebutuhan khalayak bersangkutan serta mencapai tujuan tertentu dari proses konsumsi media massa. Namun perlu digarisbawahi bahwa khalayak tidak memiliki ketergantungan yang sama terhadap semua media.
Ada dua jawaban mengenai hal ini. Pertama, khalayak akan menjadi lebih tergantung terhadap media yang telah memenuhi berbagai kebutuhan khalayak bersangkutan dibanding pada media yang menyediakan hanya beberapa kebutuhan saja. contoh, orang yang suka liga inggris, akan tergantung sama tnyangan itu. orng yg suka liga spanyol, tdak tergantung dgn tyangan itu.
Sumber ketergantungan yang kedua adalah kondisi sosial. Hal ini akan mempengaruhi khalayak untuk memilih berbagai media, sehingga bukan sumber media massa yang menciptakan ketergantungan, melainkan kondisi sosial. Untuk mengukur efek yang ditimbulkan media massa terhadap khalayak, ada beberapa metode yang dapat digunakan, yaitu riset eksperimen, survey dan riset etnografi
F.     Komunikasi Budaya

1.      Definisi Komunikasi Budaya
Komunikasi budaya adalah komunikasi yang terjadi dalam sebuah kebudayaan yang sama. Fungsi Sosial Komunikasi Budaya: Fungsi pribadi, ialah fungsi komunikasi yang ditunjukkan melalui komunikasi yang bersumber dari seorang individu, untuk menyatakan identitas sosial, menyatakan integrasi sosial, menambah pengetahuan. Fungsi sosial, ialah fungsi komunikasi yang bersumber dari faktor budaya yang ditunjukkan melalui prilaku komunikasi yang bersumber dari interaksi sosial, diantaranya berfungsi sebagai berikut: pengawasan,  menjembatani, sosialisasi nilai, dan menghibur.
2. Asumsi dasar Teori Komunikasi Budaya
Kajian budaya adalah perspektif teoritis yang berfokus bagaimana budaya dipengaruhi oleh budaya yang kuat dan dominan. Kajian budaya jauh melampaui media, sering juga disebut kajian khalayak. Kajian budaya berkaitan dengan sikap, pendekatan, dan kritik mengenai sebuah budaya (West & Turner 2008, II:63). Kajian budaya berkembang di Inggris. Stuart Hall adalah seorang teoritikus budaya dan mantan direktur Center for Contemporary Cultural Studies. Ia menyatakan bahwa media merupakan alat yang kuat bagi kaum elit. Media berfungsi mengomunikasikan cara-cara berpikir yang dominan, tanpa memperdulikan efektivitas pemikiran tersebut. Kajian budaya menekankan bahwa media menjaga agar orang-orang yang berkuasa tetap memiliki kekuasan, sementara yang kurang berkuasa menerima mentah-mentah apa yang diberikan kepada mereka. Kajian budaya mempelajari kegiatan rekreasi, hobi dan olahraga untuk berusaha memahami bagaimana individu berfungsi di dalam masyarakat. Intinya kajian budaya bergerak melampaui interpretasi mengenai masyarakat yang kaku dan terbatas menuju konsepsi budaya yang lebih luas. Teori ini berakar pada beberapa klaim penting mengenai budaya dan kekuasaan: budaya tersebar dalam dan menginvasi semua sisi perilaku manusia dan orang merupakan bagian dari struktur kekuasaan yang bersifat hirarkis. Asumsi pertama berkaitan dengan pemikiran mengenai budaya. Budaya didefinisikan sebagai sebuah komunitas makna. Berbagai norma, ide dan nilai serta bentuk-bentuk pemahaman di masyarakat yang membantu orang untuk menginterpretasikan realitas mereka adalah bagian dari ideologi sebuah budaya. Dalam artian luas, praktik-praktik budaya dan institusi memengaruhi ideologi kita. Kita tidak dapat melarikan diri dari kenyataan budaya bahwa sebagai komunitas global, tindakan tidak dilakukan dalam ruang hampa. Graham Murdock (1989) menekankan ketersebaran budaya dengan menyatakan bahwa semua kelompok secara konstan terlibat dalam menciptakan dan menciptakan ulang sistem makna dan memberikan bentuk kepada makna ini dalam bentuk-bentuk ekspresif, praktik-praktik sosial dan institusi-institusi. Makna di dalam budaya kita dibentuk oleh media. Media dapat dianggap sebagai pembawa pesan berbasis teknologi dari budaya, bahkan media lebih daripada itu. Media menginvasi seluruh ruang kehidupan kita, membentuk selera makan, berpakaian, dan tindakan-tindakan lainnya. Asumsi kedua dari kajian budaya berkaitan dengan manusia sebagai bagian penting dari sebuah hirarki sosial yang kuat. Kekuasaan bekerja di semua level kehidupan manusia. Hall tertarik dengan kekuasaan yang dipegang oleh kelompok sosial atau kekuasaan di antara kelompok-kelompok. Makna dan kekuasaan berkaitan erat. Makna tidak dapat dikonseptualisasikan di luar bidang permainan dari hubungan kekuasaan. Sumber kekuatan yang paling mendasar di dalam membentuk cara pandang itu semua dalam masyarakat kita adalah media. Media telah menjadi terlalu kuat dan berkuasa. Tidak ada institusi yang memiliki kekuasaan untuk menentukan apa yang didengar oleh publik kecuali media. Jika media menganggap suatu peristiwa memiliki nilai penting, maka peristiwa tersebut menjadi penting. Suatu peristiwa yang sebenarnya tidak penting, maka ia menjadi tidak penting. Hegemoni merupakan konsep penting dalam kajian budaya. Secara umum hegemoni didefinisikan sebagai pengaruh, kekuasaan, atau dominasi dari sebuah kelompok sosial terhadap yang lain. Gramsci berpendapat bahwa khalayak dapat dieksploitasi oleh sistem sosial yang juga mereka dukung. Mulai dari budaya popular, lagu-lagu pop, tarian atau dance, makanan, hingga agama.
3. Pencetus dan Teori-teori Komunikasi Budaya
a)      Teori Akomodasi Komunikasi
Teori ini dikemukakan oleh Howard Giles dan koleganya, teori ini berkaitan dengan penyesuaian interpersonal dalam interaksi komunikasi. Hal ini didasarkan pada observasi bahwa komunikator sering kelihatan menirukan perilaku satu sama lain. Teori akomodasi komunikasi berawal pada tahun 1973, ketika Giles pertama kali memperkenalkan pemikiran mengenai model ”mobilitas aksen” Yang didasarkan pada berbagai aksen yang dapat didengar dalam situaisi wawancara. Teori akomodasi didapatkan dari sebuah penelitian yang awalnya dilakukan dalam
bidang ilmu lain, dalam hal ini psikologi sosial. (West dan Lynn Turner, 2007: 217). Akomodasi didefinisikan sebagai kemampuan menyesuaikan, memodifikasi atau mengatur perilaku seseorang dalam responnya terhadap orang lain. Akomodasi biasanya dilakukan secara tidak sadar. Kita cenderung memiliki naskah kognitif internal yang kita gunakan ketika kita berbicara dengan orang lain. (West dan Lynn Turner, 2007: 217)
Asumsi-Asumsi Teori Akomodasi Komunikasi
Mengingat bahwa akomodasi dipengaruhi oleh beberapa keadan personal, situasional dan budaya maka dapat diidentifikasikan empat asumsi berikut ini:
·         Persamaan dan perbedaan berbicara dan perilaku terdapat didalam semua percakapan.
Pengalaman-pengalaman dan latar belakang yang bervariasi akan menentukan sejauh mana orang akan mengakomodasi orang lain.semakin mirip sikapdan keyakinan kita dengan orang lain,makin kita tertarik kepada dan mengakomodasi orang lain tersebut.
·         Cara dimana kita mempersepsikan tuturan dan perilaku orang lainakan menentukan bagaiman kita mengevaluasi sebuah percakapan.
Akomodassi komunikasi adalah teori yang mementingkan bagaimana orang mempersepsikan dan mengevaluasi apa yang terjadi dalam sebuah percakapan. Persepsi adalah proses memerhatikan dan menginterpretasikan pesan, dan evaluasi merupakan proses menilai percakapan. Orang pertamakali mempersepsikan apa yang terjadi dalam percakapan sebelum mereka memutuskan bagaiman mereka akan berperilaku dalam percakapan.
·         Bahasa dan perilaku memberikan informasi mengenai status sosial dan keanggotaan kelompok.
Asumsi ketiga ini berkaitan dengan dampak yang dimiliki bahasa terhadap orang lain.secara khusus,bahasa memiliki kemampuan untuk mengkomunikasikan status dan keanggotaan kelompok diantara para komunikator dalam sebuah percakapan.
·         Akomodasi bervariasi dalam hal tingkat kesesuaian dan norma mengarahkan proses akomodasi.
Norma telah terbukti memainkan peranan dalam teori giles, norma adalah harapan mengenai perilaku yang dirasa seseorang harus atau tidak harus terjadi didalam percakapan. Norma pada umumnya orang yang lebih muda harus meurut pada orang yang lebih muda mengidindikasikan bahwa orang yang lebih bawah akan lebih  mengakomodasi percakapan.
Cara Beradaptasi
         Teori akomodasi menyatakan bahwa dalam percakapan orang memiliki pilihan. Mereka mungkin menciptakan komunitas percakapan yang melibatkan penggunaan bahasa atau sistem nonverbal yang sama, mereka mungkin akan membedakan diri mereka dari orang lain, dan mereka akan berusaha terlalu keras untuk beradaptasi. Pilihan-pilihan ini akan diberi label konvergensi, divergensi, dan akomodasi berlebihan.
Proses pertama yang dihubungkan dengan teori akomodasi adalah konvergensi. Jesse Delia, Nikolas Coupland, dan Justin Coupland dalam West dan Lynn Turner (2007:222) mendefinisikan konvergensi sebagai ”strategi dimana individu beradaptasi terhadap perilaku komunikatif satu sama lain”. Orang akan beradaptasi terhadap kecepatan bicara, jeda, senyuman, tatapan mata, perilaku verbal dan nonverbal lainnya. Ketika orang melakukan konvergensi, mereka bergantung pada persepsi mereka mengenai tuturan atau perilaku orang lainnya. Selain persepsi mengenai komunikasi orang lain, konvergensi juga didasarkan pada ketertarikan. Biasanya, ketika para komunikator saling tertarik, mereka akan melakukan konvergensi dalam percakapan.
Proses kedua yang dihubungkan dengan teori akomodasi adalah divergensi yaitu strategi yang digunakan untuk menonjolkan perbedaan verbal dan nonverbal di antara para komunikator. Divergensi terjadi ketika tidak terdapat usaha untuk menunjukkan persamaan antara para pembicara.
Terdapat beberapa alasan mengapa orang melakukan divergensi, pertama untuk mempertahankan identitas sosial. Contoh, individu mungkin tidak ingin melakukan konvergensi dalam rangka mempertahankan warisan budaya mereka. Contoh, ketika kita sedang bepergian ke Paris, kita tidak mungkin mengharapkan orang Prancis agar melakukan konvergensi terhadap bahasa kita. Alasan kedua mengapa orang lain melakukan divergensi adalah berkaitan dengan kekuasaan dan perbedaan peranan dalam percakapan. Divergensi seringkali terjadi dalam percakapan ketika terdapat perbedaan peranan yang jelas dalam percakapan (dokter-pasien, orangtua-anak, pewawancara-terwawancara, dan seterusnya. Terakhir, divergensi cenderung terjadi karena lawan bicara dalam percakapan dipandang sebagai anggota dari kelompok yang tidak diinginkan, dianggap memiliki sikap-sikap yang tidak menyenangkan, atau menunjukkan penampilan yang jelek.
Proses ketiga yang dapat dihubungkan dengan teori akomodasi adalah Akomodasi Berlebihan : Miskomunikasi dengan tujuan. Jane Zuengler (1991) dan West dan Lynn Turner (2007: 227) mengamati bahwa akomodasi berlebihan adalah ”label yang diberikan kepada pembicara yang dianggap pendengar terlalu berlebihan.” istilah ini diberikan kepada orang yang walaupun bertindak berdasarkan pada niat baik, malah dianggap merendahkan.
b)     Standpoint Theory (Sandra Harding dan Julia T. Wood)
Disarikan dari E.M. Griffin’s A First Look at Communication Theory Fifth Edition. Dalam teori ini, Harding dan Wood menggagas bahwa salah satu cara terbaik untuk mengetahui bagaimana keadaan dunia kita, yaitu dengan memulai penyelidikan kita dari standpoint kaum wanita dan kelompok-kelompok marginal lain. A standpoint adalah sebuah tempat di mana kita memandang dunia di sekitar kita. Apapun tempat yang menguntungkan itu, lokasinya cenderung memfokuskan perhatian kita pada beberapa fitur dalam bentangan alam dan sosial dengan mengaburkan fitur-fitur lainnya. A standpoint bermakna sama dengan istilah viewpoint, perspective, outlook, atau position. Dengan catatan bahwa istilah-istilah ini digunakan dalam tempat dan waktu khusus, tetapi semuanya berhubungan dengan perilaku dan nilai-nilai. Standpoint kita mempengaruhi worldview kita.
Menurut Harding, ketika orang berbicara dari pihak oposisi dalam hubungan kekuasaan (power relations), perspektif dari kehidupan orang-orang yang tidak memiliki power, menyediakan pendangan yang lebih objektif daripada pandangan orang-orang yang memiliki kekuasaan. Yang menjadi fokus bahasannya adalah standpoint kaum wanita yang selama ini termarginalisasi.
Standpoint Seorang Feminis Berakar pada Filosofi dan Literatur
Georg Hegel (filosof Jerman) menganalisis hubungan majikan-budak untuk menunjukkan apa yang orang tahu tentang diri mereka, orang lain, dan masyarakat berdasarkan di mana mereka menjadi bagian dalam kelompok itu. Majikan dan budak memiliki perspektif yang berbeda ketika keduanya menghadapi realitas yang sama. Namun ketika ‘para tuan’ membangun struktur masyarakat, mereka memiliki kekuasaan (power) untuk membuat perspektif yang mereka miliki juga dianut oleh orang-orang dari kelompok yang lain. Referensi berikutnya adalah teori Karl Marx dengan konsep kaum borjuis dan proletarian serta ‘class struggle’. Para feminis mengganti konsep proletarian dengan kaum wanita, dan mengganti perjuangan kelas dengan ‘gender discrimination’. George Herbert Mead menggagas bahwa kebudayaan (culture) dianut oleh manusia lewat komunikasi. Dengan menggunakan gambaran prinsip symbolic interactionism, Wood menyatakan bahwa gender lebih merupakan sebuah konstruksi budaya daripada sebuah karakteristik biologis. Berdasarkan teori postmodernism, para feminis mengkritik kenyataan bahwa rasionalitas dan western science, didominasi oleh pria.
Harding dan Wood menggambarkan semua teori berdasarkan pendekatan konflik di atas, tanpa membiarkan teori-teori itu membentuk atau mempengaruhi substansi pendekatan standpoint mereka.
Wanita sebagai Kelompok yang Termarginalisasi
Para ahli teori ini melihat perbedaan-perbedaan penting antara pria dan wanita. Untuk menggambarkan ini, Wood menggunakan teori relational dialectic tentang autonomy-connectedness. Pria dianggap lebih otonom, sedangkan wanita dianggap lebih suka berhubungan dengan orang lain. Namun Wood melihat perbedaan seperti ini, serta perbedaan lain yang begitu luas antara pria dengan wanita, merupakan hasil dari cultural expectation serta perlakuan yang diterima pria dan wanita dari orang lain.
Selain isu gender, Harding juga menekankan kondisi ekonomi, ras, orientasi seksual sebagai identitas kultural tambahan yang dapat membuat orang berada di tengah masyarakat atau menjadi orang yang terpinggirkan. Standpoint theory menekankan pentingnya social location karena mereka yakin bahwa orang yang berada di puncak societal hierarchy adalah orang-orang yang memiliki previlise untuk mendefinisikan apa dan bagaimana artinya ‘menjadi wanita’, atau ‘menjadi pria’, atau hal-hal lain, bagian dari budaya, yang dianut masyarakat.
Knowledge from Nowhere versus Local Knowledge
Mengapa standpoint begitu penting? Karena, menurut Harding, kelompok sosial yang memiliki kesempatan untuk mendefinisikan problematika, konsep, asumsi, dan hipotesis yang penting dalam sebuah bidang ilmu, akan meninggalkan bekas sosialnya pada gambaran dunia yang berasal dari hasil penelitian dalam bidang itu.
Penekanan Harding terletak pada local knowledge untuk menentang pernyataan bahwa traditional western science yang mengungkapkan ‘truth’, bebas nilai dan objektif. Harding dan para ahli standpoint theory lainnya bersikukuh bahwa tidak ada kemungkinan bagi teciptanya perspektif yang tanpa bias, yang tanpa ditunggangi kepentingan-kepentingan, impartial, bebas nilai, atau terlepas dari situasi sejarah tertentu.
Namun Harding dan Wood tidak menyatakan bahwa standpoint wanita atau kelompok minoritas lainnya, memberikan pandangan yang jelas akan sesuatu. Situated knowledge akan selalu parsial. Para ahli standpoint theory memelihara perspektif bahwa kelompok subordinat memberikan gambaran dunia yang lebih lengkap dan karenanya, lebih baik daripada gambaran yang diberikan oleh kelompok masyarakat yang terhormat.
Objektifitas yang Kuat: Tinjauan yang Lebih Parsial dari Standpoint Wanita
Harding menggunakan istilah strong objectivity untuk menyebut strategi memulai penelitian ini dari kehidupan wanita dan kelompok termarginalisasi lainnya yang kepentingan dan pengalamannya, biasanya diabaikan. Mengapa standpoint wanita dan kelompok lain yang termarginalisasi dapat menampilkan perspektif yang lebih menyeluruh, lebih tepat, atau lebih benar dibandingkan perspektif pria yang berada pada posisi dominan? Wood menawarkan dua penejalasan. Pertama, orang-orang dengan status subordinat memiliki motivasi yang lebih besar untuk mengerti perepektif dari orang-orang dengan kekuasaan lebih. Alasan yang kedua, yaitu karena kelompok-kelompok ini biasanya dipinggirkan, maka mereka punya sedikit alasan untuk mempertahankan status quo.
Menurut Harding, perspektif objektif dari kehidupan wanitalah yang memberikan standpoint yang lebih disukai dalam melakukan proyek-proyek penelitian, hipotesis dan interpretasi.
Teori ke Praktik: Penelitian Komunikasi Berdasarkan Kehidupan Wanita
Ada contoh di bawah ini yang mampu menggambarkan sebuah model penelitian komunikasi yang berawal dari kehidupan wanita. Julia Wood mendeskripsikan dirinya sendiri sebagai seorang wanita kulit putih, heteroseksual, wanita profesional, yang memikul tanggung jawab untuk mengurus kedua orangtuanya hingga keduanya meninggal. Wood lantas melihat bahwa praktik-praktik gendered communication merefleksikan sekaligus memaksakan societal expectation kita bahwa caregiving adalah pekerjaan wanita. Ia mendengar kata-kata bahwa dirinya memang sudah seharusnya mampu mengurus orangtua dan keluarga, dari ayah dan koleganya.
Wood percaya bahwa kebudayaan itu sendiri harus direformasi dengan cara menjauhkan istilah caring terhadap afiliasi historisnya dengan wanita dan hubungan pribadi dan mendefinisikannya kembali sebagai hal yang penting dan merupakan bagian integral dari kehidupan publik kolektif kita.
Contoh lain tentang studi komunikasi yang berawal dari standpoint wanita adalah konsep invitational rhetoric yang diajukan oleh Sonja Foss dan Cindy Griffin. Foss dan Griffin mengajukan konsep offering sebagai pendekatan alternatif terhadap rhetoric yang merefleksikan kehidupan wanita. Invitational rhetoric adalah sebuah undangan untuk mengerti sebagai cara untuk menciptakan suatu hubungan yagn berakar pada persamaan, nilai yang tetap ada, dan self-determinism. Dalam offering, orator mengatakan apa yang mereka ketahui dan mengerti. Mereka menghadirkan penglihatan mereka akan dunia dan menunjukkan bagaimana dunia terlihat dan bagaimana dunia mempengaruhi mereka.
Beberapa kritik bagi teori ini adalah sebagai berikut:
Meskipun standpoint theory pada awalnya dibangun untuk mengapresiasi nilai dari pespektif wanita, teori ini kemudian diaplikasikan pula pada kelompok-kelompok marginal lainnya. Karena pembahasannya menjadi semakin spesifik, maka konsep solidaritas kelompok yang menjadi inti teori ini patut dipertanyakan. Hekman dan Hirschmann menyatakan bahwa tidak ada sebuah ekspresi lewat kata-katapun yang bebas dari nilai, termasuk wanita dan kelompok-kelompok marginal lainnya,
Konsep strong objectivity sebenarnya kontradiktoris. Jika ditinjau dari postmodern, standpoint theory menyatakan bahwa standpoint itu sifatnya relatif dan tidak dapat dievaluasi dengan kriteria mutlak. Di sisi lain, Sandra dan Wood menekankan bahwa perspektif wanita ini lebih bebas bias dan lebih netral daripada perspektif kelompok yang lebih terhormat.
c)      Muted Group Theory (Cheris Kramarae)
Disarikan dari E.M. Griffin’s A First Look at Communication Theory Fifth Edition Kramarae menyatakan bahwa bahasa (language) secara harfiah, adalah sebuah man-made construction. Ia menegaskan bahwa bahasa dari sebuah budaya khusus tidak melayani semua orang yang mengucapkannya secara sama, karena memang tidak semua speaker memberikan kontribusi yang sama dalam formulasinya. Wanita, dan anggota dari kelompok subordinat lain, tidaklah bebas atau bisa mengatakan apa, yang ingin mereka katakana, kapan, dan di mana, karena kata-kata dan norma-norma yang mereka gunakan telah diformulasikan oleh kelompok dominan, yaitu pria.
Menurut Kramarae, kata-kata wanita tidak dihargai dalam masyarakat kita. Pemikiran wanita mengalami hal yang sama. Ketika wanita mencoba meniadakan ketidakadilan ini, kontrol pria terhadap komunikasi menempatkan wanita dalam ketidakberdayaan. Man-made language membantu mendefinisikan, menjatuhkan, dan meniadakan wanita. Wanita adalah the muted group (kelompok yang dibungkam). Tipe dominansi pria pada bahasa hanyalah satu aspek saja dari berbagai cara untuk membungkam kepentingan wanita dalam masyarakat.
Muted Groups: Black Holes in Someone Else’s Universe
Ardener berasumsi bahwa ketidakpedulian terhadap pengalaman wanita merupakan masalah unik gender bagi social-anthropology. Ia kemudian sadar bahwa mutedness (kebisuan) disebabkan karena kekurangan kekuasaan (power). Orang-orang yang memiliki sedikit kekuatan tidak menyadari masalah bahasa yang mereka gunakan untuk mengungkapkan persepsi mereka.
Menurut Ardener, muted structures ada di dalamnya, tetapi tidak sadar dalam penggunaan bahasa yang diciptakan kelompok dominan. Sebagai hasilnya, mereka diabaikan, disia-siakan, dan tidak terlihat. Seperti black holes in someone else’s universe.
Namun Ardener mengingatkan bahwa muted group tidak selalu diam. Isunya adalah apakah orang dapat mengatakan hal yang ingin mereka katakan saat dan di tempat mereka ingin mengatakannya. Atau haruskah mereka me-re-encode pemikiran mereka untuk membuat mereka dimengerti oleh public dominan? Kramarae merasa yakin bahwa posisi kekuasaan dominan pria dalam masyarakat menjamin bahwa cara ekspresi publi tidaklah secara langsung tersedia bagi wanita.
Pada hakikatnya, Kramarae hanyalah salah seorang feminis yang ingin megungkapkan kebungkaman yang sistematik atas suara wanita (women voice). Para feminis memiliki agenda penelitian yang menganggap penting pengalaman wanita.
Kekuatan Maskulin untuk Menamai Pengalaman
Karamarae memulai bahasannya dengan asumsi bahwa wanita melihat kenyataan di sekitarnya dengan cara yang berbeda dengan pria karena keduanya mengalami pengalaman dan aktivitas yang berbeda berdasarkan pembagian kerja (division of labor). Ia yakin bahwa ketidaksesuaian kekuasaan antar jenis kelamin memastikan bahwa wanita memandang dunia dengan cara yang berbeda dengan pria. Seringkali pengalaman wanita ini harus diungkapkan kemudian disensor terlebih dahulu oleh pria. Padahal saling pengertian sebenarnya mampu terbentuk jika ada diskusi lebih lanjut mengenai hal itu. Namun, masalah yang dihadapi wanita adalah diskusi itu tidak pernah benar-benar terjadi di lapangan. Persepsi pria dominan karena dominansi politik mereka, yang kemudian mengekang kebebasan berekspresi wanita sebagai mode alternatif di dunia. Pemilik mode ekspresi di dunia adalah pria dan pria pula yang membingkai diskusi.
Menurut teori symbolic interactionism dari Mead, perluasan pengetahuaan adalah perluasaan penamaan (naming). Jika ini benar, maka siapapun yang punya kemampuan naming, ia akan memiliki kekuasaan yang luar biasa. Selanjutnya, menurut pendekatan socio-cultural, bahasa membentuk persepsi kita akan realitas. Maka, menurut Kramarae, pengabaian terus-menerus terhadap kata-kata, dapat membuat pengalaman itu menjadi unspoken, bahkan unthought. Akibatnya, lama-kelamaan, muted women akan meragukan validitas pengalaman dan legitimasi perasaan mereka.
Pria sebagai Gatekeepers Komunikasi
Meskipun public mode of expression memiliki begitu banyak kosakata untuk mendeskripsikan pengalaman feminin, wanita akan tetap di-muted ketika mode of expression mereka diabaikan. Dalam masyarakat terjadi pembangunan kultural tentang peran luar biasa pria dengan tidak mengakui atau mempublikasikan seni, puisi, skenario, public address, dan esay akademik wanita. Selama 500 tahun wanita dilarang membuka bisnis. Bahkan pengaruhnya dalam media cetak dibatasi hingga tahun 70-an. Kramarae menyebutnya malestream expression. Menurut Dorothy Smith, pria menganggap penting hanya pembicaraan yang diucapkan pria. Lingkaran pria yang menulis dan berbicara sangat penting bagi satu sama lain. Apa yang dilakukan pria hanya relevan bagi pria, ditulis oleh, tentang, dan untuk pria. Pria didengarkan dan mendengarkan satu sama lain.
Janji yang Tak Terpenuhi tentang Internet
Kita berasumsi bahwa ketika internet muncul, era gatekeeping yang dilakukan oelh pria, telah berakhir. Namun tidak demikian menurut Kramarae. Di bawah ini
ada 4 kiasan untuk menggambarkan hal itu:
Information Superhighway, yaitu masih sulit bagi wanita untuk mengakses pelayanan inernet dengan harga yang relative masih tidak terjangkau bagi wanita, serta situs tidak dirancang secara khusus untuk menyambut wanita.
The New Frontier, yaitu pria berpandangan bahwa komputer dan online tidak cocok bagi wanita.
Democracy, yaitu karena kaum wanita belum menjadi kelompok yang ‘membuat pengetahuan (knowledge), maka wanita justru harus lebih berhati-hati ketika menelusuri dunia maya.
A Global Community, lewat internet, wanita bisa saling berbagi pengalaman dengan orang lain di seluruh dunia. Namun internet menghadirkan komunitas yang telah eksis tanpa mendorong pihak-pihak yang tidak hadir untuk berpartisipasi. Untuk mendapt kepercayaan, para pria membuat site ‘women only’ untuk menipu wanita dan mendapatkan kepercayaan mereka.
Women’s Truth into Men’s Talk: The Problem of Translation
Mengasumsikan bahwa dominansi maskulin dalam komuniksi publik adalah sebuah realitas yang tengah terjadi, Kramarae menyatakan, untuk berpartisipasi dalam masyarakat, wanita harus mentranslasikan model mereka ke dalam sistem ekspresi pria yang dipakai masyarakat selama ini. Seperti bicara dengan bahasa kedua, translasi ini butuh proses yang terus-menerus. Apa yang ingin dikatakan wanita tidak dapat diungkapkan secra benar-benar tepat karena bahasa yang ada bukanlah buatan mereka. Dan, layaknya seperti bahasa kedua, ketika translasi selesai dilakukan, kata-kata yang telah ditranslasikan itu tidak benar-benar mengungkapkan maksud wanita.
Speaking Out in Private: Networking with Women
Menurut Kramarae, wanita cenderung mencari cara yang berbeda dalam mengekspresikan pengalamannya kepada public. Wanita menggunakan diary, jurnal, surat, cerita, dongeng, gossip, seni, puisi, nyanyian, maupun parodi nonverbal. Pria biasanya lupa akan sekitarnya jika telah berkomuniksi dengan wanita lewat channels tersebut. Karamarae yakin bahwa pria memiliki kemampuan yang lebih rendah dari wanita dalam mengerti maksud dari lawan jenis. Namun pria tetap melakukan itu karena mereka sadar bahwa mendengarkan wanita itu perlu untuk membangun kehormatan yang lebih besar lagi untuk dirinya.
Speaking Out in Public: A Feminist Dictionary
Tujuan utama dari muted theory adalah untuk mengubah man-made linguistic system yang membuat wanita tidak bisa maju dan berkembang. Menurut Kramarae, salah satunya dibakukan oleh kamus-kamus yang beredar. Kemudian ia dan Paula Treichler membuat kompilasi kamus feminis yang menawarkan definisi untuk kata-kata wanita.
Sexual Harassment: Coining A Term to Label Experience
Pelecehan seksual (sexual harassment) tidaklah terjadi secara acak menurut Kramarae. Wanita telah menjadi objek tetap pelecehan seksual. Ini terjadi karena wanita tidak memiliki kekuasaan (power) yang besar dalam masyarakat sehingga ia senantiasa dilecehakn dan direndahkan. Masih menurut Kramarae, istilah sexual harassment sendiri digunakan pertama kali pada sebuah kasus di pengadialn pada akhir tahun 1970. itu adalah kata legal petama yang didefinisikan oleh wanita. Dan bagi muted group, perjuangan untuk mengimbangi man-made language, terus berlangsung.
Kritik: Is A Good Man Hard to Find (And Change)?
Mengapa budaya patriarki dianut oleh kita? Mengapa pria begitu ingin mendominasi msyarakat? Pertanyaan tentang motif pria ini adalah sesuatu yang problematis. Menurut Kramarae, pria berusaha mengontrol wanita. Namun anggapan ini dibantah oleh Tannen. Tannen setuju bahwa perbedaan gaya komunikasi antara pria dan wanita menyebabkan ketidakseimbangan kekuasaan. Namun Tannen menolak alasan yang diajukan Kramarae. Menurut Tannen, penyebabnya adalah gaya yang berbeda (different style) antara pria dan wanita. Kramarae membantahnya kembali dengan menyatakan bahwa alasan itu terlalu naïve. Kramarae menyalahkan hirarki politik, pendidikan, agama, legal, ras, system support gender, dan kelas. Respons kita pada muted theory bergantung pada apakah kita mendapat manfaat atau malah menjadi korban atas sistem ini.
d)     Genderlect Styles (dari Deborah Tannen)
Deborah Tannent mendiskripsikan ketidakmengertian (misunderstanding) antara laki-laki dan perempuan berkenaan dengan fakta bahwa fokus pembicaraan perempuan adalah koneksitas, sementara laki-laki pada pelayanan status dan kemandiriannya.
Genderlect Styles membicarakan gaya bercakap-cakap- bukan apa yang dikatakan tetapi bagaimana menyatakannya. Tanent meyakini bahwa terdapat gap antara laki-laki dan perempuan, dikarenakan masing-masing berada pada posisi lintas budaya (cross culture), untuk itu perlu mengantisipasi berkenaan dengan gap itu. Kegagalan mengamati perbedaan gaya bercakap dapat membawa masalah yang besar.
Perbedaan-perbedaan itu terletak pada:
·         Kecenderungan feminis versus maskulin, hal ini harus dipandang sebagai dua dialek yang berbeda: antara superior dan inverior dalam pembicaraan. Komunitas feminis – untuk membangun relationship; menunjukkan responsif. Komunitas maskulin – menyelesaikan tugas; menyatakan diri; mendapatkan kekuasaan.
·         Perempuan berhasrat pada koneksi versus laki-laki berhasrat untuk status. Koneksi berhubungan erat dengan kedekatan, status berhubungan erat dengan kekuasaan (power).
·         Raport talk versus report talk. Perbedaan budaya linguistik berperan dalam menstruktur kontak verbal antara laki-laki dan perempuan. Raport talk adalah istilah yang digunakan untuk menilai obrolan perempuan yang cenderung terkesan simpatik.Report talk adalah istilah yang digunakan menilai obrolan laki-laki yang cenderung apa adanya, pokoknya sampai. Berkenaan dengan kedua nilai ini, Tanent menemukan temuan-temuan yang terkategorikan sebagai berikut:
a. Publik speaking versus private speaking, dalam kategori ini diketemukan bahwa perempuan lebih banyak bicara pada pembicaraan pribadi. Sedangkan laki-laki lebih banyak terlibat pembicaraan publik, laki-laki menggunakan pembicaraan sebagai pernyataan fungsi perintah; menyampaikan informasi; meminta persetujuan.
b. Telling story, cerita-cerita menggambarkan harapan-harapan, kebutuhan-kebutuhan, dan nilai-nilai si pencerita. Pada kategori ini laki-laki lebih banyak bercerita dibanding perempuan-khususnya tentang guyonan. Cerita guyonan merupakan suatu cara maskulin menegoisasikan status.
c. Listening, perempuan cenderung menjaga pandangan, sering manggut, berguman sebagai penanda ia mendengarkan dan menyatakan kebersamaannya. Laki-laki dalam hal mendengarkan berusaha mengaburkan kesan itu- sebagai upaya menjaga statusnya.
d. Asking questions, ketika ingin bicara untuk menyela pembicara, perempuan terlebih dahulu mengungkapkan persetujuan. Tanent menyebutnya sebagai kooperatif-sebuah tanda raport simpatik daripada kompetitif. Pada laki-laki, interupsi dipandang oleh Tanent sebagai power-kekuasaan untuk mengendalikan pembicaraan. Dengan kata lain, pertanyaan dipakai oleh perempuan untuk memantapkan hubungan, juga untuk memperhalus ketidaksetujuan dengan pembicara, sedangkan laki-laki memakai kesempatan bertanya sebagai upaya untuk menjadikan pembicara jadi lemah.
e. Conflict, perempuan memandang konflik sebagai ancaman dan perlu dihindari. Laki-laki biasanya memulai konflik namun kurang suka memeliharanya.
G.    Komunikasi Antar Budaya
1.      Definisi Komunikasi Antarbudaya
Komunikasi antarbudaya adalah komunikasi yang terjadi di antara orang-orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda (bisa beda ras, etnik, atau sosioekonomi, atau gabungan dari semua perbedaan ini. Menurut Stewart L. Tubbs, komunikasi antarbudaya adalah komunikasi antara orang-orang yang berbeda budaya (baik dalam arti ras, etnik, atau perbedaan-perbedaan sosio ekonomi). Kebudayaan adalah cara hidup yang berkembang dan dianut oleh sekelompok orang serta berlangsung dari generasi ke generasi.
Kemampuan lintas budaya terdiri atas tiga komponen, diantaranya :
a.       Komponen pengetahuan (knowledge)
Definisi dari pengetahuan adalah pemahaman akan pentingnya identitas etnik/kebudayaan dan kemampuan melihat apa yang penting bagi orang lain. Artinya, mengetahui tentang suatu identitas kebudayaan dan mampu melihat segala perbedaan, misalnya, antara ah;li identitas kolektif dan ahli identitas individu.
b.      Komponen kesadaran (mindfulness)
Kesadaran secara sederhana berarti secara biasa dan teliti untuk menyadari. Hal ini berarti kesiapan berganti ke perspektif baru.
c.       Komponen kemampuan (skill)
Kemampuan mengacu kepada kemampuan untuk menegosiasi identitas melalui observasi yang teliti, menyimak, empati, kepekaan non-verbal, kesopanan, penyusunan ulang, dan kolaborasi. Anda tahu jika anda memperoleh negosiasi identitas yang efektif jika kedua pihak merasa dipahami, dihormati, dan dihargai.
Hamid Mowlana menyebutkan komunikasi antarbudaya sebagai human flow across national boundaries. Misalnya; dalam keterlibatan suatu konfrensi internasional dimana bangsa-bangsa dari berbagai negara berkumpul dan berkomunikasi satu sama lain. Sedangkan Fred E. Jandt mengartikan komunikasi antarbudaya sebagai interaksi tatap muka di antara orang-orang yang berbeda budayanya.
Intercultural communication generally refers to face-to-face interaction among people of diverse culture.
Guo-Ming Chen dan William J. Sartosa mengatakan bahwa komunikasi antarbudaya adalah proses negosiasi atau pertukaran sistem simbolik yang membimbing perilaku manusia dan membatasi mereka dalam menjalankan fungsinya sebagai kelompok. Selanjutnya komunikasi antarbudaya itu dilakukan:
1.      Dengan negosiasi untuk melibatkan manusia di dalam pertemuan antarbudaya yang membahas satu tema (penyampaian tema melalui simbol) yang sedang dipertentangkan. Simbol tidak sendirinya mempunyai makna tetapi dia dapat berarti ke dalam satu konteks dan makna-makna itu dinegosiasikan atau diperjuangkan.
2.      Melalui pertukaran sistem simbol yang tergantung daripersetujuan antarsubjek yang terlibat dalam komunikasi, sebuah keputusan dibuat untuk berpartisipasi dalam proses pemberian makna yang sama.
3.      Sebagai pembimbing perilaku budaya yang tidak terprogram namun bermanfaat karena mempunyai pengaruh terhadap perilaku kita.
4.      Menunjukkan fungsi sebuah kelompok sehingga kita dapat membedakan diri dari kelompok lain dan mengidentifikasinya dengan berbagai cara.
2.      Asumsi Dasar Komunikasi Antar Budaya
Didalam buku “Intercultural Communication: A Reader” dimana dinyatakan bahwa komunikasi antar budaya (intercultural communication) terjadi apabila sebuah pesan (message) yang harus dimengerti dihasilkan oleh anggota dari budaya tertentu untuk konsumsi anggota dari budaya yang lain (Samovar & Porter, 1994:19).
Definisi lain diberikan oleh Liliweri bahwa proses komunikasi antar budaya merupakan interaksi antarpribadi dan komunikasi antarpribadi yang dilakukan oleh beberapa orang yang memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda (2003:13). Apapun definisi yang ada mengenai komunikasi antar budaya (intercultural communication) menyatakan bahwa komunikasi antar budaya terjadi apabila terdapat 2 (dua) budaya yang berbeda dan kedua budaya tersebut sedang melaksanakan proses komunikasi.
Philipsen (dalam Griffin, 2003) mendeskripsikan budaya sebagai suatu konstruksi sosial dan pola simbol, makna-makna, pendapat, dan aturan-aturan yang dipancarkan secara mensejarah. Pada dasarnya, budaya adalah suatu kode.
Terdapat empat dimensi krusial yang dapat untuk memperbandingkan budaya-budaya, yaitu:
a.       Jarak kekuasaan (power distance)
b.      Maskulinitas.
c.       Penghindaran ketidakpastian (uncertainty avoidance).
d.      Individualisme.
3.      Para Pencetus dan Teori-teori Komunikasi Budaya
Berkenaan dengan pembahasan komunikasi antarbudaya, Griffin (2003) menyadur teori pengelolaan kecemasan/ketidakpastian (AnXiety/Uncertainty Management), teori negoisasi rupa (Face-Negotiation), dan teori kode berbicara (Speech Codes).
a)      Teori Pengelolaan Kecemasan/Ketidakpastian
Teori yang di publikasikan William Gudykunst ini memfokuskan pada perbedaan budaya pada kelompok dan orang asing. Ia berniat bahwa teorinya dapat digunakan pada segala situasi dimana terdapat perbedaan diantara keraguan dan ketakutan. Perbedaannya dapat dijelaskan dengan apakah seseorang merupakan anggota dari sebuah kebudayaan dengan konteks yang tinggi atau kebudayaan dengan konteks yang rendah[6]. Kebudayaan dengan konteks yang tinggi sangat mengandalkan keseluruhan situasi untuk menafsirkan kejadian-kejadian dan kebudayaan dengan konteks rendah lebih mengandalkan pada isi verbal yang jelas dari pesan-pesan. Para anggota kebudayaan dengan konteks yang tinggi, seperti orang-orang Jepang, mengandalkan isyarat non-verbal dan informasi tentang latar belakang seseorang untuk mengurangi ketidakpastian, tetapi para anggota dari kebudayaan dengan konteks rendah seperti orang-orang inggris menanyakan pertanyaan langsung berhubungan dengan pengalaman, sikap dan keyakinan.
William Gudykunst menggunakan istilah komunikasi efektif kepada proses-proses
meminimalisir ketidakmengertian. Penulis lain menggunakan istilah accuracy, fidelity, understanding untuk hal yang sama.
Gudykunst menyakini bahwa kecemasan dan ketidakpastian adalah dasar penyebab dari kegagalan komunikasi pada situasi antar kelompok. Terdapat dua penyebab dari mis-interpretasi yang berhubungan erat, kemudian melihat itu sebagai perbedaan pada ketidakpastian yang bersifat kognitif dan kecemasan yang bersifat afeksi- suatu emosi.
Di tahun-tahun terakhir, Gudykunst telah memperluas teori ini secara mendalam, bahwa teori tersebut sekarang telah mencakup sekitar 50 dalil yang berhubungan dengan konsep diri, motivasi, reaksi, terhadap orang yang baru, penggolongan sosial, proses-proses situasional, hubungan dengan orang-orang baru, dan beberapa hal lain yang berhubungan dengan kecemasan dan keefektifan.[7] Jelasnya, kecemasan dan ketidakpastian berhubungan dengan seluruh sifat-sifat komunikasi, prilaku, dan pola-pola, serta kombinasi ini mempengaruhi apa yang kita lakukan dalam percakapan dengan orang-orang yang tidak kita kenal.
Asumsi Dasar dan Uraian Teori
Konsep-konsep dasar Anxiety/Uncertainty Management Theory:
a.       Konsep diri dan diri.
Meningkatnya harga diri ketika berinteraksi dengan orang asing akan menghasilkan peningkatan kemampuan mengelola kecemasan.
b.      Motivasi untuk berinteraksi dengan orang asing.
Meningkatnya kebutuhan diri untuk masuk di dalam kelompok ketika kita berinteraksi dengan orang asing akan menghasilkan sebuah peningkatan kecemasan.
c.       Reaksi terhadap orang asing.
Sebuah peningkatan dalam kemampuan kita untuk memproses informasi yang kompleks tentang orang asing akan menghasilkan sebuah peningkatan kemampuan kita untuk memprediksi secara tepat perilaku mereka.
Sebuah peningkatan untuk mentoleransi ketika kita berinteraksi dengan orang asing menghasilkan sebuah peningkatan mengelola kecemasan kita dan menghasilkan sebuah peningkatan kemampuan memprediksi secara akurat perilaku orang asing.Sebuah peningkatan berempati dengan orang asing akan menghasilkan suatu peningkatan kemampuan memprediksi perilaku orang asing secara akurat.
d.      Kategori sosial dari orang asing.
Sebuah peningkatan kesamaan personal yang kita persepsi antara diri kita dan orang asing akan menghasilkan peningkatan kemampuan mengelola kecemasan kita dan kemampuan memprediksi perilaku mereka secara akurat. Pembatas kondisi: pemahaman perbedaan-perbedaan kelompok kritis hanya ketika orang orang asing mengidentifikasikan secara kuat dengan kelompok.
Sebuah peningkatan kesadaran terhadap pelanggaran orang asing dari harapan positif kita dan atau harapan negatif akan menghasilkan peningkatan kecemasan kita dan akan menghasilkan penurunan di dalam rasa percaya diri dalam memperkrakan perilaku mereka.
e.       Proses situasional.
Sebuah peningkatan di dalam situasi informal di mana kita sedang berkomunikasi dengan orang asing akan menghasilkan sebuah penurunan kecemasan kita dan sebuah peningkatan rasa percaya diri kita terhadap perilaku mereka.
f.       Koneksi dengan orang asing.
Sebuah peningkatan di dalam rasa ketertarikan kita pada orang asing akan menghasilkan penurunan kecemasan kita dan peningkatan rasa percaya diri dalam memperkirakan perilaku mereka.
Sebuah peningkatan dalam jaringan kerja yang kita berbagi dengan orang asing akan menghasilkan penurunan kecemasan kita dan menghasilkan peningkatan rasa percaya diri kita untuk memprediksi perilaku orang lain.
b)     Teori Negosiasi Rupa (Face Negotiation Theory)
Dikembangkan oleh Stella Ting-Toomey dan koleganya, teori negoisasi rupa memberikan sebuah dasar untuk memperkirakan bagaimana manusia akan menyelesaikan karya rupa dalam kebudayaan yang berbeda.Jadi, ini adalah perluasan alami dari teori-teori tentang argumentasi. Teori yang dipublikasikan Stella Ting-Toomey ini membantu menjelaskan perbedaan –perbedaan budaya dalam merespon konflik. Ting-Toomey berasumsi bahwa orang-orang dalam setiap budaya akan selalu negotiating face. Istilah itu adalah metaphor citra diri publik kita, cara kita menginginkan orang lain melihat dan memperlakukan diri kita. Face work merujuk pada pesan verbal dan non verbal yang membantu menjaga dan menyimpan rasa malu (face loss), dan menegakkan muka terhormat. Identitas kita dapat selalu dipertanyakan, dan kecemasan dan ketidakpastian yang digerakkan oleh konflik yang membuat kita tidak berdaya/harus terima. Postulat teori ini adalah face work orang-orang dari budaya individu akan berbeda dengan budaya kolektivis. Ketika face work adalah berbeda, gaya penangan konflik juga beragam.
Asumsi Dasar dan Uraian Teori
Budaya memiliki dampak signifikan terhadap bagaimana orang berkomunikasi dan mengelola konflik satu sama lain secara individu, dan antar kelompok. Budaya memberikan kerangka acuan untuk interaksi individu dan kelompok karena terdiri dari nilai, norma, kepercayaan, dan tradisi yang memainkan peranan besar dalam bagaimana seseorang atau kelompok mengidentifikasi diri. Dr Ting-Toomey menyatakan bahwa konflik dapat berasal baik dari benturan langsung dari kepercayaan budaya dan nilai-nilai, atau sebagai akibat dari misapplying harapan tertentu dan standar perilaku untuk suatu situasi tertentu. Face-Negosiasi Teori mengidentifikasi tiga masalah tujuan bahwa konflik akan berkisar:. Konten, relasional, dan identitas.
Konten tujuan konflik adalah isu-isu eksternal yang individu memegang dalam hal tinggi. Tujuan konflik relasional, seperti namanya, lihat bagaimana individu mendefinisikan, atau idealnya akan mendefinisikan hubungan mereka dengan anggota lain dalam situasi konflik. Akhirnya, identitas gol berbasis melibatkan masalah konfirmasi identitas, rasa hormat, dan persetujuan dari anggota konflik. Tujuan ini memiliki koneksi terdalam dengan budaya dan mereka yang paling langsung berhubungan dengan menyelamatkan muka isu.
Teori ini menawarkan model pengelolaan konflik sebagai berikut:
a.       Avoiding (penghindaran) – saya akan menghindari diskusi perbedaan-perbedaan saya dengan anggota kelompok.
b.      Obliging (keharusan) – saya akan menyerahkan pada ke kebijakan anggota kelompok.
c.       Compromising – saya akan menggunakan memberi dan menerima sedemikian sehingga suatu kompromi bisa dibuat.
d.      Dominating – saya akan memastikan penanganan isu sesuai kehendak-ku.
e.       Integrating – saya akan menukar informasi akurat dengan anggota kelompok untuk memecahkan masalah bersama-sama.
Face-negotiation teory menyatakan bahwa avoiding, obliging, compromising, dominating, dan integrating bertukar-tukar menurut campuran perhatian mereka untuk self-face dan other -face.
c)      Teori kode berbicara (Speech Codes Theory)
Teori yang dipublikaskan Gerry Philipsen ini berusaha menjawab tentang keberadaan speech code dalam suatu budaya, bagaimana substansi dan kekuatannya dalam sebuah budaya. Ia menyampaikan proposisi-proposisi sebagai berikut:
a.       Dimanapun ada sebuah budaya, disitu diketemukan speech code yang khas.
b.      Sebuah speech code mencakup retorikal, psikologi, dan sosiologi budaya.
c.       Pembicaraan yang signifikan bergantung speech code yang digunakan pembicara dan pendengar untuk memkreasi dan menginterpretasi komunikasi mereka.
d.      Istilah, aturan, dan premis terkait ke dalam pembicaraan itu sendiri.
e.       Kegunaan suatu speech code bersama adalah menciptakan kondisi memadai untuk memprediksi, menjelaskan, dan mengontrol formula wacana tentang intelijenitas, prudens (bijaksana, hati-hati) dan moralitas dari perilaku komunikasi.
Asumsi Dasar dan Uraian Teori
Teori kode berbicara mengacu pada kerangka kerja untuk komunikasi dalam masyarakat tutur tertentu. Sebagai disiplin akademis, ini mengeksplorasi cara di mana kelompok berkomunikasi berdasarkan sosial, jenis kelamin budaya, pekerjaan atau faktor lainnya. Sebuah kode berbicara juga dapat didefinisikan sebagai “sistem konstruksi sosial historis berlaku istilah, makna, tempat, dan aturan, tentang perilaku komunikatif.”
Definisi dasar dari kode berbicara sosiolog Basil Bernstein adalah, “sebuah prinsip coding adalah aturan yang mengatur apa yang harus dikatakan dan bagaimana mengatakannya dalam konteks tertentu” (Miller, 2005).
Menurut profesor komunikasi dan penulis Katherine Miller (2005), teori kode berbicara memiliki latar belakang dalam antropologi, linguistik dan komunikasi. Pengaruh penting lainnyaadalah karyaantropolog danahli bahasa DelHymes (Miller, 2005). Fokusnya adalah pada praktek pidato lokal dalam situasi budaya dansosial.
Dell Hymes menemukan model berbicara yang akan membantu dalam kode berbicara di komunitas tertentu (sebagaimana dilaporkan oleh Miller), diantaranya:
·         Situasi (pengaturan atau adegan)
·         Peserta (analisis kepribadian dan posisi sosial atau hubungan)
·         Ends (tujuan dan hasil)
·         Kisah Para Rasul(pesan, bentuk, isi, dll)
·         Kunci (nada atau mode)
·         Sarana (saluran atau modalitas digunakan)
·         Norma (kerangka kerja untuk memproduksi dan pengolahan pesan)
·         Genre (jenis interaksi)

Politik dinasti, apa salahnya?

Merdeka.com – Belakangan ini isu politik dinasti kembali menguat sejak Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Operasi tersebut terkait penangkapan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar terkait Pemilukada Kabupaten Lebak, Banten yang melibatkan kerabat Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah .Menariknya, Kabupaten Lebak tersebut diketahui dikuasai oleh politik Dinasti Jayabaya yang merupakan Bupati Lebak selama dua periode yang kemudian memajukan putrinya yang dikenal sebagai Iti Jayabaya. Dinasti lain di Banten adalah keluarga Ismeth Iskandar di Kabupaten Tangerang, Wahidin Halim di Kota Tangerang serta Dimyati Natakusumah di Pandeglang.Ketua DPP Partai Amanat Nasional (PAN), Bara Hasibuan membandingkan dengan kasus yang sama di negara-negara demokrasi maju. Dia pun menilai politik dinasti merupakan suatu hal yang wajar.”Di Amerika Serikat kita mengenal keluarga Kennedy, keluarga Gandhi di India, dan keluarga Aquino di Filipina. Keluarga-keluarga tersebut berasal dari negara-negara dengan tingkat gradasi demokrasi yang berbeda. Ini menjadi suatu fakta bahwa aktivitas politik yang berbasis keluarga tak menjadi masalah, selain juga bahwa hak individu untuk berpartisipasi dalam berpolitik,” kata Bara di Rumah Gagasan PAN, Jakarta Selatan, Selasa (22/10).Kendati demikian, menurut Bara seharusnya kekuasaan tak boleh menumpuk pada suatu kelompok atau keluarga agar prinsip check and balance dalam berdemokrasi bisa berjalan dengan baik agar semua pihak bisa berpartisipasi setara dalam berpolitik.”Oleh sebab itu, politik dinasti juga dianggap menjadi hambatan para pihak untuk berpartisipasi dan melakukan koreksi. Apalagi jika demokrasi itu sendiri baru sampai pada tahap pembudidayaan, demokrasi pada tahap awal perlu dijaga dan dirawat,” ujarnya.”Karenanya, politik dinasti pada tahap itu harus diatur dan tak dapat dibebaskan begitu saja. Atas dasar tersebut, hak-hal politik warga negara untuk mencalonkan dan dicalonkan menjadi wajar untuk diatur, termasuk dibatasi,” papar Bara.Sementara itu menurut pengamat politik yang juga hadir dalam diskusi terbatas tersebut, Hamdi Muluk, mengatakan bahwa politik dinasti terjadi lantaran kebobrokan budaya Indonesia yang sejak dulu sudah kacau, dari kultur nepotisme hingga kolusi keluarga. Selain itu orang-orang kotor juga dinilai telah berkumpul di partai politik. Hal tersebut bisa semakin membuat politik dinasti semakin kuat.”Kebobrokan kultur kita itu kacau, watak kita buluk, karena sistemnya nggak tertata dan hukum enggak jalan. Orang-orang yang disebut free rider itu sekarang banyak di partai politik, itu mereka jajah semua sistemnya,” imbuh Hamdi.11. [http://www.merdeka.com/politik/surya-paloh-politik-dinasti-cermin-demokrasi-yang-gagal.html]

Surya Paloh: Politik Dinasti cermin demokrasi yang gagal

Merdeka.com – Belakangan praktik politik dinasti di Indonesia begitu disorot. Itu tak lepas dari tertangkapnya adik Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah , yakni Tubagus Chaeri Wardana. Bangunan politik dinasti Banten itu pun seolah goyang.

Ketua Umum Partai Nasional Demokrat (NasDem), Surya Paloh , menilai keberadaan politik dinasti ialah cerminan reformasi.

“15 Tahun kita menjalankan reformasi, dan sekarang mempersoalkan masalah (politik dinasti) yang bersentuhan. Saya pikir ini pertanda bahwa reformasi kita tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Ini bisa dikatakan gagal,” kata Paloh saat ditemui dalam peluncuran buku ‘Indonesia di Jalan Restorasi’ di Gedung Indonesia Menggugat (GIM), Bandung, Kamis (17/10).

Saat ini diakui dia, banyak pihak yang menginginkan tidak ada lagi politik dinasti. Apalagi pada 2014 ialah musim pemilu, dimana pemerintahan Indonesia dikhawatirkan kembali dibangun dengan dinasti.

“(Politik dinasti) Itu sama saja barangkali kita mempermainkan sistem demokrasi, kita ini negara demokrasi,” ungkapnya.

Dia berharap ke depan politik dinasti tidak lagi dijalankan. Karena politik dinasti yang tumbuh di Indonesia sebagai politik tradisional.

“Sebagai negara demokrasi tapi kita tetap mengikat diri terhadap semangat feodalisme,” terangnya.

Dia mengaku tidak akan membangun partai dengan cara tradisional tersebut. NasDem partai yang didirikannya akan dijalankan sesuai slogan reformasi. “Saya punya anak satu jadi caleg, saya bangga kalau (dia) terpilih. Tapi tidak saya niatkan itu untuk politik dinasti,” jelasnya.

12. [http://www.al-ahkam.net/home/content/sj-1806-sejarah-pembacaan-quran-berlagu]

SJ-1806: SEJARAH PEMBACAAN QURAN BERLAGU

Submitted by Anonymous (not verified) on Thu, 29/08/2002 – 1:30pm

Assalamualaikum :

1. Pembacaan Al Quran berlagu sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Islam Malaysia, bahkan Malaysia sudah beberapa lagi mengukir nama di persada antarabangsa sebagai johan tilawah Al Quran.
Namun saya yakin yang menjadi asing bagi rakyat Malaysia ialah asal usul sejarah lagu Al Quran itu sendiri. Adakah lagu-lagu Al Quran seperti Bayati, Soba, Syika, Nahwan, Jiharka, Ras dan banyak lagi dicipta oleh seseorang atau ianya sememangnya diwarisi daripada Nabi Adam AS atau bagaimana? Siapakah yang membahagikan jenis-jenis lagu tersebut. Saya harap pihak Ahkam dapat mempaparkan sejarah yang berkaitan dengan Tarannum Al Quran untuk pengetahuan umum.

2. Bolehkah seseorang beramal dengan bacaan (qiraat) lain ketika membaca Al Quran. Jika boleh, apakah syaratnya? Adakah cukup dengan bertanyakan ahli, kemudian mengamalkannya.
3. Sekiranya fiqh tarjih diamalkan dalam Fiqh, adakah ia turut diamalkan dalam mentarjihkan bacaan (qiraat). Adakah semua jenis qiraat adalah setaraf?

WASSALAM

13. [http://www.shukom.com/mushaf.rasm.uthmani.html]

Mushaf rasm Uthmani tu apa pulak?

Pengenalan secara ringkas

   Adalah mushaf yang dicatat dan disempurnakan pada zaman Khalifah ‘Usman ibn ‘Affan yang digunakan kaedahnya hingga hari ini.

   Mushaf Uthmani disandarkan pada nama khalifah Uthman

   Menurut jumhur ulama, mushaf ini berjumlah 6 buah.

   Kaedah tulisan kalimah2 dalam mushaf Uthmani, dipanggil dengan = Rasm Uthmani

   Satu kalimah yg ditulis, boleh dibaca dengan beberapa wajah (untuk mencakupi perbezaan Qiraat bacaan)
Contoh:  dibaca “maaliki” atau “maliki” :-
ditulis dengan “mim+ lam + kaf” , bukan “mim + alif + lam + kaf”
mushaf uthmani sekarang > di letak alif kecil atas mim = maka Qiraat yg baca “maaliki” akan menggunakan alif kecil itu, dan Qiraat yg baca “maliki” akan tidak memperdulikan alif kecil itu.

   6 buah Mushaf Uthmani untuk mencakupi kesemua wajah2 bacaan ‘Tujuh Huruf’.
perbezaan seperti penambahan kalimah pada satu mushaf yg tak terdapat dalam mushaf yg lain dan sebagainya.
Kaedah penulisan yg berbeza berbanding dengan tulisan Arab yg biasa.

Keistimewaan/kelebihan mushaf Rasm Uthmani

  1. Mengikut tulisan asal alQuran sewaktu zaman Nabi s.a.w ( kerana ianya disalin dari mushaf abu bakar)
  2. Memperbolehkan bacaan sesuatu kalimah dengan pelbagai qiraat.  – Mengandungi pelbagai Qiraat, walaupun sebahagiannya berlaku perbezaan makna tapi tak terkeluar dari maksud dan tujuan ayat itu.
  3. Telah disepakati lebih kurang 12,000 para sahabat atas keputusan penulisannya.
  4. Ditulis berdasarkan dalil dan hujjah yg kuat dari bacaan yg mutawatir.
  5. Ditulis ayat2 yg diambil dari para huffaz yg menjadi teras pengumpulan alQuran
  6. Kaedah2 penulisannya mengandungi pelbagai rahsia dan pengembangan ilmu dan ijtihad.

Kewajiban menulis Qur’an dengan kaedah Rasm Uthmani

Sebahagian besar para ulamak salaf dan khalaf (Jumhur ulamak) berpendapat wajib menulis Quran dengan kaedah rasm uthmani kerana inilah satu sunnah yg telah ditulis oleh para penulis wahyu dan direstui oleh Nabi s.a.w dan disepakati oleh khulafa’ rasyidin dan para sahabat.
Banyak hadith2 yg menguatkan pendapat ini.


Mushaf Uthmani yg asli

Mushaf Uthmaniah pada mulanya tiada titik dan tiada baris bagi huruf2 dalam tulisan kalimah2, supaya para sahabat dapat membaca wajah2 Qiraat masing2 sepertimana mereka mengambilnya dari Rasul s.a.w.
Tiada masalah pembacaan ketika itu kerana mereka bertalaqqi langsung dengan Rasul s.a.w atau para sahabat yg lain, dan masing2 mereka mempunyai hafalan yg kuat serta kekuatan penguasan bahasa Arab.
Tetapi setelah kesalahan2 yg dibuat dari pembaca2 yg dari jauh atau bukan arab, maka perlunya diletakkan titik dan baris pada huruf2 tersebut.

Perihal Nuqut ‘ijam dan baris

Setelah kesalahan2 yg dibuat daripada pembaca2 yg bukan arab, dan juga generasi yg baru telah tidak menguasai bahasa Arab seperti generasi yg terdahulu, maka perlunya diletakkan tanda2 bagi membezakan antara huruf yg sama bentuk dan untuk menandakan lafaz fatha, kasrah, dhammah dan sukun.

(1) Titik2 yg berwarna untuk menandakan fatha, kasrah dhamma.
Usaha meletakkan titik telah bermula pada zaman pemerintahan Umayyah. Titik2 yg berlainan warna dan lokasi untuk menandakan lafaz fathah, kasrah, dhammah. Kesalahan      membaca tetap berlaku kerana huruf-huruf yg sama bentuk masih belum ada perbezaan.
.
(2) Titik2 untuk membezakan huruf2 yg sama bentuk.
Tulisan alQuran telah diperbaiki lagi dengan meletakkan titik2 pada huruf2 yg sama bentuk, menjadi apa yg dikenali sebagai nuqut ‘jam.
.
(3) Baris, sukun, sabdu
Pada zaman pemerintahan Abbasiyah, telah diperbaiki lagi dengan menambah baris, sukun dan sabdu pada huruf2 seperti yg kita lihat hari ini.
.
(4) Sakta, Nombor ayat, juzuk, hizb dan rubu’
Memperbaiki/mempermudahkan lagi tulisan Mushaf Rasm Uthmani ( pada zaman Abbasiyah )
Ditambah tanda saktah
Diletakkan nombor ayat dihujung setiap ayat.
Dibahagikan kepada Juz, hizb dan rubu’.
ini bertepatan dengan hadith Nabi s.a.w, dimana ada seorang yg menanyakan Nabi s.a.w berapa lamakah harus dia mengkhatamkan alQuran. Nabi jawab dalam masa 30 hari,      atau 20 hari, atau 15 hari, atau 10 hari, atau 5 hari. Maksudnya, orang itu boleh berhenti (Qot-’u) bacaan samada satu hari satu Juz (30 hari), atau satu hari satu juz dan satu          hizb (20 hari ), atau satu hari 2 juz (15 hari) dan sebagainya.

Kaedah dalam penulisan Rasm Uthmani

Salah satu rukun membaca Qur’an adalah bacaan mesti menepati dengan penulisan Mushaf rasm uthmani.

(1) Badal – tukar huruf kepada yg lain

a. Sepakat ulamak Qurra’ dalam penukaran sesuatu huruf dengan lafaz huruf yg baru. ( ta tukar pada To )

b. Sepakat ulamak Qurra’ dalam penukaran sesuatu huruf tapi huruf yg baru tak dibaca sambil mengekalkan lafaz huruf yg lama. ( alif ditukar pada waw, tapi lafaz mad alif masih     kekal )
c. Selisih para Qurra’ samada membaca lafaz huruf yg menukar huruf lama atau tidak. Ada Qiraat membaca lafaznya, ada Qiraat tidak.

(2) Ziadah – penambahan
a. Sepakat ulamak Qurra’ menambah huruf dan membaca lafaznya ( hisaabiyah – ha ditambah)
b. Sepakat ulamak Qurra’ menambah huruf dan tidak membaca lafaznya ( u-u-laa-i > u-laa-i )
c. Selisih para Qurra’ samada membaca lafaz atau tidak pada huruf yg telah ditambah ( sulthoniyah – ha ditambah )

(3) Hazaf – membuang

a. Sepakat ulamak Qurra’ membuang sesuatu huruf tapi masih dilafazkannya ( ilaahun > allah  – hamzah qota’ di permulaan kalimah tak ditulis, tapi disebut.)
b. Sepakat ulamak Qurra’ membuang sesuatu huruf serta lafaznya sekali. ( rabbii > rabbi – dibuang ya di hujung kalimah )
c. Perbezaan bacaan dikalangan ulamak Qurra’ – samada melafazkan huruf yg telah dibuang atau tidak ( huruf ya di hujung kalimah – yad-’uddaa’ii > ada baca yad-’uddaa’i tanpa     lafaz ya mad )

(4) Maqtu’ dan MauSul

Maqtu’ – memisahkan antara dua kalimah; kaedah penulisan yg biasa = inna maa
MauSul – menggabungkan dua kalimah = innamaa

Mushaf apakah yg kita gunakan hari ini ?

1. mushaf baghdadi (rasm imla-ie)
hanya boleh dibaca dengan satu wajah saja ( Qiraat ‘Asim ? )
masih termasuk dalam rukun kedua membaca alQur’an = bertepatan dengan salah satu wajah bacaan mushaf uthmani.
tak mencakupi tujuh huruf ??

2. mushaf Madaniyah al-Nabawiyah (rasm uthmani) = telah ditambah dengan :-
Tanda2 tanwin yg selari / tak selari, lonjong atas alif, bulat kecil atas alif,waw,ya dll ..
Sila lihat pada “Dhabt, Tanda2” dan “Waqaf dan Ibtida“.
merangkumi wajah2 bacaan Qiraat2 yg mashur > menepati rukun kedua membaca alQur’an :
bertepatan dengan salah satu wajah bacaan mushaf uthmani – yg mana mushaf Madaniyah ini cuba merangkumi kesemua wajah2 yg ada.
mushaf international” boleh digunakan seluruh dunia.
.

 Perihal Khat (font)

Para penulis wahyu waktu itu menulis dengan khat Jazm, jugalah pada tulisan mushaf rasm uthmani yg pertama.
Seni khat telah berkembang maka Quran yg kita ada sekarang menggunakan khat Nasakh.

14. [http://www.shukom.com/qiraat.html]

Laaa….qiraat ni apa benda pulak???

Qiraat

Bahasa = Adalah Kata Jamak Dari Perkataan Qiraah, yaitu kaedah membaca.
Istilah = adalah kaedah cara bacaan alQur’an yg diambil oleh ulamak Qurra’ sebagai mazhab bacaan, yg diriwayatkan secara mutawatir, yg mana antara satu dengan yg lain ada perbezaan-perbezaan tersendiri

Penambahan : sedikit saja yg tak sama, bukan keseluruhan alQur’an.

10 Qiraat

Bilangan Qiraat yg Masyur:
Imam al-Jazari meriwayatkan 10 Qiraat
Imam sy-Syatibi meriwayatkan 7 Qiraat.

   Kesimpulannya = ada 10 Qiraat yg masyhur yg diterima sah dari Rasul s.a.w ( sebagaimana yg dinyatakan oleh imam al-Jazari)
Bacaan sepuluh yang mutawatir = iaitu bacaan yang disandarkan kepada sepuluh imam al-qurra’ (“Readers”) serta diriwayatkan oleh kumpulan manusia yang ramai.
Aliran Qiraat yaitu dengan bertalaqqi antara murid dengan guru bersanad hingga Rasul saw.

   Bagi setiap Qiraat yg 10 itu, ada bacaan2 yg khusus untuk Qiraat yg dibaca.
Kita adalah pengamal bacaan Qur’an = Qiraat Imam ‘Asim.
Lebih khusus lagi = Qiraat ”Hafs ‘an ‘Asim min Toriqi Shatibiyah” = Maksudnya :-
Qiraat yg melalui aliran sanad (toriq) imam Syatibi, yg diriwayatkan oleh imam Hafs, yg ambil bacaan dari imam ‘Asim.
Dalam lain kata2 :-
Qiraat atau Mazhab bacaan imam ‘Asim, yg dirawikan oleh imam Hafs, yg dikumpulkan sanad dan bacaannya oleh imam Syaatibi.
Seperti Hadith yg diriwayatkan oleh seorang Sahabat dan di kumpulkan oleh imam Bukhari dan sebagainya.

Perhatian: Ada juga Qiraat imam ‘Asim, yg dirawikan oleh imam Hafs, dari aliran sanad imam alJazari ( ada sedikit perbezaan dari aliran Syatibi; terutama sekali pada mad jaiz munfaSil – mereka baca dengan 2 harakat sahaja )

Apa itu Qiraat, Riwayat dan Toriq

   Qiraat (“Readings”) yg bersandarkan kepada Qurra’ (Readers) yg 10.
bacaan yg disandarkan pada imam = digelar “Qiraat” = contoh: Qiraat ‘Asim

   Bacaan setiap ahli Qurra’ ini dirawikan oleh dua Perawi (“Transmitters”)
bacaan yg disandarkan kepada perawi = digelar “Riwayat” = contoh: Riwayat Hafs

   Bacaan yg disandarkan kepada yg setelah daripada “perawi” = digelar “Toriq” = contoh = Toriq Syatibi

Setelah kamu khatam Qur’an menurut bacaan Hafs dan Syu’bah, barulah kamu telah selesai bacaan Qiraat ‘Asim.

Sanad imam ‘Asim

Imam ‘Asim ambil bacaan dari =
(1) Abd Rahman Assulami (2) Abu Amru AlSyaibani , (3) Abu Ubaid al Salma , (4) Zirr bin Hubaisiy al Asadi

Abd Rahman Assulami ambil bacaan dari =
(1) Ali bin Abi Tolib, (2)  Uthman bin Affan, (3) Zaid bin Thabit,  (4) Ubai bin Kaab

Zirr bin Hubaisiy ambil bacaan dari = Abdullah bin Mas’ud dan lain2

Sanad imam ‘Asim yg diambil Qiraat dan diriwayatkan oleh imam Hafs

     Sebahagian besar (majoriti 90%) ummat Islam di dunia membaca Quran mengikut Qiraat Hafs ‘an ‘Asim

  1. Hafs
  2. ‘Asim
  3. Abd Rahman Assulami
  4. Ali bin Abi Tolib
  5. Rasul saw

Sanad imam ‘Asim yg diambil Qiraat dan diriwayatkan oleh imam Syu’bah

  1. Syu’bah
  2. ‘Asim
  3. Zir bin Hubaisy
  4. Abdullah bin Mas’ud
  5. Rasul saw

7 Mazhab bacaan al-Qur’an(Qiraat) yg dikumpulkan oleh Imam Syatibi :-

1. Imam Nafi (Madina) dan 2 Perawinya :  1) Qaaloon,  2) Warsh

2.  Imam Ibn Katheer (Makkah) dan 2 Perawinya :  1) Qunbul,  2) Bazzi

3.  Imam Abu ‘Amru (BaSra: Iraq) dan 2 Perawinya : 1) Duri, 2) Susi

4.  Imam Ibn ‘Amir (Syam) dan 2 Perawinya :  1) Hisham,  2) Ibn Zakwaan

5.  Imam Aasim (Kufah: Iraq) dan 2 Perawinya : 1) Shu’aba,  2) Hafs 

6.  Imam Hamzah (Kufah: Iraq) dan 2 Perawinya:  1) Khalaf , 2) Khallad

7. Imam Kisaa’i (Kufah: Iraq) dan 2 Perawinya:         1) Abul Haarith,  2) Duri.


Selain di atas, ada tiga lagi Qiraat ( jadi semuanya 10 Qiraat yg sah sepertimana diriwayatkan oleh imam alJazari )

  1. Abu Ja’far Al-Madani ( madinah)
    – Ibnu Wardan
    – Ibnu Jammaz
  2. Ya’qub Al-Basri
    – Ruwais
    – Rauh
  3. Khalaf Al-’Asyir
    – Ishaq
    – Idris

15. [http://rachmadimamtarecha.blogspot.com/2013/03/7-elemen-jurnalisme-dalam-balutan-al.html]

7 Elemen Jurnalisme dalam Balutan Al-Quran

Dengan judul “7 Elemen Jurnalisme dalam Balutan Al-Qur’an” mungkin anda akan berfikir bahwa artikel ini merupakan usaha Islamisasi jurnalistik. Tapi tidak terlalu penting juga apakah jurnalisme itu produk dari Islam atau bukan. Yang saya yakini bahwa Al-Quran adalah sumber segala petunjuk dari Allah untuk seluruh umat, bukan hanya umat Islam saja. Dengan keyakinan ini, saya beranikan diri untuk menulis artikel ini. Semoga tidak mencederai kemajemukan dan mempersempit dunia jurnalistik.
            Saya berharap setidaknya ada sedikit manfaat (untuk semua umat, bukan hanya umat Islam) yang bisa diperoleh dari artikel ini. Untuk mencapai harapan itu mari sejenak kita lewatkan rasa ngilu terhadap kata Al-Quran, Islam dan Agama.
            Dalam artikel ini saya akan mencoba membeberkan pemahaman dangkal saya tentang surah Al-Hujurat yang bersangkutan dengan dunia jurnalistik. Karena ini pemahaman dangkal, saya tidak membenarkan pemahaman saya, saya tidak mengukuhkan pemahaman saya sebagai teori. Dengan  artikel ini saya lebih mengajak rekan-rekan pengiat jurnalistik untuk mendiskusikan tentang pemahaman saya ini, jika pemahaman saya keliru bisa direvisi.
            Elemen pertama yang ingin saya bahas adalah militansi. Seorang jurnalis bisa mendapatkan data atau penyataan yang mendukung data melalui sebuah wawancara. Dalam proses pencarian data melalui wanwancara, seringkali seorang wartawan di lapangan ‘dihadang’ dengan narasumber yang sulit ditemui. Militansi harus dimiliki seorang wartawan, agar dalam pemberitaan tidak tertulis “sampai berita ini diturunkan narasumber belum bisa dihubungi”. Hal ini banyak menimbulkan masalah, karena berita bisa jadi tidak berimbang.
            Dalam surah Al-Hujarat ayat 4 -5 Allah SWT. berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang memanggil engkau(Muhammad) dari luar kamar(mu) kebanyakan mereka tidak mengerti. Dan sekiranya mereka bersabar sampai engkau menemui mereka, tentu akan lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” Surah ini memberikan panduan kepada saya, ketika tidak mengerti dan berusaha mencari tahu dengan menemui narasumber seharusnya sabar menunggu, sampai narasumber memberikan jawabanya. Sehingga kita tidak kekurangan data, dan itu tentunya akan lebih baik dalam sebuah pemberitaan.
Elemen yang kedua adalah verivikasi data (meneliti kebenaran). Dalam Surah Al-Hujarat ayat 6 Allah SWT. berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenaranya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatan itu. ”  Dari firman Allah ini kita diberikan panduan, sebagai seorang jurnalis kita tidak boleh menelan mentah-mentah informasi yang ada. Seringkali jurnalis dimanfaatkan oleh seorang atau sekelompok orang yang ingin mengambil keuntungan dari informasi yang diberikan. Untuk itu kita harus mengecek kembali informasi yang diberikan agar tidak menguntungkan pihak yang berniat buruk.
            Elemen yang ketiga adalah soal objektifitas. Kata objektif dalam software Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) v1.1 edaran http://ebsoft.web.id ini memiliki arti “mengenai keadaan yg sebenarnya tanpa dipengaruhi pendapat atau pandangan pribadi”. Saya sendiri kurang memahami arti kata objektif yang dijelaskan pada software KBBI tersebut. Kata objektif sering kali diartikan dengan singkat seperti ‘tidak memihak’ atau ‘netral’. Saat saya mengikuti sekolah filsafat, Akhol Firdaus (Pemimpin Redaksi CMARS) selaku pemateri menjelaskan bahwa tidak mungkin seseorang itu bisa netral. Ketika ada sebuah kezaliman dan kita bersikap tidak acuh (netral) itu merupakan sebuah keberpihakan terhadap kezaliman, karena dengan sikap netral seperti itu secara tidak langsung kita membiarkan (mendukung) kezaliman itu terjadi.
             Objektif masih sering menjadi bahan perdebatan, tapi hal yang paling mudah dicerna oleh otak saya adalah apa yang disampaikan teman saya Asrur Rodzi. Setelah mengikuti Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut (PJTL) di kota Semarang dia berbagi ilmu kepada saya bahwa seorang wartawan itu tidak mungkin bisa objektif, tapi dalam tulisan bisa objektif dengan mengikuti kaidah yang ada. Dengan wajahnya yang polos tapi mencurigakan itu dia mengatakan “objektif itu bukan tujuan”.
            Dalam Surah Al-Hujarat ayat 9 Allah SWT. berfirman, “Dan apabila ada dua golongan orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari keduanya berbuat zalim terhadap (golongan) yang lain, maka perangilah (golongan) yang berbuat zalim itu, sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan berlakulah adil. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.”
            Dari ayat tersebut saya berpendapat bahwa kita dituntun untuk memerangi kezaliman. Kata memerangi disini saya artikan sebagai melawan, tentunya dengan jalan jurnalisme. Melawan jelas berarti sebuah keberpihakan, berpihak pada antikezaliman. Selain memerangi, ayat tersebut memandu kita untuk mendamaikan. Usaha untuk mendamaikan ini saya rasa kurang dimiliki media-media yang ada saat ini atau bahkan tidak ada. Banyak media berjibaku berusaha menghapus ketimpangan yang ada, namun sering kali hal ini malah memberikan daya yang lebih besar untuk menimpang balik. Jadi kezaliman dibalas dengan kezaliman yang lebih besar.
            Seperti pada kasus demo buruh, seorang jurnalis ingin mengangkat tema penghasilan buruh yang tidak setara dengan apa yang dikerjakanya. Seorang buruh merelakan jiwa dan raganya untuk melayani majikan walapun dengan penghasilan yang tidak wajar. Majikan seringkali hanya berfikir bagaimana memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya, untuk menumpuk modal dan membuka usaha lain. Dalam usaha penumpukan modal tersebut sering kali hak buruhlah yang dirampas, demi hasrat memperkaya diri sendiri keturunanya.
Dalam pemberitaan ini mampu menarik kepedulian orang-orang yang bersangkutan. Tapi tidak jarang juga hal ini menimbulkan reaksi yang berlebihan, sehingga buruh menuntut lebih dari haknya. Keadilan dari seorang jurnalis diperlukan agar kezaliman tidak dibalas dengan kezaliman. Seorang jurnalis harus memahami porsi yang tepat dalam sebuah pemberitaan.
Elemen yang keempat adalah membangun. Fungsi pers seyogyanya adalah kontrol sosial. Saat ini banyak pers yang telah keluar dari jalur yang ada sebagai kontrol sosial, pers dijadikan sebagai alat untuk menjatuhkan. Pers semacam ini biasanya adalah pers yang telah dicampuri ‘urusan poltik’. Dalam buku ‘a9ama’ saya adalah jurnalisme karya Andreas Harsono dijelaskan bahwa pada tahun 1979 Kovach (penulis buku The Elements of Jurnalism: What Newspeople Should Know and teh Public Should Expect pada tahun 2001) diajak mengobrol Presiden Jimmy Carter di Gedung Putih. Carter berkata, “Ketika Anda memiliki kekuasaan, Anda menggunakan informasi untuk membuat orang mengikuti kepemimpinan Anda. Namun kalau Anda wartawan, Anda menggunakan informasi untuk membantu orang mengambil sikap mereka sendiri.” Kovach membenarkan pernyataan Carter, “Informasi yang sama dipakai untuk dua tujuan yang berbeda. Bahkan berlawanan.” ujarnya.
Dalam surah Al-Hujarat ayat 11-12 Allah SWT. berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

  Kira-kira seperti itulah pers yang telah dicampuri ‘urusan politik’. Fungsi pers beralih dari yang awalnya menjadi kontrol sosial berubah menjadi alat untuk menjatuhkan lawan politiknya. Pers yang tadinya sebagai alat pengontrol berubah menjadi alat penjegal.

Bersambung…

16. [https://www.facebook.com/Ponpes.Almunawwir/posts/516166228405900]

ayat-ayat jurnalistik dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an menintroduksikan dirinya sebagai “pemberi petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus.” (Al-Isra’ [17]: 19), petunjuk-petunjuknya bertujuan memberi kesejahteraan dan kebahagiaan bagi manusia, baik secara pribadi maupun kelompok. dan karena itu ditemukan petunjuk-petunjuk bagi manusia dalam kedua tujuan tersebut. Rasulullah SAW sebagai penerima Al-Qur’an dapat dianalogikan dengan pembawa kabar (berita) seperti yang telah di jelaskan dalam Al-Qur’an:
وما نرسل المرسلين إلاّ مبشّرين ومنذ رين و يجا د ل الّذ ين كفروا بالبا طل ليد حضوا به الحقّ واتّخذوا أياتي وما أنذروا هزوا
Artinya: Dan tidaklah kami mengutus rasul-rasul melainkan sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan; tetapi orang-orang yang kafir membantah dengan batil. agar dengan demikian mereka dapat melenyapkan yang hak, dan mereka menganggap ayat-ayat kami dan pernyataan-pernyataan terhadap mereka sebagai olok-olokan. (Al-kahfi [18]: 56).

diambil dari buku “Belajar Jurnalistik dari Nilai-nilai Al-Qur’an”
karya: Amilia Indriyanti

17. [http://www.majalah-alkisah.com/index.php/component/content/article/815-islam-dan-jurnalisme-]

Islam dan Jurnalisme

Islam, sebagai agama yang sempurna, memberikan petunjuk kepada penganutnya secara lengkap. Tidak ada satu bidang kehidupan pun yang tidak terjangkau oleh ajaran Islam. Termasuk jurnalisme.

Dalam Al-Qur’an surah Al-Hujurat: 6, misalnya, disebutkan peringatan Allah SWT, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita,  periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya, yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

Allah SWT telah memberikan panduan kepada kaum muslimin dalam menyikapi berita yang disiarkan oleh orang-orang fasik. Jangan percaya begitu saja.

Siapakah orang-orang fasik? Dalam Al-Quran surah Al-Baqarah: 26-27 disebutkan, ”…. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik, (yaitu) orang-orang yang melanggar perintah Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan dimuka bumi. Mereka itulah orang yang rugi.”

Jadi, jelaslah, orang-orang fasik adalah orang-orang yang sesat, melanggar perintah Allah, dan membuat kerusakan di muka bumi.

Pekerjaan orang fasik memang melakukan kerusakan di muka bumi. Dalam segala hal, termasuk melalui media massa. Dengan cara menyebarkan fitnah. Mereka berharap, masyarakat yang mendengar atau membaca fitnah itu akan percaya, dan selanjutnya bersikap atau melakukan tindakan-tindakan yang merugikan si terfitnah.

Terhadap orang fasik yang menyebarkan berita, Islam jelas-jelas mengingatkan, kita tidak boleh langsung menelan mentah-mentah berita itu. Kita harus memeriksanya dengan teliti. Tanpa mengetahui yang sebenarnya, kita bisa terjerumus ke dalam sebuah tindakan yang merugikan pihak yang menjadi obyek berita tersebut. Dan bila itu terjadi, penyesalanlah yang akan kita rasakan.

Tidak hanya itu, kita juga akan dimintai pertanggungjawaban. “Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (QS Al-Isra’: 36).

Baru-baru ini, kita dihebohkan dengan bocornya kawat yang dikirimkan Kedubes AS di Jakarta kepada pemerintah AS di negerinya sana, tentang isu miring SBY, JK, dan lain-lain, sebagaimana ramai diberitakan media massa.

Bahan-bahan yang dikirimkan itu sesungguhnya masih terhitung mentah, belum diolah, sebagaimana resmi diakui oleh pemerintah AS. Oleh karena itu, secara resmi Dubes AS meminta maaf kepada pemerintah dan rakyat Indonesia. Nah, bahan yang masih mentah itu bocor hingga sampai ke Wikileaks. Dan akhirnya The Age, media Australia, tanpa cross check kepada pihak-pihak terkait, main muat saja.

Terkait tulisan yang dipublikasikan The Age, sebagai umt Islam kita mesti benar-benar berpegang kuat pada ayat-ayat Al-Qur’an di atas.

Sebagai sebuah tulisan produk sebuah media, walaupun seperti telah disebut di atas masih terhitung mentah, bagaimanapun, memang ada dua kemungkinan. Pertama, yang ada di The Age itu benar-benar terjadi. Kemungkinan kedua, hanya fitnah.

Untuk yang pertama, toh berbagai pihak telah membantah. Juga menunjukkan ketidaklogisan apa yang ada di The Age, misalnya ihwal posisi Hendarman Supanji saat itu.

Sedang bila kemungkinan kedua yang terjadi, waspadalah. Jangan sampai kita, umat Islam, terprovokasi fitnah yang kejam, terhadap SBY, misalnya dan khususnya, yang nota bene adalah pemimpin kita, yang juga adalah umat Nabi Muhammad SAW.

Sebelum semuanya menjadi jelas, jangan bersikap atau melakukan tindakan-tindakan yang, sebagaimana diperingatkan dalam surah Al-Hujurat: 6, “menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

Khusus buat AS, mudah-mudahan kata-kata Anda selama ini – yakni antara lain bahwa Anda sangat senang bermitra dengan seorang presiden yang kuat, SBY, yang didukung oleh mayoritas rakyatnya – benar-benar tulus datang dari hati nurani.

18. [http://www.ripiu.info/artikel/baca/u_tamie-belajar-jurnalistik-islam#.UuZVFYH-KHs]

Belajar Jurnalistik Islam

URGENSI JURNALISTIK DI ERA GLOBAL

Menimbang Arti Penting Jurnalistik

Pesatnya arus informasi, membuat dunia jurnalistik semakin terasa penting kehadirannya di tengah-tengah masyarakat. Hak menerima informasi dengan benar dilindungi Undang-undang Hak-Hak Asasi Manusia (UU UAM), pasal 19, yang menyebutkan: Setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan pendapat.

Pentingnya penyampaian dan penerimaan informasi dengan bnar, di antaranya dapat dilihat dalam kisah Nabi Sulaiman AS tentang perjalanan burung Hudhud. Diceritakan,di tengah perjalanan menuju tempat pertemuan yang digelar oleh Nabi Sulaiman AS, tanpa sengaja burung Hudhud melihat peristiwa yang sangat penting, kemudian dia berhenti dan mencari kebenarannya. Setelah selesai, dia meneruskan perjalanannya dengan membawa berita yang dapat dipertanggungjawabkan. Membawa berita rencana penyeranagan negeri Saba’, yang kemudian disampaaikan kepada nabi Sulaiman AS, terselamatkanlah negeri dari sebuah tragedi (berdarah).

Pers di Zaman Modern

Di zaman modern ini kebutuhan informasi terus meningkat, orang mulai berpikir untuk menyajikan informasi secara lebih baik. Maka dikenallah ?Media Massa?, yang melibatkan banyak unsur-unsur yang saling merangkai, supaya menghasilkan sebuah produk jurnalistik. Di Indonesia kebebasan berpendapat dan informasi dipandang sebagai pilar keempat demokrasi setelah eksekutif, legislatif, dan yudikatif.

Wartawan adalah sebagai pencari sekaligus penyaji inforamsi, harus mempunyai cara-cara untuk melakukan penelitian demi keakuratan beritanya. Al-Qur’an sendiri menganjurkan untuk itu, yaitu pada surat Al-Hujurat, ayat 6.

Unsur yang paling utama dan terutama dalam jurnalistik adalah fakta. Ada dua jenis fakta yang dapat menhjadi pilar utama laporan investigasi bagi jurnalis, yaitu:

▪        Pertama, jejak masyarakat yang bisa diperoleh melalui wawancara dan atau kesaksian para pelaku.

▪        Kedua, jejak dokumen atau fakta autentik dan jejak elaektronik berupa record atau report tertentu dalam sebuah sistem jaringan.

Untuk menghindari jurnalis yang suka menyelewengkan profesinya untuk kepentingan pribadi, maka jurnalis mengantisipasi dengan Kode Etik Jurnalistik ( KEJ) yang mengatur tentan beberapa etika dan kaidah yang harus dipatuhi oleh para jurnalis.

Beberapa Studi Tentang Jurnalistik Islam

Studi jurnalistik islam yang misalnya dilakukan oleh ahmad Y. samantho yang menulis ?Jurnalistik Islami: Panduan Praktis Para Aktivis Muslim?,. Dalam buku itu dibahas persoalan-persoalan kaum muslimin dalam menghadapiarus inforamsi yang mengglobal, dan panduan tentan apa yang seharusnya dilakukan wartawan muslim. Abu Al-Ghifari dengan ?Kiat Menjadi Penulis Sukses ( Menggapai Surga dengan Tulisan, Panduan untuk Generasi Muda Islam)?, menjadikan jurnalistik sebagai sentral pembahasan buku yang mencakup  berbagai hal. Dr. Muhammad Nashir dalam bukunya ?Informasi dan Pengaruhnya dalam Penyebaran Nilai-Nilai Islam?, mengungkapkan bahaya-bahaya informasi yang salah dari berbagai media yang menyudutkan islam.

Kode Etik Jurnalistik Dalam Islam

Uraian standar kode etik jurnalistik dalam Al-Qur’an adalah sebagai langkah jurnalistik dalam masyarakat islam: berupa standar normatif yang berangkat dari Al-Qur’an dan agenda struktural sebagai refleksi perubahan sosial, politik, dan budaya di Indonesia.?

Media Massa dalam Islam

Dalam Islam,Dunia jurnalistik sudah tidak asing lagi, rasullullah Muhammad SAW telah memanfaatkan risalah sebagai media komunikasi. Allah telah memberikan utusan-Nya pada setiap kaum.Sedang profesi wartawan, bias menjadi salah satu titik terkecil dari salh satu lidah para utusan Allah (rasul). Tentu saja para jurnalis bekerja sesuai dengan kaidah dan kode etik jurnalistik islam.

Korelasi Jurnalistik dalam Islam

Secara umum, jurnalistik=pers (media massa) mempunyai peran dan fungsi penting dalam masyarakat. Seperti: pertama, memberi informasi dan pendidikan; kedua, hiburan (entertainer); ketiga, pengawasan (social control).             Seorang wartawan muslim seharusnya membawa semangat dan ruh islam, yaitu kebenaran, kejujuran, keadilan, dan amar makruf nahi munkar. Inilah yang menjadi penyebab sebuah medoia banyak dinikmati masyarakat.
Unsur-Unsur Jurnalistik dalam Islam

Al-Qura’an di dalamnya banyak mengandung unsur-unsur jurnalistik. Di antara yang banyak itu ada empat yang paling urgen dalam aktifitas kejurnalistikan, yaitu:

1.     fairness (Bersikap wajar dan patut)

Sesuatu yang disampaikan para jurnalis tiodak boleh lepas dari unsur kepatutan menurut etika yang berlaku

2.     Keakuratan Informasi

Agar dapat menyampaikan berita yang benar, valid, akuarat, seorang jurnalis harus melakukan penelusuran keberbagai sumber-sumber berita.

3.     Bebas Bertanggung jawab

Dalam mendapatkan dan menyampaikan kebenaran wartawan harus memiliki kebebasan. Namun koidor kebebasan itu dibatasai dengan kalimat qad taayyana al-rusyd min al ghayyi, dan aspek al-‘urwat al-wutsqa.

4.     Kritik Konstruktif

Menyampaikan kritik yang membangun, dan bukan semata-mata untuk menjatuhkan seseorang atau institusi tertentu.

PERAN JURNALISTIK DALAM ISLAM

            Jurnalistik sebagai salah satu penyampai berita, dapat berperan juga sebagai sarana komunikasi dan berdakwah.

            Media massa, cetak maupun elektronik berfungsi:

pertama, surveilence, yakni mengamati apa-apa yang ada di dunia dan melaporkan kepad masyarakat atau massa.

Kedua,  story teller, yakni berperan sebagai tukang cerita baik sebagai entertainer (penghibur) atau persauder (pemberi pengaruh)

Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/communication-media-studies/2312376-belajar-jurnalistik-dari-nilai-nilai/

19. [http://follyakbar.blogspot.com/2013/01/jurnalisme-dalam-bingkai-islam-ayat-dan_15.html]

Jurnalisme Dalam Bingkai Islam: Ayat dan Hadits Tentang Jurnalistik

Jurnalistik Islami adalah Jurnalisme dakwah, maka setiap jurnalis Muslim, yakni wartawan dan penulis yang beragam Islam berkewajiban menjadikan Islam sebagai ideologi dalam profesinya, baik yang bekerja pada media massa umum maupun media massa Islam (Muis, 2001; Amir,1999).
Suf Kasman (2004) memberi definisi yang lebih lengkap untuk Jurnalisme Dakwah, yaitu proses meliput, mengolah, dan menyebarluaskan berbagai peristiwa dengan muatan nilai-nilai Islam dengan mematuhi kaidah-kaidah jurnalistik dan norma-norma yang bersumber dari Quran dan Hadits. Pendapat ini sejalan dengan Malik (1984) yang mendefinisikan jurnalisme
Oleh Emha Ainun Nadjib (dalam Kasman, 2004: 20). Menurutnya, jurnalistik Islami adalah teknologi dan sosialisasi informasi dalam kegitan penerbitan tulisan yang mengabdikan diri kepada nilai-nilai agama Islam.
Pada dasarnya setiap jurnalis Muslim hendaknya memiliki karakter, sebagaimana yang dimiliki oleh Nabi Muhammad yaitu:
Satu, shiddiq. Al-shidq mengacu kepada pengertian jujur dalam berkomunikasi, baik lisan maupun tulisan. Dalam konteks jurnalistik, shiddiq adalah menginformasikan sesuatu yang benar dan membela serta menegakkan kebenaran itu.     Standar kebenarannya tentu saja kesesuaian dengan ajaran Islam (Quran dan As-Sunnah).
Dua, amanah Artinya terpercaya, dapat dipercaya, karenanya tidak boleh berdusta, merekayasa, memanipulasi atau mendistorsi fakta.
Tiga, tabligh. Artinya menyampaikan, yakni menginformasikan kebenaran, bukan malah memutarbalikkan kebenaran.
Empat, fathonah. Artinya cerdas dan berwawasan luas. Jurnalis muslim dituntut mampu menganalisis dan membaca situasi,   termasuk membaca apa yang diperlukan umat dengan meneladani kecerdasan Nabi Muhammad (prophetic intelligence). (Sumber: Romli (2003: 38-39))
Dalam skala yang lebih luas, jurnalis Muslim bukan saja berarti para wartawan yang beragama Islam dan berkomitmen dengan ajaran agamanya, melainkan juga cendekiawan muslim, ulama, mubalig yang cakap bekerja di media massa dan memiliki setidaknya 5 peranan (Romli, 2003: 39-41):
Pertama, sebagai pendidik (muaddib), yaitu melaksanakan fungsi edukasi yang Islami. Ia harus lebih menguasai ajaran agama Islam dari rata-rata khalayak pembaca. Lewat media massa, ia berperan mendidik umat Islam agar melaksanakan perintah-Nya dan menajuhi larangan-Nya. Ia memikul tugas untuk mencegah umat Islam melenceng dari syariat Islam, juga melindungi umat dari pengaruh buruk media massa nonIslami yang anti-Islam.
Kedua, sebagai pelurus informasi (musaddid). Dalam hal ini, setidaknya ada 3 hal yang harus diluruskan oleh para wartawan Muslim. Satu, informasi tentang ajaran dan umat Islam. Dua, informasi tentang karya-karya atau prestasi umat Islam. Tiga, terkait jurnalis Muslim hendaknya mampu menggali (dengan investigative reporting) tentang kondisi umat Islam di berbagai penjuru dunia. Peran musaddid amat relevan dan penting mengingat informasi tentang Islam dan umatnya yang datang dari pers barat biasanya bias (menyimpang dan berat sebelah), distorsif, manipulatif, penuh rekayasa untuk memojokkan Islam yang notabene tidak disukainya. Di sini, jurnalis Muslim dituntut berusaha mengikis fobi Islam (Islamophobia) dari propaganda pers barat yang anti-Islam.
Ketiga, sebagai pembaharu (mujaddid), yakni penyebar paham pembaharuan akan pemahaman dan pengamalan ajaran Islam (reformisme Islam). Wartawan Muslim hendaknya menjadi juru bicara para pembaharu, yang menyerukan umat Islam memegang teguh Quran dan As-Sunnah, memurnikan pemahaman tentang Islam dan pengamalannya (membersihkannya dari bid’ah, khurafat, tahayul, dan isme-isme yang tidak sesuai ajaran Islam), dan menerapkannya dalam segala aspek kehidupan umat.
Keempat, Sebagai pemersatu (muwahid), yaitu menjadi jembatan yang mempersatukan umat Islam. Oleh karena itu, kode etik jurnalistik yang berupa impartiality (tidak memihak pada golongan tertentu dan menyajikan dua sisi dari setiap informasi) harus ditegakkan. Wartawan muslim harus membuang jauh-jauh sikap sektarian (berpihak sebelah pada golongan tertentu).
Kelima, Sebagai pejuang (mujahid), yaitu pejuang-pejuang pembela Islam. Melalui media massa, wartawan muslim berusaha keras mendorong penegakan nilai-nilai Islam, menyemarakkan siar Islam, mempromosikan citra lslam sebagai rahmatan lilalamin.
Dalam ranah praktis, jurnalis juga dituntut memiliki kemampuan teknis dan etis sebagaimana dituntunkan dalam Quran. Hal ini menurut Romli (2003) dan Amir (1999) tercermin dalam berbagai bentuk akhlaqul karimah yakni:
Satu, menyampaikan informasi dengan benar, juga tidak merekayasa atau memanipulasi fakta (QS. Al-Hajj: 30).
Dua, bersikap bijaksana, penuh nasihat yang baik, serta argumentasi yang jelas dan baik pula. Karakter, pola pikir, kadar pemahaman objek pembaca harus dipahami sehingga berita yang disusun akan mudah dibaca dan dicerna (QS. An-Nahl: 125).
Tiga, meneliti fakta/cek-ricek. Untuk mencapai ketepatan data dan fakta sebagai bahan baku berita yang akan ditulis, jurnalis Muslim hendaknya mengecek dan meneliti kebenaran fakta di lapangan dengan informasi awal yang ia peroleh agar tidak terjadi kidzb, ghibah, fitnah dan namimah (QS. Al-Hujarat: 6).
Empat, tidak mengolok-olok, mencaci-maki, atau melakukan tindakan penghinaan sehingga menumbuhkan kebencian (QS. Al-Hujarat: 11).
Lima, menghindari prasangka buruk/su’udzon. Dalam pengertian hukum, jurnalis hendaknya memegang teguh “asas praduga tak bersalah”.
Quran
Karena Islam menolak setiap klaim yang tidak berdasar pada dalil dan bukti, maka berpikir, tadabbur, meneliti dan mengkaji merupakan kewajiban seluruh umat manusia. Allah berfirman dalam Surat An-Naml ayat 64. Artinya demikian:“Atau siapakah yang menciptakan (manusia dari permulaannya), kemudian mengulanginya (lagi), dan siapa (pula) yang memberikan rezki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah di samping Allah ada Tuhan (yang lain)? Katakanlah: “Unjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar”.
Dalam konteks Islam, teori dasar tentang jurnalisme Islam telah tertuang dalam Quran Surat Al-Hujurat ayat 6. Adapun artinya adalah: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya, yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”.
Ada dua pesan moral yang terkandung dalam ayat di atas. Pertama, mewaspadai setiap orang fasik. Siapakah orang fasik itu? Dalam Quran Surat Al-Baqarah ayat 26-27 disebutkan, “…Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik. (Yaitu) orang-orang yang melanggar perintah Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang yang rugi”. Maksud ayat di atas sudah sangat jelas. Bahwa orang fasik yaitu orang yang suka melanggar perintah Tuhan dan kerjaannya merusak peradaban dunia.
Pesan moral kedua yaitu kewajiban setiap orang beriman untuk selalu melakukan pengamatan, penelitian dan kroscek terhadap setiap berita yang beredar di tengah masyarakat, khususnya yang dikeluarkan oleh orang-orang fasik. Dalam bingkai ini, kita dituntut untuk tidak mudah percaya kepada berita-berita yang disebarkan oleh orang fasik, baik melalui lisan mereka langsung maupun yang terekspos melalui berbagai media massa cetak dan elektronik yang mereka miliki.
Dalam Quran, Tuhan memberikan rekomendasi kepada setiap Muslim agar berhati-hati terhadap berita-berita yang disiarkan oleh kaum fasik. Lantas siapakah yang dimaksud sebagai orang-orang fasik tersebut? Dalam Quran Surat Al-Baqarah: 26-27 disebutkan secara gamblang bahwa orang fasik yaitu orang-orang yang melanggar perintah Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang yang rugi. Jadi, jelaslah, orang-orang fasik adalah orang-orang yang sesat, melanggar perintah Allah, dan membuat kerusakan di muka bumi.
Kebebasan dalam Quran terutama dalam memeluk agama. Seperti Firman Allah di Madinah dalam Surat Al-Baqarah ayat 256. Yang artinya adalah: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut (syaitan) dan beriman kepada Allah, maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.
Dan bila itu terjadi, penyesalanlah yang akan kita rasakan. Tidak hanya itu, kita juga akan dimintai pertanggungjawaban. “Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya” (QS Al-Isra’: 36).
Tak lain ayat Quran yang dimaksudkan di atas yakni Quran Surat Al-‘Alaq ayat 1-5. Dalam ayat tersebut Tuhan menginstruksikan kepada Muhammad (dan juga kepada umat manusia) untuk membaca, dan mencari jati diri manusia secara sungguh-sungguh.
Karenanya kebebasan yang diberikan harus dipertanggungjawabkan kepada Allah. Bebas satu sisi dan tanggung jawab sisi yang lain tidak mungkin dipisahkan. Pers bebas dalam menyiarkan sesuatu tetapi harus mempertanggungjawabkan apa yang disiarkannya, ia harus menjamin kebenaran yang disampaikan kepada khalayak.
“Setiap jiwa memang tidak pernah diberi tugas dan tanggung jawab di luar kemampuannya. Namun apa yang ia kerjakan akan dipertanggungjawabkan tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang diusahakannya/dikerjakannya”(Q.S. Al-Thur ayat 21).
Banyak ayat Quran yang melaknat pembohong. “Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta” (Q.S. An-Nahl: 105).
Adil juga berarti sama dan seimbang dalam memberi balasan. Dalam Surat An-An’am ayat 152 Allah berfirman: “Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat”.
Ajaran Islam mengakomodasikan etika akurasi informasi tersebut melalui beberapa ayat seperti dalam surat Al-Hujarat ayat 6: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”.
Wartawan sebagai seorang yang mempunyai akal sebagai pisau analisisnya akan selalu selektif dalam menerima informasi sebelum menyiarkan kepada orang lain. Dalam surat Al-Dzumar ayat 18 Allah berfirman: “Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal”.
Dalam Quran, orang beriman diminta untuk melaksanakan suatu kewajiaban berupa pekerjaan mengajak orang lain untuk berbuat baik, menyuruh orang lain melaksanakan kebaikan, dan melarang orang untuk menjauhi kemungkaran, seperti dicantumkan dalam Surat Ali Imran ayat 103: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung”.
Sebelum ada penemuan teknologi kertas pada era kekuasaan Kaisar Ho-Ti dari Dinasti Han oleh Ts’ai Lun pada tahun 105 Masehi; dinamika peradaban tulis-menulis umat manusia masih dilakukan dengan mengeksplorasi media batu, tulang-belulang, kulit hewan, pun dedaunan. Nenek moyang kita dulu juga memfungsikan daun lontar untuk berkarya. Zaman sudah berubah. Kini semua sudah berubah total.
Politik Media
Merujuk pada data yang ada, tingkat melek huruf Yahudi adalah 97 persen, Kristen 87 persen, Budha 85 persen, Sikh 53 persen, Hindu dan Muslim masing-masing 51 persen. Sementara tingkat pengangguran tertinggi diduduki oleh umat Hindu dan Sikh yang masing-masing sebanyak 20 persen, disusul umat Muslim 15 persen dan Kristen 10 persen, Yahudi 8 persen dan Budha 5 persen.
Seperti diketahui bersama, jumlah pemeluk agama-agama besar dunia sendiri menunjukkan, jumlah pemeluk agama Kristen sebanyak 2 miliar jiwa, disusul pemeluk Muslim yang kuantitasnya mencapai 1,3 miliar. Sementara jumlah pemeluk agama Hindu yakni 900 juta jiwa, atheis sebanyak 850 juta jiwa, dan penganut agama Budha adalah 360 juta orang. Disusul berturut-turut agama Sikh 23 juta orang, Yahudi hanya sebanyak 14 juta orang.

Sedangkan penganut agama (keyakinan) lainnya sebanyak 525 juta penduduk. Mencermati data tersebut menegaskan bahwa ada relasi yang sangat kuat antara tingkat melek huruf dengan kesejahteraan penduduk. Sebab data terbaru menunjukkan bahwa pendapatan rata-rata per kapita per tahun orang-orang Yahudi di dunia adalah USD 16.100, disusul Kristen USD 8.230, Budha USD 6.740, Muslim USD 1.720, Sikh USD 702, serta Hindu USD 392.

20. [http://prabuyoss.blogspot.com/2013/05/mengenal-bentuk-tulisan-artikel-feature.html]

CV SUKABACA Penerbit

MENGENAL BENTUK TULISAN ARTIKEL, FEATURE DAN ESAI

Jumat, 17 Mei 2013

IV. MENGENAL BENTUK TULISAN ARTIKEL, FEATURE DAN ESAI

1. Bentuk-bentuk Tulisan di Media Massa

Apakah yang disebut sebagai Artikel?

Masyarakat luas, mengangap semua tulisan di media cetak (koran, majalah, tabloid, bulletin, jurnal dan news letter) sebagai artikel. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), artikel disebut sebagai: karya tulis lengkap, misalnya laporan berita atau esai di majalah, surat kabar dsb. Dalam ilmu jusnalistik, artikel adalah salah satu bentuk tulisan nonfiksi berisi fakta dan data yang disertai sedikit analisis dan opini dari penulisnya.

Apakah yang disebut sebagai features?

Feature sering diartikan sebagai tulisan khas di media massa. Dalam KBBI, arti feature tidak ada. Dalam kamus-kamus bahasa Inggris, feature diartikan sebagai: a distinctive or regular article in a newspaper or magazine. Dalam ilmu jurnalistik, features merupakan salah satu bentuk tulisan nonfiksi, dengan karakter human interest yang kuat.

Apakah yang disebut esai?

Menurut KBBI, esai adalah karangan prosa yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya. Menurut kamus Webster’s (essay) adalah: a short literary composition of an analytical, interpretive, or reflective kind, dealing with its subject in a nontechnical, limited, often unsystematic way and, usually, expressive of the author’s outlook and personality. Menurut ilmu jurnalistik, esai adalah tulisan berupa pendapat seseorang tentang suatu permasalahan ditinjau secara subyektif dari berbagai aspek/bidang kehidupan.

Apakah bentuk-bentuk tulisan lain di media massa?

Yang paling banyak dijumpai di koran dan majalah adalah berita (news). Dalam dunia jurnalistik, news dikelompok-kelompokkan lagi menjadi spot news, stright news, interpreted news, interpretative news, news story dll. Selain itu masih ada bentuk-bentuk tulisan lain seperti reportase, information story, info grafis, resensi buku/film, tajuk, resep masakan, daftar harga dll.

Apakah yang disebut sebagai News (berita)?

News atau berita adalah bentuk tulisan non fiksi berdasarkan sebuah peristiwa faktual, yang lazim disebut sebagai stright news (berita lempang atau berita langsung). Selain itu masih ada spot news (berita singkat); interpeted news (berita pendapat); interpretative news (berita dengan interpretasi); investigative news (berita penyidikan) dll.

Bentuk tulisan manakah yang paling mungkin untuk ditulis oleh pihak luar (bukan wartawan atau redaksi penerbitan tersebut)?

Yang selalu diisi oleh pihak luar adalah artikel, opini dan esai. Yang kadang-kadang juga masih bisa diisi oleh pihak luar adalah feature dan reportase. Namun bentuk tulisan Opini dan Esai lebih sulit dipelajari dibanding dengan artikel. Sementara feature juga lebih mudah dikerjakan oleh bukan wartawan dibanding dengan reportase. Karenanya, bentuk tulisan artikel dan feature paling mudah dan bermanfaat untuk dipelajari oleh kalangan bukan wartawan profesional.

2. Tentang Artikel

Apakah yang disebut sebagai artikel dalam dunia jurnalistik?

Dalam dunia jurnalistik, artikel adalah salah satu bentuk tulisan non fiksi (berdasarkan data dan fakta) dan diberi sedikit analisis serta pendapat oleh penulisnya. Biasanya, artikel hanya menyangkut satu pokok permasalahan, dengan sudut pandang hanya dari satu disiplin ilmu. Teknik yang digunakan umumnya deduktif–induktif atau sebaliknya.

Apakah beda artikel dengan interpretative news?

Interpretative news juga merupakan salah satu bentuk tulisan non fiksi yang juga diberi opini oleh penulisnya. Namun kalau sebuah artikel sudah bisa ditulis hanya dengan bahan data dan fakta, maka interpretative news harus berdasarkan peristiwa faktual. Kalau artikel bisa ditulis oleh siapa saja, maka interpretative news biasanya hanya ditulis oleh intern wartawan atau redaktur dari penerbitan bersangkutan.

Apakah beda artikel dengan opini dan kolom?

Dalam pengertian sehari-hari, artikel, opini, kolom bahkan juga esai dianggap sama dan bisa saling dipertukarkan tempatnya. Dalam dunia jurnalistik, opini dibedakan dengan artikel karena dalam opini, pendapat pribadi (buah pikiran) si penulis lebih diutamakan. Sementara dalam artikel, pendapat pribadi si penulis biasanya dikemukanan dalam bentuk analisis atau data dan fakta tandingan, yang berbeda dengan data dan fakta yang dijadikan bahan tulisan. Dengan adanya analisis serta data dan fakta tandingan itu, pembaca artikel diharapkan bisa mengambil kesimpulan sendiri. Kolom adalah artikel, opini, esai atau tulisan lain oleh penulis tetap, yang diberi ruang (rubrik) yang tetap pula.

Apakah beda artikel dengan esai?

Dalam dunia jurnalistik, esai merupakan bentuk tulisan yang paling sulit. Meskipun dalam KBBI esai hanya disebut sebagai: karangan prosa yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya. KBBI memang mewakili pendapat umum masyarakat yang menganggap esai sama dengan artikel, opini dan kolom. Padahal esai merupakan artikel yang dalam menganalisis, si penulis mengambil angle dari beberapa disiplin ilmu, dengan subyektifitas yang khas dari penulisnya. Hingga penulis esai yang baik, dituntut untuk memiliki minat serta pengetahuan yang luas, dengan kepribadian yang khas.

Secara konkrit, bagaimanakah biasanya sebuah artikel ditulis?

Artikel paling mudah ditulis dengan metode induksi atau deduksi. Dalam metode induksi, penulis berangkat dari sebuah contoh khusus, misalnya kasus korupsi untuk membuat kesimpulan yang bersifat umum tentang gejala korupsi. Dalam metode deduksi, penulis menggunakan cara kebalikan dari induksi, yakni menggunakan sebuah gejala umum untuk membuat kesimpulan terhadap contoh khusus. Misalnya, penulis menunjukkan bagaimana amburadulnya pengaturan lalulintas di suatu tempat, lalu gejala umum tersebut digunakan untuk menyimpulkan bahwa sebuah contoh kecelakaan lalulintas merupakan akibat dari gejala umum tersebut.

3. Tentang Feature

Apakah yang disebut sebagai feature?

Kalau entri artikel sudah masuk dalam KBBI, maka entri feature masih belum ada. Meskipun demikian, di depan telah disebutkan bahwa feature dalam kamus-kamus bahasa Inggris diartikan sebagai tulisan khas (dengan karakter yang kuat) yang dimuat secara reguler di surat kabar atau majalah.

Apakah yang membedakan feature dengan berita (stright news maupun interpreted news) dan artikel?

Berita lebih mengutamakan fakta dan data aktual (berdasarkan sebuah peristiwa aktual) yang ditulis secara lempang tanpa opini (stright news); dengan opini dari luar si penulis (intrepreted news) maupun opini dari si penulisnya (interpretative news). Artikel ditulis berdasarkan data dan fakta (belum tentu peristiwa faktual), diberi analisis dan opini (berupa fakta dan data tandingan) dari si penulis. Feature merupakan tulisan berdasarkan data dan fakta peristiwa aktual, namun materinya diseleksi yang lebih menekankan segi human interest.

Ada berapa jenis feature-kah yang selama ini dikenal dalam dunia jurnalistik?

Ada puluhan jenis feature. Mulai dari feature tentang manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, alam, sejarah, anthropologi, luar angkasa, hantu-hantu.

Apakah tema-tema berdasarkan bidang/sektor kehidupan bisa diangkat sebagai feature?

Bisa. Misalnya bidang sosial, politik, budaya, ekonomi dll. Sektornya mulai dari kesenian, pemerintahan, perdagangan dll. Namun dalam mengangkat bidang, sektor maupun komoditas yang lebih konkrit menjadi sebuah feature, penulis akan menekankan segi manusianya, binatangnya, tumbuh-tumbuahnya atau alamnya. Bukan menekankan segi permasalahannya. Hal yang terakhir ini lebih tepat diangkat menjadi artikel atau esai.

Secara konkrit, bagaimanakah sebuah feature ditulis?

Misalnya ada kecelakaan pesawat terbang. Stright newsnya adalah berita tentang kecelakaan tersebut. Kemudian ada interpreted news dari maskapai penerbangan, pabrik pesawat, aparat perhubungan, pihak keluarga korban dll. mengenai kecelakaan tersebut. Ada lagi artikel dari seorang pakar cuaca yang mengulas kecelakaan tersebut dari aspek buruknya cuaca pada saat peristiwa terjadi.

Feature yang bisa ditulis antara lain:

  1. Mengenai istri/anak pilot yang menjadi korban;

  2. Pacar pramugari yang juga menjadi korban;

  3. Petugas SAR yang tanpa kenal lelah membantu mengumpulkan jasad para korban dll. dengan menekankan segi human interestnya.

4. Tentang Esai

Apakah yang disebut esai dalam dunia jurnalistik?

Kata kunci pada bentuk tulisan esai adalah adanya faktor analisis, interpretasi, dan refleksi. Karakter esai, umumnya non teknis, non sistematis, dengan karakter dari penulis (unsur subyektivitas) yang menonjol.

Apakah beda esai dengan artikel dan opini?

Beda esai dengan artikel dan opini adalah, esai lebih mengutamakan faktor analisis secara individual. Sementara artikel lebih mengutamakan analisis dengan bantuan teori atau disiplin ilmu tertentu. Pada bentuk tulisan opini, pendapat pribadi penulis (bukan analisis) lebih diutamakan.

Benarkah semua penulis artikel dan sasterawan mampu menulis esai?

Pertama-tama tidak semua wartawan dan sasterawan mampu menulis artikel dan feature.

Kedua, tidak semua penulis artikel, feature dan sasterawan mampu menulis esai. Hanya sedikit wartawan dan sasterawan yang mampu menjadi penulis esai. Sebab bentuk tulisan ini termasuk yang paling sulit dikuasai. Namun penulis esai, hampir selalu bisa menulis artikel dan feature dengan cukup baik.

Mengapa esai merupakan bentuk tulisan yang paling sulit untuk dikuasai penulis?

Tingkat kesulitan esai, terutama disebabkan oleh karakternya yang non teknis dan non sistematis. Hingga kekuatan esai hanyalah tertumpu pada daya analisis, refleksi dan karakter pribadi si penulis. Karenanya, teknik menulis esai dari seseorang, akan sulit untuk dipelajari dan ditiru oleh penulis lain. Sementara teknik menulis artikel dan feature dari seorang penulis kenamaan, bisa dipelajari dan ditiru oleh penulis pemula.

Bagaimanakah persyaratan agar seseorang bisa menjadi penulis esai yang baik?

Seorang peulis esai, dituntut memiliki tingkat kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual di atas rata-rata. Seseorang yang cerdas secara intelektual, lebih cocok untuk menjadi penulis artikel. Mereka yang memiliki tingkat kecerdasan intelektual dan emosional tinggi lebih pas menjadi penulis feature dan opini. Kalau kecerdasan intelektual dan emosional itu ditambah dengan kecerdasan spiritual dan pengetahuan serta wawasan luas, maka dia bisa menjadi penulis esai yang baik.

5. Struktur Berita, Artikel, Feature dan Esai

Apakah yang dimaksud sebagai struktur tulisan dalam dunia jurnalistik?

Yang dimaksud sebagai struktur tulisan dalam dunia jurnalistik adalah susunan, bangunan atau pola dari tulisan tersebut. Misalnya, pada umumnya struktur berita adalah piramida (s) terbalik t (bagian yang runcing berada di bawah).

Mengapa struktur berita berupa piramida terbalik?

Piramida terbalik mengibaratkan bahwa bagian yang besar (isinya banyak, penting); berada di bagian atas. Makin ke bawah, bentuk piramida tersebut makin mengecil dan meruncing. Ibaratnya, makin ke bawah volume berita tersebut makin sedikit, sementara isinya juga menjadi kurang penting. Dalam kenyataan, isi sebuah berita sama saja. Misalnya, kalau di bagian atas dalam satu alinea terdiri dari 6 kalimat dan 30 kata, maka di bagian bawah bisa saja satu alinea malahan berisi 8 kalimat dengan 40 kata. Namun, kadar kepentingan dan kepadatannya (variasi informasi yang terkandung di dalamnya), justru lebih sedikit.

Bagaimanakah dengan struktur artikel dan feature?

Artikel dan feature tidak berbentuk piramida terbalik melainkan balok sama besar yang memanjang dari atas ke bawah (z). Bentuk demikian dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa dalam artikel maupun feature, bagian yang paling atas, sama pentingnya dengan yang di tengah maupun yang di bawah.

Bagaimanakah detil komponen struktur artikel dan feature tersebut?

Secara umum, semua tulisan selalu terdiri dari judul (bisa dengan atau tanpa anak judul), nama penulis (bisa di atas bisa di bawah, bisa tidak ada), summary (ringkasan) atau etalase/intro; lead (kepala tulisan), body dan ending.

Apakah yang dimaksud dengan summary dan lead dalam artikel/feature?

Banyak penulis bahkan redaktur penerbitan yang sulit untuk membedakan antara summary atau etalase atau intro dengan lead atau kepala tulisan. Summary, etalase atau intro, hanya dimaksudkan untuk “daya tarik awal” setelah pembaca melihat judul dan juga foto (dalam feature). Fungsi ini tidak terlalu penting jika dibanding dengan lead atau kepala tulisan. Dalam News, lead memuat sekaligus semua informasi (what, who, when, where, whay dan how = 5 W 1 H) dalam satu alinea.

Misalnya: Tadi malam pukul 22.30 WIB (when), telah terjadi kecelakaan lalulintas (what), di jalan tol Jagorawi (where). Kecelakaan tersebut terjadi antara (how) bus penumpang dengan truk gandengan (what). Dalam kecelakaan ini sebanyak 10 orang tewas dan belasan lainnya luka-luka (how). Diduga kecelakaan terjadi karena bus tersebut mengalami pecah ban (why), dst.

Dengan hanya membaca lead sebuah berita, seorang pembaca sudah bisa tahu seluruh isi berita secara garis besar, tanpa harus melanjutkan membaca seluruh berita. Dalam artikel dan feature, fungsi lead adalah, untuk membuat pembaca tidak bisa berhenti membaca sebelum tulisan selesai. Hingga fungsi lead tersebut justru untuk memberikan daya tarik, namun harus dibatasi hingga tidak semua informasi tuntas dalam sebuah lead. Karena fungsinya yang demikian penting, lead dalam artikel dan feature sering diibaratkan seperti serve dalam badminton, voley atau tenis.

Bagaimanakah tepatnya struktur sebuah esai?

Sebagai sebuah tulisan, esai juga menuntut adanya jusdul, etalase, lead, body dan ending. Namun struktur secara keseluruhan tidak seketat dan sebaku pada artikel dan feature. Justru karena tidak adanya kebakuan tersebut, maka sebuah esai dari penulis kenamaan, sulit untuk dipelajari dan dicontoh oleh penulis pemula. Karakter esai yang non teknis dan non sistematis menjadi kendala untuk membakukan struktur penulisannya.

6. Metode Induktif dan Deduktif dalam Artikel

Seberapa pentingkah data dan fakta dalam sebuah artikel?

Data dan fakta merupakan materi yang paling penting dalam sebuah artikel. Sebab tanpa data dan fakta yang kuat, maka artikel akan berubah menjadi opini. Misalnya, ketika terjadi sebuah kecelakaan lalulintas hebat yang menewaskan puluhan siswa SMU, maka seorang penulis artikel yang baik akan segera membuka file tantang kecelakaan lalulintas yang memakan korban cukup banyak, jenis kendaraannya, jumlah korbannya, lokasi dan waktu kejadiannya, penanganannya oleh pihak yang berwajib dll. Dengan data-data tersebut, si penulis artikel bisa membuat analisis sederhana dan menyimpulkan, apakah kecelakaan lalulintas di negeri kita selama sepuluh tahun terakhir ini meningkat atau menurun? Kalau meningkat mengapa? Kalau menurun mengapa? Sebab tekanan utama pada penulisan artikel adalah pada pertanyaan mengapa dan bagaimana.

Apakah penulisan artikel mutlak harus menggunakan metode induktif/deduktif?

Tidak harus. Bahkan sebenarnya tidak pernah ada pedoman baku bagaimana seharusnya sebuah artikel ditulis. Selain metode induktif deduktif, bisa pula digunakan metode thesis – antithesis dan sinthesis. Bisa pula dengan metode pengajuan pertanyaan 5 W 1 H yang akan dibahas lebih rinci pada bab VII dan VIII, khususnya tentang alinea.

Mengapa metode induktif/deduktif menjadi populer?

Karena metode ini paling mudah diterapkan bagi para pemula. Misalnya, ketika terjadi bencana tanah longsor (contoh kasus = hal khusus), semua pihak pasti segera mengkaitkannya dengan penggundulan hutan dan perusakan lingkungan (gejala umum). Metode berpikir induktif ini juga bisa dibalik menjadi deduktif. Pertama kita kemukakan gejala penggundulan hutan dan perusakan alam dengan bergagai data dan faktanya, dari gejala umum ini, kita tarik kesimpulan pada contoh-contoh khusus yang sangat spesifik namun cukup kuat. Misalnya perubahan iklim makro, pemanasan global dll.

Apakah menulis artikel perlu latar belakang, tujuan, permasalahan dst?

Metode penulisan ilmiah dengan latar belakang, tujuan, kerangka pikir, permasalahan, pemecahan permasalahan, kesimpulan dan saran dsb, tetap bisa digunakan dalam menulis artikel. Namun dalam mengemukakan latar belakang misalnya, tetap harus digunakan data dan fakta aktual. Misalnya kalau kita menggunakan metode deduktif, kerusakan hutan dan lingkungan yang kita jadikan sebagai latar belakang, harus disertai dengan fakta dan data yang jelas, lengkap dan akurat. Analisis dan opini yang disampaikan pun, harus berupa data. Misalnya, kita bisa mengatakan bahwa perusakan hutan dan alam akan berakibat pada kerusakan seluruh ekosistem seperti telah terjadi di negara A, B dan C. Hingga kita perlu melakukan penghijauan dan reboisasi seperti telah dilakukan oleh negara D, E dan F yang dulu hutannya pernah rusak tetapi pulih kembali.

Bolehkah dalam menulis artikel kita hanya menggunakan pernyataan umum?

Tidak boleh. Sebab artikel demikian pasti akan ditolak oleh redaktur penerbitan yang bonafid. Misalnya kita menyebut bahwa: “Akhir-akhir ini telah terjadi penggundulan hutan dan perusakan alam secara membabibuta oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab dst.” Pernyataan tersebut sangat umum dan dangkal karena tidak disertai dengan fakta dan data. Beda kalau misalnya kita sebutkan bahwa: “Tahun ini sekian juta hektar hutan primer telah ditebang habis oleh pengusaha HPH di provinsi A, B, C dan D. Dibanding dengan tahun lalu, angka penebangan ini telah naik empat kali lipat dst.

7. Faktor Human Interest dalam Feature

Apakah yang disebut sebagai human interest?

Human interest bisa diartikan sebagai rasa kemanusiaan. Hingga feature yang disebut sebagai tulisan yang menekankan segi human interest dimaksudkan sebagai tulisan yang menekankan segi yang bisa menyentuh rasa kemanusiaan pembacanya.

Mengapa segi human interest paling diutamakan dalam sebuah feature?

Karena berita (news) sudah ditampilkan dengan lugas dan dengan bahasa yang sangat formal. Dalam artikel, fakta dan data juga harus dianalisis dengan serius dan diberi opini yang juga harus serius. Agar pembaca media cetak tidak bosan, maka diperlukan sebuah bentuk tulisan yang menekankan segi human interest. Itulah sebabnya segi ini paling diutamakan dalam feature. Dalam perkembangan lebih lanjut, berita pun bisa dikembangkan menjadi news feature, feature reporting, feature story dll. Bahkan dalam perkembangan lebih lanjut, feature juga melahirkan bentuk tulisan yang lebih baru (generasi baru) yang disebut sebagai How To Do It Article (HTDI). Cabang jurnalisme yang pertamakali memperkenalkan bentuk tulisan ini adalah jurnalisme kedokteran/kesehatan pada abad XVI dan XVII.

Apakah segi human interest tersebut sudah melekat pada meteri tulisan, atau merupakan kreasi penulisnya?

Segi human interest dalam sebuah feature, harus benar-benar faktual (berupa fakta nyata) yang melekat pada materi (bahan) tulisan. Keterampilan penulis hanya dituntut untuk menyeleksi dan mengolah bahan-bahan tersebut, hingga ketika telah menjadi tulisan dan disampaikan ke pembaca, akan bisa menyentuh perasaan. Kalau segi human interest tersebut merupakan hasil imajinasi atau keterampilan berpikir si penulis, maka tulisan tersebut merupakan fiksi, bukan feature.

Apa sajakah yang bisa dikatagorikan sebagai human interest?

Yang bisa dikatagorikan sebagai human interest antara lain: masalah percintaan; perjalanan/perjuangan hidup manusia, hewan, tumbuhan maupun alam (gunung api, bintang); kelahiran/kematian; penderitaan (misalnya derita TKI yang disiksa majikan di LN); ketabahan/ketegaran dalam menghadapi cobaan/godaan dll.

Apakah feature dengan tema penderitaan bisa digunakan untuk menjelek-jelekkan pihak yang mengakibatkan penderitaan tersebut?

Bisa, namun feature tersebut akan menjadi feature propaganda. Nilai sebuah feature propaganda, akan lebih rendah dibanding dengan feature yang benar-benar hanya menceritakan penderitaan seseorang atau sekelompok orang. Sebab yang harus geregetan, marah dsb. adalah pembaca media massa, setelah membaca feature tersebut. Bukan penulisnya.

8. Kekuatan Individu dalam Esai

Apakah kekuatan individu penulis hanya dipentingkan dalam penulisan esai?

Kekuatan karakter individu penulis, diperlukan dalam semua bentuk tulisan, mulai dari news, reportase, artikel dan feature. Namun bentuk-bentuk tulisan tersebut memiliki teknik dan sistematika yang jelas. Karenanya, penulis yang tidak terlalu kuat pun, tetap bisa menghasilkan news, reportase, artikel dan feature yang baik. Dalam esai, kekuatan individu lebih diperlukan karena tidak bakunya teknik dan sistematika.

Apakah yang disebut kekuatan individu dalam penulisan esai?

Yang dimaksud sebagai kekuatan individu, terutama adalah faktor tingkat kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual yang di atas rata-rata. Namun kekhasan dari masing-masing individu akan sangat menentukan kualitas esai yang dihasilkan. Karakter khas yang kuat ini diperoleh bukan karena faktor teknik melainkan karena muncul dari dalam diri si penulis.

Dari manakah penulis esai memperoleh kekuatan karakter individunya?

Kekuatan karekter individu, bukan diperoleh dari pendidikan formal, melainkan dari kekayaan pengalaman hidup, bacaan yang luas dan lingkungan pergaulan yang beragam. Meskipun faktor genetik, juga ikut pula mempengaruhi kekuatan karekter individu seseorang. Namun tanpa kekayaan pengalaman, luasnya bacaan dan variasi pergaulan, karakter dasar serta pendidikan formal belum merupakan jaminan kekuatan individu seseorang.

Apakah skill (keterampilan) juga diperlukan dalam penulisan esai?

Skil tetap diperlukan dalam penulisan esai, namun hal tersebut bukan merupakan faktor utama. Sebab apabila skil yang diutamakan, maka esai yang dihasilkan justru akan merosot kualitasnya. Sebab esai justru diharapkan tidak dihasilkan sebanyak artikel, feature dan lebih-lebih news.

Apakah esai memiliki bobot lebih tinggi dibanding artikel dan feature?

Esai tidak bisa dibandingkan dengan artikel dan feature, sebab masing-masing memiliki fungsi yang berbeda. Artikel lebih berfungsi untuk mengajak pembaca memahami suatu pokok persoalan. Feature digunakan untuk menggugah rasa human interest pembaca. Sementara esai bermanfaat untuk melakukan refleksi dan perenungan. Meskipun fungsi tiga bentuk tulisan ini berbeda, honorarium yang akan diterima oleh penulisnya sama.

Contoh tulisan feature:

Pesawat Tanpa Awak Jatuh di Kepulauan Riau

Sebuah pesawat tanpa awak jatuh di perairan Pulau Pucung, Malang Rapat, Kecamatan Gunung Kijang, Bintan, Kepulauan Riau, Senin, 12 November. Pesawat ini ditemukan oleh seorang nelayan, Mukhri di sebuah lokasi antara perairan Berakit dan Pulau Pucung usai melaut sekitar pukul 06.00 WIB.

Badan pesawat tanpa awak tersebut berwarna merah dengan panjang 2,5 meter dan sayap berwarna kuning lebar 2 meter. Di badan pesawat terdapat tulisan Banshee dengan nomor 5498 dan diekor pesawat terdapat tulisan Meggitt.

Selain itu juga terdapat perasut berwarna orange yang keluar dari badan pesawat, diduga parasut tersebut keluar setelah pesawat terhempas di laut.

Pesawat tersebut kemudian dievakuasi oleh sejumlah Personel Pangkalan TNI AU Tanjungpinang dengan mobil pasukan meskipun tidak semua badan pesawat bisa masuk ke mobil. Rencananya pesawat ini akan dibawa ke Puslitbang TNI AU di Jakarta guna penelitian lebih lanjut.

Pesawat ini “Drone Target,” Bukan Pesawat Intai

Komandan Pangkalan Angkatan Udara Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Letkol Pnb MJ Hanafie mengatakan bahwa pesawat tanpa awak yang jatuh di Bintan ini bukan jenis pesawat pengintai tetapi merupakan pesawat sasaran tembak atau “drone target” untuk latihan tempur.

Ini bukan pesawat tanpa awak yang melakukan pengintaian, tetapi ini adalah `drone target` untuk latihan penembakan simulasi yang bisa dilepaskan dari daratan dan laut,” kata Danlanud MJ Hanafie kepada pers di Lanud Tanjungpinang, Senin malam.

Badan pesawat tanpa awak tersebut berwarna merah

Danlanud mengatakan “drone target” semacam itu bisa bertahan di udara selama 1 jam 15 menit dengan kecepatan 200 knot sebelum jatuh ditembak atau jatuh sendiri tanpa kena tembakan saat latihan. “Kegagalan dalam penembakan bisa mencapai 30 persen,” ujar Danlanud.

Menurut Hanafie, kemungkinan besar alat latih tembak atau “drone target” yang dilontarkan dari darat atau dari kapal di laut tersebut terbawa arus hingga mencapai perairan Bintan setelah jatuh.

Dari negara mana belum bisa diketahui, yang jelas alat ini digunakan oleh 40 negara termasuk Indonesia,” kata Hanafie. Namun untuk membuktikan dari mana asalnya, pesawat itu akan dibawa ke Puslitbang TNI AU di Jakarta.

Jangan Ada Penafsiran yang Macam-macam

Drone target” tersebut diperkirakan sudah beberapa hari terapung dan terbawa arus, sehingga bagian baterai yang berada di dalam badan pesawat serta bagian baling-baling yang berada di bagian belakang sudah terlapisi garam. “Jika jatuhnya tanpa parasut tentu sudah tenggelam,” pungkasnya.

Danlanud memastikan tidak ada pesawat pengintai asing yang memasuki wilayah Indonesia, khususnya di wilayah Kepulauan Riau yang berbatasan dengan sejumlah negara.

Pesawat tanpa awak yang jatuh di bintan

Sekali lagi ini bukan pesawat pengintai atau pesawat mata-mata, namun ini `drone target` yang memang untuk ditembak atau dihancurkan,” ujarnya.

Danlanud berharap tidak ada penafsiran macam-macam terhadap penemuan “drone target” tersebut, karena benda tersebut adalah sasaran latihan tembak dari darat atau laut ke udara.

Contoh Tulisan Artikel Opini yang pernah dimuat di Koran

Kalau anda ingin tahu bagaimana contoh artikel opini yang sudah dimuat di koran, maka berikut beberapa contoh artikel yang sudah dimuat di koran-koran nasional. Perhatian jumlah kata secara total dan gaya penungkapan kalimatnya.

1. Contoh artikel yang dimuat di koran Kompas: Akankah Irak Menjadi Vietnam Kedua?

BERITA tentang helikopter Chinook yang ditembak jatuh oleh rudal, menewaskan 16 personel tentara AS (termasuk dua wanita), merupakan kabar buruk bagi AS. Kemudian, Black Hawk ditembak jatuh dekat Tikrit, pada Jumat, menewaskan enam pasukan AS. Berita itu cukup mengkhawatirkan Washington.

2. Contoh artikel dimuat di koran Jawa Pos: Shirin Ebadi

DALAM pemberian penghargaan Nobel Perdamaian tahun ini kepada pengacara serta aktivis HAM Iran Shirin Ebadi, Komite Nobel Norwegia telah memberikan wewenang kepada wanita umumnya dan perempuan Iran khususnya pada suatu poin yang krusial saat sedang terjadi ketegangan antara kalangan reformis dan konservatif, baik di Iran maupun di dunia Islam secara luas.

3. Contoh artikel dimuat di koran Republika: Bin Ladin, Israel dan Terorisme

Seandainya sebuah survei interim dilakukan tentang kondisi dunia, akankah ia menunjukkan bahwa dunia menjadi lebih aman setelah tragedi 11/9? Jawabannya mungkin dapat ditemukan dalam beberapa baris kata dari Thomas Hardy ini: “Beberapa aspek berada dalam diri kita, dan siapa yang tampak seperti raja dialah Sang Raja”.

4. Contoh artikel dimuat di koran Media Indonesia: Peta Jalan Damai India-Pakistan

PERTEMUAN puncak antara Perdana Menteri India Manmohan Singh dan Presiden Pakistan Pervez Musharraf semakin membuktikan bahwa dalam dunia diplomasi (sebagaimana dalam kriket, olahraga populer di kawasan ini) hasil dari pertemuan tingkat tinggi sering berupa kebalikan dari prediksi sebelumnya.

5. Contoh artikel dimuat di koran Suara Karya: Universalisme Demokrasi

Natan Sharansky, disiden terkenal Yahudi Soviet yang dibebaskan setelah hukuman penjara sembilan tahun, terkadang dianggap sebagai inspirasi untuk kebijakan perubahan rezim neo-konservatif. Khusus mengenai pandangannya pada rasionalisasi neo-imperialisme terbaru dalam mencegah terjadinya prinsip kedaulatan nasional dengan atau tanpa intervensi bersenjata, dan tentang keefektivan aktual dalam menghasilkan perdamaian yang stabil.

6. Contoh artikel dimuat di koran Pikiran Rakyat Bandung: Clash of Civilization, Mitos atau Realitas?

SAAT ini sedang terjadi pergulatan spektrum dan visi di horison intelektual dan pola pikir. Di permukaan, ia tampak dalam wujud pergulatan antara barat dan blok Islam untuk merebut dominasi dunia. Dalam realitas, pemeran antagonis dalam konflik yang tampak antara Barat dan Islam berada pada sisi yang sama.

7. Contoh artikel dimuat di koran Duta Masyarakat: Islam dan Demokrasi

Banyak kalangan non-muslim (individual dan institusi) yang menilai bahwa tidak terdapat

konflik antara Islam dan demokrasi dan mereka ingin melihat dunia Islam dapat membawa perubahan dan transformasi menuju demokrasi.

8. Contoh artikel dimuat di koran Suara Pembaruan: Poluneg Kerry Tak Beda dengan Bush

Saya akan siap siaga untuk mengirim pasukan dalam waktu singkat.” Itulah John F Kerry, kandidat presiden Amerika dari Partai Demokrat. Apa yang terjadi? Bukankah Demokrat semestinya mengakhiri kebijakan intervensionis pemerintahan Bush?

21. [http://media.kompasiana.com/mainstream-media/2012/10/31/mengenal-macam-macam-tulisan-dalam-rubrik-majalah-bagi-504847.html]

Mainstream Media

Mengenal Macam-macam Tulisan dalam Rubrik Majalah (Bag.I)

OPINI | 31 October 2012 | 09:46

Bismillah ar-Rahman ar-Rahiim

Sekapur Sirih:

Dengan keadaan yang sempit dan tertekan, terkadang seseorang baru benar-benar mampu mengeluarkan kekuatan dan kemampuannya yang sebenarnya. Terlahir sebuah daya kreatif yang belum tentu dicapai dalam kondisi luas dan leluasa. Begitu juga dengan catatan di bawah ini, lahir dari keterbatasan. Tidak ada buku jurnalistik yang pastinya, sangat memudahkan penyusunan catatan ini. Setidaknya masih ada internet sebagai “pintu kemana saja”. Semoga membantu dan mencerahkan. Saran dan kritik sungguh sangat ditunggu dan diterima. ^^

Secara global, hampir 95% obyek rubrik yang dijelaskan di sini diambil dari AL-FIKRAH. Karena terlalu luas, maka “Kue Pertama” ini dibagi menjadi 2 catatan sederhana, sebagai berikut.
Catatan pertama mencakup:

1). Salam Redaksi

2). Editorial

3). Sajian Utama/Tajuk Utama

4). Surat Pembaca

5). Cantrik

6). Reporter

7). Telaah Hadist/Quran

8). Opini & Kolom

9). Investigasi

Catatan kedua mencakup:

10). Refleksi

11). Suara Mahasiswa

12). Galeri Foto

13). An-Nisa

14). Galeri Insani & Biografi

15). Resensi

16). Bilik Ma’had

17). Catatan Akhir

18). Bingkai Kata

19). Extra Insights (Wawasan Tambahan)

a. Artikel

b. Feature

c. Esai

d. Tulisan Ilmiah

e. Tulisan Ilmiah Populer

f. Prosa

g. Puisi

Selamat membaca!!

—–ooOoo—–

#1. Salam Redaksi

Adalah macam tulisan sederhana sebagai sapaan redaksi pada pembaca di halaman awal majalah yang berisi uraian singkat mengenai tema dan judul dalam berbagai rubrik yang tengah dikupas dalam suatu majalah atau media cetak lainnya.

Berbeda dengan editorial, salam redaksi ditulis dengan bahasa ilmiah, rapi, singkat dan bertujuan memberitahukan tentang semua hal baru yang tengah dibahas. Adapun editorial, mengumpulkan pembahasan dari beberapa judul sajian utama dengan ringkas dalam bentuk tulisan dengan beberapa analisis alasan pengangkatan tema dan judul- judul tersebut.

—–ooOoo—–

#2. Editorial

@ Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Editorial adalah:

(1). Mengenai atau berhubungan dengan  editor atau pengeditan (pekerjaan) .

(2). Artikel dalam surat kabar atau majalah yang mengungkapkan pendirian editor atau pimpinan surat kabar (majalah) tsb mengenai beberapa pokok masalah; Tajuk rencana.

@ Menurut kamus Wordnet 30, Editorial adalah

(1). Sebuah artikel yang menyatakan sejumlah pendapat atau memberikan beberapa sudut pandang; sebuah kolom editorial.

(2). Mengenai beberapa karakter/ ciri khas seorang editor; tugas- tugas redaksi.

@ Menurut kamus Webster 1913, Editorial adalah

(1). berkenaan dengan seorang editor, baik ditulis maupun didukung oleh seorang editor. Sebagai tugas seorang redaksi ataupun ucapannya.

(2). Sebuah artikel utama sebagai pengantar dalam suatu koran atau majalah; artikel redaksi; sebuah artikel yang dimuat sebagai ekspresi atau pandangan seorang editor.

Pengantar mengenai Editorial.

Editorial sebenarnya bukanlah kolom yang paling dicari pembaca. Ketika berhadapan dengan media cetak, misalnya saja surat kabar, orang cenderung akan terfokus pada informasi utama. Jarang sekali, kalau boleh dikatakan demikian, ditemukan orang yang langsung mencari dan membaca kolom editorial.

Fakta tersebut pulalah yang mungkin menyebabkan kebanyakan media cetak tidak menaruh editorial pada halaman muka, tapi bukan berarti tidak ada sama sekali. Dalam format surat kabar skala nasional, “Media Indonesia” tercatat sebagai salah satu dari segelintir surat kabar yang memilih meletakkan kolom editorialnya pada halaman depan. Sementara dalam format majalah, “GetLife” boleh disebut sebagai yang cukup mengedepankan kolom tersebut; Anda akan langsung menatapnya begitu membuka kovernya.

Kolom editorial memang tidak selalu hadir dengan nama editorial. Masing-masing media cenderung memberi nama yang berbeda sebagai ciri khas medianya. Ada yang menyebutnya sebagai “Dari Kami” (Intisari), “Readmefirst” (GetLife), “Prologue” (PC Media), “Mata” (Matabaca), “Dari Meja Redaksi” (Buletin Pillar). Sementara “Kompas” menyebutnya “Tajuk Rencana”, “Seputar Indonesia” “Tajuk”. Adapun “Media Indonesia” dan “Berita GKMI” termasuk yang masih memakai nama “editorial” pada kolom tersebut.

Apa Itu Editorial?

Sederhananya, editorial itu merupakan kata pengantar dari redaksi. Yang menulis tidak harus seorang editor, meskipun namanya “editorial” (lihat, misalnya, pada St. S. Tartono 2005). Meski bisa disebut sebagai pengantar, editorial memang memiliki karakter yang unik sehingga, sebagai pengantar, posisinya tidak selalu berada di halaman utama. Sebab editorial bukan daftar isi yang menceritakan secara gamblang sajian edisi yang diantarkannya.

Itulah sebabnya, KBBI (2003:284) memuat nama ini untuk menyebut artikel dalam surat kabar atau majalah (pada praktiknya bisa berupa apa saja) yang mengungkapkan pendirian editor atau pimpinan surat kabar (majalah) tersebut mengenai beberapa pokok masalah. Sementara tentang tajuk rencana hanya disebut sebagai karangan pokok dalam surat kabar (KBBI 2003:1123).

Pandangan editorial sebagai salah satu tulisan yang mengekspresikan opini tercermin dalam pendapat Meyer Sebranek dan Dave Kemper. Opini tersebut menjadi suatu reaksi terhadap berita(-berita) terkini, kejadian, atau isu-isu yang merisaukan.

Beberapa Jenis Editorial.

Berdasarkan isinya, editorial bisa dibedakan atas empat jenis.

1). Editorial yang menjelaskan atau menginterpretasikan sesuatu. Model ini sering digunakan untuk menjelaskan cara media tersebut menutupi subyek/topik yang sensitif atau kontroversional. Terkadang model ini juga dipakai untuk menjelaskan situas-situasi baru yang berlangsung di seputar media tersebut. Misalnya, editorial pada surat kabar sekolah akan menjelaskan peraturan-peraturan baru.

2). Editorial yang mengkritik. Editorial ini menghadirkan kritik terhadap tindakan, keputusan, maupun situasi yang sifatnya membangun sembari menyediakan solusi bagi masalah yang diidentifikasikan. Tujuan praktisnya ialah mendorong pembaca untuk melihat masalah, bukan solusinya.

3). Editorial yang persuasif. Berbeda dengan tipe sebelumnya, editorial model ini bertujuan untuk menyoroti solusi, bukan masalah. Umumnya, pembaca (atau institusi tertentu, biasanya pemerintah) akan didorong untuk mengambil tindakan spesifik yang nyata terhadap suatu masalah. Pernyataan politik sering kali menjadi contoh editorial persuasif yang baik.

4). Editorial yang memuji. Ini tipe editorial yang paling jarang ditemui ketimbang dua model sebelumnya. Jenis editorial ini biasanya akan memuji orang(-orang) atau organisasi(-organisasi) tertentu karena telah menghasilkan sesuatu yang sangat baik.

Apa yang dimiliki Editorial.

Sebenarnya, hal-hal apa saja yang ada pada sebuah editorial? Samakah karakternya seperti jenis tulisan lainnya?

Setidaknya ada tujuh hal yang seharusnya terdapat dalam sebuah editorial.

(1). Pengantar, isi tulisan, dan simpulan seperti tulisan-tulisan lainnya.

(2). Penjelasan yang objektif mengenai isu-isu tertentu, terutama yang kompleks.

(3). Disampaikan dalam sudut pandang berita yang akurat.

(4). Opini dari sudut pandang berlawanan yang secara langsung menyanggah isu yang dialamatkan penulis.

(5). Opini penulis disampaikan secara profesional. Editorial yg baik mengangkat isu/berita, bukan personalitas dan tidak menyebutkan nama panggilan/julukan atau taktik persuasi yang licik lainnya.

(6). Solusi alternatif kepada masalah atau isu yang sedang diangkat. Siapa saja bisa mengeluhkan suatu masalah, tapi editorial yang baik harus mengambil pendekatan yang proaktif untuk menjadikan suasana lebih baik dengan menggunakan kritik yang membangun, sekaligus memberikan solusi.

(7). Simpulan yang padat dan ringkas, yang merangkum opini penulis.

Prinsip-Prinsip Editorial.

Berikut ini beberapa prinsip umum yang berlaku dalam menulis editorial.

(1). Editorial adalah sikap sebuah lembaga (penerbit) bukan sikap pribadi, pahami secara benar karakter, visi dan misi media yang bersangkutan.

(2).  Editorial harus mencerminkan nilai-nilai yang dimiliki masyarakat dan menonjolkannya, hindari pemaparan bersifat menggurui, sok tahu, dan menganggap pembaca tidak memahami isu yang bergulir.

(3). Topik, arah, dan permasalahan yang akan diangkat harus dirembukkan dengan tim redaktur.

(4). Jangan menjadikan editorial hanya sekadar penghias atau pelengkap halaman; sajikan pendapat/pemaparan tentang berita yang sedang hangat.

(5). Gunakan pemakaian kalimat yang ringkas, padat, jelas, lugas, dan langsung ke pokok persoalan; jangan bertele-tele dan berputar-putar.

(6). Pada hakikatnya, editorial itu merupakan sebuah analisa singkat, diperlukan penggarapan yang serius berupa argumentasi yang solid dan valid dengan memperkaya melalui refrensi yang ada melalui kepustakaan yang lengkap dan representatif.

(7). Halaman yang tersedia sangat terbatas, oleh karena itu hindari penulisan latar belakang permasalahan secara berlebihan.

(8). Ukur dan kenalilah kemampuan serta keahlian Anda mengenai suatu bidang tertentu (menguasai permasalahan secara pasti).

(9). Pemaparan editorial harus berpijak pada kebenaran.

Penutup mengenai Editorial.

Di negara maju seperti Amerika Serikat, keberadaan editorial memang mulai dipertanyakan. Ada anggapan bahwa kolom ini tidak perlu ada sebab daya nalar masyarakat Amerika dianggap sudah cukup tinggi. Mereka dapat memberi kesimpulan secara mandiri terhadap apa yang dibaca. Namun, kolom ini tetap dipertahankan karena dianggap sebagai jantung dan roh media.

Editorial memang bukan kolom yang paling dicari. Meski demikian, posisi editorial tetaplah penting. Bukan semata-mata untuk memenuh- menuhi isi sebuah publikasi. Bukan pula karena publikasi lain (surat kabar, majalah, atau tabloid) menyajikannya (sekadar ikut-ikutan; karena memang sudah seharusnya ada). Tetapi sebuah editorial menghadirkan aspek edukatif (sekaligus sedikit provokatif dalam arti positif) kepada pembacanya (lihat lagi butir 2 di atas).

—–ooOoo—–

#3. Sajian/ Tajuk Utama

Adalah macam tulisan dengan penulisan terpadu, berasaskan EYD serta tata bahasa yang baik dan padat, yang menjadi tulisan utama dari suatu tema dan pokok pembahasan majalah. Sajian utama atau juga bisa dinamakan Tajuk, layaknya menu terlezat yang menjadi kebanggaan dan ciri khas suatu rumah makan. Sehingga seakan kurang lengkap rasanya, bila kita mengunjungi rumah makan tersebut, tanpa mencicipi menu special yang menjadi andalannya.

Tajuk Rencana (biasa disingkat “tajuk” saja) dikenal sebagai  “induk karangan” sebuah media massa. Disebut juga “Opini Redaksi”, yakni penilaian redaksi sebuah media tentang suatu peristiwa atau masalah. Merupakan “jatidiri” atau identitas sebuah media massa.  Melalui  tajuklah redaksi media tersebut menunjukkan sikap atau visinya tentang sebuah masalah aktual yang terjadi di masyarakat.

Tajuk rencana yang berupa artikel pendek dan mirip dengan tulisan kolom ini, biasanya ditulis oleh pemimpin redaksi atau redaktur senior yang mampu menyuarakan pendapat korannya mengenai suatu masalah aktual. Sikap, opini, atau pemikiran yang disuarakan lewat tajuk adalah visi dan penilaian orang, kelompok, atau organisasi yang mengelola atau berada di belakang media tersebut.

—–ooOoo—–

#4. Surat Pembaca

Rubrik khusus yang menjadi media penyambung ukhuwah dan sarana komunikasi antara redaksi dan pembaca dari berbagai media seperti email, korespondensi dengan redaksi, sms dll. Di sini, pertanyaan, harapan dan kejanggalan pembaca yang dijelaskan oleh redaksi.

—–ooOoo—–

#5. Cantrik

Pengantar: Cantrik adalah istilah dalam bahasa Jawa yang berarti orang yang berguru kepada orang pandai, sakti; murid seorang pendeta atau pertapa; istilah Cantrik kemudian berkembang arti menjadi pengikut.

Dalam kehidupan sehari-hari istilah Cantrik lebih digunakan atau merujuk pada orang yang selalu mengikuti seorang guru kemanapun pergi, tentunya dengan satu tujuan utama dan yang dijunjungnya – agar dapat belajar keahlian tertentu dari orang yang diikuti.

Meskipun sudah lampau, namun sebagian orang masih melestarikan budaya Nyantrik (menjadi Cantrik). Kendati tidak sekental dulu, kebiasaan Nyantrik masih bisa dijumpai. Misalnya dalam dunia para pelestari budaya pewayangan, seseorang yang hendak memperoleh kepandaian dalam bidang pewayangan, menjadi dalang atau penabuh gamelan, ia akan mengikuti orang lain yang sudah ahli. Orang seperti itu sering disebut Dalang Cantrik atau Dalang Magang. Pola ajar seperti ini sering diterapkan masyarakat Jawa untuk menularkan ilmunya melalui pewarisan langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Pada masa “invasi” Islam ke Indonesia, tutur tinular (mengajar dan menularkan ilmu) yang tergambar dalam hubungan Guru dan Cantrik masih terus dilestarikan. Jikalau ada perubahan, hanya terletak pada istilah saja. Istilah guru dan Cantrik kemudian berubah menjadi Guru dan Santri.

Nyantrik adalah keinginan luhur yang seharusnya terus lestari. Mencari ilmu, rela mengabdi demi ilmu dan berbakti sepenuhnya pada guru – belajar dalam keseharian sang guru, adalah bentuk ideal pengajaran, yang tidak hanya berorientasi pada uraian teori, tapi lebih melihat pada pola hidup, dan bagaimana sang guru menghidupi ilmunya.

Cantrik sejati adalah orang yang ngawula (menghamba, atau memosisikan diri sebagai hamba) pada sang guru. Tidak sekadar mencari ilmu, tapi rela merendahkan diri sebagai salah satu aktualisasi ilmu. Tidak hanya belajar teori, tapi juga aktualisasi dalam kehidupan pribadi. Tidak sekadar beraksi tapi juga patuh pada sistem yang disepakati.

Namun sayang, dewasa ini Cantrik sejati seolah sudah tidak lagi dihidupi. Bahkan ada kecenderungan terbalik. Cantrik memosisikan dirinya sebagai guru, dan guru dianggap orang yang ketinggalan jaman, sehingga dianggap lebih “bodoh” dari murid.

Ironisnya, Cantrik yang seharusnya rela merendahkan diri pada aturan yang disepakati, justru abai terhadap sistem, bahkan hendak membokar sistem dan diganti sitem baru yang menurutnya lebih afdol, kontekstual dan tidak ketinggalan jaman – tanpa terlebih dahulu ingin tahu keunggulan sistem yang dianggap “basi”. Belum lagi pola Cantrik yang tidak tulus mengabdi, yang jadwal Nyantriknya selalu pas dengan jadwal Gurunya mengajar, padahal jika guru tidak ada, sudah dapat dipastikan akan absent Nyantrik menjalankan amanah gurunya mendampingi Cantrik-cantrik lain.

Dari pengantar di atas, secara ringkas, Cantrik dalam majalah AL-FIKRAH adalah sebuah rubrik yang membahas suatu permasalahan berkaitan dengan tema yang dikupas dalam bentuk interview (wawancara) dengan narasumber yang dirasa berkapabilitas dan ahli dalam bidang permasalahan tersebut. Selain untuk mengorek lebih dalam tanggapan beliau mengenai permasalahan yang muncul dipermukaan, juga untuk menemukan argumentasi yang kuat dan solusi yang tepat untuk menyelesaikan dan menghadapi masalah tersebut.

—–ooOoo—–

#6. Reportase

Rubrik yang akrab di telinga kita dengan nama Berita ini memuat kabar/ laporan agenda dan aktifitas seluruh pelajar.santri Ponpes. Mambaus Sholihin dalam satu batas waktu dari awal proses penyusunan majalah hingga pengumpulan tulisan dan pengeditan.

Pengantar:

Berita (news) adalah laporan peristiwa berupa paparan fakta dan data tentang peristiwa tersebut. Unsur fakta yang dilaporkan mencakup 5W+1H: What (Apa yang terjadi), Who (Siapa pelaku atau orang yang terlibat dalam kejadian itu), Why (Kenapa hal itu terjadi), When (Kapan kejadiannya), Where (Di mana terjadinya), dan How (Bagaimana proses kejadiannya).

Ada beberapa jenis berita yang dikenal di dunia jurnalistik, antara lain berita langsung (straight news), berita mendalam (depth news), berita opini (opinion news), dan berita foto. Struktur tulisannya terdiri dari judul (head), baris tanggal (dateline), teras berita (lead), dan isi berita (body).

Prinsip penulisannya antara lain mengedepankan fakta terpenting (mode piramida terbalik, inverted pyramid), tidak mencampurkan fakta dan opini, dan berimbang (balance, covering both side). Isi berita merupakan fakta peristiwa yang benilai berita (news value), yakni aktual, faktual, penting, dan menarik.

—–ooOoo—–

#7. Telaah Hadist/ Quran

Rubrik khusus yang secara dalam menelaah kandungan ayat/ hadist yang musykil, unik dan menarik dibahas, yang berkaitan dengan tema Majalah saat itu. Rubrik ini adalah representatif kepiawaian santri/mahasiswa dalam sisi agama, utamanya dalam kajian kritis Quran dan hadist yang akhir- akhir ini hangat dibahas dan banyak menyebar dalam komunitas masyarakat Indonesia.

—–ooOoo—–

#8. Opini dan Kolom

Adalah pendapat atau pandangan (views) yang sifatnya subjektif mengenai suatu masalah atau peristiwa yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Jenis-jenis naskah opini antara lain artikel opini (article), kolom (column), tinjauan (essay), tajuk rencana (editorial atau opini redaksi), surat pembaca (letter to the editor), karikatur, dan pojok.

Isi tulisan berupa pendapat pribadi penulis berdasarkan fakta ataupun ungkapan pemikiran semata. Struktur umum tulisan opini/artikel: judul (head), penulis (by line), pembuka tulisan (opening), pengait (bridge), isi tulisan (body), dan penutup (closing).

Lebih lanjut

Opini adalah tulisan yang berupa pendapat seseorang atau lembaga. Segala sesuatu yang bukan berita disebut opini. Opini dapat dikategorikan dalam dua jenis.

@ Pertama, opini yang mewakili lembaga disebut tajuk, pojok, opini atau rubrik.

@ Kedua, opini yang mewakili perorangan disebut kolom. Tidak ada referensi yang pasti tentang asal usul mengapa sebuah rubrikasi tulisan opini di sebuah media massa cetak itu disebut sebagai kolom. Pada dasarnya, kolom adalah salah satu jenis tulisan artikel ilmiah populer yang muncul di media massa cetak.

Bentuk tulisan kolom, sebagaimana opini dan editorial, sesungguhnya sudah bukan lagi ragam berita, tetapi tulisan jenis ini adalah jenis artikel populer gagasan atau pendapat murni dari penulis. Hanya saja, karena jenis artikel ini muncul sebagai tulisan di media massa, maka seringkali masih digolongkan sebagai ragam penulisan jurnalistik, meskipun sebenarnya secara hakiki jenis tulisan itu sudah bukan lagi karya jurnalistik. Oleh karenanya, bentuk ini juga sering disebut sebagai ragam penulisan ilmiah populer.

Antara Opini dan Kolom.

Opini lebih mendekati bentuk argumentasi, yaitu pemaparan yang intinya menggiring opini orang atau meyakinkan orang lain agar sepakat dengan ide atau pandangannya. Tentu saja, penulisan jenis ini juga harus disertai dengan referensi yang ada dan bersifat argumentatif. Pada opini orang dihadapkan pada pertanyaan “mengapa”.

Kolom sesungguhnya masih merupakan ragam opini. Hanya saja gaya penulisannya cenderung sangat santai, dengan menyertakan idiom-idiom tertentu. Kolom barangkali boleh disebut sebagai artikel subjektif. Tulisan ini biasanya bersifat renungan, reflektif dengan gaya humor dan satir.

Gaya individual sang penulis sangat lekat dalam jenis tulisan seperti ini. Kolom adalah tulisan sederhana tentang berbagai hal yang ada di sekitar kita. Tulisan ini biasanya menggunakan bahasa yang mudah dipahami, merakyat, sinis, kadang juga penuh canda. Berbeda dengan opini, misalnya. Walaupun harus tetap dengan bahasa populer tetapi opini tak lazim kalau dibuat dengan cara bercanda.

Apa Saja yang Bisa Ditulis?

Dalam tulisan kolom, apa saja bisa menjadi bahan tulisan, bahkan hal-hal yang sering kali mengabaikan aktualitas. Banyaknya anak-anak jalanan di sekitar Bangjo lalu lintas, di tangan Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) akan menjadi kolom yang sangat analitis dan mengesankan. Dengan berbagai pandangan yang merakyat khas Kyai Kanjeng tentunya. Lalu lalang Bus Kota, banyaknya pedagang dadakan, menjadi inspirasi tersendiri bagi Gus Dur untuk menuliskannya dalam kolom. Putu Setia, seorang praktisi jurnalistik mengatakan bahwa baik opini maupun kolom menyoroti sebuah berita aktual dengan memberi pendapat-pendapat, baik saran, solusi, kritik dan sebagainya. Apa pun bisa dipermak menjadi sajian kolom yang memikat.

Victor Silaen, seorang penulis media massa, mendapatkan ide-ide menulis dengan menulis secara rutin. Dia biasanya mengonsumsi berita dari radio, koran dan televisi setiap hari. Majalah, tabloid, dan media-media maya merupakan menu tambahannya. Kita harus merasakan ada “sesuatu” yang penting untuk kita angkat dalam sebuah tulisan setiap kali kita mendengar, melihat, menonton sesuatu, atau juga mengalami sesuatu. Di dalam “sesuatu” itulah terkandung ide atau ilham, yang harus kita ingat dan pikirkan terus hingga akhirnya dituang menjadi sebuah tulisan.

Pemula Menulis Kolom?

Bolehkah kemudian sebagai pemula menulis kolom? Tidak ada yang melarang! Dengan ketekunan, kesabaran untuk menyampaikan naskah-naskah tulisan dengan gaya tulisan kolom seorang pemula pun bisa jadi akan menjadi perhatian media massa. Menulis adalah keterampilan. Seperti keterampilan bersepeda, menyetir mobil, atau berenang, tanpa bersentuhan langsung dengan tindakan menulis, kita tidak akan bisa menulis.

Sebagai keterampilan, menulis bisa dipelajari. Setiap orang mampu menjadi penulis. Sebab, kemampuan menulis tidak tergantung bakat — walaupun bakat diperlukan untuk “keindahan” tulisan, membuat sebuah tulisan menjadi “berseni”. Orang yang tak berbakat pun bisa jadi penulis jika dia sering berlatih menulis. Bakat adalah urusan orang-orang terpilih, segelintir orang yang mendapat berkah. Adapun kemampuan menulis diperuntukkan bagi siapa saja, tak kenal kasta, status, suku dan agama.

Penulis yang baik adalah orang yang mampu menulis dengan baik kapan saja, di mana saja, dan dalam kondisi apa pun. Penulis yang baik tidak hanya mengandalkan inspirasi. Juga tidak hanya mengandalkan suasana hati. Dia menggunakan seluruh pikiran, perasaan, dan tindakan konkretnya saat menulis.

Penulis yang baik juga mampu merangsang dirinya untuk menciptakan suasana hati yang mendukungnya menulis. Dia mampu menyemangati dirinya agar dapat menulis di mana saja dan kapan saja. Dia mengolah pikiran, perasaan, dan tindakan serta dicurahkan dalam bentuk tulisan agar dapat disebarkan kepada orang lain. Penulis yang baik mau berbagi cerita dengan banyak orang lewat tulisannya. Dia adalah seorang dermawan yang mau berbagi pengetahuan dengan siapa saja.

—–ooOoo—–

#9. Investigasi

Ada sejumlah pengertian investigasi yang dikemukakan oleh para tokoh.

Wartawan senior Goenawan Mohammad, misalnya, memberikan pengertian jurnalisme investigasi sebagai jurnalisme yang membongkar kejahatan. Artinya ada sebuah kejahatan yang berusaha ditutup-tutupi oleh sekelompok orang, dan wartawan melakukan investigasi untuk membongkar kejahatan tersebut, kegiatannya, otak di balik kejahatan, pola dan modusnya.

Steve Weinberg, penulis buku The Reporter’s Handbook, An Investigator’s Guide to Documents and Techniques, memberikan definisi reportase investigatif sebagai, “Reportase terutama melalui hasil kerja dan inisiatif sendiri yang artinya penting yang oleh beberapa pribadi atau organisasi ingin tetap dirahasiakan.

Tiga unsur dasarnya adalah bahwa investigasi itu merupakan kerja wartawan, bukan laporan investigasi yang dilakukan oleh orang lain; bahwa masalah yang diberitakan melibatkan sesuatu yang sangat penting bagi pembaca atau pemirsa; dan bahwa pihak-pihak lain berusaha menutup-nutupi masalah ini dari publik.”

Anton Harber, dalam Power Reporting Workshop 2005, memberikan pandangan menarik tentang jurnalisme investigasi, yakni, “Mempertanyakan klaim dari para penguasa, mempertanyakan, mempertanyakan, dan mempertanyakan, apa yang selama ini para penguasan tidak menginginkan suatu hal diketahui oleh publik.

Pendeknya, investigasi adalah menyodorkan kepada publik prinsip-prinsip transparansi dan akuntabilitas yang tanpa hal itu demokrasi tak akan bisa bekerja dengan baik.

Kegiatan investigasi juga berlangsung di luar dunia jurnalis. Para penegak hukum, misalnya jaksa dan polisi, banyak melakukan kegiatan investigasi ketika menyelidiki dan menyidik suatu perkara. Tak hanya itu, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) pun bersinggungan dengan kegiatan investigasi dalam upaya penegakan hukum persaingan usaha.

Sementara, dalam ranah audit keuangan, dikenal istilah audit investigasi, yang menurut Dasriel Adnan Noeha, lebih dikenal dengan istilah fraud audit alias pemeriksaan kecurangan.

Dari akar katanya, mengutip kamus Oxford Advanced Learner’s Dictionary, kata investigate berarti:

1) To discover and examine all the facts about something;

2) To try to discover the facts about somebody’s character, background, political view, etc;

3) To try to discover facts, information, ets, by study or research;

4) To make a brief check.

Dari sejumlah pandangan di atas, kita bisa melihat benang merah/unsur-unsur dari istilah investigasi itu, yakni:

Ada dugaan kejahatan, kecurangan, kebusukan, dan sejenisnya. Kecurangan, kejahatan, kebusukan, dan sejenisnya itu, ingin ditutup-tutupi oleh orang atau sekelompok orang. Kecurangan, kejahatan, kebusukan, dan sejenisnya itu bermakna dan berdampak penting/luas, baik dalam upaya penegakan hukum, menegakan prinsip transparansi, akuntanbilitas, maupun dalam kaitannya dengan kepentingan publik lainnya. Ada upaya, atau lebih spesifik lagi ada inisiatif, untuk mencari, menelusuri, menemukan, memeriksa fakta-fakta, informasi, dan bukti, tentang kecurangan, kejahatan, kebusukan, dan sejenisnya itu, baik yang berkaitan dengan peristiwa itu sendiri, otak/pelaku, latar belakang, dan fakta-fakta lain yang selama ini tersembunyi.

Karakter Investigasi.

Karakter paling pokok dari sebuah investigasi adalah menggali ke bawah permukaan atas sebuah peristiwa. Bondan Winarno dalam skandal emas Busang, misalnya, menggali lebih dalam fakta tentang kematian Geolog senior Bre-X Michael de Guzman, yang diberitakan bunuh diri di tengah hutan Busang. Bondan bertahun-tahun menelusuri dokumen, mewawancarai banyak orang, dan akhirnya ditemukan bahwa mayat yang ditemukan di tengah hutan itu tidak memiliki gigi palsu di rahang atas seperti dimiliki Guzman, keterangan yang Bondan dapat dari salah seorang istri Guzman. Bondan juga mempelajari dokumen tentang pertambangan mineral dan cara meracuni mata bor dengan emas luar sedemikian rupa, dan ia berkesimpulan ada emas yang luar biasa banyak di bawah hutan Busang.

Karakter lainnya dari investigasi adalah tidak begitu saja mempercayai suatu klaim, seruan, jargon, dan terus menerus mempertanyakan klaim tersebut, melengkapi dengan fakta dan informasi yang kuat, sehingga suatu persoalan bisa dipahami dalam kedudukannya yang paling terang. Saya baru saja membaca laporan investigasi wartawan lepas Tom Knudson berjudul Promises and Poverty, Starbucks Calls Its Coffee Worker-Friendly- But in Ethiopia A Day’s Pay Is a Dollar .

Tak ada perusahaan kopi di dunia ini yang mengklaim telah berbuat lebih bagi perbaikan lingkungan dan petani di negara dunia ketiga, selain Starbuck. Knudson menggarap liputan selama empat bulan, tiga minggu berkeliling Ethiopia, dan menemukan bahwa klaim itu omong kosong. Pembelian biji kopi oleh Starbuck di Ethiopia secara besar-besaran ternyata telah menyebabkan 10 ribu hektare hutan rusak per tahunnya di negara Afrika itu.

Kehadiran Starbuck ternyata juga tak mampu mengangkat perekonomian Ethiopia yang tetap negara termiskin di dunia dengan pendapatan per kapita penduduknya sebesar US$ 180/tahun, pendapatan per hari petani kopi di sana hanya 66 sen. Lantas apa makna dari slogan Starbuck, Coffee and Farmer Equity Practices (CAFE)?

Karakter selanjutnya yaitu adanya inisiatif. Melakukan investigasi tidak hanya menuliskan dokumen yang diberikan oleh sumber, meneruskan dan mengulang apa yang sudah ditulis orang, dan sebagainya. Harus ada inisiatif, perspektif, dan kerangka berpikir, yang membuat suatu peristiwa/ fakta bisa dipahami sebenar-benarnya.

Praktisasi Investigasi.

Secara praktis, kegiatan investigasi memiliki pola/alur kerja yang mirip dengan prinsip-prinsip manajemen: ada perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, evaluasi. Hasil akhir bisa dituangkan dalam bermacam bentuk, misalnya, laporan kasus, laporan jurnalistik di media massa, buku, dan sebagainya.

Kendati demikian, sikap dan sifat seorang investigator akan membedakan satu dengan lainnya. Setidaknya investigator harus memiliki sikap skeptis (kurang percaya/ ragu- ragu), jeli, cermat, sabar, berwawasan, cerdik, dan santun.

Berikut Tehnik Investigasi menurut Andreas Suharsono;

Investegasi dibagi menjadi  2 bagian;

@ Bagian Pertama

Petunjuk awal (First Lead) Bisa berasal dari mana saja, misalnya berita di media massa, informasi dari seseorang, pengamatan, dan sebagainya.

Investigasi pendahuluan (Initial Investigation) Mulailah mencari informasi tentang objek investigasi, bisa lewat internet, wawancara dengan sumber, membaca laporan dan dokumen, dan sebagainya. Tujuannya, supaya anda memiliki gambaran dan pengetahuan yang kuat tentang konteks peristiwa dari objek investigasi.

Buatlah hipotesis (Forming An Investigative Hypotesis) Hipotesis ini sangat penting dan membedakan laporan investigasi dengan laporan-laporan lainnya. Tentu, hipotesis dibuat setelah anda melakukan investigasi pendahuluan. Misalnya, hipotesis bahwa dana yang dialirkan Bank Indonesia kepada anggota DPR itu adalah untuk keperluan pembelian pasal dalam proses legislasi aturan perundang-undangan yang terkait Bank Indonesia. Hipotesis inilah yang nantinya akan anda buktikan kebenarannya.

Wawancara mendalam dengan pakar dan sumber-sumber ahli (Interviewing Expert).

Pelacakan dokumen (Finding A Paper Trail) Kumpulkan dan lacak sebanyak-banyaknya dokumen yang terkait dengan objek investigasi. Bisa berupa surat, laporan audit, memo pejabat, transkrip pembicaraan, surat elektronik (email), surat keputusan resmi lembaga, buku harian, daftar hadir, notulensi, dan sebagainya.

@Bagian kedua:

Pengamatan langsung (First Hand Observation) Ada yang kerap luput dari pengamatan langsung ini yakni pertimbangan tentang faktor lokasi dan geografis. Padahal kita tahu bahwa banyak sekali pertimbangan politik, militer, bisnis, didasarkan pada faktor geografis. Artinya perhatikan konteks geografis dari objek investigasi.

Pengorganisasian data (Organizing Files)

Data yang terkumpul, baik dari hasil observasi, dokumen, wawancara, atau dari sumber lain, diorganisasikan dengan baik. Lebih bagus lagi dibuat bagan/matriks supaya lebih mudah memetakan kecenderungan-kecenderungan dari objek investigasi, selain untuk memisahkan antara mana yang betul-betul fakta, mana yang bukan. Wawancara lebih lanjut jika ada data yang kurang maupun untuk memperoleh pendalaman.

Analisis data (Analyzing Data) Analisislah data anda, bentuklah sebuah bangunan peristiwa yang utuh. Jika belum utuh, lengkapilah lagi data anda.

Penulisan (Writing) Pada tahap ini anda tidak bisa lepas dari kaidah-kaidah penulisan yang baku, tersusun dan runut, serta memperhatikan sudut pandang penulisan laporan.

Pengecekan fakta (Fact Check) Cek lagi apa yang sudah anda tulis. Misalkan, ejaan, nama dan pangkat orang, nama lokasi, nomor, dan sebagainya.

Pelajari kemungkinan ada gugatan atas laporan anda (Libel Check). Berarti anda harus memperhatikan betul-betul akurasi fakta, supaya anda tidak dicap melakukan pencemaran nama baik. Ada hal penting yang sering dilupakan orang

ketika melakukan investigasi. Banyak orang menulis hasil investigasi setelah semua data terkumpul, atau di bagian akhir. Padahal, itu salah. Sebaiknya anda memiliki memo/buku catatan untuk menuliskan apa yang anda lakukan, apa yang anda dapat, apa yang anda lihat, setiap waktu.

Hal ini penting untuk menjaga ritme investigasi selain untuk menjaga supaya tidak ada hal yang terlewat dari proses investigasi kita.

—–ooOoo—–

23. [http://isyniesansansunni.blogspot.com/2012/10/mengenal-macam-macam-tulisan-dalam_3045.html]

Mengenal Macam-Macam Tulisan dalam Rubrik Majalah (Bag.II)

Sebuah Catatan Media Sederhana

Oleh Ismail Sunni Muhammad 

Bismillah ar-Rahman ar-Rahiim

Sekapur Sirih:

Apakah itu Refleksi, Suara Mahasiswa, An-Nisa, Galeri Insani, Biografi, Galeri Foto, Bahasa, Bilik Ma’had, serta Catatan Akhir? Sebentar-sebentar, apakah kamu juga sudah tahu mengenai apa itu Artikel, Feature, Esai, Puisi, Prosa, Tulisan Ilmiah dan Tulisan Ilmiah Populer sebelumnya?  .. 

Sudah tahu atau tidak, membaca catatan sederhana ini membuatmu semakin yakin akan batasan dan perbedaan tiap macam rubrik di atas. Maka, tak perlu menunggu lama, kami sajikan pada anda potongan “Kue Pertama” bagian II.. 

Ohya, kalau teman-teman merasa “Kue”nya “terlalu manis” atau sebaliknya, “kurang gula” .. Jangan segan untuk memberi saran dan kritik konstruktifnya. ..

Selamat menikmati .. . ^^

 —–ooOoo—–

#10. Refleksi

Beberapa definisi mengenai Refleksi.

Dalam bukunya How We Think (1933), Dewey menghuraikan pemikiran refleksi sebagai satu cara menghadapi situasi bermasalah. Seseorang itu akan melalui proses aktif dan sadar dengan memikirkan masalah secara refleksi dan menyelesaikannya secara praktik. Dewey (1933) mendefinisikan pemikiran refleksi sebagai “active, persistent, and careful consideration of any belief or supposed form of knowledge in the light of the grounds that support it and the further conclusions to which it tends” (p. 9).

Dengan berfikir secara refleksi, seseorang dapat “transform a situation in which there is experienced obscurity, doubt, conflict, disturbance of some sort, into a situation that is clear, coherent, settled, harmonious” (pp. 100–101). Dengan arti kata lain, seseorang dapat mengubah suatu keadaan keraguan, konflik, dan gangguan yang dialaminya ke dalam keadaan yang nyata, koheren, tenang dan harmonis.

Menurut Dewey, proses manusia berfikir bermula dengan permasalahan yang dihadapinya atau keraguan yang dirasa atau dihadapi seseorang. Selama hubungan kita dengan keadaan sekitar belum selesai, kita tidak bisa berfikir sepenuhnya. Apabila kita berhadapan dengan situasi yang belum tuntas, bermasalah dan berlainan daripada kebiasaan, kita mulai berfikir secara reflektif untuk mencari penyelesaiannya. Maka terbitlah ide- ide atau beberapa pemikiran untuk mencari jalan keluar.

Menurut Hanifah (2004) refleksi menurut  sebagian orang adalah satu ulasan terhadap tingkah laku seseorang untuk memastikan ketepatan atau keakuratannya pada suatu peraturan yang telah ditentukan. Refleksi juga bisa diartikan dengan menjadikan suatu situasi bermasalah dalam kehidupan seseorang sebagai satu cara memperoleh pemahaman atau pengertian baru dalam kehidupannya.

Hanifah juga mendefinisikan refleksi sebagai satu proses merenung, menganalisis dan mencari alasan dan seterusnya membuat jalan alternatif dan tindakan untuk memperbaiki diri yang dilakukan secara kontinyu.

Menurut Shulman (1987), dalam konteks pendidikan, kebolehan membuat tranformasi dan refleksi menjadikan guru senantiasa mempelajari dan memahami sesuatu yang baru hasil dari sesuatu yang telah dilaluinya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Refleksi berarti

(1). gerakan atau pantulan di luar kemampuan (kesadaran) karena suatu hal yang dating dari luar.

(2). Gerakan otot yang terjadi karena suatu hal dari luar.

Tindak refleksi merupakan tingkah pemikiran ulang pengalaman yang memerlukan prediksi dan analisa baik pada unsur- unsur yang tersurat dan tersirat. Proses ini melahirkan bentuk pengandaian dan garis sebab akibat yang berasaskan fakta, argument, dan analisa.

Tujuan Refleksi.

Mengambil kesan, hikmah dan pelajaran dari suatu kejadian, menjadikan refleksi sebagai asas untuk mengevaluasi dan meningkatkan kualitas, mengembangkan pola pikir untuk melahirkan kreativitas dan inovasi.

Mengasah nalar analisa suatu masalah, dari melihat faktor yang dapat membantu dalam meningkatkan atau menurunkan, berdasarkan lingkup tempat dan waktu, kekuatan atau kelemahan metodologi yang digunakan dari paradigma tertentu, langkah- langkah tepat untuk menyelesaikan masalah dengan persepsi yang berubah- ubah. 

Ciri Refleksi.

(1). Bermula dengan mengingat kembali.

(2). Melibatkan perasaan (domain afektif) terhadap sesuatu.

(3). Menentukan usaha secara sadar (conscious effort).

(4). Bersedia mengubah sikap, kesadaran diri, perbuatan dan tingkah laku positif.

Bila ditarik benang merah dari berbagai informasi yang terkumpul bisa disimpulkan bahwa Refleksi adalah macam tulisan yang menjadi buah perenungan, pengamatan dan pertimbangan yang matang dari sebuah permasalahan/ kasus dengan tujuan dan ciri yang tertentu.

—–ooOoo—–

#11. Suara Mahasiswa

Adalah rubrik yang menjadi wadah kreatifitas menulis rekan mahasiswa INKAFA. Berfungsi sebagai boost, layaknya dynamo dalam suatu motor, rubrik ini bertujuan menstimulasi nalar penulis dalam jiwa mahasiswa INKAFA untuk lebih kritis terhadap isu yang muncul.

 —–ooOoo—–

#12. Galeri Foto

 Jika ada rubrik yang berfungsi sebagai pemberi kabar atau laporan, maka rubrik yang satu ini memberikan kabar tersebut dalam bentuk grafik atau gambar/ foto yang secara otomatis membuktikan kebenaran adanya acara atau agenda yang direportasekan.

—–ooOoo—–

#13. An- Nisa

Adalah bingkai halaman dengan rubrik khusus yang berbicara lebar seputar problematika wanita. Baik berupa opini, ilmiah, tips dsb. Rubrik ini berdiri untuk memberikan perhatian ekstra terhadap teman pelajar putri Indonesia yang mengenyam pendidikan di Yaman.

Secara massif, rubrik ini mendukung tema yang diusung majalah, hanya saja melihat tema tersebut dengan beberapa tinjauan dari sudut pandang wanita. Redaksi yang bertanggungjawab atas an- Nisa tidak harus menulis namun dapat meminta teman putri untuk turut berkontribusi dalam menyusun an- Nisa, tiada lain bertujuan sebagai wadah pengembangan minat dan bakat mereka dalam dunia jurnalistik dan kepenulisan.

—–ooOoo—–

#14. Galeri Insani dan Biografi

Sekilas melihat, dua rubrik ini memiliki kesamaan dalam memuat biografi seorang tokoh yang berpengaruh dan mempunyai peran penting mengenai permasalahan dari tema yang diangkat.

Perbedaannya, Galeri Insani menuliskan secara sederhana, riwayat seorang tokoh yang masih hidup dan dinilai aktif dalam dunia/ bidangnya. Adapun Biografi terfokus pada tokoh yang telah wafat, namun masih memiliki pengaruh,banyak meninggalkan pengaruh dan perubahan yang signifikan dalam bidang yang ia tekuni.

—–ooOoo—–

#15. Resensi

Pengantar Resensi.

Resensi  secara  bahasa artinya  “pertimbangan  atau perbincangan (tentang) sebuah  buku” (WJS. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, 1984:821). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia: pertimbangan atau pembicaraan tentang buku; ulasan buku.

Berisi penilaian tentang kelebihan atau kekurangan sebuah buku, menarik-tidaknya tema dan isi buku itu, kritikan, dan memberi dorongan kepada khalayak tentang perlu tidaknya buku tersebut dibaca dan dimiliki atau dibeli. Selain resensi buku, ada pula resensi film dan resensi pementasan drama.

Penulis resensi disebut resensator (peresensi). M.L. Stein (1993:80) menyebut penulis resensi sebagai pengkritik (kritikus). Pendapat mereka, kata Stein, adalah penting karena kadang-kadang mereka dapat menilai apakah sebuah buku akan mencapai keberhasilan atau sebaliknya.

Struktur tulisan:

(1) Pendahuluan –berisi informasi objektif atau identitas  buku, meliputi  judul, penulis,  penerbit dan tahun terbitnya,  jumlah halaman, dan –bila perlu– harga.

(2) Isi –ulasan tentang  tema  atau judul buku, paparan singkat isi buku (mengacu kepada daftar  isi) atau gambaran tentang keseluruhan isi buku,  dan informasi tentang latar belakang serta tujuan penulisan buku tersebut. Diulas pula tentang gaya penulisan, perbandingan buku itu dengan buku bertema sama karangan penulis lain  atau  buku karangan penulis yang sama dengan tema lain.

(3) Penutup –peresensi  menilai bobot (kualitas) isi  buku tersebut secara keseluruhan, menilai kelebihan atau  kekurangan buku tersebut, memberi kritik atau saran kepada penulis dan penerbitnya (misalnya menyangkut cover, judul, editing), serta memberi pertimbangan kepada pemba­ca   tentang perlu tidaknya buku tersebut dibaca dan dimiliki/dibeli.

Mengenal Resensi lebih dalam.

 Menulis resensi merupakan proses menuangkan atau memaparkan nilai sebuah hasil karya atau buku berdasarkan tataan tertentu. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan informasi dan pertimbangan baik-buruknya, cermat-cerobohnya, benar-salahnya, kuat-lemahnya, dan manfaat-mubazirnya suatu topik buku (Saryono, 1997:54).

Pada dasarnya, keterampilan menulis resensi tidak datang secara otomatis, melainkan harus melalui latihan dan praktik yang banyak dan teratur. Selain itu, menulis resensi merupakan suatu proses perkembangan. Seperti halnya, dengan kegiatan menulis pada umumnya, menulis resensi menuntut pengalaman, waktu, kesempatan, latihan, dan keterampilan- keterampilan khusus, serta pengajaran langsung menjadi seorang peresensi.

Dalam menulis resensi, peresensi perlu memperhatikan pola tulisan resensi. Ada tiga pola tulisan resensi buku, yaitu meringkas, menjabarkan, dan mengulas. Meringkas (sinopsis) berarti menyajikan semua persoalan buku secara padat dan jelas.Menjabarkan berarti mendeskripsikan hal-hal menonjol dari sinopsis yang sudah dilakukan. Bila perlu bagian-bagian yang mendukung uraian dikutip.

Mengulas berarti menyajikan ulasan sebagai berikut:

(1) isi pernyataan atau materi buku sudah dipadatkan dan dijabarkan kemudian diinterpretasikan,

(2) organisasi atau kerangka buku,

(3) bahasa,

(4) kesalahan cetak,

(5) komparasi dengan buku-buku sejenis, baik karya pengarang sendiri maupun pengarang lain, dan

(6) menilai, mencakup kesan peresensi terhadap buku terutama keunggulan dan kelemahan buku (Samad, 1997:5—6).

Hakikat Resensi.

 Dunia perbukuan di tanah air semakin marak pada tahun-tahun terakhir. Para penulis, baik yang sudah profesional maupun pemula, berlomba-lomba untuk mengirimkan tulisannya ke penerbit.Beberapa penerbit pun tidak segan-segan untuk mengumumkan secara terbuka akan kebutuhannya terhadap naskah. Perkembangan aktivitas perbukuan pun dibarengi dengan perkembangan media massa.

Media massa berani memberikan ruang untuk para pembaca yang ingin menuangkan gagasan, pikiran, atau perasaan. Hal ini dibuktikan dengan adanya kolom surat pembaca, artikel, dan opini untuk edisi harian. Sedangkan tiap minggu tersedia kolom cerpen, humor, dan resensi. Hal ini tentunya merupakan pertanda budaya menulis di Indonesia mulai tumbuh dan berkembang.

Akan tetapi, perkembangan budaya menulis di tanah air belum sepenuhnya dibarengi dengan budaya membaca. Sebagian besar masyarakat Indonesia belum mengetahui dan memahami pentingnya membaca. Hal ini seolah menjadi dua sisi mata uang. Namun, dari sudut pandang lain akan menjadi sebuah simbiosis mutualisme antara budaya menulis dengan budaya membaca.

Mengapa bisa dikatakan seperti itu? Dunia perbukuan yang ramai memberi peluang banyaknya buku yang diterbitkan dengan tema serupa. Hal tersebut akan mengakibatkan masyarakat pembaca kebingungan untuk membeli dan membaca buku-buku tersebut. Di sinilah letak hubungan yang saling menguntungkan tersebut. Para penulis yang peduli dengan keadaan ini berusaha untuk memecahkan masalah tersebut dengan menyusun resensi. Bentuk tulisan resensi akan sangat membantu para pembaca yang kebingungan ingin memilih, membeli, atau sekedar membaca buku-buku yang terbit tersebut.

Resensi merupakan salah satu bentuk tulisan jurnalistik yang bertujuan untuk mendeskripsikan dan memberi pertimbangan kepada pembaca mengenai sebuah buku yang baru diterbitkan. Secara sederhana, resensi dapat dianggap sebagai bentuk tulisan yang merupakan perpaduan antara ringkasan dan ikhtisar berisi penilaian, ringkasan isi buku, pembahasan, atau kritik terhadap buku tersebut. Bentuk tulisan ini bergerak di subyektivitas peresensinya dengan bekal pengetahuan yang dimilikinya tentang bidang itu. Resensi memiliki bagian-bagian penting di dalamnya, diantaranya judul resensi, identitas buku, bagian pembuka resensi yang memaparkan kepengarangan, tema, golongan buku, isi atau tubuh resensi yang memaparkan ikhtisar, ulasan serta kutipan, dan kelemahan juga kelebihan buku, dan bagian penutup.

Resensi berasal dari bahasa Latin, yaitu dari kata kerja revidere atau recensere yang artinya melihat kembali, menimbang atau menilai. Arti yang sama untuk istilah tersebut dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah review, sedangkan dalam bahasa Belanda dikenal dengan istilah recensie. Tiga istilah tersebut mengacu pada hal yang sama, yakni mengulas sebuah buku.

Merujuk pada pengertian secara istilah tersebut, WJS. Poerwadarminta (dalam Romli, 2003:75) mendefinisikan resensi secara bahasa sebagai pertimbangan atau perbincangan tentang sebuah buku yang menilai kelebihan atau kekurangan buku tersebut, menarik-tidaknya tema dan isi buku, kritikan, dan memberi dorongan kepada khalayak tentang perlu tidaknya buku tersebut dibaca dan dimiliki atau dibeli.

Perbincangan buku tersebut dimuat di surat kabar atau majalah. Pendapat ini diperkuat oleh Samad (1997:1) yang menyatakan bahwa tindakan meresensi buku dapat berarti memberikan penilaian, mengungkap kembali isi buku, membahas, atau mengritik buku. Pendapat yang berbeda diungkapkan oleh Saryono (1997:56) mengenai definisi resensi, yaitu sebuah tulisan berupa esai dan bukan merupakan bagian suatu ulasan yang lebih besar mengenai sebuah buku.

Isinya adalah laporan, ulasan, dan pertimbangan baik-buruknya, kuat-lemahnya, bermanfaat-tidaknya , benar-salahnya, argumentatif- tidaknya buku tersebut. Tulisan tersebut didukung dengan ilustrasi buku yang diresensi, baik berupa foto buku atau foto copi sampul buku.

Dari beberapa pendapat di atas mengenai definisi resensi, dapat disimpulkan bahwa resensi adalah suatu karangan atau tulisan yang mencakup judul resensi, identitas buku, pembukaan dengan memaparkan kepengarangan, tema, golongan buku, isi atau tubuh resensi yang memaparkan ikhtisar, ulasan serta kutipan, dan kelemahan juga kelebihan buku, dan penutup kepada khalayak tentang perlu tidaknya buku tersebut dibaca, dimiliki, atau dibeli.

Lebih jauh menyelami Resensi.

Tindakan meresensi mengandung “memberikan penilaian, mengungkapkan kembali isi pertunjukan, membahas, dan mengkritiknya.” Dalam buku Bahasa dan Sastra Indonesia (yang ditulis Euis Sulastri dkk) Istilah resensi berasal dari bahasa Belanda,  resentie, yang berarti kupasan atau pembahasan. Jadi, pengertian resensi adalah kupasan atau pembahasan tentang buku, film, atau drama yang biasanya disiarkan melalui media massa, seperti surat kabar atau majalah.

Pada Kamus Sinonim Bahasa Indonesia disebutkan bahwa resensi adalah pertimbangan, pembicaraan, atau ulasan buku. Akhir-akhir ini, resensi buku lebih dikenal dengan istilah  timbangan buku.

Apa tujuan Resensi Buku?

Tujuan resensi adalah memberi informasi kepada masyarakat akan kehadiran suatu buku, apakah ada hal yang baru dan penting atau hanya sekadar mengubah buku yang sudah ada. Kelebihan dan kekurangan buku adalah objek resensi, tetapi pengungkapannya haruslah merupakan penilaian objektif dan bukan menurut selera pribadi si pembuat resensi.

Umumnya, di akhir ringkasan terdapat nilai-nilai yang dapat diambil hikmahnya.Sebelum membuat resensi, resensator harus membaca buku itu terlebih dahulu. Sebaiknya, resensator memiliki pengetahuan yang memadai, terutama yang berhubungan dengan isi buku yang akan diresensi. Ada beberapa syarat untuk meresensi (membuat resensi) buku.

  1. Ada data buku, meliputi nama pengarang, penerbit, tahun terbit, dan tebal buku.
  2. Pendahuluannya berisi perbandingan dengan karya sebelumnya, biografi pengarang, atau hal yang berhubungan dengan tema atau isi.
  3. Ada ulasan singkat terhadap buku tersebut.
  4. Harus bermanfaat dan kepada siapa manfaat itu ditujukan.

Cara Menulis Resensi NonSastra 

Anda tentu sudah pernah membuat sebuah ringkasan, baik itu ringkasan artikel atau ringkasan buku. Tahukah Anda bahwa dengan membuat ringkasan, Anda sudah mengawali membuat sebuah resensi.Resensi dibuat untuk memberi penilaian atas suatu buku, film, atau karya seni yang lain untuk memberitahu orang lain apakah hal yang diresensi tersebut layak atau tidak untuk dibaca, ditonton, atau didengar, dll.

Resensi bersifat informatif, tidak berisi suatu kritikan yang mendalam atau penilaian tentang bermutu atau tidaknya suatu karya cipta tertentu. Meskipun bersifat informatif resensi juga bukan iklan tentang buku baru.Berikut ini disajikan sebuah resensi. Bacalah resensi tersebut dengan saksama!

Bergerilya Melawan Lupa Bersama Munir

Judul Buku : Munir: Sebuah Kitab Melawan Lupa

Editor : Jaleswari Pramodhawardani dan Andi Windjajanto

Penerbit : Mizan, Bandung, Cetakan Pertama, Desember 2004

Tebal : iix + 545 halaman

“Bangsa Indonesia sering dituduh sebagai bangsa pelupa. Lupa atas dosa-dosa masa lalu, kekerasan-kekerasan masa lalu, dan berbagai penyimpangan masa lalu. Melalui buku ini, pembaca diajak berjuang melawan lupa, karena seperti yang dikatakan oleh Milan Kundera, bahwa perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan melawan lupa.

Salah satu anak bangsa yang tidak pernah jenuh mengingatkan kita semua agar tidak pelupa adalah (almarhum) Munir. Dengan sikap dan perjuangannya, Munir mencoba mempertahankan ingatan kita dan secara bersamaan juga melakukan perlawanan terhadap lupa. Orang asal kota Malang yang termasyhur itu bukanlah seorang pejabat tinggi atau ketua parpol dari negara ini. Ia hanyalah seorang berperawakan kecil lulusan Fakultas Hukum Universitas Brawijaya. Dengan……………………………………… ( Lihat Buku BSE )”.

Unsur-unsur yang harus dimuat dan harus Anda perhatikan dalam resensi:

  1. Judul resensi, bisa menggambarkan keseluruhan isi buku.
  2. Data buku atau identitas buku terdiri atas: judul buku, pengarang, penerbit, tahun terbit, cetakan, dan jumlah halaman.
  3. Pendahuluan, dapat berisi perbandingan dengan karya-karya sebelumnya, perbandingan dengan buku yang berisi masalah sejenis, biografi pengarang, dan hal yang berhubungan dengan tema atau berhubungan dengan isi.
  4. Sinopsis atau ringkasan isi buku; untuk mengetahui secara singkat tentang isi buku yang diresensi. Bisa juga dikutip bagian-bagian penting yang dianggap menarik.
  5. Ulasan singkat terhadap buku yang diresensi, kekurangan dan kelebihannya, dapat dilihat dari segi: fisik buku, misal penggunaan kertas, penjilidan, pengetikan;isi buku; penggunaan bahasa; dll.
  6. Manfaat dan sasaran pembaca buku.

—–ooOoo—–

#16. Bahasa

Adalah rubrik yang mempresentasikan suatu masalah dalam sebuah tulisan yang menggunakan bahasa asing, baik bahasa Arab atau bahasa Inggris sebagai bahan pokok penulisan. Adanya rubric ini adalah sebagai suatu pembuktian kapabilitas pelajar Indonesia di Yaman, bahwa mereka tidak hanya mampu berkomunikasi dengan bahasa asing yang baik secara lisan, namun juga mampu menuangkan ide dan opininya secara tekstual.

#17. Bilik Ma’had

Dimanapun dan kapanpun, eksistensi institusi pendidikan Islam tidak boleh dilupakan karena besar dan pentingnya peranan mereka dalam lika- liku peradaban manusia. Untuk menegaskan hal tersebut seraya menanamkan pemahaman serta menambahkan pengetahuan maka rubric ini berdiri. Rubrik yang memaparkan sejarah singkat, proses perjalanan dan kemajuan, rangkaian aktivitas, warna pengabdian, corak asal pelajar dan metode pengajaran dan kepemimpinan suatu Ma’had/ Institut pendidikan Islam yang ada di Yaman.

—–ooOoo—–

#18. Catatan Akhir

Bila ada salam pembuka, tentu dapat ditemukan salam penutup. Sama halnya dengan catatan pembuka dalam majalah yang berupa Editorial, catatan akhir adalah catatan pamungkas yang secara paripurna menutup pembahasan tema dalam majalah dengan permasalahan lain yang juga berkaitan dengan tema yang diusung.

Dilihat dari judul, tentu akan berbeda dengan apa yang terkandung dalam sajian utama, bukan berarti melupakan, namun menyisipkan apa yang telah dibahas pada sajian utama, dengan kemasan permasalahan dan sebuah tawaran solusi yang baru.

—–ooOoo—–

#19. Bingkai Kata

Sebuah rubrik yang terpusatkan pada pembahasan pernak- pernik sastra , social dan budaya. Termasuk di dalamnya adalah Puisi, Mutiara Kata, Sajak Motivatif dan kisah Inspiratif, Cerita Pendek, Cerita Bersambung, Cerita Bergambar, Karikatur, Sajian Khusus pengetahuan Budaya dan Sastra, dll.

—–ooOoo—–

##Ekstra Insights (Wawasan Ekstra)

 1). Artikel

Karya tulis lengkap dalam suatu majalah,  surat kabar dsb.

Pengantar:

Masyarakat luas menganggap semua tulisan di media cetak (Koran, majalah, tabloid, bulletin, jurnal dan news letter) sebagai artikel. Dalam dunia jurnalistik, biasanya artikel hanya menyangkut satu pokok permasalahan dengan sudut pandang hanya dari satu disiplin ilmu. Tehnik penulisan artikel di dunia jurnalistik lazimnya menggunakan tehnik deduktif – induktif atau sebaliknya.

Selain menganggap semua tulisan di media cetak sebagai artikel, biasanya masyarakat juga tidak bisa membedakan antara opini, kolom dan artikel.  Padahal ketiga jenis tulisan ini berbeda. Opini biasanya lebih mengutamakan pendapat pribadi (buah pikiran) si penulis. Sementara kolom adalah artikel, opini, esai atau tulisan lain oleh penulis tetap, yang diberi ruang (rubrik) yang tetap pula.

Untuk mengetahui lebih dalam tentang arti artikel, berikut ini adalah beberapa definisi dan pengertian artikel.

a). Artikel adalah karya tulis lengkap di majalah atau surat kabar. Artikel dalam surat kabar biasanya membahas suatu hal secara terperinci.

b). Artikel adalah tulisan pendek yang berisi tentang segala hal seperti pengetahuan, pendidikan,computer, bisnis dan sebagainya.

c). Artikel adalah salah satu bentuk tulisan nonfiksi berisi fakta dan data yang disertai sedikit analisis dan opini penulisnya.

d). Artikel adalah karya tulis lengkap yang dimuat di Koran, majalah atau internet. Misal, bila kita menulis tentang tips membina persahabatan dan dimuat di Koran atau media lainnya, maka tulisan ini dapat disebut dengan artikel.

e). Menurut Ichtiar Baru, artikel adalah karangan prosa dalam media massa yang membahas pokok masalah secara lugas, sehingga yang terpenting  dalam sebuah artikel adalah isi yang benar dan aktual, susunannya rapi dan hemat dengan kata- kata.

f). Dalam The America Heritage Desk Dictionary dikatakan bahwa artikel adalah bagian tulisan non fiksi yang berbentuk bebas, bagian dari penerbitan seperti laporan dan esai.

g). Dalam Longman Pitman Office Dictionary dikatakan bahwa artikel adalah sebuah tulisan prosa non fiksi berbentuk biasa dan bagian bebas dari sebuah majalah, Koran dan lain- lain.

h). Dalam Webster CollegiateThesaurus diterangkan bahwa atikel adalah karangan, catatan, kritik, manifest, reportase,  keputusan, pelajaran dan survei.

—–ooOoo—–

2). Feature

Feature  (karangan khas) adalah laporan jurnalistik bergaya sastra (gaya penulisan karya fiksi seperti cerpen) yang menuturkan peristiwa. Isinya penonjolan segi (angle) tertentu dalam sebuah peristiwa, biasanya unsur yang mengandung segi human interest, yakni memberikan penekanan pada fakta-fakta yang dianggap mampu menggugah emosi —keharuan, simpati, kegembiraan, atau bahkan amarah atau

kejengkelan.

Mengedepankan unsur hiburan ketimbang informasi.  Biasanya menggunakan “kata berona” (colorful word) untuk menambah daya tulisan. Jenis-jenis feature antara lain feature berita (news feature), feature artikel (article feature), tips (how to do it feature), feature biografi, feature perjalanan atau petualangan (catatan perjalanan),dan sebagainya.

—–ooOoo—–

3). Esai

Esai (essay) artinya (1) karangan, esei (sastra) dan (2) skripsi.

Pengantar.

KBBI mendefinisikan esai sebagai “karangan prosa (karangan bebas) yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya”. Esai dikenal di tiga dunia: jurnalistik, akademis, dan sastra/seni.

a). Dalam konteks jurnalistik, esai adalah tulisan pendek yang biasanya berisi pandangan penulis tentang subjek tertentu.

b). Dalam konteks akademis, esai diartikan sebagai “komposisi prosa singkat yang mengekspresikan opini penulis tentang subjek tertentu”.

Struktur tulisan esai akademis atau sistematika penulisannya dibagi menjadi tiga bagian:

(1) Pendahuluan (berisi latar belakang informasi yang mengidentifikasi),

(2) Subjek bahasan dan pengantar tentang subjek),

(3) Tubuh atau isi/pembahasan (menyajikan seluruh informasi tentang subjek), dan

(4) Penutup berupa kesimpulan (konklusi yang memberikan kesimpulan dengan menyebutkan kembali ide pokok, ringkasan dari tubuh esai, atau menambahkan beberapa observasi tentang subjek).

Bentuk esai dalam konteks akademis dikenal sebagai “esai formal” yang sering dipergunakan para pelajar, mahasiswa, dan peneliti untuk mengerjakan tugas-tugasnya. Di dunia sastra atau seni, esai adalah karya sastra berupa tulisan pendek berisi tinjauan subjektif penulisnya atas suatu masalah di bidang kesusastraan dan kesenian. Esai adalah tulisan berisi ulasan tentang sebuah karya sastra dan seni.  Sedikitnya ada tiga jenis esai: narastif, deskriptif, dan persuasif.

—–ooOoo—–

4). Tulisan Ilmiah

Tulisan ilmiah dikenal sebagai “tulisan akademis” (academic writing). Memerlukan kalimat tesis, premis, dan hipotesis, diikuti “kerangka berpikir” untuk diuraikan lagi dalam beberapa bab dengan riset mendalam. Metodologi penelitian dan deviasi mesti bisa diuraikan dengan jelas.  Jenis tulisan ilmiah: disertasi, tesis, skripsi, dan artikel-artikel dalam jurnal-jurnal ilmiah.

—–ooOoo—–

5). Tulisan Ilmiah Populer

Ilmiah populer yaitu tulisan ilmiah yang ditulis dengan gaya penyajian artikel populer atau gaya jurnalistik yang mengedepankan unsur informasi, keumuman, dan mudah dimengerti.  Tulisan ilmiah populer bisa juga diartikan sebagai tulisan ilmiah yang disusun dengan menggunakan bahasa jurnalistik (language of mass communication).

Prinsipnya, menulis artikel ilmiah populer sama dengan menulis artikel populer biasa –proses kerja intelektual yang membutuhkan keahlian khusus (writing technique), latihan, kejelian, daya nalar, wawasan, referensi, etika, waktu, dan… kesabaran.

Seperti halnya semua tulisan, artikel ilmiah populer  juga menjadikan komunikasi sebagai tujuan utama.  Perbedaan utama artikel biasa dengan artikel ilmiah populer utamanya dalam hal dukungan fakta dan teori. Dalam artikel biasa, penulis tidak dituntut menyertakan fakta atau teori sebagai pendukung argumentasi atau opininya.

Karakter utama artikel ilmiah populer adalah opini subjektif penulis disertai fakta-data (biasanya hasil riset) dan teori pendukung tentang suatu masalah atau peristiwa. Cara dan struktur penulisan sama dengan penulisan artikel opini.

—–ooOoo—–

6). Prosa

Adalah karya sastra dalam bentuk bahasa yang terurai tidak terikat oleh Rima, Ritma, Jumlah baris dan sebagainya.

Adapun unsur- unsur instrik dalam prosa adalah:

(1). Tema. Adalah tentang apa prosa tersebut berbicara.

(2). Amanat atau pesan. Adalah nasehat yang hendak disampaikan kepada pembaca.

(3). Plot atau alur. Adalah rangkaian peristiwa yang membentuk suatu cerita.

(4). Perwatakan atau karakteristik atau penokohan.  Adalah cara- cara pengarang menggambarkan watak pelaku.

(5). Sudut pandang. Adalah cara pengarang menempatkan diri. Sudut pandang orang pertama adalah pengarang sebagai pelaku. Sudut pandang orang ketiga adalah pengarang tidak menjadi pelaku.

(6). Latar atau setting. Adalah gambaran atau keterangan mengenai tempat, waktu, situasi atau suasana  berlangsungnya peristiwa.

(7). Gaya bahasa. Adalah corak pemakaian bahasa. Fiksi. Rubrik. Artikel koseptual.

—–ooOoo—–

7). Puisi

Secara etimologis, kata puisi dalam bahasa Yunani berasal dari poesis yang berarti penciptaan. Dalam bahasa Inggris, padanan kata puisi ini adalah poetry yang erat dengan –poet dan –poem. Mengenai kata –Poet, Coulter menjelaskan bahwa kata poet berasal dari Yunani yang berarti membuat atau mencipta.

Definisi puisi yang pada umumnya dikemukakan oleh para penyair  romantic Inggris sebagai berikut;

a). Samuel Taylor Colerid mengemukakan puisi adalah  kata- kata yang terindah dalam susunan yang terindah. Penyair memilih kata yang setepat- tepatnya dan disusun dengan sebaik- baiknya. Misalnya, seimbang dan simetris antara satu unsur dengan unsur lain sangat erat hubungannya dan sebagainya.

b). Carlyle mengatakan bahwa puisi merupakan pemikiran yang bersifat musical. Penyair menciptakan puisi itu memikirkan bunyi- bunyi yang merdu seperti music dalam puisinya. kata-kata disusun begitu rupa hingga yang menonjol adalah rangkaian bunyinya yang merdu seperti  music, yaitu dengan menggunakan orchestra bunyi.

c). Wordsworth mempunyai gagasan bahwa puisi adalah penyataan perasaan yang imajinatif, perasaan yang direkakan atau diangankan.

d). Adapun Auden mengemukakan bahwa puisi itu lebih merupakan pernyataan  perasaan yang bercampur baur.

Dari definisi- definisi di atas memang seolah terdapat perbedaan pemikiran, namun tetap terdapat benang merah. Shanon Ahmad menyimpulkan bahwa pengertian puisi di atas terdapat garis- garis besar tentang puisi itu sebenarnya. Unsur- unsur itu berupa imajinasi, emosi, pemikiran, ide, nada, irama, kesan panca indera, susunan kata, kata kiasan, kepadatan, dan perasaan yang bercampur baur. 

 —–ooOoo—–

24. [http://aky.ac.id/berita-125-sejarah-jurnalistik.html]

Sejarah Jurnalistik

Awal mula lahirnya Jurnalistik dimulai sekitar 3000 tahun lalu. Terdapat konsep dasar jurnalistik yaitu, penyampaian berbagai pesan, berita dan informasi. konsep dasar tersebut berakar dari saat ketika itu Firaun, Amenhotep III, di Mesir mengirimkan ratusan pesan kepada para perwiranya yang tersebar di berbagai daerah provinsi untuk mengabarkan apa yang terjadi di pusat.

Catatan sejarah yang berkaitan dengan penerbitan media massa terpicu penemuan mesin cetak oleh Johannes Gutenberg.
Media massa di Indonesiatumbuh dan berkembang secara unik, dibandingkan dengan negara lain, terutama bila dibandingkan dengan lahir dan tumbuhnya media massa di negara-negara barat dan AS. Media cetak di Indonesia lahir pada masa penjajahan Belandayaitu dengan terbitnya surat kabar Bataviase Nouvelles (1744). Koran ini tentu saja dijalankan oleh manajemen dan jurnalis Belanda. kemudian lahirlah pers “pribumi”, media cetak yang berkomunikasi dengan bahasa melayu atau bahasa daerah dan dipimpin oleh seorang pribumi. masuk dalam kategori ini adalah warta berita (1901) yang selain berbahasa melayu juga dicetak dalam bahasa latin. surat kabar lain yang lahir pada abad ke-19 meskipun telah dicetak dengan huruf latin dan berbahasa melayu tetapi umumnya masih di pimpim oleh orang-orang Belanda. Koran yang dipimpin oleh kaum pribumi ini merupakan cikal bakal “pers perjuangan” yaitu media cetak berbahasa Melayu yang menyiratkan cita-cita kemerdekaan dari penjajahan asing dalam kebijakan redaksionalnya.

Istilah pers perjuangan kembali populer setelah 17 Agustus 1945, yaitu Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, tetapi kemudian pihak Belanda (mencoba) menjajah kembali bangs Indonesia. Pada era 1945-1946, koran-koran yang membawakan suara bangsa Indonesia masih mendapat survive si tengah tekanan pihak Belanda. Wartawan Indonesia H. Rosiwan Anwar adalah contoh “sisa-sisa laskar panjang” yang mengalami sendiri masa-masa sulit itu.

Konsistensi pers cetak semakin terlihat pada perjalanan bangsa ini, mulai dari era demokrasi liberal (1950-1959), demokrasi terpimpin (1959-1965), demokrasi pancasila (1965-1998) dan kini, serta era reformasi (1998-sekarang).

25. [http://id.wikipedia.org/wiki/Percobaan]

Percobaan

Percobaan atau disebut juga eksperimen (dari Bahasa Latin: ex-periri yang berarti menguji coba) adalah suatu set tindakan dan pengamatan, yang dilakukan untuk mengecek atau menyalahkan hipotesis atau mengenali hubungan sebab akibat antara gejala.[1] Dalam penelitian ini, sebab dari suatu gejala akan diuji untuk mengetahui apakah sebab (variabel bebas) tersebut memengaruhi akibat (variabel terikat).[1] Penelitian ini banyak digunakan untuk memperoleh pengetahuan dalam bidang ilmu alam dan psikologi sosial.[2]

Sejarah

Penelitian eksperimen semula diambil dari Ilmu Alam dan dimulai dalam studi ilmu psikologi.[2] Wilhelm M. Wundt, seorang psikolog dari Jerman, memperkenalkan metode eksperimen ke dalam studi psikologi.[2] Wundt mendirikan sebuah laboratorium eksperimen dan dijadikan sebagai contoh oleh para ilmuwan sosial.[2] Akhir abad 18, Jerman sebagai pusat pengetahuan berhasil mengundang para ilmuwan sosial dari seluruh dunia untuk mempelajari metode tersebut.[2]lol 😛

Menjelang tahun 1900, peneliti dari Amerika dan berbagai universitas di dunia mendirikan laboratorium psikologi untuk melakukan penelitian eksperimen.[2] Kelahiran penelitian eksperimen dalam ilmu sosial telah mengubah pendekatan ilmu sosial yang filosofis, introspektif, dan integratif menjadi interpretif.[2] Pada masa Perang Dunia II, penelitian eksperimen mulai banyak digunakan dalam bidang sosial untuk menjelaskan studi mengenai mental manusia dan kehidupan sosial secara objektif dan tidak bias.[2]

Perluasan penggunaan metode eksperimen pada era ini ditandai dengan:[2]

  • Behaviorisme, yang menekankan pada studi mengenai pengukuran tingkah laku sebagai ekspresi mental seseorang.
  • Kuantifikasi, yang menekankan penghitungan fenomena sosial dengan angka-angka.[2] Dalam ilmu sosial, penghitungan berbasis angka banyak diterapkan dalam statistika sosial.[2]
  • Perubahan dalam subjek penelitian. Penelitian eksperimen pada awalnya menekankan peneliti professional sebagai subjek dari penelitian tersebut.[2] Namun dalam perkembangannya, subjek penelitian eksperimen berupa orang-orang awam yang belum dikenalnya, sehingga obyektifitas dari hasil penelitian tersebut lebih terjamin.[2]
  • Aplikasi praktis. Penelitian eksperimen diterapkan secara praktis dalam berbagai hal untuk menguji hubungan sebab akibat.[2]

Tahun 1950 dan 1960, metode penelitian eksperimental ini sudah banyak digunakan dalam peneliti sebagai cara untuk menguji hipotesa dengan standar error yang kecil.[2] Memasuki tahun 1970, penelitian eksperimen semakin banyak digunakan untuk mengevaluasi penelitian.[2] Dan sampai saat ini, penelitian eksperimen merupakan penelitian yang banyak digunakan karena sifatnya yang logis, sederhana, konsisten, memerlukan sedikit biaya, dan secara jelas menggambarkan hubungan sebab akibat antar gejala.[2]

Karakteristik

Penelitian percobaan setidaknya memiliki 3 ciri utama, yakni:

  1. Secara khas menggunakan kelompok kontrol sebagai garis dasar untuk dibandingkan dengan kelompok yang dikenai perlakuan eksperimental.[3]
  2. Menggunakan sedikitnya dua kelompok percobaan.[3]
  3. Berfokus pada keabsahan ke dalam (internal validity).[3]

Contoh

Dalam sebuah penelitian yang menguji mengenai pengaruh tayangan kriminalitas terhadap tingkat agresifitas anak, terdapat dua kelompok yang masing-masing beranggotakan 15 orang.[2] Kelompok pertama dimasukkan ke dalam sebuah ruangan selama beberapa waktu dan sengaja hanya diberikan tayangan kriminalitas, sedangkan kelompok kedua dibiarkan untuk memilih menonton tayangan apa saja.[2] Setelah beberapa waktu, dapat dibandingkan hasil percobaan yang telah kita lakukan terhadap kelompok pertama dan kelompok kedua.[2]

Langkah

Secara garis besar, langkah yang ditempuh dalam penelitian percobaan adalah

  1. Menetapkan topik penelitian
  2. Menyempitkannya dalam pertanyaan penelitian
  3. Mengembangkan hipotesa
  4. Merancang desain penelitian eksperimen yang baik
  5. Menetapkan berapa jumlah kelompok
  6. Menentukan kapan dan bagaimana memasukkan stimulus
  7. Menentukan kapan melakukan pengukuran variable terikat.
  8. Membuat analisa dan kesimpulan akhir.[2]

Hal-hal yang perlu disiapkan

Langkah awal melakukan penelitian percobaan adalah dengan menentukan kelompok mana yang menjadi kelompok eksperimen (kelompok yang diberi stimulus), kelompok mana yang menjadi kelompok kontrol (kelompok yang tidak diberi stimulus), apa stimulus yang diberikan, dan cara pengambilan sampel tersebut.[2] Cara pengambilan sampel tersebut dibedakan menjadi pembagian acak (random assignment) dan pencocokkan (matching).[2] Pembagian acak berarti membagi sampel yang telah dipilih menjadi dua kelompok secara acak, tanpa berdasar pada urutan tertentu dengan tujuan pembandingan.[2] Pencocokkan berarti membagi sampel tersebut berdasarkan kesamaan karakteristik tertentu.[2] Pengambilan berdasarkan pencocokkan ini jarang dilakukan karena sulitnya peneliti untuk menemukan kesamaan antara subjek-subjek penelitian.[2]

Setelah membagi ke dalam dua kelompok tersebut, peneliti membandingkan hasil percobaan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.[4] Sebelum melakukan percobaan, pihak peneliti akan melakukan test awal (pretest) untuk mengamati gejala variable terikat sebelum diberikan stimulus.[4] Setelah percobaan berakhir, pihak peneliti akan melakukan test akhir (posttest) untuk membandingkan adanya pengaruh variable sebab terhadap variable akibat.[4] Dari sana, hubungan sebab akibat antar gejala akan teruji.[4]

Jenis

Secara garis besar, penelitian percobaan (eksperimen) terbagi menjadi penelitian laboratorium (laboratory experiment) dan penelitian lapangan (field experiment).[2] Masing-masing penelitian tersebut memliki kelebihan dan kelemahan tersendiri.[2]

Penelitian laboratium

Penelitian laboratorium merupakan penelitian yang dilakukan dalam ruangan tertutup, dimana kelompok eksperimen dijauhkan dari variable pengganggu sebab dapat memengaruhi hasil dari pengujian hubungan sebab akibat.[2]

  • Kelebihan penelitian ini adalah hasil dari penelitian ini lebih dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya karena hanya memfokuskan pada pengujian hubungan sebab dan akibat.[2]
  • Kelemahan penelitian laboratorium adalah penelitian ini belum tentu dapat diberlakukan dalam kehidupan sehari-hari.[2]

Penelitian lapangan

Penelitian lapangan merupakan penelitian yang dilakukan dalam ruangan terbuka, dimana kelompok eksperimen masih dapat berhubungan dengan faktor-faktor luar.[2]

  • Kelebihan penelitian lapangan adalah hasil penelitian ini dapat diberlakukan dalam kehidupan sehari-hari.[2]
  • Kelemahan penelitian lapangan adalah tingkat kepastian hubungan sebab akibat tidak sebesar pada penelitian laboratorium karena sulitnya untuk mengontrol variabel-variabel pengganggu.[2]

Tipe-tipe desain

Ada beberapa tipe desain yang biasa digunakan oleh para peneliti dalam penelitian eksperimen, yakni:

• Tipe desain klasik (classical experimental design)

Dalam tipe ini, pembagian dua kelompok subjek penelitian dilakukan secara pembagian acak (random assignment).[2] Pada kelompok eksperimen, pertama-tama dilakukan pengamatan awal, lalu diberikan stimulus, dan untuk mengetahui hasilnya dilakukan pengamatan akhir.[2] Pada kelompok kontrol, dilakukan pengamatan di awal dan di akhir, tanpa diberikan stimulus tertentu.[2]

• Tipe pengamatan akhir (two group posttest only)

Dalam tipe ini, pembagian dua kelompok subjek penelitian dilakukan secara pembagian acak (random assignment).[2] Pada kelompok eksperimen langsung diberikan stimulus dan pengamatan akhir, tanpa dilakukan pengamatan awal.[2] Pada kelompok kontrol, pengamatan hanya diberikan satu kali saja.[2]

• Tipe empat kelompok (solomon four group)

Tipe ini merupakan penggabungan dari tipe desain klasik dan tipe pengamatan akhir.[2] Dalam tipe ini, terdapat dua kelompok eksperimen dan dua kelompok kontrol.[2] Pada kelompok eksperimen pertama, dilakukan pengamatan terlebih dahulu, lalu diberikan stimulus, dan dilakukan pengamatan akhir.[2] Untuk kelompok kontrol pertama, dilakukan pengamatan awal dan pengamatan akhir.[2] Pada kelompok eksperimen kedua, langsung diberikan stimulus dan pengamatan akhir tanpa pengamatan awal.[2] Untuk kelompok kontrol kedua, pengamatan hanya diberikan satu kali saja.[2]

Etika

Dalam melakukan sebuah penelitian percobaan, terdapat etika dan aturan-aturan yang harus diperhatikan oleh sang peneliti karena menyangkut kebebasan dan hak asasi subjek penelitian.[5] Berikut adalah etika penelitian percobaan:

  • Kebebasan bagi publik untuk mengakses hasil penelitian.[6]
  • Menjaga kerahasiaan (privacy) subjek penelitian.[6]
  • Mengirimkan hasil penelitian kepada subjek.[6]
  • Memberikan hal subjek dan meminta persetujuan terlebih dahulu untuk kesediaan menjadi subjek penelitian, dengan memberitahukan konsekuensi yang muncul dalam penelitian.[6]
  • Memberitahukan secara jujur dan jelas kepada subjek tentang prosedur penelitian yang telah dilakukan. Hal ini dilakukan setelah penelitian percobaan (eksperimen) selesai dilakukan.[6]
  • Memberikan terapi atau bantuan pemulihan kepada subjek yang mengalami akibat negatif, baik secara fisik atau psikis dari penelitian, sampai kembali sehat seperti semula.[6]
  • Penelitian yang melibatkan binatang harus memperhatikan akibat negatif yang mungkin dialami binatang, seperti indera melemah, menyendiri, serta memar atau luka fisik.[6]

Referensi

  1. ^ a b Hermawan, Asep. 2006. Penelitian Bisnis-Paradigma Kuantitatif. Jakarta: Grasindo. Hal 19. ISBN 9797595420, 9789797595425.
  2. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z aa ab ac ad ae af ag ah ai aj ak al am an ao ap aq ar as at (Inggris) Neuman, W.Lawrence. 2006. Social Research Methods: Qualitative and Quantitative Research. USA: University of Wisconsin. Hal 246-256.
  3. ^ a b c nalar/penelitian/160-penelitian-eksperimen.html Penelitian Eksperimen. Diakses 2 Mei 2010.
  4. ^ a b c d Penelitian Eksperimen di Bidang Pendidikan. Diakses 2 Mei 2010.
  5. ^ Metode Penelitian Eksperimen dan Simulasi. Diakses 2 Mei 2010.
  6. ^ a b c d e f g Etika Penelitian Eksperimen. Diakses 2 Mei 2010.

26. [https://id-id.facebook.com/MariBelajarMembacaMenghafalAlQuran/posts/530923880287048]

…RASM UTSMANI DAN PERKEMBANGANNYA…
1. Pegertian Rasm Utsmani
Rasm Utsmani adalah rasm (bentuk ragam tulis) Yang telah diakui dan diwarisi oleh umat islam sejak masa Utsman. Dan pemeliharaan pemeliharaan rasm Utsmani merupakan jaminan kuat bagi penjagaan Al-Qur’an dari prubahan dan pergantian huruf-hurufnya.
Rasmul Al-Qur’an atau Rasm Utsmani atau Rasm Utsman adalah tata cara menuliskan Al-Qur’an yang ditetapkan pada masa khlalifah bin Affan. Istilah rasmul Qur’an diartikan sebagai pola penulisan al-Qur’an yang digunakan Ustman bin Affan dan sahabat-sahabatnya ketika menulis dan membukukan Al-Qur’an. Yaitu mushaf yang ditulis oleh panitia empat yang terdiri dari, Zaid bin Tsabit, Mus bin zubair, Said bin Al-Ash, dan Abdurrahman bin Al-harits. Mushaf Utsman ditulis dengan kaidah tertentu. Para ulama meringkas kaidah itu menjadi enam istilah, yaitu :
1. Al–Hadzf (membuang, menghilangkan, atau meniadakan huruf). Contohnya, menghilangkan huruf alif pada ya’ nida’(يَََآَ يها النا س ).
2. Al – Jiyadah (penambahan), seperti menambahkan huruf alif setelah wawu atau yang mempunyai hokum jama’ (بنوا اسرا ئيل ) dan menambah alif setelah hamzah marsumah (hamzah yang terletak di atas lukisan wawu ( تالله تفتؤا).
3. Al – Hamzah, Salah satu kaidahnya bahwa apabila hamzah ber-harakat sukun, ditulis dengan huruf ber-harakat yang sebelumnya, contoh (ائذن ).
4. Badal (penggantian), seperti alif ditulis dengan wawu sebagai penghormatan pada kata (الصلوة).
5. Washal dan fashl(penyambungan dan pemisahan),seperti kata kul yang diiringi dengan kata ma ditulis dengan disambung ( كلما ).
6. Kata yang dapat di baca dua bunyi. Suatu kata yang dapat dibaca dua bunyi,penulisanya disesuaikan dengan salah salah satu bunyinya. Di dalam mushaf ustmani,penulisan kata semacam itu ditulis dengan menghilangkan alif, contohnya,(ملك يوم الدين ). Ayt ini boleh dibaca dengan menetapkan alif(yakni dibaca dua alif), boleh juga dengan hanya menurut bunyi harakat(yakni dibaca satu alif).[1]

2. Pengumpulan Al-Qur’an pada masa Utsman
Ketika terjadi perang Armenia dan Azarbaijan dengan penduduk irak, diantara orang yang ikut menyerbu kedua tempat itu ialah Huzaifah bin Al-yaman. Ia melihat banyak perbedaan dalam cara-cara membaca Al-Qur’an. Sebagian bacaan itu bercampur dengan kesalahan, tetapi masing-masing mempertahankan dan berpegang pada bacaannya, serta menentang setiap orang yang menyalahi bacaanya dan bahkan mereka saling mengkafirkan. Melihat kenyataan demikian Huzaifah segera menghadap Utsman dan melaporkan kepadanya apa yang telah dilihatnya. Utsman juga memberitahukan kepada Huzaifah bahwa sebagian perbedaan itupun akan terjadi pada orang-orang yang mengajarkan Qira’at kepada anak-anak. Anak-anak itu akan tumbuh sedang diantara mereka terdapat perbedaan Qira’at. Para sahabat amat memprihatinkan kenyataan ini karena takut kalau perbedaan itu akan menimbulkan penyimpangan dan perubahan. Mereka bersepakat untuk menyalin lembaran-lembaran pertamayang ada pada abu bakar dan menyatukan umat islam pada lembaran-lembaran itu dengan bacaan yang tetap dengan satu huruf.
Utsman kemudian mengirimkan utusan kepada Hafsah (untuk meminjamkan mushaf Abu Bakar yang ada padanya) dan hafsah pun mengirimkan lembaran-lembaran itu kepadanya. Kemudian Utsman memanggil Zaid bin Sabit al-Ansari, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin ‘As, dan Abdurrahman bin Haris bin hisyam, ketiga orang terakhir ini adalah suku Quraisy, lalu memerintahkan mereka agar menyalin dan memperbanyak mushaf, serta memerintahkan pula agarapa yang diperselisihkan Ziad dengan ketiga orang Quraisy itu ditulis dalam bahasa Quraisy, karena Al-Qur’an turun dengan logat mereka.
Dari Anas: “bahwa Huzaifah bin Al-Yaman datang kepada Utsman dan pernah ikut berperang melawan penduduk syam. Huzaifah amat terkejut oleh perbedaan mereka dalam bacaaan. Lalu ia berkata kepada Utsman: “selamatkanlah umat ini sebelum mereka terlbatdalam perselisihan (dalam masalah kitab) sebagaimana perselisihan orang-orang yahudi dan nasrani. Utsman pu berkata kepada ketiga orang Quraisy (Abdullah bin Zubair, Sa’id bin ‘As, dan Abdurrahman bin Haris bin hisyam) itu: “Bila kamu berselisih pendapat denga Zaid bin Sabit tentang sesuatu dari Qur’an. Maka tulislah dengan logat Quraisy, karena Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Quraisy”. Mereka melaksanakan perintah itu. Setelah mereka selesai menyalinnya menjadi beberapa mushaf, Utsman mengembalikan lemabaran-lembaran asli itu kepada Hafsah. Selanjutnya Utsman mengirimkan kesetiap wilayah mushaf baru tersebut dan memerintahkan agar semua Al-Qur’an dibakar.
Keterangan ini menunjukan bahwa apa yang dilakukan Utsman itu telah disepakati oleh para sahabat. Mushaf-mushaf itu ditulis dengan satu huruf (dialek) dari tujuh huruf Al-qur’an seperti yang diturunkan agar orang bersatu dalam satu Qira’at. Dan Utsman telah mengembalikan lembaran-lembaran yang asli kepada Hafsah, lalu dikirimkannya pula kesetiap wilayah masing-masing satu mushaf, dan ditahannya satu mushaf untuk dimedinah, yaitu mushafnya sendiri yang kemudian dikenl dengan nama “Mushaf Imam”.
Penamaan mushaf imam itu sesuai dengan apa yang terdapat dalam riwayat-riwayat terdahulu dimana ia mengatakan : “Bersatulah wahai sahabat-sahabat Muhammad, dan tulislah untuk semua orang satu imam (mushaf Al-Qur’an pedoman). Kemudian ia memerintahkan membakar semua bentuk lebaran atau mushaf yang selain itu. Umat pun menerima perintah itu dengan patuh, sedangkan qira’at degan enam huruf lainnya ditinggalkan . keputusan ini tidak salah sebab Qira’at dengan tujuh huruf itu semua, tentu setiap huruf harus disampaikan secara mutawattir sehingga menjadi hujjah. Tetapi mereka tidak melakukannya. Ini menunjukan bahwa Qira’at dengan tujuh huruf itu termasuk dalam kategori keringanan. Dan bahwa yang wajib ialah menyampaikan sebagai dari ketujuh huruf tersebut secara mutawattir.[2]

3. Ar-Rasmul Utsmani
Setelah kita membicarakan pengumpulan Al-Qur’an pada masa Utsman. Zaid bin Sabit bersama tiga orang Quraisy telah menempuh suatu metode Khusus dalam penulisan Al-Qur’an yang telah disetujui oleh Utsman. Para ulama menamakan metode tersebut dengan ar-rasmul ‘Ustmani lil mushaf, yaitu dengan dinisbahkan kepada utsman. Tetapi kemudian mereka berbeda pendapat tentang status hukumnya.
1. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa rasm usmani buat Al-Qur’an ini bersifat taufiqi yang wajib dipakai dalam penulisan Al-Qur’an, dan harus sungguh-sungguh disucikan. Mereka menisbahkan taufiqi dalam penulisan Al-Qur’an ini kepada nabi. Penambahan ini sama sekali tidak bersumber dari nabi Rasulullah Saw, yang membuktikan bahwarasm itu taufiqi. Tetapi sebenarnya para penulislah yang mempergunakan istilah dan cara tersebut pada masa Utsman atas izinnya, dan bahkan Utsman telah memberikan pedoman kepada mereka.
2. Banyak ulama berpendapat bahwa Rasm Utsmani bukan taufiqi dari nabi, tetapi hanya merupakan satu cara penulisan yang disetujui Utsman dan diterima umat dngan baik, sehingga menjadi suatu keharusan yang wajib dijadikan pegangan dan tidak boleh dilanggar.
3. Segolongan orang berpendapat bahwa rasm Utsmani itu hanyalah sebuah istilah, tatacara, dan tidak ada salahnya jika menyalahi bila orang telah mempergunakan satu rasm tertentu untuk imla’ dan rasm itu tersiar luas diantara mereka.
Abu bakar al-Balqani menyebutkan dalam kitabnya al-intisar “tidak ada yang diwajibkan oleh Allah mengenai (cara atau bentuk) penulisan mushaf. Karena itu para penulis Al-Qur’an dan mushaf tidak diharuskan menggunakan rasm tertentu yang diwajibkan kepada mereka sehingga tidak boleh cara lain, hal ini mengingat kewajibansemacam ini hanya dapat diketahui melalui pendengaran (dalil sam’iy) dan taufiqi[3]

4. Perbaikan Rasm Utsmani
Mushaf Utsmani tidak memakai tanda baca titik dan syakal, karena semata-mata didasarkanpada watak pembawaan orang-orang arab yang masih murni, sehingga mereka tidak memerlukan syakal dengan harkat dan pemberian titik. Ketika bahasa arab mulai mengalami kerusakan karena banyaknya percampuran (dengan bahasa non arab), maka para penguasa merasa pentingnnya ada perbaikan penulisan mushaf dengan syakal, titik dan lain-lain yangdapat membantu pembacaan yang benar. Para ulama berbeda pendapat tentang usaha pertama yang dicurahkan untuk hal itu.banyak ulama berpendapat bahwa orang pertama yang melakukan hal itu adalah Abul Aswad ad-Du’ali, peletak pertama dasar-dasar kaidah bahasa arab, atas permintaan Ali bin Abi Thalib.
Perbaikan rasm mushaf itu berjalan secara bertahap. Pada mulanya syakal berupa titik: fathah berupa satu titik diatas awal huruf, dammah berupa satu titik diatas akhir huruf dan kasrah berupa satu titik dibawah awal huruf. Kemudian terjadi perubahan penentuuan harkat yang berasal dari huruf, dan itulah yang dilakukan oleh al-Khalil. Perubahan itu ialah fathah adalah dengan tanda sempang di atas huruf, kasrah berupa tanda sempang dibawah huruf, dammah dengan wawu kecil diatas huruf dan tanwin dengan tamabahan tanda serupa. Alif yang dihilangkan dan diganti, pada tempatnya dituliskan dengan warna merah. Hamzah yang dihilangkan dituliskan berupa hamzah dengan warna merah tanpa huruf. Pada “nun” dan “tanwin” sebelum huruf “ba” diberi tanda iqlab berwarna merah. Sedang nun dan tanwin sebelum huruf tekak diberi tanda sukun dengan warna merah. Nun dan tanwin tidak diberi tanda apa-apa ketika idgham dan ikhfa. Setiap huruf yang dibaca sukun (mati) diberi tanda sukun dan huruf yang di idghamkan tidak diberi tanda sukun tetapi huruf yang sesudahnya diberi tanda syaddah, kecuali huruf “tha” sebelum “ta” makan suku tetap dituliskan.
Kemudian pada abad ketiga hijriah terjadi perbaikan dan penyempurnaan rasm mushaf. Dan orangpun berlomb-lomba memilih bentuk tulisan yang baik dan menemukan tanda-tanda yang khas. Mereka memberikan untuk huruf yang disyaddah sebuah tanda seperti busur. Sedang untuk alif wasal diberi lekuk diatasnya, dibawahnya atau ditengahnya sesuai dengan harkat sebelumnya : fathah, kasrah, atau dammah.
Para ulama pada mulanya tidak menyukai usaha perbaikan tersebut karena khawatir akan terjadi penembahan dalam Al-Qur’an, berdasarkan ucapan ibnu mas’ud: “Bersihkanlah Al-Qur’an dan jangan dicampuradukan dengan apapun. Kemudian akhirnya hal itu sampai kepada hukum boleh dan bahkan anjuran. Diriwayatkan oleh ibnu abu Daud dari al-Hasan dan ibnu sirin bahwa keduanya mengatakan : “Tidak ada salahnya memberikan titik pada mushaf”. Dan diriwayatkan pula oleh Rabi’ah bin Abi Abdurrahman mengatakan : “Tidak mengapa memberi syakal pada mushaf “. An-Nawawi mengatakan: “pemberian titik dan penyakalan mushaf itu dianjurkan (mustahab), karena ia dapat menjaga mushaf dari kesalahan dan penyimpangan.
Perhatian untuk menyempurnakan rasm mushaf kini telah mencapai puncaknya dalam bentuk tulisan arab (al-khattul ‘arabiy).

Kesimpulan
Rasm Al-qur’an adalah tata cara penulisan Al-qur’an, yang biasa disebut juga dengan rasm Utsmani. Status hokum Rasm Al-qur’an masih diperselisihkan dalam tiga hal: apakah tauqifi, bukan tauqifi atau ishtilahi. Rasm Utsmani memiliki fungsi yang sangat besar dalam menyatukan umat Islam. Pada awalnya rasm Utsmani tidak memiliki tanda baca tapi kemudian di tambahi dan disempurnakan.
Hubungan antara rasmul qur’an dan qira’ah sangat erat sekali Karena semakin lengkap petunjuk yang dapat ditangkap semakin sedikit pula kesulitan untuk mengungkap pengertian-pengertian yang terkandung didalam Al-qur’an.Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa keberadaan mushaf ‘ustmani yang tidak berharakat dan bertitik ternyata masih membuka peluang untuk membacanya dengan berbagai qira’at. Hal itu di buktikan dengan masih terdapatnya keragaman cara membaca Al-Qur’an.

◦◦◦◦◦

27. [http://yaustazi.blogspot.com/2011/04/istilah-tanda-bacaan-al-quran-tulisan.html]

Istilah Tanda Bacaan Al-Quran Tulisan Rasm Uthmani

1.Tanda Bulat
Hanya terletak di atas huruf illah iaitu huruf alif,wau dan ya’.Merupakan huruf tambahan yang tidak dibaca sebagai huruf mad walaupun pada ketika menyambung atau berhenti bacaan padanya._hikmahnya ziadah(pertambahan)ke atas sesuatu maksud ayat.cthnya (kuasa-kuasa Allah yang luas)

2.Bulatan bujur meninggi
Hanya terletak di atas huruf alif jika huruf yang berikutnya berbaris.Ia menunjukkan huruf ini ialah huruf tambahan yang dihazafkan(tidak dibaca sebagai huruf mad)pada ketika menyambung pembacaannya dan dikekalkan (dibaca sebagai huruf mad) ketika berhenti bacaan padanya.

3.Tanda bersambung.
Tanda ini terletak di atas huruf hamzah bersambung untuk menunjukkan huruf ini dihazafkan dari bacaan pada ketika menyambung pembacaannya.Cara menulis tanda ini ialah seperti menulis kepala Shod.

4.Tanda kepala huruf kha’ tanpa titik.
Terletak di atas mana-mana satu huruf untuk menunjukkan huruf itu bertanda sukun dan bunyi bacaannya dibaca dengan cara izhar dengan mengangkat lidah ke atas.

5.Huruf yang tidak bertanda sukun
Jika terdapat huruf yang tidak bertanda sukun dan huruf berikutnya bertanda sabdu maka huruf ini diidghamkan kepada huruf berikutnya dengan cara Idgham Kamil(memasukkan dengan sempurna)Tetapi terdapat kalimah yang mempunyai dua wajah/jenis bacaan iaitu Idgham Kamil atau Idgham Naqis seperti ayat 77 surah Taha.
Manakala jika huruf yang tidak bertanda sukun diikuti huruf yang tidak bersabdu maka ia diidghamkan kepada huruf berikutnya dengan cara Idgham Naqis(memasukkan dengan tidak sempurna)atau ikhfa’ tetapi tidaklah ia diizharkan sehingga mengangkat lidah ke atas (seperti izhar)dan tidaklah didghamkan seperti huruf yang berikutnya (seperti idgham)tetapi di antara kedua-duanya serta bersifat dengung.

28. [http://aljasmine21.blogspot.com/2012/10/ilmu-rasm-quran.html]

Pengertian Rasmil Qur’an

Rasm berasal dari kata رَسَمَ ـ يرسُم ـ رسماً, artinya menggambar atau   melukis. Kata rasm ini juga biasa diartikan sebagai sesuatu yang resmi atau menurut aturan. Jadi  Rasmil Qur’an berarti tulisan atau penulisan Al-Qur’an yang mempunyai metode-metode tertentu.

        Para ulama lebih cenderung menamainya dengan istilah rasmul Mushaf. Ada pula yang menyebut rasm al-Qur’an dengan rasm ‘Usmany dikarenakan istilah ini lahir bersamaan dengan lahirnya mushaf ‘Utsman, yaitu mushaf yang ditulis oleh panitia empatyang terdiri dari Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin al-‘Ash, dan Abdurrahman bin al-Harits yang ditulis dengan kaidah-kaidah tertentu
       
        Ilmu Rasm ialah satu ilmu yang membincangkan cara menulis lafaz-lafaz atau sebutan untuk memelihara penyebutan huruf-hurufnya dari segi lafaz, huruf-huruf asal dan ilmu yang membahaskan kaedah menambah, mengurang, menyambung, memisah dan menggantikan huruf.
B.   PENULISAN AL-QURAN (ILMU RASM)
        Penulisan (Rasm) Al-Quran ini adalah satu sunnah Rasulullah s.a.w. yang diikuti secra ijma’ (kesepakatan) oleh seluruh ulam mujtahidin kerana tulisan ini adalah berbentuk tsuqifiyyah dan ia dibuat di bawah pengawasan Nabi Muhammad s.a.w.
        Ali Al-Shobuni membagi kedalam dua masa tentang pengumpulan dan penulisan al-qur’an, yaitu masa rasulullah SAW, dan masa khulafaurrasyidin.
        Telah diketahui bahwa pengumpulan al-qur’an pada masa Rasulullah SAW, dilakukan dengan dua cara, yaitu:
1)      Pengumpulan dalam dada dengan cara menghafal
2)      Pengumpulan dalam wujud tulisan, yaitu menulis dan mengukirnya.
        Penulisan Al-Qur’an pada masa Nabi adalah penyusunan surat dan ayat secara sistematis, namun belum terkumpul dalam satu mushaf melainkan dalam keadaan terpisah-pisah.
        Dalam proses penulisan di zaman Rasulullah SAW. Yang menulis Al-Quran  yaitu Abu bakar, Umar, Utsman, Ali, Abban Bin Said, Khalid Bin Walid, dan Muawiyah Bin Abi Sofyan. Setiap kali menerima wahyu Rasulullah SAW, memanggil para sekretarisnya untuk menulis wahyu yang baru diterimanya.
        Di zaman khalifah Abu Bakar, Allah SWT menggerakkan kaum muslimin terhadap kebaikan ini pada waktu perang yamamah karena banyaknya para qura’ yang terbunuh, maka Umar Bin Khattab dengan segera pergi ketempat Abu Bakar yang saat itu menjabat sebagai khalifah. Karena Umar khawatir meninggalnya para qura’ di tempat-tempat lain sebagaimana perang yamamah, sehingga kaum muslimin kehilangan pedoman agama Islam dan sulit akan memperolehnya kitab mereka.
        Umar mendiskusikan kepada Abu Bakar tentang rencana pengumpulan al-qur’an, setelah umar menguraikan sebab-sebab yang melatar belakanginya, Abu Bakar diam mempertimbangkanya. Kemudian Abu Bakar dan Umar mengutus zaid Bin Tsabit, salah seorang penulis wahyu dizaman Rasulullah. Maka datanglah Zaid Bin Tsabit ke majlis Abu Bakar dan Umar, mendengarkan mereka berdua tentang Al-Qur’an, lalu zaid menyetujuinya. Dan ketika Abu Bakar mendapati tanggapan positif dari Zaid, beliau berkata: “Sesungguhnya kamu pemuda cerdas, dulu kamu telah menulis wahyu untuk Rasulullah, maka telitilah al-qur’an dan kumpulkanlah”.
        Terus meneruslah Zaid meneliti Al-Quran dengan mengumpulkan dan menuliskannya dan Zaid sendiri orang yang hafal Al-Qur’an, sehingga hafalannya itu sedikit mengurangi bebannya namun demikian zaid tidaklah mencukupkan dengan hafalannya dalam menetapkan ayat yang terdapat perselsihan kecuali dengan saksi.
        Begitu pula dalam melaksanakan amanah menulis Al-Qur’an tidak mengandalkan hanya hafalannya saja atau melalui pendengaranya saja akan tetapi bertitik tolak dari pada penyelidikan yang mendalam dari dua sumber, yakni:
1) sumber hafalan  yang tersimpan dalam dada hati para sahabat,
2) sumber tulisan yang ditulis pada zaman Rasulullah SAW.
        Disini berarti, hafalan  dan tulisan harus terpenuhi seperti itulah bentuk kehati-hatian Zaid Bin Tsabit dalam menulis Al-Qur’an. Setelah selesai, Al-Qur’an dikumpulkan dan ditulis kemudian diserahkan kepada Abu Bakar, dan beliau menyimpan baik-baik hingga wafatnya. Sepeninggal Abu Bakar, ia digantikan oleh Umar Bin Khattab yang kemudian disimpannya naskah itu. Dan setelah wafatnya Umar Bin Khattab, Naskah itu kembali diserahkan kepada Hafshah.
        Di zaman khalifah Utsman ketika mendengar laporan Hudzaifah tentang terjadi perpecahan dikalangan kaum muslimin tentang perbedaan qira’ah Al-Qur’an yang mengarah kepada saling pengklaiman tentang kafir mengkafirkan. Khalifah Utsman ra, segera meminta mushaf yang disimpan di rumah Hafsah, lalu menugaskan Zaid Bin Tsabit, Abdullah Bin Zubair, Said Ibnu Al-Ash dan Abdurrahman Ibn Hisyam untuk menyalinnya dalam beberapa mushaf. Kata Utsman, ‘jika kalian bertiga dan Zaid Bin Tsabit berselisih pendapat tentang hal Al-Qur’an, maka tulislah dengan ucapan atau lisan quraish karena al-quran diturunkan dengan lisan quraish”
        Dalam kerja penyalinan Al-Qur’an ini mereka mengikuti ketentuan-ketentuan yang disetujui oleh khalifah Utsman. Ketentuan itu adalah bahwa mereka menyalin ayat berdasarkan riwayat mutawatir, mengabaikan ayat-ayat mansukh yang tidak diyakini dibaca kembali di masa hidup Nabi SAW, tulisannya secara maksimal mampu mengakomodasik qira’at yang berbeda-beda, dan menghilangkan semua tulisan sahabat yang tidak termasuk ayat Al-Quran. Para penulis  dan para sahabat setuju dengan tulisan yang mereka gunakan ini.
        Para ulama menyebut cara penulisan ini sebagai Rasm  Al-Mushaf. Karena cara penulisan disetujui Utsman sehingga sering pula dibangsakan kepada Utsman, sehingga mereka menyebutnya Rasm Utsman atau Rasm Utsmani. Namun demikian, pengertian rasm ini terbatas pada tulisan mushaf oleh tim empat di zaman Utsman, karena khawatir akan beredarnya dan menimbulkan perselisihan dikalangan ummat islam. Hal ini nanti membuka peluang bagi ulama kemudian untuk berbeda pendapat tentang kewajiban mengikuti rasm Utsmani.
        Tulisan Al-Quran dengan menggunakan khat nasakh mulai dicetak buat pertama kalinya di Hamburg, Jerman pada tahun 1694 Masehi (1113 Hijrah) dan seterusnya dicetak di negara-negara Islam yang lain hingga  hari ini.
C.   TAHAP PENULISAN AL-QURAN
                     Penulisan Al-Quran Rasm Utsmani seperti yang terdapat sekarang ini melalui beberapa tahapan berikut ini :
1.      Belum meletakkan tanda sembarangan.
2.      Pemberian titik dan baris  dilakukan dalam tiga fase :
a.       Pada zaman Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan.
Saat itu, Muawiyah menugaskan Abu Aswad Ad-dualy untuk meletakkan tanda baca (i’rab) pada tiap kalimat dalam bentuk titik untuk menghindari kesalahan membaca.
b.      Pada zaman Abdul Malik bin Marwan (65 H),
khalifah kelima Dinasti Umayyah itu menugaskan salah seorang gubernur pada masa itu, Al Hajjaj bin Yusuf, untuk memberikan titik sebagai pembeda antara satu huruf dengan lainnya.
Misalnya :  huruf baa’  (ب)dengan satu titik di bawah, huruf ta  (ت) dengan dua titik di atas, dan tsa dengan tiga titik di atas. Pada masa itu, Al Hajjaj minta bantuan kepada Nashr bin ‘Ashim dan Hay bin Ya’mar.
c.       Pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah.
Diberikan tanda baris berupa dhamah, fathah, kasrah, dan sukun untuk memperindah dan memudahkan umat Islam dalam membaca Alquran. Pemberian tanda baris ini mengikuti cara pemberian baris yang telah dilakukan oleh Khalil bin Ahmad Al Farahidy, seorang ensiklopedi bahasa Arab terkemuka kala itu. Menurut sebuah riwayat, Khalil bin Ahmad juga yang memberikan tanda hamzah, tasydid, dan isymam.
3.      Pemberian tanda baca tajwid.
        Pada masa Khalifah Al-Makmun, para ulama selanjutnya berijtihad untuk semakin mempermudah orang untuk membaca dan menghafal Alquran, khususnya bagi orang selain Arab, dengan menciptakan tanda-tanda baca tajwid yang berupa isymam, rum, dan mad.
4.      Pemberian tanda pada tulisan al-qur’an
        Membuat tanda lingkaran bulat sebagai pemisah ayat dan mencantumkan nomor ayat, tanda-tanda wakaf (berhenti membaca), ibtida (memulai membaca), menerangkan identitas surah di awal setiap surah yang terdiri atas nama, tempat turun, jumlah ayat, dan jumlah ‘ain. Tajzi’, yaitu tanda pemisah antara satu Juz dan yang lainnya, berupa kata ‘juz’ dan diikuti dengan penomorannya dan tanda untuk menunjukkan isi yang berupa seperempat, seperlima, sepersepuluh, setengah juz, dan juz itu sendiri.
D.   PEMBAGIAN  RASM
                  Melihat dari spesifikasi cara penulisan kalimat-kalimat arab rasm a-lqur’an dibagi menjadi tiga macam:
1)      Rasm Qiyasi      (الرسم القياسى)
2)       Rasm A’rudi     (الرسم العروضي)
3)      Rasm Usman       (الرسم العثمان)
Berikut penjelasan dari masing-masing ungkapan diatas:
1.      Rasm Qiasi / Imla’i
                           Rasmul Imla’i adalah penulisan menurut kelaziman pengucapan / pertuturan.
                                 Ada pendapat yang mengatakan  bahwa Al-Qur’an dengan rasm imla’I  dapat dibenarkan, tetapi khusus bagi orang awam. Bagi para ulama atau yang memahami rasm Utsmani  tetap wajib mempertahankan keaslian rasm Utsmani.
                           Pendapat diatas diperkuat oleh  Al-Zarqani  dengan mengatakan bahwa rasm Imla’I diperlukan untuk menghindarkan ummat dari kesalahan membaca Al-Qur’an, sedangkan rasm Utsmani di perlukan untuk memelihara keaslian mushaf Al-Qur’an. Tampaknya, pendapat ini lebih moderat dan lebih sesuai dengan kondisi ummat, disatu pihak mereka ingin melestarikan rasm Utsmani, sementara dipihak lain mereka menghendaki dilakukannya penulisan Al-Qur’an denganrasm Imla’I untuk memberikan kemudahan bagi kaum muslimin yang kemungkinan mendapat kesulitan membaca  Al-Qur’an dengan rasm Utsmani.
                           Namun demikian, kesepakatan para penulis Al-Qur’an dengan rasm Utsmani harus diindahkan dalam pengertian menjadikannya sebagai rujukan yang keberadaannya tidak boleh hilang dari masyarakat Islam. Sementara jumlah ummat Islam dewasa ini cukup besar yang tidak menguasai rasm Utsmani. Bahkan, tidak sedikit jumlah ummat Islam untuk mampu membaca aksara arab. Mereka membutuhkan tulisan lain untuk membantu mereka agar dapat membaca ayat-ayat Al-Qur’an, seperti tulisan latin. Namun demikian Rasm Utsmani harus dipelihara sebagai  standar rujukan ketika dibutuhkan.
                           Demikian juga tulisan ayat-ayat Al-Qur’an dalam karya ilmiah, rasm Utsmani mutlak diharuskan karena statusnya sudah masuk dalam kategori rujukan dan penulisannya tidak mempunyai alasan untuk mengabaikannya. Dari sini kita dapat memahami bahwa menjaga keotentikan Al-Qur’an tetap merujuk kepada penulisan mushaf Utsmani. Akan tetapi segi pemahaman membaca Al-Qur’an bisa mengunakan penulisan yang lain berdasarkan tulisan yang dalam proses penulisan Al-Qur’an mulai dari Zaman Rasulullah, zaman khalifah Abu Bakar sampai khalifah Utsman Bin Affan yang penulisnya tidak pernah lepas dari Zaid Bin Tsabit yang merupakan sekretaris Rasulullah SAW. Secara historis ini membuktikan bahwa Allah SWT tetap menjaga dan memelihara keotentikan Al-Qur’an.
2.       Rasm ‘Arudi 
                           Rasm ‘Arudi  ialah cara menuliskan kalimat-kalimat arab disesuaikan dengan wazan sya’ir-sya’ir arab. Hal itu dilakukan untuk mengetahui “bahr” (nama macam sya’ir).  Dari sya’ir tersebut contohnya seperti :
 وليل كموج البحر ار خي سدو له   sepotong sya’ir Imri’il qais tersebut jika ditulis akan berbentuk:
 وليلن كموج البح ر ار خي سدو لهو  sesuai dengan فعو لن مفا عيلن فعولن مفا عيلن sebagai timbangan  sya’ir yang mempunyai “ bahar tawil.”
3.      Rasm Utsmani
                           Rasmul Utsmani adalah pola penulisan Al-Qur’an pada masa Utsman dan disetujui oleh Utsman.
                           Rasm utsmani menjadi salah satu cabang ilmu pengetahuan yang bernama Ilmu Rasm Utsmani. Ilmu ini didefinisikan sebagai ilmu untuk mengetahui segi-segi perbedaan antara Rasm utsmani dan untuk mengetahui segi perbedaan antara rasm utsmani dan kaidah-kaidah rasm istilahi (rasm yang biasa selalu memperhatikan kecocokan antara tulisan dan ucapan) sebagai berikut contoh antara rasm utsmani dengan rasm istilahi.
ü    Dalam rasm utsmani lafaz (لايستوون) ditulis (لايستون)
¨      Lafaz (الصلاة) ditulis (الصلوة)
¨      Lafaz (الزكاة) ditulis (الزكوة)
¨      Lafaz (الحياة) ditulis (الحيوة)
Ø  Hukum Mengikuti Rasm Utsmani
                           Dalam kitab Al-Muhith Al-Burhaniy, kitab fiqh Al-Hanafiyyah terdapat pernyataan :
إنه ينبغى أن لا يكتب المصحف بغير الرسم العثمانى .
“ sesungguhnya tidak diperkenankan menulis mushaf , kecuali dengan rasm utsmani.”
                           Tulisan al-qur’an bukan tauqifi (tergantung pada petunjuk nabi atau allah) . tulisan yang sudah ditetapkan dan disepakati pada masa itu boleh saja tidak diikuti . Ulama  yang menguatkan pendapat ini ibnu Khaldun dalam muqaddimahnya dan al-qadhi abu bakar dala kitabnya al-intishar. Menurut beliau tidak ditemukan nash maupun mafhum (yang dipahami dari ) nash yang menunjukkan kepada kemestian menulis al-Qur’an dengan satu macam tulisan. Demikian juga Tidak pernah ditemukan riyawat Nabi mengenai ketentuan pola penulisan wahyu. Bahkan sebuah riwayat dikutip oleh Rajab Farjani : “Sesungguhnya Rasulullah saw, memerintahkan menulis Al-Qur’an, tetapi tidak memberikan petunjuk teknis penulisannya, dan tidak pula melarang menulisnya dengan pola-pola tertentu. Sunnah Nabi menunjukkan kepada kebilehan menulis Al-Qur’an dengan cara yang mudah
Ø  Perbaikan Rasmul Utsmani
                           Mushaf Utsmani tidak memakai tanda baca titik dan syakal, karena semata-mata didasarkan pada watak pembawaan orang-orang Arab yang masih murni, sehingga mereka tidak memerlukan syakal dengan harakat dan pemberian titik.
                           Ketika bahasa arab mulai mengalami kerusakan karena banyaknya percampuran (dengan bahasa non arab), maka para penguasa merasa pentingnya ada perbaikan Mushaf syakal, titik dan lain-lain yang dapat membantu pembacaan yang benar. Banyak ulama yang berpendapat bahwa orang pertama yang melakukan hal itu adalah Abu Aswad ad-Du’ali, peletak pertama dasar-dasar kaidah bahasa arab, atas permintaan Ali bin Abi Talib.
                           Perbaikan rasm Mushaf itu berjalan secara bertahap. Pada awalnya syakal berupa titik: fathah berupa satu titik diatas awal huruf, tanda kasrah berupa satu titik dibawah awal huruf, tanda dhammah berupa satu titik diatas akhir huruf, dan tanda sukun berupa dua titik. Kemudian terjadi perubahan penentuan harakat yang berasal dari huruf, dan itulah yang dilakukan oleh al-Khalil. Perubahan itu ialah fathah adalah dengan tanda sempang diatas huruf, kasrah berupa tanda sempang dibawah huruf, dhammah dengan wawu kecil diatas huruf dan tanwin dengan tambahan tanda serupa. Perhatian untuk menyempurnakan rasm Mushaf, kini telah mencapai puncaknya dalam bentuk tulisan Arab (al-khattul ‘arabiy).
Ø  Manfaat Ilmu Rasm Utsmani
1)       Mengetahui persambungan sanad mengenai al-qur’an.
2)       Mengetahui penunjukan asal harakat, seperti penulisan kasroh pada huruf yaa’, dhommah pada wawu.
3)       Mengetahui penunjuk sebagian bahasa fashih .
Seperti : pembuangan akhir huruf fi’il mudhori’ mu’tal ghairu jazzim.
4)      Mengetahui penunjukkan pengertian yang tersembunyi.
Ø  Dengan demikian rasm Al-qur’an yang telah dipergunakan pada masa khalifah Utsman mempunyai beberapa nilai diantaranya :
¨       Rasm utsmani memberikan kontribusi yang sangat besar karena rasm utsmani merupakan sejarah dan kebudayaan arab masa lalu
¨       Dengan adanya rasm utsmani maka erat sekali persamaan kita saat ini dengan para sahabat yang hidup pada kurun abad pertama hijriyah
¨       Salah satu syarat bacaan yang diterima qiraat qur’an dari berbagai versi bacaan adalah jika sesuai dengan rasm utsmani
¨       Terjaganya kemurnian Alqur’an
E.   KAIDAH RASM AL-QUR’AN
            Para Ulama meringkas kaidah-kaidah itu menjadi 6 istilah, yaitu:
a)      Al-Hadzf  (membuang, menghilangkan, atau meniadakan huruf).
      Contohnya :
·           menghilangkan  huruf  alif  pada  yaa` nida`,seperti ياَ يّها   النّاس menurut kaidah imlak  (يااْيها الناس)
·           membuang huruf yaa’ , huruf yaa’ dibuang dari manqushah munawwan , baik berharakat rafa’ maupun jarr, seperti  باغ   aslnya با غِى
·           membuang huruf wawu , dibuang apabila bergandengan dengan wawu yang lain. Seperti لاَ يَسْتَوْنَ asalnya  لا يَسْتَوُوْنَ
·           membuang huruf lam , dihilangkan apabila dalam keadaan idhghom . seperti  الَّيْلُ  dan الّذى  asal keduanya  اللَّيْلُ   dan  اللَّذى
b)      Al-Ziyadah  ( penambahan),
      Contoh  :
·         menambahkan huruf alif setelah  wawu pada akhir isim jama’
                                 seperti ungkapan  اُولُوا الاَلباب dan   مُلا قُوارَبِّهم
·           menambah  alif setelah  hamzah  marsumah  wawu (hamzah yang terletak di atas tulisan wawu) (ؤ ).
seperti :     تَا الله تَفْتَؤُا   asalnya تَا الله تَفتَأُ
·           Penambahan huruf “yaa’ pada kata-kata  مِنْ تِلْقَائِ نَفْسِى    dan    حِجَابٍمن ورائ
·           Penambahan huruf “wawu”, pada kata-kata tertentu   اولات  اولاء , الئك  , اولوا dan ساوريكم.
c)      Al-Hamzah,
Apabila hamzah berharakat sukun, ditulis dengan huruf berharakat yang sebelumnya. Seperti : ائْذنْ kecuali pada beberapa keadaan.
·      Al-Hamzah al-Sakinah yang aslinya ditulis di atas huruf yang sesuai dengan harakat sebelumnya, baik di awal, tengah, maupun akhir, seperti  هيء ,(جئنك),(اقرأ)    kecuali dalam kata-kata tertentu, seperti (فادارءثم) dan (ورءيا)   maka kedua kata tersebut hurufnya dihilangkan dan hamzah ditulis menyendiri.
·      Al-Hamzah al-Mutaharrikah apabila berada di awal kata atau digabungkan dengan huruf tambahan, hamzah tersebut ditulis  dengan alif secara pasti (mutlak, baik dalam keadaan fatah, dammah maupun kasrah, seperti kata (اولوا).(اذا),(أيوب),(فيأئ),(سأصرف)kecuali di tempat-tempat tertentu seperti قل أئنكم لثكفرون  di dalam surah fushilat.
d)     Badal (penggantian),
      Contoh :
·      Alif di tulis dengan wawu sebagai penghormatan pada kata :  الصّلوةَ , الزّكوةّ
·      Alif di tulis dengan yaa’ pada kata :   أنّى , على , إلى   yang berarti كيف , متى , بلى, لدى
·      Alif di gantindengan huruf nun taukid khafifah pada kata إذًا  pada ungkapan (وكأين من نبي), maka ditulis dengan nun’.
·      Ha’ at-Ta’nis ( ة ) ditulis dengan huruf ta (ث) .seperti kata رحمة    menjadi  رحمت .
e)      Washal (penyambungan) dan Fashl (pemisahan)
Washl : metode penyambungan kata yang mengakibatkan hilang atau dibuangnya huruf tertentu.
Contoh :
·         (من ) min bersambng dengan maa ( ما )  penulisannya di sambung dan huruf nun pada mim tidak ditulis.
Seperti :   ممّاَ   kecuali pada من ما ملكت أيْما نكم
·         ( إِنْ )  in disusul dengan maa ( ما )  ditulis bersambung dengan meniadakan nun sehingga imma  ( إمَّا ) , kecuali pada  تو عدُون  إنْ مَا
·         ( مِن ) min disusul   dengan man (   مَنْ )  ditulis bersambung dengan menghilangkan huruf nun sehingga menjadi  mimman  ( ممَّنْ )  bukan   مِنْ مَنْ
f)       Kata yang dapat dibaca dua bunyi
         Suatu kata yang boleh dibaca dengan dua cara tapi penulisannya disesuaikan dengan salah satu bunyinya. Tetapi yang kita maksudkan bukan bacaan yang janggal (syaddzah).
         Di dalam mushaf `Utsmani, penulisan kata semacam itu di tulis dengan menghilangkan alif, misalnya “maliki yaumiddin” . Ayat di atas boleh di baca dengan menetapkan alif (yakni di baca dua alif), boleh juga hanya menurut bunyi harakat (yakni dibaca satu alif).
                     Kebanyakan mashaf ditulis mengikut kaedah-kaedah ini. Oleh itu, penulisan mushaf Utsmani ini diakui penulisan yang bersifat tauqifi (penetapan, penentuan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam), maka penggunaan tulisan Imlai atau Qiasi tidaklah diharuskan.
F.    KESIMPULAN
1)      Dengan adanya tanda-tanda tersebut, kini umat Islam di seluruh dunia, apa pun ras dan warna kulit serta bahasa yang dianutnya, mereka mudah membaca Alquran. Ini semua berkat peran tokoh-tokoh di atas dalam membawa umat menjadi lebih baik, terutama dalam membaca Alquran.dia/sya/berbagai sumber
2)       Dengan berpedoman kepada keduanya penulisan Mushhaf Alquran yang dihasilkan akan lebih ilmiah, dan lebih dapat  dipertanggungjawabkan kebenarannya di negeri mana pun dan sampai kapan pun. Wallahu a’lam.
3)      Rasm Al-qur’an adalah tata cara penulisan Al-qur’an, yang biasa disebut juga dengan rasm Utsmani . Status hokum Rasm Al-qur’an masih diperselisihkan dalam tiga hal: apakah tauqifi, bukan tauqifi atau ishtilahi.
Rasm Utsmani memiliki fungsi yang sangat besar dalam menyatukan umat Islam.
Pada awalnya rasm Utsmani tidak memiliki tanda baca tapi kemudian di tambahi dan disempurnakan
.  DAFTAR PUSTAKA

ü   As-Shalih, Subhi. 1988. Mabahis Fi Ulum Al-Quran. Beirut: Darul Ilmi.
ü  Al-Qattan, Manna Khalil. 2001. Studi Ilmu Ilmu Al-Qur’an. Tarj. Mudzakkir AS. Bandung: Pustaka Litera AntarNusa.hal.215.
ü  Disalin dari kitab Ushuulun Fie At-Tafsir edisi Indonesia Belajar Mudah Ilmu Tafsir oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Penerbit Pustaka As-Sunnah, Penerjemah Farid Qurusy

69 % Remaja SMP dan SMA Lakukan Seks Bebas

Kemarin di acara Reportase Investigasi -nya Trans Teve ada acara tentang remaja2 SMP/SMA yang suka melakukan sex bebas.

Dan cukup mengejutkan bahwa dikatakan ada 69 % remaja2 gaul itu melakukan pada tahun 2011 yang lalu. Dari seorang responder yang ditanyai, Trans memperoleh jawaban, jika hal itu sudah biasa dilakukan oleh para pelajar SMP/SMA.

Dimana dilakukannya ? , mereka menyewa rumah kos2-an secara bersamaan, ada 9 orang, dan digunakan secara bergantian.

Kapan waktu melakukan ? , —-> kapan saja, kalau lagi pengin.
Cabut dari sekolah, terus ke Mall , ganti baju dan terus langsung kerumah kos2-an.
Kadang juga sewa penginapan murah bersama beberapa orang dan bisa dipakai sampai 6 jam.
Ada beberapa penginapan murah yang sengaja pasang tarip pelajar untuk maksud seperti itu. Penginapan kecil yang kurang laku sering buka praktek seperti itu.
Jika salah satu rumah pribadi mereka kosong, karena ortu bekerja , mereka juga bisa main disitu.

Darimana “ pengetahuan “ itu mereka dapat ?
Dari internet, hape juga cerita antar teman gampang didapat.

Tidak takut hamil ?
Pernah, 2 tahun yang lalu tapi digugurkan , banyak tempat2 untuk menggugurkan seperti itu, dan dia tidak merasa kapok, malah makin pinter untuk menjaga jangan sampai hamil.

Pengawasan ortu dan pendidikan agama ?
Orangtua kurang pengawasan karena sibuk bekerja dan pengawasan tempat2 kos2-an .penginapan./ rumah ,juga tidak ada atau longgar banget.
Pendidikan agama , ngaji datangkan guru agama, tetapi tidak pernah membahas tentang sex.
Orangtua juga tidak pernah bicara perkara pendidikan sex.
Alat kontrasepsi juga dijual bebas 24 jam, dengan harga hanya semangkuk bakso.

Bernafas sejenak, …. anda kaget , atau biasa2 saja , mungkin terus bebakaran jenggot, meskipun anda tidak punya jenggot ?
Pasti pusing tujuh keliling melihat angka yang fantastis itu , dan saya yakin angka itu cuma puncak dari suatu gunung es yang jauh lebih besar
Jadi setiap sepuluh pelajar, hanya tiga yang masih belum mengenalnya,…wah.
Dan perilaku itu sudah mengintipnya dimuka rumahnya, karena pelajar seumur itu pasti gaul banget satu dengan yang lain.

Solusi ? , ..menghadapi “ lingkaran Setan “ semacam itu, setiap orang pasti berdebar dan tidak bisa apa-apa lagi.
Rasanya belum ketemu formula ampuh untuk menghentikan trend yang sedang marak ini.

Internet bersih ? , Ada seribu satu jalan ke Roma  menuju ke Bokep , BF atau porno2-an yang lain.
Dan anak-anak muda ini , mereka layak seperti laron2/kelekatu muda dan gesit yang sedang keluar dari sarangnya dan mencari lampu benderang disana.
Tanpa mengerti bahaya yang siap menyergapnya diperjalanan mereka mencari cahaya yang memukau itu.

Atau kita cuma boleh menghibur diri , … untung belum 100 % , begitu sajakah ?
Sebagai anak bangsa ini , kita wajib mencarikan jalan keluar yang baik buat generasi muda kita yang masih potensial ini.

Bashirah, Ilham dan Ilmu Laduni

Oleh:
Faikatul Alfiah (06410095)
Ana Khoirurah (06410096)
Aprilina Hartanti (06410097)
Qurotul A’yuni (06410098)

BASHIRAH

Hati, secara arti bahasa ada beberapa pengertian, namun yangdimaksudkan disini adalah sesuatu yang ada didalam tubuh manusia yangdianggap sebagai tempat segala perasaan batin dan tempat menyimpan pengertian – pengertian (perasaan , dan sebagainya )Hati yang dimaksudkan ini, adalah mempunyai pengaruh kepada kesehatanjiwa (qalb al Nafs )Al Qur’an juga menyebutkan hati manusia ini dengan istilah Fu’ad,jamak katanya : Af’idah ( QS 14: 43), juga membahasakan untuk suasanahati ini dengan kata Shadr, jamak katanya : Shudur ( QS 94:1 )Selain itu, juga acap kali mendengar kata Bashiroh, hal ini jika dihubungkan dengan 4 arti, yaitu Ketajaman Hati, Kecerdasan,Kemantapan dalam Agama, dan Keyakinan hati.Kata ini (Bashiroh) walaupun mengandung arti penglihatan, dalam literature Arab jarang digunakan untuk indera penglihatan saja, namunbiasanya selalu dikaitkan dengan pandangan Hati.Fungsi utama hati, adalah sebagai alat untuk memahami realitas dan nilai-nilai , hal ini digambarkan Al Qur’an QS 22: 46 sebagai berikut ” maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. ” Berangkat dari fungsinya ini, maka hati manusia itulah yang nanti harus dipertanggungjawabkan oleh manusia kepada Alloh SWT, sebagaimana firmanNYA QS 17:36 artinya :
” Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”
Dari sinilah titik pangkalnya, karena nantinya manusia itu akan dimintai pertanggung jawaban oleh Alloh SWT, maka kita harus berusaha selalu agar ARAH HATI kita tidak melenceng dari yang diperintahkan oleh Alloh pada diri kita, manusia ini, yaitu untuk selalu beribadah pada ALLOH SWT, sebagaimana firmanNYA, QS Adz Dzaariyat ayat 56 :
” Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka berIbadah pada-Ku “.
Juga, ketika awal diciptakan, persaksian akan Alloh, sebagai titik pangkal keimanan, sebagaimana firmanNYA QS As Sajdah ayat 9 :
” Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya roh (ciptaan) -Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.”
Beserta ruh ini, Alloh menyisipkan sang Jiwa (Nafs) yang telah diminta persaksiaNnya terlebih dahulu dihadapan Alloh SWT, sesuai firmanNYA, QS Al A’roof ayat 172 :
” Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,
Persaksian awal inilah yang mengindikasikan bahwa kita harus terus menerus menjaganya agar tidak melenceng iman kita, ARAH HATI kita, yaitu bahwa hanya alloh SWT ini Tuhan kita.
Sholat, secara harafiyyah berarti DO’A, dalam sholat ini memang berisi do’a-do’a kita kepada Alloh SWT. Dalam do’a , kita panjatkan keinginan kita pada Alloh, jadi, bagaimana akan dikabulkan do’a jika arah hati kita tidak PRESISI pada Sang Pencipta, Alloh SWT ?Itulah kenapa ada yang berpedoman, presisinya arah hati ini diutamakan, namun tidak bisa dipisahkan dengan arah kiblat secara dhahir, Masjidil Harom.
Bolehkah dikupas tentang Masjidil Harom ini ? Apa iya hanya dhahir saja ? FirmanNya pada QS Al Isro’ ayat 1 :
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Dari sini Alloh mengkabarkan bahwa Nabi Muhammad SAW, sang manusia teladan, diperjalankan mulai dari Masjidil Harom, lalu ke Masjidil Aqsho, kemudian naik ke Sidrotil Muntaha, lalu turun lagi ke Masjidil Aqsho, dan kembali ke Masjidil Harom.
Kesimpulannya, Masjidil Harom itu adalah Awal dan Akhir perjalanan manusia, contohnya manusia yang terbaik adalah, Kanjeng Nabi Muhammad SAW.
Firman Alloh QS Tho – Ha ,ayat 55 :
” Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain.”
Dari ayat ini, Alloh berfirman, bahwa manusia itu diciptakan berasal dari bumi, kalau sudah selesai nanti didunia, akan kembali lagi ke bumi (tanah).
Lalu kita telaah Hadits berikut ini :
“Bersabda Rosululloh SAW : Semua bumi itu adalah MASJID, kecuali kuburan dan WC ”
Masjid mengandung pengertian tempat sujud, semua makhluk, tempat sujudnya di bumi.
Dalam firmanNYA QS 2 : ayat 11, disebutkan :
“Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan dimuka bumi, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.”
Dari ayat tersebut, Allah melarang kita untuk membuat kerusakan di bumi, karena Bumi itu Masjid, karena kita itu dilarang / harom untuk merusak masjid, kalau digandeng bunyinya masjidil harom Secara dhahir, Masjidil Harom ini ada di kota Makkah, maka Arah Kiblat oleh Alloh disyariatkan ke sana, jika dimaknai yang luas, tidak hanya harafiyyah, maka mengandung pengertian Arah Kiblat Hati kepada Alloh agar kita taat dan beribadah selalu kepada Alloh, tidak membuat kerusakan di bumi, dengan mencontoh manusia teladan , Nabi Muhammad SAW. Hal ini, merupakan atsar dari sholat kita, yaitu Sholat itu mencegah perbuatan keji dan munkar.
Hal ini akan dapat tercapai jika arah hati kita PRESISI ketika berdoa secara umum maupun sholat ( berdo’a secara khusus/syariat), yaitu selalu tertuju dan ingat kepada alloh swt.

ILHAM

Ilham, sebagai bawaan dasar manusia, seperti wahyu terhadap ibu Nabi Musa, “Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa, ‘Susuilah dia …’.” (Al-Qashash: 7).

Ilham berupa naluri pada binatang, seperti wahyu kepada lebah, “Dan Tuhanmu telah mewahyukan kepada lebah, ‘Buatlah sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di rumah-rumah yang didirikan manusia’.” (An-Nahl: 68).

Isyarat yang cepat melalui rumus dan kode, seperti isyarat Zakaria yang diceritakan Alquran, “Maka keluarlah dia dari mihrab, lalu memberi isyarat kepada mereka, ‘Hendaknya kamu bertasbih di waktu pagi dan petang’.” (Maryam: 11).

Bisikan dan tipu daya setan untuk menjadikan yang buruk kelihatan indah dalam diri manusia. “Sesungguhnya setan-setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu.” (Al-An’am: 121). “Dan demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan dari jenis manusia dan dari jenis jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu mereka.” (Al-An’am: 112).

Apa yang disampaikan Allah kepada para malaikatnya berupa suatu perintah untuk dikerjakan. “Ingatlah ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah pendirian orang-orang yang beriman’.” (Al-Anfal: 12).

Sedang wahyu Allah kepada para nabi-Nya secara syar’i mereka definisikan sebagai kalam Allah yang diturunkan kepada seorang nabi. Definisi ini menggunakan pengertian maf’ul, yaitu almuha (yang diwahyukan). Ustad Muhammad Abduh mendefinisikan wahyu di dalam Risalatut Tauhid adalah pengetahuan yang didapat oleh seseorang dari dalam dirinya dengan disertai keyakinan bahwa pengetahuan itu datang dari Allah, melalui perantara ataupun tidak. Yang pertama melalui suara yang menjelma dalam telinganya atau tanpa suara sama sekali. Beda antara wahyu dengan ilham adalah bahwa ilham itu intuisi yang diyakini jiwa sehingga terdorong untuk mengikuti apa yang diminta, tanpa mengetahui dari mana datangnya. Hal seperti itu serupa dengan perasaan lapar, haus, sedih, dan senang.

Definisi di atas adalah definisi wahyu dengan pengertian masdar. Bagian awal definisi ini mengesankan adanya kemiripan antara wahyu dengan suara hati atau kasyaf, tetapi pembedaannya dengan ilham di akhir definisi meniadakan hal ini.

Bisikan yang berasal dari Tuhan tidak di bedakan dengan bisikan yang berasal dari malikat, sebab malaikat hanyalah pesuruh Allah. Ibnu Qayyim al-Jauziyah menentukan dua tingkatan dalam kategori ini; Pertama, diterima melalui wahyu yang pasti dan diterima melalui pendengaran (sima’), yang berhubungan dengan berita ghaib yang besar. Wahyu di nilai sebagai pengetahuan tertinggi dari Allah SWT, karena hanya bisa diterima oleh seseorang yang jiwanya sempurna yang terbebas dari segala kemaksiatan dan dosa seperti para Nabi dan Rosul. Kedua, yaitu bisikan yang datangnya dari Allah melalui malaikat, yang memiliki tiga cirri:
1) Apabila ilham itu datang maka penerimanya tembus pandang atau tembus dengar dan tidak ada penghalang baginya
2) Tidak melangar ketentuan
3) Senantiasa bisikannya tidak akan salah
Bisikan yang berupa ilham akan menghasilkan ilmu ladunni, yaitu ilmu yang di berikan pada hamba-hamba Allah SWT. Yang jiwanya suci dan memiliki kemampuan untuk menerimanya. Firman Allah SWT dalam QS. Al-Kahfi ayat 65:

“yang telah kami berikan kepadanya rahmat dari sisi kami, dan yang telah kami ajarkan kpadanya ilmu dari sisi kami”
Ayat tersebut bahwa perolehan ilmu ladunni dapat dicapai melalui pemberian rahmat yang bersifat ilahiyah (al-rahmah al-ilabiyah). Artinya, ilmu tidak hanya dapat dicapai melalui proses belajar-mengajar, tetapi juga terkadang tiba-tiba dimiliki oleh manusia setelah mendapatkan Rahmat dari Allah SWT. Ibnu Atyah dalam tafsir Qurtubi berpendapat bahwa ilmu ladunni seperti yang disyaratkan dalam ayat tersebut mengandung makna ilmu ghaib atau pengetahuan bathin.
Ibnu Qayyim al-Jauziyah selanjutnya mengkritisi term min ladunni (dari sisiKu). Term tersebut bersifat umum. Artinya oleh jadi ilmu yang diterima berasal dari rahmat Allah, yang disebut dengan al-‘ilm al-ladunni al-rahmani, dan bisa jadi berasal dari setan yang disebut dengan al-‘ilm al-ladunni al-syaithani. Jenis ilmu ladunni yang pertama merupakan buah cinta dan ikhlas kepada Allah setelah melaksanakan amalan wajib dan sunnat, sedang jenis ilmu ladunni yang kedua merupakan buah hawa nafsu dan setan untuk menentang pada waktunya.

Pengetahuan intuitif yang didapat oleh psikolog sufistik banyak ragam dan tingkatannya. Setidak-tidaknya ada dua model pengetahuan intuitif yang telah mengalami puncaknya, yaitu al-ma’rifah yang didapat oleh al-Ghazali dan al-isyraqiyah yang didapat oleh suhrawardi. Dua model pengetahuan intuitif ini sama-sama berasal dari Tuhan, hanya saja al-ma’rifah menggunakan daya al-qalb atau al-dawq tanpa mengikutsertakan peran ‘al-aqal, sementara al-isyraqiyah menggunakan pendekatan eklektis yang menggabungkan antara keduanya tersebut.

ILMU LADUNI

Hakikat Ilmu Laduni
Kaum sufi telah memproklamirkan keistimewaan ilmu laduni. Ia merupakan ilmu yang paling agung dan puncak dari segala ilmu. Dengan mujahadah, pembersihan dan pensucian hati akan terpancar nur dari hatinya, sehingga tersibaklah seluruh rahasia-rahasia alam ghaib bahkan bisa berkomunikasi langsung dengan Allah, para Rasul dan ruh-ruh yang lainnya, termasuk nabi Khidhir. Tidaklah bisa diraih ilmu ini kecuali setelah mencapai tingkatan ma’rifat melalui latihan-latihan, amalan-amalan, ataupun dzikir-dzikir tertentu.

Ini bukan suatu wacana atau tuduhan semata, tapi terucap dari lisan tokoh-tokoh tenar kaum sufi, seperti Al Junaidi, Abu Yazid Al Busthami, Ibnu Arabi, Al Ghazali, dan masih banyak lagi yang lainnya yang terdapat dalam karya-karya tulis mereka sendiri.
1. Al Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin 1/11-12 berkata: “Ilmu kasyaf adalah tersingkapnya tirai penutup, sehingga kebenaran dalam setiap perkara dapat terlihat jelas seperti menyaksikan langsung dengan mata kepala … inilah ilmu-ilmu yang tidak tertulis dalam kitab-kitab dan tidak dibahas … “. Dia juga berkata: “Awal dari tarekat, dimulai dengan mukasyafah dan musyahadah, sampai dalam keadaan terjaga (sadar) bisa menyaksikan atau berhadapan langsung dengan malaikat-malaikat dan juga ruh-ruh para Nabi dan mendengar langsung suara-suara mereka bahkan mereka dapat langsung mengambil ilmu-ilmu dari mereka”. (Jamharatul Auliya’: 155)
2. Abu Yazid Al Busthami berkata: “Kalian mengambil ilmu dari orang-orang yang mati. Sedang kami mengambil ilmu dari Allah yang Maha Hidup dan tidak akan mati. Orang seperti kami berkata: “Hatiku telah menceritakan kepadaku dari Rabbku”. (Al Mizan: 1/28)
3. Ibnu Arabi berkata: “Ulama syariat mengambil ilmu mereka dari generasi terdahulu sampai hari kimat. Semakin hari ilmu mereka semakin jauh dari nasab. Para wali mengambil ilmu mereka langsung dari Allah yang dihujamkan ke dalam dada-dada mereka.” (Rasa’il Ibnu Arabi hal. 4)
Dedengkot wihdatul wujud ini juga berkata: “Sesungguhnya seseorang tidak akan sempurna kedudukan ilmunya sampai ilmunya berasal dari Allah ‘Azza wa Jalla secara langsung tanpa melalui perantara, baik dari penukilan ataupun dari gurunya. Sekiranya ilmu tadi diambil melalui penukilan atau seorang guru, maka tidaklah kosong dari sistim belajar model tersebut dari penambahan-penambahan. Ini merupakan aib bagi Allah ‘Azza wa Jalla – sampai dia berkata – maka tidak ada ilmu melainkan dari ilmu kasyaf dan ilmu syuhud bukan dari hasil pembahasan, pemikiran, dugaan ataupun taksiran belaka”.
Ilmu Laduni Dan Dampak Negatifnya Terhadap Umat
Kaum sufi dengan ilmu laduninya memiliki peran sangat besar dalam merusak agama Islam yang mulia ini. Dengannya bermunculan akidah-akidah kufur –seperti diatas – dan juga amalan-amalan bid’ah. Selain dari itu, mereka secara langsung ataupun tidak langsung terlibat dalam kasus pembodohan umat. Karena menuntut ilmu syar’i merupakan pantangan besar bagi kaum sufi. Berkata Al Junaidi: “Saya anjurkan kepada kaum sufi supaya tidak membaca dan tidak menulis, karena dengan begitu ia bisa lebih memusatkan hatinya. (Quutul Qulub 3/135)

Abu Sulaiman Ad Daraani berkata: “Jika seseorang menuntut ilmu hadits atau bersafar mencari nafkah atau menikah berarti ia telah condong kepada dunia”. (Al Futuhaat Al Makiyah 1/37)

Berkata Ibnul Jauzi: “Seorang guru sufi ketika melihat muridnya memegang pena. Ia berkata: “Engkau telah merusak kehormatanmu.” (Tablis Iblis hal. 370)
Oleh karena itu Al Imam Asy Syafi’i berkata: “Ajaran tasawuf itu dibangun atas dasar rasa malas.” (Tablis Iblis:309)

Tak sekedar melakukan tindakan pembodahan umat, merekapun telah jatuh dalam pengkebirian umat. Dengan membagi umat manusia menjadi tiga kasta yaitu: syariat, hakekat, dan ma’rifat, seperti Sidarta Budha Gautama membagi manusia menjadi empat kasta. Sehingga seseorang yang masih pada tingkatan syari’at tidak boleh baginya menilai atau mengkritik seseorang yang telah mencapai tingkatan ma’rifat atau hakekat.

Syubhat-Syubhat Kaum Sufi Dan Bantahannya
1. Kata laduni mereka petik dari ayat Allah yang berbunyi:
وَعَلَمَّنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا
“Dan kami telah ajarkan kepadanya (Nabi khidhir) dari sisi Kami suatu ilmu”. (Al Kahfi: 65)
Mereka memahami dari ayat ini adanya ilmu laduni sebagaimana yang Allah anugerahkan ilmu tersebut kepada Nabi Khidhir. Lebih anehnya mereka meyakini pula bahwa Nabi Khidhir hidup sampai sekarang dan membuka majlis-majlis ta’lim bagi orang-orang khusus (ma’rifat).

Telah menjadi ijma’ (kesepakatan) seluruh kaum muslimin, wajibnya beriman kepada nabi-nabi Allah tanpa membedakan satu dengan yang lainnya dan mereka diutus khusus kepada kaumnya masing-masing. Nabi Khidhir diutus untuk kaumnya dan syari’at Nabi Khidhir bukanlah syari’at bagi umat Muhammad. Rasulullah bersabda:
كَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً
“Nabi yang terdahulu diutus khusus kepada kaumnya sendiri dan aku diutus kepada seluruh umat manusia” (Muttafaqun ‘alaihi)

Allah berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ
“Dan Kami tidak mengutus kamu (Muhammad), melainkan kepada seluruh umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan peringatan”. (As Saba’: 28)
Adapun keyakinan bahwa Nabi Khidhir masih hidup dan terus memberikan ta’lim kepada orang-orang khusus, maka bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Allah berfirman:
وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ
(artinya) “Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad). (Al Anbiya’: 34)
Rasulullah bersabda:
مَا مِنْ مَنْفُوْسَةٍ اليَوْمَ تَأْتِيْ عَلَيْهَا مِائَةُ سَنَةٍ وَهِيَ يَوْمَئِذٍ حَيَّةٌ
“Tidak satu jiwapun hari ini yang akan bertahan hidup setelah seratus tahun kedepan”. (H.R At Tirmidzi dan Ahmad)

Adapun keyakinan kaum sufi bahwa seseorang yang sudah mencapai ilmu kasyaf, akan tersingkap baginya rahasia-rahasia alam ghaib. Dengan cahaya hatinya, ia bisa berkomunikasi dengan Allah, para Rasul, malaikat, ataupun wali-wali Allah. Pada tingkatan musyahadah, ia dapat berinteraksi langsung tanpa adanya pembatas apapun.
Cukup dengan pengakuannya mengetahui ilmu ghaib, sudah bisa dikatakan ia sebagai seorang pendusta. Rasul Shalallahu ‘alaihi wassalam adalah seorang yang paling mulia dari seluruh makhluk Allah, namun Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam tidaklah mengetahui ilmu ghaib kecuali apa yang telah diwahyukan kepadanya.
قُلْ إِنْ أَدْرِي أَقَرِيبٌ مَا تُوعَدُونَ أَمْ يَجْعَلُ لَهُ رَبِّي أَمَدًا ﴿٢٥﴾ عَالِمُ الْغَيْبِ فَلاَ يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا
“Dia (Allah) yang mengetahui ilmu ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan seseorangpun tentang yang ghaib kecuali dari para rasul yang diridhai-Nya”. (Al Jin: 25-26)

Apalagi mengaku dapat berkomunikasi dengan Allah atau para arwah yang ghaib baik lewat suara hatinya atau berhubungan langsung tanpa adanya pembatas adalah kedustaan yang paling dusta. Akal sehat dan fitrah suci pasti menolaknya sambil berkata: “Tidaklah muncul omongan seperti itu kecuali dari orang stres saja”. Kalau ada yang bertanya, lalu suara dari mana itu? Dan siapa yang diajak bicara? Kita jawab, maha benar Allah dari segala firman-Nya:
هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَى مَنْ تَنَزَّلُ الشَّيَاطِينُ ﴿٢٢١﴾ تَنَزَّلُ عَلَى كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ ﴿٢٢٢﴾ يُلْقُونَ السَّمْعَ وَأَكْثَرُهُمْ كَاذِبُونَ ﴿٢٢۳﴾
“Apakah akan Aku beritakan, kepada siapa syaithan-syaithan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran (kepada syaithan) itu, dan kebanyakan mereka orang-orang pendusta”. (Asy Syu’ara: 221-223)

2. Sebagian kaum sufi berkilah dengan pernyataannya bahwa ilmu laduni (Al Kasyaf) merupakan ilham dari Allah (yang diistilahkan wangsit). Dengan dalih hadits Nabi Muhammad:
إِنَّهُ قَدْ كَانَ قَبْلَكُمْ فِيْ الأَمَمِ مُحَدَّثُوْنَ فَإِنْ يَكَنْ فِيْ أُمَّتِي أَحَدٌ فَعُمَر
“Dahulu ada beberapa orang dari umat-umat sebelum kamu yang diberi ilham. Kalaulah ada satu orang dari umatku yang diberi ilham pastilah orang itu Umar.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Hadits ini sama sekali tidak bisa dijadikan hujjah bagi mereka. Makna dhohir hadits ini, menunjukkan keberadaan ilham itu dibatasi dengan huruf syarat (kalaulah ada). Maksudnya, kalaupun ada pada umat ini, pastilah orang yang mendapatkan ilham adalah Umar Ibnul Khathab. Sehingga beliau digelari al mulham (orang yang mendapatkan ilham). Dan bukan menunjukkan dianjurkannya cari wangsit, seperti petuah tokoh-tokoh tua kaum sufi. Bagaimana mereka bisa memastikan bisikan-bisikan dalam hati itu adalah ilham? Sementara mereka menjauhkan dari majlis-majlis ilmu yang dengan ilmu syar’i inilah sebagai pemisah antara kebenaran dengan kebatilan.

Mereka berkilah lagi: “Ini bukan bisikan-bisikan syaithan, tapi ilmu laduni ini merubah firasat seorang mukmin, bukankah firasat seorang mukmin itu benar? Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam: “Hati-hati terhadap firasat seorang mukmin. Karena dengannya ia melihat cahaya Allah”. (H.R At Tirmidzi)
Hadits ini dho’if (lemah), sehingga tidak boleh diamalkan. Karena ada seorang perawi yang bernama Athiyah Al Aufi. Selain dia seorang perawi yang dho’if, diapun suka melakukan tadlis (penyamaran hadits).

Singkatnya, ilham tidaklah bisa mengganti ilmu naqli (Al Qur’an dan As Sunnah), lebih lagi sekedar firasat. Ditambah dengan adanya keyakinan-keyakinan batil yang ada pada mereka seperti mengaku mengetahui alam ghaib, merupakan bukti kedustaan diatas kedustaan. Berarti, yang ada pada kaum sufi dengan ilmu laduninya, bukanlah suatu ilham melainkan bisikan-bisikan syaithan atau firasat rusak yang bersumber dari hawa nafsu semata. Disana masih banyak syubhat-syubhat mereka, tapi laksana sarang laba-laba, dengan fitrah sucipun bisa meruntuhkan dan membantahnya.

Hadits-Hadits Dho’if Dan Palsu Yang Tersebar Di Kalangan Umat

Hadits Ali bin Abi Thalib:
عِلْمُ الْبَاطِنِ سِرٌّ مِنْ أَسْرَارِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ ، وَحُكْمٌ مِنْ أَحْكَامِ اللهِ ، يَقْذِفُهُ فِيْ قُلُوْبِ مَنْ يَشَاءَ مِنْ عِبَادِهِ
“Ilmu batin merupakan salah satu rahasia Allah ‘Azza wa Jalla, dan salah satu dari hukum-hukum-Nya yang Allah masukkan kedalam hati hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya”.

GANGGUAN SEKSUAL

Fitria Rachmawaty
Yuni Rachmania
Mia Rina Safitri
Minanurrahman
Ahmad Muzaki Basa

PENDAHULUAN

Kesehatan seksual merupakan suatu aspek kesehatan yang berhubungan dengan organ-organ kelamin dan perilaku seksual. Kesehatan seksual yaitu pencegahan penyakit menular seksual dan kehamilan yang tidak di inginkan, kenikmatan seks sebagai bagian dari hubungan intim dan kendali yang lebih besar terhadap keputusan seksual seseorang.
Seks merupakan aspek intim yang penting, dalam hubungan saling mencintai antara satu orang dengan orang lain. Seks merupakan aspek hidup yang pribadi dan tersendiri yang jarang dibahas dengan orang lain.
Perilaku seksual adalah bermacam-macam dan ditentukan oleh suatu interaksi faktor-faktor yang kompleks. Seksualitas seseorang adalah terlibat dengan faktor kepribadian yang lain, dengan susunan biologis dan dengan rasa umum tentang diri sendiri (sense of self). Ini termasuk persepsi sebagi laki-laki atau wanita, yang mencerminkan perkembangan pengalaman dengan seks selama siklus kehidupan.
Seksualitas abnormal yaitu perilaku seksual yang destruktif bagi diri sendiri maupun oranglain, yang tidak dapat diarahkan kepada seseorang pasangan, yang diluar stimulasi organ seks primer, dan yang di sertai dengan rasa bersalah dan kecemasan yang tidak sesuai, atau konfulsif.
Bagi kebanyakan orang, banyak yang tidak peduli tentang apakah perilaku seksual yang normal dan apakah jenis-jenis dan gangguan seksual. Gangguan seksual merupakan masalah dasar bagi pria dan wanita yang mengganggu kemampuan mereka untuk menikmati seks.
Penyimpangan perilaku seksual sering di anggap perbuatan tidak bermoral oleh masyarakat. Ada penderita yang merasa bersalah atau depresi dengan pemilihan objek atau aktivitas seksual nya yang tidak normal. Namun banyak pula yang tidak merasa terganggu dengan penyimpangan tersebut kecuali bila ada reaksi dari masyarakat atau sanksi dari yang bewenang.

PEMBAHASAN

Perilaku seksual adalah bermacam-macam dan ditentukan oleh suatu interaksi faktor-faktor yang kompleks. Seksualitas abnormal yaitu perilaku seksual yang destruktif bagi diri sendiri maupun orang lain, yang tidak dapat di arahkan kepada seseorang pasangan, yang diluar stimulasi organ seks primer, dan yang di sertai dengan rasa bersalah dan kecemasan yang tidak sesuai, atau konfulsif.
Rafelia secara harfiah ‘para’ artinya penyimpangan ‘filia’ artinya objek atau situasi yang disukai. Parafilia adalah dorongan seksual yang mendalam dan berulang yang menimbulkan fantasi seksual yang difokuskan pada objek yang bukan pada manusia saja, penderita atau penghinaan diri sendiri atau partnernya, atau anak-anak atau orang-orang yang tidak mengizinkan. Parafilia dapat di artikan juga yang menunjukkan pada objek seksual yang menyimpang (misalnya dengan benda atau anak kecil) maupun aktivitas ang menyimpang (misalnya dengan memamerkan alat genital).
Penyimpangan ini bisa mengganggu hubungan seksual yang sehat (mengingat banyak penderita parafilia yang menikah. Parafilia di golongkan kriteria tingkat ringan yaitu bila penderita hanya mengalami dorongan parafilia yang kuat tetapi tidak melakukannya. Di anggap sedang bila melakukan kadang- kadang dan di anggap berat bila berulang-ulang dilakukan. Parafilia lebih banyak diderita pria daripada wanita dengan perbandingan 20:1.

Jenis-jenis dan gangguan parafilia :
a. Pedofilia
Adalah kelainan seks dengan melakukan seksual untuk memenuhi hasratnya dengan cara menyetubuhi (pencabulan) anak-anak dibawah umur. Hal ini dilakukan oleh orang dewasa (16 tahun keatas) terhadap anak-anak secara seksual belum matang (biasanya dibawah 13 tahun). Hampir semua yang mengalami gangguan ini adalah pria. Untuk menarik perhatian anak, penderita bertingkah laku baik misalnya sangat dermawan ada juga yang berperilaku kasar dan mengancam.
Umumnya penderita pedopilia adalah orang yang takut gagal dalam berhubungan secara normal terutama menyangkut hubungan seks dengan wanita yang berpengalaman. Akibatnya ia mengalihkan pada anak-anak karena kepolosan anak tidak mengancam harga dirnya. Disamping itu ketika anak-anak, perilaku meniru dari model atau contoh yang buruk. Ada tiga macam penggangu dalam berfantasi :
1. mengganggu situasional (situasional molester) yaitu mempunyai perkembangan dan perhatian seksual yang normal, tetapi keadaan tertentu seperti stress timbul keinginan seksual terhadap anak dan setelah melakukan merasa tertekan.
2. pengganggu yang menjadi pilihan (preference molester) merupakan kepribadian dan gaya hidupnya.
3. pemerkosa anak merupakan perbuatan dari dorongan seksual yang bersifat musuh.

b. Exibionisme
Adalah dorongan untuk mendapatkan stimulasi dan kepuasan seksual atau untuk membangkitkan fantasi-fantasi dengan memperlihatkan alat genital terhadap orang yang tidak dikenal. Gangguan ini tidak berbahaya bagi si korban. Penderita gangguan ini adalah pria dan korbannya adalah wanita (anak-anak maupun dewasa).
Para ahli mengatakan gangguan ini biasanya mengalami gangguan buruk pada pasangan seks nya. Mereka tak percaya diri dalam hal seksual, dan biasanya tidak matang dalam hal nya sebagai seorang pria, penyebabnya pengalaman pada masa perkembangan anak-anak, pada masa anak dia menunjukkan alat kelaminnya dan korban merasa excited ( terkejut, takut, malu dan jijik) maka si penderita merasa itu adalah sebuah pujian dan kejantanan baginya.
Menurut teori psikoanalisa, gangguan ini merupakan cara untuk menolak ketakutan kastrasi yang berasal dari tahap odipal, pada tahap ini penderita mengalami fiksasi.

c. Voyeurisme
Berasal dari bahasa prancis yaitu kata ‘voir’ artinya melihat, yaitu untuk mendapatkan kepuasan dengan cara melihat organ seks orang lain atau orang yang sedang melakukan katifitas seksual, yang tidak menyadari seseorang sedang di intip ( bahasa harian peeping tom ). Pada gangguan ini penderita memiliki keinginan yang sungguh-sungguh dan berulang untuk melihat orang yang tidak menyadari keberadaannya (mengintip). Gangguan ini memiliki dua ciri yaitu:
1. mengintip merupakan kegiatan utama yang disukai
2. korban tidak mengetahui
Menurut psikodinamika modern gangguan ini didorong oleh ketakutan terhadap kemampuan dalam berhubungan dengan wanita dan merupakan usaha untuk mengkonpensasi rasa malu. Adler menginterpretasikan gangguan ini sebagai fungsi rasa malu individu dalam meyelesaikan masalah seksualitasnya. Teori belajar sosial mengatakan bahwa gangguan ini berkembang akibat kurangnya seks individu.
Bagi orang dewasa normal hubungan seks mencakup segala aktivitas yang dapat menyebabkan gairah seks (misalnya melihat organ seks pasangan) sampai aktivitas senggama itu sendiri, sedangkan pada penderita ini hanya memusatkan pada “melihat” sebagai satu-satunya cara untuk memperoleh kepuasan seksual. Umumnya penderita berasal dari keluarga yang puritan (tabu) terhadap seks.

d. Sadomasokis
Istilah sadisme berasal dari marquis de sade seorang penulis pada abad ke delapan belas, ia menggambarkan seorang tokoh yang memperoleh kepuasan seks dengan menyiksa pasangannya secara kejam, sadisme seksual adalah kepuasan seksual didapat dari aktifitas atau dorongan menyakiti pasangan. Siksaan bisa secara fisik (menendang, memperkosa, dan memukul) maupun psikis (menghina, memaki-maki), penderitaan korban inilah yang bisa membuatnya merasa bergairah dan puas.
Orang ini menjadi gembira melihat atau berimajinasi tentang kesakitan oranglain, penyebabnya pada kehidupan, mula-mula hukuman dan disiplin banyak berperan. Psikoanalisa memandang gangguan ini sebagai cara untuk menurunkan kecemasan dalam mencari kepuasan seksual pada masa anak-anak.

e. Masokhisme
Istilah Masokhisme diambil dari nama novelis Leopold Von Sacher Masoch yang seorang tokoh novelnya yang mencapai kepuasan seksual bila diperlakukan secara sadis, gangguan ini meilki ciri mendapatkan kegairahan dan kepuasan seksual yang didapat dari perangsangan dengan cara diperlakukan secara kejam baik secara fisik maupun psikis. Perlakuan kejam bisa dilakukan sendiri atau dilakukan oleh pasangannya. Penyembuhan ini dengan cara terapi individual dan kelompok berdasarkan psrinsip behavior conditioning.

f. Fetisisme
Ciri utama gangguan ini adalah penderita menggunakan benda sebagai cara untuk menimbulkan gairah atau kepuasan seksual, benda yang umum digunakan adalah benda aksesoris milik wanita misalnya pakaian dalam wanita, sepatu, kaus kaki dll. Fetis mengandung tingkahlaku seperti kompulsif. Pengalaman pada kehidupan mula-mula menghasilkan hubungan antara gelora seksual dan objek Fetis.

g. Transvestisme
Gangguan ini hanya terjadi pada laki-laki yang perilakunya seperti wanita, gambaran utamanya adalah penderita mendapatkan gairah atau kepuasan seksual bila ia berpakaian seperti lawan jenisnya, ketika seang berpakaian seperti wanita, penderita melakukan masturbasi lalu sambil membayangkan seoran laki-laki tertarik pada dirinya sebagai seorang wanita. Gangguan ini memilki sifat kompulsif, menggunakan banyak energi emosional.
Permulaan gangguan ini pada masa anak atau adolesensi pada umumnya tidak mencari bantuan, lain seperti depresi perlakuannya adalah metode behavior seperti conditioning aversif, sensitisasi tertutup. Karena close dresing selalu mempunyai tujuan mengurangi kecemasan, maka terapis mendorong klien mendapat insight kedalam stress-stress yang menjadi penyebab tingkahlaku tersebut melalui sikap terapi tradisional.

h. Zofilia
Gangguan ini juga disebut dengan Bestiality, ciri utamanya adalah penderita mendapatkan gairah atau kepuasan seksual dengan cara melakukan kegiatan seksual dengan binatang. Konteks seksual bisa dengan melakukan senggama dengan binatang (lewat anus atau vagina binatang, atau “menyuruh” binatang memanipulasi alat genitalnya).

i. Froterisme
Ciri utama gangguan ini adalah dorongan untuk menyentuh, meremas-ramas dan menggesek-gesekkan organ seks kepada orang tak dikenal, penderita umumnya senang berada ditempat yang penuh sesak dimana ia bisa melarikan diri dengan mudah, bisanya yang menjadi korban adalah wanita yang sangat menarik dengan pakaian yang sangat ketat. Ketika sedang melakukan aksinya penderita berfantasi sedang melakukan hubungan yang menyenangkan dengan si korban. Korban biasanya tidak protes karena ia tidak mengira akan terjadi tindakan seksual seperti itu ditempat umum. Hal ini didapat dari pengalaman lampau yang selalu mendapat penguat. Perlakuannya pamadaman dan condotioning tertutup.

j. Homoseksual
Dalam DSM – III R, Homoseksual yaitu penderita memilih pasangan seksual yang sama jenis dengan dirinya yaitu pria dengan pria dan wanita dengan wanita (lesbian).

DISFUNGSI SEKSUAL (DSM IV)
a. Gangguan keinginan seksual yaitu kurangnya atau tidak adanya keinginan untuk melakukan hubungan seks. Hilangnya gairah seks bisa bersifat global maupun situasional. Yang global, penderita bisa tidak mempunyai gairah sama sekali bahkan dalam bentuk fantasi sekalipun, contohnya wanita trauma pasca korban pemerkosaan. Sedangkan yang situasional yaitu terjadi pada laki-laki berdasarkan situasi psikologisnya aman. Untuk mendiagnosa perlu diperhatikan faktor usia, ketidak puasan seks, lingkungan yang menimbulkan ketidak inginan untuk berhubungan seks dan frekuensi hubungan seks.
b. Gangguan hasrat seksual ditandai oleh defisiensi atau tidak adanya fantasi seksual dan hasrat untuk aktivitas seksual. Ciri utamanya adalah kegagalan untuk mencapai atau mempertahankan arousal atau excitement dalam berhubungan seks. Pada wanita gangguan ini disebut frigiditas yang ditandai tidak tercapainya lubrikasi (pelumasan) dan membuka vagina.
c. Orgasme terhambat (Inhibited Orgasm)
Ciri utamanya adalah penderita tidak mencapai fungsi orgasme, gangguan ini bisa terjadi pada pria maupun wanita.
d. Ejakulasi dini (premature ejaculation)
Ciri utamanya adalah penderita tidak mampu mengontrol atau mengendalikan ejakulasi selama aktifitas seks berlangsung.
e. Dispareunia (Dyspareunia)
Ciri utama adalah penderita mengalami kesakitan selama berhubungan seksual. Gangguan ini terjadi pada wanita, gangguan ini bisa disebabkan oleh faktor organis misalnya adanya infeksi pada vagina dan cervic.

f. Vaginismus
Ciri utamanya adalah terjadinya spasme atau kontraksi otot pada vagina yang sangat kuat sehingga mengganggu senggama.

TERAPI
Psikoanalisa lebih menekankan pada penyelesaian konflik yang tidak disadari untuk mengatasi disfungsi seksual. Terapi kognitif/behavioris lebih banyak dipakai dalam mengatasi gangguan ini. Terapi menekankan pada disfungsi itu sendiri serta sikap dan fikiran yang turut menyumbang timbulnya disfungsi.

SIMPULAN

Kesehatan seksual yaitu pencegahan penyakit menular seksual dan kehamilan yang tidak di inginkan, kenikmatan seks. Sebagai bagian dari hubungan intim dan kendali yang lebih besar terhadap keputusan seksual seseorang.
Seksualitas abnormal yaitu perilaku seksual yang destruktif bagi diri sendiri maupun oranglain, yang tidak dapat di arahkan kepada seseorang pasangan, yang diluar stimulasi organ seks primer, dan yang di sertai dengan rasa bersalah dan kecemasan yang tidak sesuai, atau konfulsif.
Parafilia secara harfiah ‘para’ artinya penyimpangan ‘filia’ artinya objek atau situasi yang disukai. Parafilia adalah dorongan seksual yang mendalam dan berulang yang menimbulkan fantasi seksual yang fokuskan pada objek yang bukan pada manusia saja, penderita atau penghinaan diri sendiri atau partner nya, atau anak-anak atau orang-orang yang tidak mengizinkan
Jenis-jenis dan gangguan parafilia : Pedofilia, Exibionisme, Voyeurisme, Sadomasokis, Masokhisme, Fetisisme, Transvestisme, Zofilia, Froterisme, Homoseksual.
DISFUNGSI SEKSUAL (DSM IV)
a. Gangguan keinginan seksual yaitu kurangnya atau tidak adanya keinginan untuk melakukan hubungan seks.
b. Gangguan hasrat seksual ditandai oleh defisiensi atau tidak adanya fantasi seksual dan hasrat untuk aktivitas seksual.
c. Orgasme terhambat (Inhibited Orgasm)
d. Ejakulasi dini (premature ejaculation)
e. Dispareunia (Dyspareunia)

DAFTAR PUSTAKA

Sulistianngsih, Sulis. Psikologi Abnormal Dan Psikofatologi..
Vina, Ashra dan Mohanraj, Andrew. 2001. Ketika Tidak Ada Psikiater. London: The Royal College Psikitrists.
Kaplan, Harold dan Sadock, Benjamin. 1994. Sinopsis Psikiatri Jilid 2. New York: New York University Medical Center.
Martaniah, Sri Mulyani. 2001. Psikologi Abnormal Dan Psikopatologi. Yogyakarta.
Walker, Kenneth. 2005. The Handbook Sex. Yogyakarta. Diva Press.

33. [http://latitudu.com/v1/journal/low-latent-inhibition]

Low Latent Inhibition

Selama ini Aku tidak pernah mengetahui dan bertemu dengan keluarga ayahku yang lain. Sedangkan keluarga ibuku sepertinya sudah pernah kulihat dan kutemui semuanya, seminimal-minimalnya setiap hari raya datang. Entah hal apa yang membuatku bisa mengabaikan masalah penting semacam ini, sampai di akhir-akhir ini Aku baru tersadar.

Saat itu Aku bertanya kepada ibuku, “Bu, kok Aku tidak pernah mengenal kerabat-kerabat ayahku ya?” Dia bilang, “Ayahmu itu anak tunggal… jadi tidak punya banyak kerabat. Beberapa kerabat yang lain paling si itu tuh, lik Ribut, mbah … dan orang-orang di sekitar situ lah”. Oh, pantas. Saat itu ayahku sedang berada di sumur, sedang mengambil air wudhu, terpisahkan oleh pembatas tembok terbuka dari pembicaraan kami di dapur. Dia tidak berkata apa-apa. Sehari yang lalu ada seorang kakek-kakek datang ke sini. Katanya dia ingin menemui ayahku. “Cuma ingin bertemu”, begitu katanya. Dia datang bersama cucunya yang diperkirakan usianya berada di atasku, dan mengobrol untuk beberapa saat bersama ayahku di ruang tamu. Dia berbicara menggunakan bahasa Jawa kromo. Saat itu, hal yang Aku tangkap dalam inti pembicaraan mereka adalah mengenai permintaan maaf jika ada salah dan sebuah keinginan untuk bertemu. Begitu saja. Tidak ada yang lain. Cuma ingin bertemu, dan ingin melihat apakah ayahku itu masih seperti anak-anak (awet muda) atau tidak. Seperti orang yang sedang mengidam saja. Masalahnya adalah, saat itu ayahku berada dalam keadaan lupa. Dia tidak mengenal orang tersebut, sampai orang tersebut bercerita mengenai masa-masa kehidupan mereka dulu, mengenai tempat bermain yang sering mereka kunjungi, mengenai rumah seseorang yang sering mereka tumpangi untuk makan dan lain-lain. Saat itu ayahku bisa mengingat peristiwa-peristiwa tersebut, namun tidak begitu ingat dengan orang itu. Kami sedang menguping di ruang tengah. Ibuku, mungkin adalah seseorang yang paling curiga terhadap kedatangan tamu-tamu semacam ini. Karena rumah kami sejak dulu memang sering didatangi oleh orang-orang yang entah datangnya dari mana. Kesimpulannya, ternyata mereka memiliki niatan untuk bersilaturahmi dan melakukan pendekatan, agar bisa melamar mbakyuku yang terakhir, yang sampai sekarang belum juga menikah. Sebenarnya tidak ada masalah kalau ada orang yang ingin bersilaturahmi atau melakukan pendekatan. Akan tetapi orang-orang yang datang kebanyakan tidak bersahabat. Beberapa yang datang adalah para pemuda yang didampingi oleh orang tua cacat, yang sedikit-sedikit akan komat-kamit di sela-sela obrolan dan suka mengeliat-geliat serta menguap sampai bersuara. Kita khawatir kalau mereka itu tukang hipnotis atau semacamnya, oleh karena itulah kita jadi mudah curiga dengan hal-hal semacam ini. Lagipula, kebanyakan dari mereka disinyalir datang karena disuruh oleh orang-orang berengsek goblok yang nafsu ingin menjatuhkan keluarga kami. Kalian tahulah, kehidupan dan persaingan para guru itu seperti apa. Beberapa orang berpikir bahwa guru-guru TK itu adalah guru-guru yang goblok dan tidak seharusnya memiliki kesempatan untuk menaikkan derajat mereka, atau tidak seharusnya bisa mengalahkan mereka. Tapi ayahku membantah bahwa orang tersebut memiliki niatan semacam itu. Setelah tamu tersebut pergi meninggalkan rumah kami, ayahku sedikit bercerita. Dia bilang bahwa selama ini dia memang tidak jarang bertemu dengan orang-orang yang sudah tua yang mengaku mengenalnya dengan baik, namun tidak berhasil membuatnya mengingat orang tersebut. Seringkali pertemuan itu membuatnya sedikit kaget. Tapi bukan itu hal utama yang membuat peristiwa tersebut menjadi aneh di sini. Ayahku bilang, beberapa hari setelah sahabat lamanya tersebut berhasil menuruti keinginannya untuk bertemu, dia meninggal dunia! Ayahku dan Aku adalah seorang pengidap LLI. Setidaknya itulah yang bisa kusimpulkan. LLI (Low Latent Inhibition) adalah sebuah “keistimewaan” pada manusia yang akan membuat manusia tersebut menjadi memiliki ketertarikan dan rasa ingin tahu yang berlebihan terhadap sesuatu, terutama terhadap benda-benda. Sehingga itu bisa membuatnya berpikir sangat banyak terhadap suatu benda jauh melebihi orang-orang pada umumnya. Ketika Aku pergi mengantar ayahku untuk membeli alat-alat elektronik, atau ke rumah seseorang, tidak jarang Aku melihat ayahku memperhatikan sesuatu dengan antusias, terutama dalam waktu-waktu menunggunya. Melihat puncak tiang listrik karena ada semacam perasaan kagum terhadap satu hal yang sedang dia perhatikan. Biasanya sambil senyum-senyum. Dia bahkan bisa sampai hati memungut sampah yang membuat dia tertarik untuk dilihat-lihat. Hingga kemudian dia akan meletakkannya kembali. Atau malahan ingin membawanya ke rumah! Dia pernah ingin membawa beberapa bongkah batu cadas dari kali. Katanya ingin dia gunakan untuk membuat asbak. Tapi ibuku melarangnya. Dia bilang, masa lalu adalah masa lalu. Jaman sekarang sudah tidak ada lagi orang yang membuat asbak dari batu cadas… Untuk sesaat, mungkin kamu akan melihatnya seperti orang autis. Karena ayahku sudah tua, mungkin perilaku-perilaku semacam itu sudah dianggap wajar saja. Aku memiliki kebiasaan seperti itu juga. Hanya saja karena Aku lebih dulu mengetahui keistimewaan ini, dan karena sejak dulu Aku sering menyadari kritik dari orang-orang yang memperhatikan perilakuku, Aku jadi sedikit bisa mengendalikan diri untuk tidak terlalu antusias dalam melihat dan memperhatikan benda-benda. Saat itu Aku masih SMK. Aku berada pada jam praktek. Saat itu sedang istirahat. Ruang praktek berada di sebelah lapangan sekolah, sehingga ketika kami sedang beristirahat, biasanya kami akan duduk-duduk memperhatikan lapangan atau sekedar bergerombol di sekitar situ untuk mengobrol. Saat itu Aku sedang meperhatikan sepeda motor Jupiter Z warna merah. Aku cuma tertarik saja dengan detail grafis dan bentuk mesinnya. Namun mungkin karena saat itu sikapku berlebihan, Aku tidak tahu, beberapa orang temanku menyindirku, “Motornya bagus yah Fik!” kemudian diikuti dengan kata-kata yang menunjukan bahwa Aku ini adalah seorang bocah, “Minta beli sana sama mamamu…”. Yaelah. Aku malah dikira sedang ingin sepeda motor. Ayahku juga mempunyai kebiasaan memimpikan hal-hal yang aneh, sama sepertiku. Beberapa hal yang sering dia ceritakan adalah mengenai mimpi melihat alam semesta, atau melihat sekumpulan planet dan bintang-bintang yang berjarak sangat dekat dengan rumah kami. Itu adalah mimpi yang sangat menakjubkan hingga dalam mimpiku, Aku bisa sampai berlari-lari kesana-kemari memanggil para tetangga untuk menunjukkan apa yang kulihat di langit malam itu. Aku berteriak-teriak, “Lihatlah itu di langit… indah sekali!!! Subhanallah… Subhanallah…!!!” Aku menyebut nama Tuhan berkali-kali dengan perasaan yang sangat gembira bercampur takjub yang luar biasa. Langit malam begitu terang, hingga awan-awan yang biasanya tidak terlihat di malam hari pun menjadi terlihat begitu jelas. Planet-planet memiliki jarak yang begitu dekat dengan bumi, serta bintang-bintang tertabur begitu saja seperti butiran pasir. Seperti ombak, dan ada kabut-kabut berwarna-warni juga. Pokoknya susah lah kalau untuk diceritakan dengan kata-kata. Aku memiliki kecenderungan mimpi yang sama dengan ayahku. Selain mengalami mimpi mengenai planet-planet, Aku juga sering mengalami mimpi memasuki hutan-hutan berbunga yang berwarna-warni. Suasananya sangat indah, tidak seperti hutan di dunia nyata. Cahayanya juga terang. Yang paling dominan adalah mimpi mengenai musim gugur. Aku pernah sekali mimpi berada di musim gugur yang bercampur dengan musim dingin. Sesaat setelah mengalami mimpi itu Aku sempat berusaha mencari-cari foto rekayasa yang memiliki penampakan suasana yang mirip dengan keadaan di dalam mimpiku, akan tetapi Aku tidak berhasil menemukannya. Satu-satunya foto yang berhasil kutemukan adalah sebuah foto kecil yang pernah kupasang di jurnal ini, namun sungguh, suasanannya sangat jauh berbeda dengan apa yang terlihat di dalam mimpiku. Aku mencoba menyempatkan waktu untuk sedikit-sedikit membaca pos-pos di forum Indigo Society. Tidak ada alasan khusus sebenarnya. Aku hanya ingin tahu apakah Aku memiliki bakat indigo atau tidak. Jika sudah tahu ya sudah. Itu artinya Aku berhasil mengetahui siapa diriku sebenarnya, sehingga ketika ada suatu hal aneh yang terjadi nantinya, maka Aku tidak perlu lagi banyak bertanya-tanya. Di situ ada begitu banyak orang yang menceritakan pengalaman-pengalaman aneh mereka, seperti merasakan hidup di tubuh orang lain, merasa bahwa dirinya adalah wanita yang terjebak di dalam tubuh laki-laki atau sebaliknya, merasa dirinya adalah orang dewasa yang terjebak di dalam tubuh anak-anak atau sebaliknya, merasakan perasaan sedih yang teramat-sangat ketika melihat sesosok mayat hasil pembantaian perang di televisi, padahal orang tersebut sama sekali tidak mengenalinya. Pengalaman bisa melihat hantu, mimpi aneh yang bersambung, deja vu… Pernah mengalami deja vu? Aku sering. Hanya saja peristiwa-persitiwa yang terjadi adalah hal-hal yang tidak penting dan hanya berlangsung selama beberapa detik saja. Semuanya berasal dari mimpi setengah sadar: Ketika Aku mulai tertidur, Aku tidak pernah bisa mengosongkan pikiran. Ketika Aku menutup mata, semua cuplikan-cuplikan persitiwa mulai muncul begitu saja dalam bayangan, namun dalam durasi yang sangat cepat. Seperti sedang melihat dokumen foto berjumlah sangat banyak yang dibolak-balik dengan cepat. Aku biasa melihat hal-hal yang tidak penting di dalam bayang-bayangku. Suasana rumah, anak-anak berlari, toko balon, terminal bus, karpet, adegan seks, hutan bambu, wajah orang (terutama wanita) yang tidak kukenal seperti sedang berinteraksi dengan diriku. Namun dalam waktu itu Aku bukanlah Aku. Rasanya seperti sedang mengintip melalui mata orang lain. Merasa sedang menggores pensil, menuang air dan aktivitas-aktivitas sederhana lainnya yang bisa kulakukan sendiri. Aktivitas-aktivitas inilah yang paling sering terulang kembali. Aku yakin itu semua sebenarnya hanyalah imajinasiku saja yang muncul akibat efek kumulatif karena terlalu banyak berpikir. Akan tetapi beberapa dari itu ternyata terjadi di dunia nyata. Hal yang paling menantang adalah ketika Aku berada pada detik-detik dimana Aku menyadari bahwa Aku pernah mengalami peristiwa itu sebelumnya. Melakukan goresan pena, menyentuh meja, atau hal-hal mendetail lainnya yang terasa sudah pernah kulakukan. Saat Aku menyadari itu, maka Aku langsung cepat-cepat berusaha untuk menebak-nebak apa yang akan terjadi setelahnya. Tapi sayangnya Aku tidak pernah berhasil. Sepertinya memang cuma bisa terpotong sampai pada titik itu saja. Dan lagipula, berdasarkan psikologi, deja vu memang bukanlah hal yang ajaib. Itu cuma anomali memori di dalam otak.
27 September 2013

34. [http://makalahpsikologi.blogspot.com/2010/01/seks-pra-nikah-remajatrend-kah.html]

SEKS PRA NIKAH REMAJA,TREND KAH?

PERILAKU seksual ialah perilaku yang melibatkan sentuhan secara fisik anggota badan antara pria dan wanita yang telah mencapai pada tahap hubungan intim, yang biasanya dilakukan oleh pasangan suami istri. Sedangkan perilaku seks pranikah merupakan perilaku seks yang dilakukan tanpa melalui proses pernikahan yang resmi menurut hukum maupun menurut agama dan kepercayaan masing-masing individu.Perilaku seks pranikah ini memang kasat mata, namun ia tidak terjadi dengan sendirinya melainkan didorong atau dimotivasi oleh faktor-faktor internal yang tidak dapat diamati secara langsung (tidak kasat mata). Dengan demikian individu tersebut tergerak untuk melakukan perilaku seks pranikah.Motivasi merupakan penggerak perilaku. Hubungan antar kedua konstruk ini cukup kompleks, antara lain dapat dilihat sebagai berikut : Motivasi yang sama dapat saja menggerakkan perilaku yang berbeda, demikian pula perilaku yang sama dapat saja diarahkan oleh motivasi yang berbeda.Motivasi tertentu akan mendorong seseorang untuk melakukan perilaku tertentu pula. Pada seorang remaja, perilaku seks pranikah tersebut dapat dimotivasi oleh rasa sayang dan cinta dengan didominasi oleh perasaan kedekatan dan gairah yang tinggi terhadap pasangannya, tanpa disertai komitmen yang jelas (menurut Sternberg hal ini dinamakan romantic love); atau karena pengaruh kelompok (konformitas), dimana remaja tersebut ingin menjadi bagian dari kelompoknya dengan mengikuti norma-norma yang telah dianut oleh kelompoknya, dalam hal ini kelompoknya telah melakukan perilaku seks pranikah.Faktor lain yang dapat mempengaruhi seorang remaja melakukan seks pranikah karena ia didorong oleh rasa ingin tahu yang besar untuk mencoba segala hal yang belum diketahui. Hal tersebut merupakan ciri-ciri remaja pada umumnya, mereka ingin mengetahui banyak hal yang hanya dapat dipuaskan serta diwujudkannya melalui pengalaman mereka sendiri, “Learning by doing”.Disinilah suatu masalah acap kali muncul dalam kehidupan remaja karena mereka ingin mencoba-coba segala hal, termasuk yang berhubungan dengan fungsi ketubuhannya yang juga melibatkan pasangannya. Namun dibalik itu semua, faktor internal yang paling mempengaruhi perilaku seksual remaja sehingga mengarah pada perilaku seksual pranikah pada remaja adalah berkembangnya organ seksual. Dikatakan bahwa gonads (kelenjar seks) yang tetap bekerja (seks primer) bukan saja berpengaruh pada penyempurnaan tubuh (khususnya yang berhubungan dengan ciri-ciri seks sekunder), melainkan juga berpengaruh jauh pada kehidupan psikis, moral, dan sosial.
Pada kehidupan psikis remaja, perkembangan organ seksual mempunyai pengaruh kuat dalam minat remaja terhadap lawan jenis kelamin. Ketertarikkan antar lawan jenis ini kemudian berkembang ke pola kencan yang lebih serius serta memilih pasangan kencan dan romans yang akan ditetapkan sebagai teman hidup. Sedangkan pada kehidupan moral, seiringan dengan bekerjanya gonads, tak jarang timbul konflik dalam diri remaja. Masalah yang timbul yaitu akibat adanya dorongan seks dan pertimbangan moral sering kali bertentangan.Bila dorongan seks terlalu besar sehingga menimbulkan konflik yang kuat, maka dorongan seks tersebut cenderung untuk dimenangkan dengan berbagai dalih sebagai pembenaran diri.Pengaruh perkembangan organ seksual pada kehidupan sosial ialah remaja dapat memperoleh teman baru, mengadakan jalinan cinta dengan lawan jenisnya. Jalinan cinta ini tidak lagi menampakkan pemujaan secara berlebihan terhadap lawan jenis dan “cinta monyet” pun tidak tampak lagi. Mereka benar-benar terpaut hatinya pada seorang lawan jenis, sehingga terikat oleh tali cinta.Perlu pula dijelaskan bahwa pertumbuhan kelenjar-kelenjar seks (gonads) remaja, sesungguhnya merupakan bagian integral dari pertumbuhan dan perkembangan jasmani secara menyeluruh. Selain itu, energi seksual atau libido/nafsu pun telah mengalami perintisan yang cukup panjang; Sigmund Freud mengatakan bahwa dorongan seksual yang diiringi oleh nafsu atau libido telah ada sejak terbentuknya Id. Namun dorongan seksual ini mengalami kematangan pada usia usia remaja. Karena itulah, dengan adanya pertumbuhan ini maka dibutuhkan penyaluran dalam bentuk perilaku seksual tertentu.Cukup naïf bila kita tidak menyinggung faktor lingkungan, yang memiliki peran yang tidak kalah penting dengan faktor pendorong perilaku seksual pranikah lainnya. Faktor lingkungan ini bervariasi macamnya, ada teman sepermainan (peer-group), pengaruh media dan televisi, bahkan faktor orang tua sendiri.

Pada masa remaja, kedekatannya dengan peer-groupnya sangat tinggi karena selain ikatan peer-group menggantikan ikatan keluarga, mereka juga merupakan sumber afeksi, simpati, dan pengertian, saling berbagi pengalaman dan sebagai tempat remaja untuk mencapai otonomi dan independensi.

Maka tak heran bila remaja mempunyai kecenderungan untuk mengadopsi informasi yang diterima oleh teman-temannya, tanpa memiliki dasar informasi yang signifikan dari sumber yang lebih dapat dipercaya. Informasi dari teman-temannya tersebut, dalam hal ini sehubungan dengan perilaku seks pranikah, tak jarang menimbulkan rasa penasaran yang membentuk serangkaian pertanyaan dalam diri remaja. Untuk menjawab pertanyaan itu sekaligus membuktikan kebenaran informasi yang diterima, mereka cenderung melakukan dan mengalami perilaku seks pranikah itu sendiri.

Pengaruh media dan televisi pun sering kali diimitasi oleh remaja dalam perilakunya sehari-hari. Misalnya saja remaja yang menonton film remaja yang berkebudayaan barat, melalui observational learning, mereka melihat perilaku seks itu menyenangkan dan dapat diterima lingkungan. Hal ini pun diimitasi oleh mereka, terkadang tanpa memikirkan adanya perbedaan kebudayaan, nilai serta norma-norma dalam lingkungan masyakarat yang berbeda.

Perilaku yang tidak sesuai dengan tugas perkembangan remaja pada umumnya dapat dipengaruhi orang tua. Bilamana orang tua mampu memberikan pemahaman mengenai perilaku seks kepada anak-anaknya, maka anak-anaknya cenderung mengontrol perilaku seksnya itu sesuai dengan pemahaman yang diberikan orang tuanya.

Hal ini terjadi karena pada dasarnya pendidikan seks yang terbaik adalah yang diberikan oleh orang tua sendiri, dan dapat pula diwujudkan melalui cara hidup orang tua dalam keluarga sebagai suami-istri yang bersatu dalam perkawinan.

Kesulitan yang timbul kemudian adalah apabila pengetahuan orang tua kurang memadai menyebabkan sikap kurang terbuka dan cenderung tidak memberikan pemahaman tentang masalah-masalah seks anak. Akibatnya anak mendapatkan informasi seks yang tidak sehat. Seorang peneliti menyimpulkan hasil penelitiannya sebagai berikut: informasi seks yang tidak sehat atau tidak sesuai dengan perkembangan usia remaja ini mengakibatkan remaja terlibat dalam kasus-kasus berupa konflik-konflik dan gangguan mental, ide-ide yang salah dan ketakutan-ketakutan yang berhubungan dengan seks. Dalam hal ini, terciptanya konflik dan gangguan mental serta ide-ide yang salah dapat memungkinkan seorang remaja untuk melakukan perilaku seks pranikah.[rileks.com]

Perilaku seks pranikah ini memang kasat mata, namun ia tidak terjadi dengan sendirinya melainkan didorong atau dimotivasi oleh faktor-faktor internal yang tidak dapat diamati secara langsung (tidak kasat mata). Dengan demikian individu tersebut tergerak untuk melakukan perilaku seks pranikah.

Motivasi merupakan penggerak perilaku. Hubungan antar kedua konstruk ini cukup kompleks, antara lain dapat dilihat sebagai berikut : Motivasi yang sama dapat saja menggerakkan perilaku yang berbeda, demikian pula perilaku yang sama dapat saja diarahkan oleh motivasi yang berbeda.

Motivasi tertentu akan mendorong seseorang untuk melakukan perilaku tertentu pula. Pada seorang remaja, perilaku seks pranikah tersebut dapat dimotivasi oleh rasa sayang dan cinta dengan didominasi oleh perasaan kedekatan dan gairah yang tinggi terhadap pasangannya, tanpa disertai komitmen yang jelas (menurut Sternberg hal ini dinamakan romantic love); atau karena pengaruh kelompok (konformitas), dimana remaja tersebut ingin menjadi bagian dari kelompoknya dengan mengikuti norma-norma yang telah dianut oleh kelompoknya, dalam hal ini kelompoknya telah melakukan perilaku seks pranikah.

Faktor lain yang dapat mempengaruhi seorang remaja melakukan seks pranikah karena ia didorong oleh rasa ingin tahu yang besar untuk mencoba segala hal yang belum diketahui. Hal tersebut merupakan ciri-ciri remaja pada umumnya, mereka ingin mengetahui banyak hal yang hanya dapat dipuaskan serta diwujudkannya melalui pengalaman mereka sendiri, “Learning by doing”.

Disinilah suatu masalah acap kali muncul dalam kehidupan remaja karena mereka ingin mencoba-coba segala hal, termasuk yang berhubungan dengan fungsi ketubuhannya yang juga melibatkan pasangannya. Namun dibalik itu semua, faktor internal yang paling mempengaruhi perilaku seksual remaja sehingga mengarah pada perilaku seksual pranikah pada remaja adalah berkembangnya organ seksual. Dikatakan bahwa gonads (kelenjar seks) yang tetap bekerja (seks primer) bukan saja berpengaruh pada penyempurnaan tubuh (khususnya yang berhubungan dengan ciri-ciri seks sekunder), melainkan juga berpengaruh jauh pada kehidupan psikis, moral, dan sosial.
Pada kehidupan psikis remaja, perkembangan organ seksual mempunyai pengaruh kuat dalam minat remaja terhadap lawan jenis kelamin. Ketertarikkan antar lawan jenis ini kemudian berkembang ke pola kencan yang lebih serius serta memilih pasangan kencan dan romans yang akan ditetapkan sebagai teman hidup. Sedangkan pada kehidupan moral, seiringan dengan bekerjanya gonads, tak jarang timbul konflik dalam diri remaja. Masalah yang timbul yaitu akibat adanya dorongan seks dan pertimbangan moral sering kali bertentangan.

Bila dorongan seks terlalu besar sehingga menimbulkan konflik yang kuat, maka dorongan seks tersebut cenderung untuk dimenangkan dengan berbagai dalih sebagai pembenaran diri.

Pengaruh perkembangan organ seksual pada kehidupan sosial ialah remaja dapat memperoleh teman baru, mengadakan jalinan cinta dengan lawan jenisnya. Jalinan cinta ini tidak lagi menampakkan pemujaan secara berlebihan terhadap lawan jenis dan “cinta monyet” pun tidak tampak lagi. Mereka benar-benar terpaut hatinya pada seorang lawan jenis, sehingga terikat oleh tali cinta.

Perlu pula dijelaskan bahwa pertumbuhan kelenjar-kelenjar seks (gonads) remaja, sesungguhnya merupakan bagian integral dari pertumbuhan dan perkembangan jasmani secara menyeluruh. Selain itu, energi seksual atau libido/nafsu pun telah mengalami perintisan yang cukup panjang; Sigmund Freud mengatakan bahwa dorongan seksual yang diiringi oleh nafsu atau libido telah ada sejak terbentuknya Id. Namun dorongan seksual ini mengalami kematangan pada usia usia remaja. Karena itulah, dengan adanya pertumbuhan ini maka dibutuhkan penyaluran dalam bentuk perilaku seksual tertentu.

Cukup naïf bila kita tidak menyinggung faktor lingkungan, yang memiliki peran yang tidak kalah penting dengan faktor pendorong perilaku seksual pranikah lainnya. Faktor lingkungan ini bervariasi macamnya, ada teman sepermainan (peer-group), pengaruh media dan televisi, bahkan faktor orang tua sendiri.

Pada masa remaja, kedekatannya dengan peer-groupnya sangat tinggi karena selain ikatan peer-group menggantikan ikatan keluarga, mereka juga merupakan sumber afeksi, simpati, dan pengertian, saling berbagi pengalaman dan sebagai tempat remaja untuk mencapai otonomi dan independensi.

Maka tak heran bila remaja mempunyai kecenderungan untuk mengadopsi informasi yang diterima oleh teman-temannya, tanpa memiliki dasar informasi yang signifikan dari sumber yang lebih dapat dipercaya. Informasi dari teman-temannya tersebut, dalam hal ini sehubungan dengan perilaku seks pranikah, tak jarang menimbulkan rasa penasaran yang membentuk serangkaian pertanyaan dalam diri remaja. Untuk menjawab pertanyaan itu sekaligus membuktikan kebenaran informasi yang diterima, mereka cenderung melakukan dan mengalami perilaku seks pranikah itu sendiri.

Pengaruh media dan televisi pun sering kali diimitasi oleh remaja dalam perilakunya sehari-hari. Misalnya saja remaja yang menonton film remaja yang berkebudayaan barat, melalui observational learning, mereka melihat perilaku seks itu menyenangkan dan dapat diterima lingkungan. Hal ini pun diimitasi oleh mereka, terkadang tanpa memikirkan adanya perbedaan kebudayaan, nilai serta norma-norma dalam lingkungan masyakarat yang berbeda.

Perilaku yang tidak sesuai dengan tugas perkembangan remaja pada umumnya dapat dipengaruhi orang tua. Bilamana orang tua mampu memberikan pemahaman mengenai perilaku seks kepada anak-anaknya, maka anak-anaknya cenderung mengontrol perilaku seksnya itu sesuai dengan pemahaman yang diberikan orang tuanya.

Hal ini terjadi karena pada dasarnya pendidikan seks yang terbaik adalah yang diberikan oleh orang tua sendiri, dan dapat pula diwujudkan melalui cara hidup orang tua dalam keluarga sebagai suami-istri yang bersatu dalam perkawinan.

Kesulitan yang timbul kemudian adalah apabila pengetahuan orang tua kurang memadai menyebabkan sikap kurang terbuka dan cenderung tidak memberikan pemahaman tentang masalah-masalah seks anak. Akibatnya anak mendapatkan informasi seks yang tidak sehat. Seorang peneliti menyimpulkan hasil penelitiannya sebagai berikut: informasi seks yang tidak sehat atau tidak sesuai dengan perkembangan usia remaja ini mengakibatkan remaja terlibat dalam kasus-kasus berupa konflik-konflik dan gangguan mental, ide-ide yang salah dan ketakutan-ketakutan yang berhubungan dengan seks. Dalam hal ini, terciptanya konflik dan gangguan mental serta ide-ide yang salah dapat memungkinkan seorang remaja untuk melakukan perilaku seks pranikah.[rileks.com]

35. FORMAT EKONOMI POLITIK DALAM PENGEMBANGAN KETERBUKAAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNAN oleh Priyatmoko
Masyarakat, Kebudayaan & Politik No. 7 th-V, 1991 h. 46-55
Komunikasi dalam sejarah kehidupan bermasyarakat senantiasa menempati posisi yang sangat strategis. Bahkan, belakangan ini perhatian khusus terhadap masalah komunikasi meningkat terus hingga boleh dikatakan mencapai puncaknya. Orang mulai menyebut era ini invormasionalisasi sebagai tahapan sejarah khusus setelah era industrialisasi, yang–sebagaimana halnya industrialisasi–ditengarai telah dan akan mengubah banyak segi kehidupan manusia. Teknologi komunikasi modern memang telah menjanjikan dan memberikan banyak kemungkinan yang tidak terbayangkan sebelumnya oleh siapapun. Televisi, misalnya, telah membuktikan sanggup menghadirkan pengajian agama di kamar-kamar praktek WTS, maupun sebaliknya tayangan-tayangan “bupati” dan “sekwilda”2 masuk tanpa permisi di kamar orang-orang alim. dan, penerbitan trilogi buku karya Alvin Toffler pun–Future Shock, The Third Wave, dan Powershift–telah berhasil merangsang diskusi-diskusi yang meluas mengenai peranan komunikasi dan informasi pada kehidupan masyarakat moderen. Menurut Toffler era industrialisasi yang ditandai oleh pabrik bercerobong asap mulai berlalu dan digantikan oleh era baru yang faktor penentunya adalah informasi dan pengetahuan.
Perubahan-perubahan cepat di banyak bidang seolah-olah menempatkan manusia sebagai makhluk kerdil yang serba kewalahan. Pribadi, organisasi, dan bahkan mungkin bangsa dapat mengalami disorientasi dan stress karena kemunduran kemampuan mereka untuk membuat keputusan-keputusan adaptif secara cerdas. Sementara itu, kemampuan teknologi kamomunikasi untuk menyebarkan informasi secara luas diam-diam juga dianggap menjanjikan harapan untuk “pembebasan baru” bagi manusia, karena informasi yang disebarluaskan dapat menja di [sic] sumber kekuatan yagn ampuh–untuk mencegah berbagai bentuk penyalahgunaan kekuasaan sekaligus menciptakan masyarakat yang lebih baik. Orang, misalnya, menaruh harapan pada TV Pendidikan untuk mencerdaskan bangsa sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya pembangunan. pengetahuan yang tersebar luas menjanjikan peningkatan kesejahteraan masyarakat dan distribusi kekuasaan yang lebih adil.
Tulisan ini bermaksud menyediakan sebuah model (karikatural) yang dapat digunakan untuk memahami, menjelaskan, dan mengevaluasi peran komunikasi, pers khususnya, dalam proses pembangunan, khususnya dalam meningkatkan keterbukaan pengelolaan pembangunan. Seelah mengajukan model interaksi tiga pusat pengaruh, dicoba untuk mengindentifikasi beberapa aspek yang diduga penting untuk diperbincangkan.
Tiga Pusat Pengaruh dan Pembangunan
Bila kita bermaksud mendiskusikan peran komunikasi dalam pembangunan, tentulah kita harus mencermati aneka-ragam interaksi yang rumit antara komunikasi dengan variabel-variabel sosial, ekonomi, dan politik yang sangat banyak jumlahnya dan tidak selalu mudah diamati. Sudah barang tentu kita tidak dapat langsung menarik kesimpulan bahwa WTS yang menyaksikan tayangan pengajian di layar TV lalu berubah menjadi orang alim, atau sebaliknya kealiman seseorang menjadi luntur segera setelah menyaksikan tayangan “bupati” dan “sekwilda”.Setiap [sic] pertanyaan yang menyangkut efek komunikasi kiranya tidak dapat langsung dijawab dengan “ya” atau “tidak”, melainkan sekedar ancar-ancar yang ditempatkan dalam konteks sosiologis (konteks tempat, karakteristik sosial, ekonomi, budaya, dan politik) maupun kesejarahan (rentang pengalaman lintas waktu) tertentu.
Untuk memudahkan dan mensistematisasi perbincangan, dapat diandaikan bahwa dalam suatu masyarakat sekurang-kurangnya terdapat tiga pusat kegiatan yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan masyarakat, yaitu pusat pemerintahan (politik), pusat ekonomi (bisnis), dan pusat komunikasi (pers). Pemerintahan perlu dilihat sebagai sebuah pusat mengingat secara formal maupun empirik Pemerintah adalah [sic, tanpa titik] agen utama pembangunan. Setiap kali orang berbicara mengenai pembangunan akan mengkait berbagai program dan proyek yang diselenggarakan oleh pemerintah. Karena, pelbagai rencana dan pelaksanaan pembangunan memang dituangkan dalam berbagai bentuk produk perundang-undangan, keputusan politik dan pemerintahan, seperti Keppres, Inpres, Ban pres, SK menteri, SKB Menteri,SK Gubernur Kepala daerah, SK Walikotamadya, dan seterusnya. Dengan kata lain, tugas-tugas pembangunan sebenarnya dicangkokkan ke dalam tugas-tugas pemerintahan dan administrasi negara. Banyak petugas malahan sering tidak dapat membedakan antara tugas pemerintahan dan tugas-tugas pembangunan yang dibebankan kepadanya.
Kecerdasan Linguistik
Orang yang cerdas masih sering diidentikkan dengan orang yang memiliki IQ tinggi. Artinya, kecerdasan rasional masih menjadi tolok ukur sebuah kecerdasan. Masih banyak orang yang mengklasifikasikan anak berdasarkan IQ sebagai dasar dalam penempatan siswa. Misalnya, untuk dapat masuk dalam program akselesari pada sekolah tertentu seorang siswa harus memiliki tingkat IQ minimal 130. Secara eksplisit Binet Simon dalam Ahmadi dan Widodo Supriyono (2004: 35) membuat klasifikasi anak: superior, gifted, genius, normal, debil, embisil, ediot. Semua itu didasarkan atas tingkat tinggi rendahnya kadar IQ
Berdasarkan klasifikasi tersebut, ternyata muncul beberapa pertanyaan. Mengapa banyak orang yang cerdas, yang memiliki IQ tinggi, tetapi juga cerdas mengorupsi uang negara? Mengapa banyak sarjana yang ber-IQ di atas rata-rata tidak mendapatkan pekerjaan? Hal inilah yang kemudian mendorong para ahli mengadakan penelitian tentang kecerdasan dan otak manusia. Taufiq Pasiak melalui Effendi (2005: 134) mengatakan bahwa masih banyak sisi ‘gelap’ dari otak manusia di luar IQ.
Kontroversi terjadi di kalangan para ahli sehingga melahirkan kritik terhadap toeri kecerdasan rasional sebagai satu-satunya kecerdasan. Menurut Gardner dalam Effendi (2005: 136) dalam diri manusi terdapat spektrum kecerdasan yang luas. Spektrum tersebut mencakup tujuh jenis kecerdasan: 1) kecerdasan verbal, 2) kecerdasan visual, 3) kecerdasan logis matematis, 4) kecerdasal musikal, 5) kecerdasan kinestetik, 6) kecerdasan intrapersonal, 7) kecerdasan interpersonal.
Kecerdasan verbal/kecerdasan linguistik merupakan kemampuan dalam menggunakan kata-kata secara terampil dan mengekspresikankonsep-konsep secara fasih. Kecerdasan ini ditunjukkan oleh kepekaan akan makna dan urutan kata, serta kemampuan membuatberagam penggunaan bahasa. Kemampuan alamiah yang berkaitan dengan kecerdasan bahasa ini adalah: percakapan spontan, dongeng, humor, kelakar, membujuk orang untuk mengikuti tindakan, memberi penjelasan atau mengajar.
Kecerdasan lingustik menurut Gardner dalam Effendi (2005: 141)ditunjukkan oleh sensitivitas terhadap fonologi, penguasaan sintaksis, pemahaman semantik dan pragmatik. Sedangkan menurut Noam Chomsky merupakan kecerdasan bawaan sejak lahir. Menurutnya anak-anak pasti dilahirkan dengan ‘pengetahuan bawaan’ tentang aturan-aturan dan bentuk-bentuk bahasa. Mereka harus memiliki kecerdasan itu sebagai bagian dari hak kelahiran mereka, dan sebagai hipotesis khusus tentang bagaimana membaca kode dan membicarakan bahasa mereka. Kennet Wexler dan Peter Culiver mempunyai klami lebih jauh bahwa anak-anak tidak akan mampu mempelajari bahasa sama sekali jika mereka tidak memiliki anggapan-anggapan awal tertentu yang dianggap dibangun dalam sistem saraf. Soekarno, Gunawan Mohammad, Taufik Ismail, Emha Ainun Najib, dll adalah orang-orang yang memiliki kecerdasan lingustik.
Kecerdasan lingustik hanya dimiliki oleh manusia. Dalam otak manusia terdapat simpul bahasa yang tidak dimiliki oleh binatang. Binatang tidak memiliki kecerdasan linguitik. Berbagai percobaan membuktikan bahwa binatang dalam melakukan komunikasinya hanya melakukan teori S-R (stimulus-respon atau rangsang tanggap). Bahasa pada binatang sangat terbatas walaupun diajarkan berbahasa bertahun-tahun. Komunikasi yang dilakukan oleh binatang bukan tindak berbahasa, tetapi hanya merupakan insting atau kebiasaan belaka. Bahasa hanya dimiliki manusia karena manusia yang dapat mengembangkan bahasa.
Karena otak manusia memang memiliki simpul bahasa, manusia mampu mengembangkan bahasanya secara tidak terbatas walaupun manusia hanya menerima stimulus yang sangat terbatas. Dengan kata lain, dengan rangsangan yang terbatas, manusia mampu mengembangkan dan menggunakan bahasanya secara tidak terbatas. Namun demikian, meski manusia memiliki kecerdasan linguistik, tetapi jika tidak belajar /mendapatkan pengalaman, tidak akan mampu berbahasa. Anak manusia yang sejak lahir berada dilingkungan binatang, tidak mampu melakukan komunikasi dengan bahasa manusia. Dengan demikian, agar manusia dapat berbahasa, harus ada kegiatan belajar berbahasa.
Pemerolehan dan Pembelajaran
Pada hakikatnya, penguasaan berbahasa anak terjadi karena pemerolehan dan pembelajaran. Pemerolehan merupakan penguasaan bahasa target (bahasa yang ingin dikuasai/dipelajari) yang dilakukan secara tidak disadari dan bersifat informal. Pembelajaran merupakan penguasaan bahasa target yang dilakukan secra disadari dan bersifat formal.
Pemerolehan adalah penguasaan bahasa secara tidak disadariinformal, atau alamiah. Penguasaan itu diperoleh dengan cara menggunakan bahasa itu dalam berkomunikasi. Pemerolehan berhubungan dengan penggunaan bahasa. Apabila pembelajar telah dapat menggunakan bahasanya (aktif maupun pasif), ia telah memiliki kompetensi komunikatif. Contoh pemerolehan dapat dilihat pada anak-anak yangmemperolah bahasa pertama (B1) atau bahasa ibu. Misalnya, anak-anak Jawa belajar bahasa Jawa, anak-anak Inggris belajar bahasa Inggris, dll.
Pembelajaran merupakan usaha disadari untuk menguasai kaidah-kaidah kebahasaan. Belajar bahasa dilakukan secra formal dalam setting yang formal pula, seperti pembelajaran di kelas. Kegiiatan ini tidak terbatas pada ruang dan tempat tertentu. Kegiatan bisa dilaksanakan di mana saja asalkan diarahkan pada penguasaan kaidah kebahasaan secara disadari.
Hasil belajar berupa pengetahuan eksplisit yang berupa penguasaan kaidah-kaidah kebahasaa. Hasil tersebut digunakan pembelajar untuk melakukan seleksi atau mengedit ketika ia melakukan aktivitas komunikasi. Dengan kata lain, kaidah-kaidah kebahasaan yangdikuasai pembelajar tersebut digunakan untuk memonitor kketia ia menjadi partisipan komunikasi.
Kegiatan belajar yang menekankan pada penguasaan tata bahasa, penjelasan kaidah-kaidah kebahasaan, dan mengoreksi kesalahan-kesalahannya termasuk dalam kegiatan pembelajaran. Pembelajaran adalah suatu perubahan perilaku yang relatif tetap dan merupakan hasil praktik yang diulang-ulang. Ada dua tipe pembelajaran bahasajika dilihat dari settingnya: dilakukan di kelas (formal) dan dilakukansecara informal.
Aplikasi Pembelajaran Bahasa di Kelas
Pembelajaran kaidah kebahasaan dapat dilakukan secara induktif dan sera deduktif. Apabila pembelajar diberi eksplanasi tentang kaidah bahasa target dan sekiranga telah dianggap memiliki pengetahuan yang cukup, baru mereka diajak ke suasana praktik, inimerupakan pembelajaran deduktif. Sebaliknya apabila pembelajar lebih dahulu di bawa pada suasana praktik baru kemudia diarahkan untuk menemukan sendiri kaidah-kaidah bahasa target, merupakan pembelajaran secara induktif.
Pada pelaksanaan pembelajaran bahasa sesuai dengan kurikulum terbaru (KBK-KTSP), pembelajaran induktiflah yang ditekankan. Siswa tidak diajarkan teori-teori terlebih dahulu, tetapi teori-teori diperoleh setelah mereka praktik. Dengan demikian fokus pembelajaran bahasa bukan pada teori (kognitif) tetapi lebih pada keterampilan berbahasa.
Terkait dengan kecerdasan lingustik, harus disadari bahwa siswa tidak hanya meiliki kecerdasan rasional, tetapi juga memiliki kecerdasan bahasa. Oleh karena itu, dalam pembelajaran di kelas, guru perlu memperhatikan pembelajatran bahasa. Dengan potensi yang dimiliki anak, sangat dimungkinkan siswa dikembangkan dari segi kecerdasan lingustik ini. Kecerdasan lingustik juga dapat berpengaruh terhadap kesuksesan anak. Kita dapat melihat pada kehidupan Taufik Ismail, W.S. Rendra, M.H. Ainun Najib dll. Mereka adalah tokoh-tokoh yang meiliki kecerdasan lingusitik yang tinggi dan ternyata dapat digunakan sebagai bekal kecakapan hidup. Sebaiknya para guru memberi stimulus kepada siswa untuk mengembangkan kemempuan berbahasa.
Pembelajaran bahasa sebaiknya tidak berhenti pada pemberian kaidah. Kaidah bukan sebuah tujuan dalam pembelajan bahasa, tetapi pengasaan keterampilan berbahasa yang menjadi tujuan utamanya. Penyampaian kaidah sebaiknya diberikan seiring dengan penguiasaan keterampilan berbahasa siswa.
Sehubungan dengan hal tersebut guru perlu menggunakan pendekatan komunikatif. Dalam pendekatan ini, kaidah bahasa bukan yang terpenting. Komunikasilah yang lebih diutamakan. Kesalahan berbahasa anak bukan hal fatal, tetapi harus dianggap sebagai hal yang wajar. Bagaimana siswa mampu mengkomunikasikan pikiran, perasaann kepada orang lain dan bagaiman ia dapat menangkap pikiran dan perasaan orang lain adalah tumpuan pendekatan ini.
Robbanaa aatinaa fid-dunya khasanah, wa fil aakhirati khasanah, wa qina adzaban naar

Alhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin

As-salaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh

As-salaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh

Asy-hadu al-la ilaaha illallaah wa asy-hadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuulullaah

Allaahumma shalli wa sallim wa barik ‘alaa sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aalihi wa shahbihi aj-ma’iin

Para Blogger Rohimakumullah,

Membaca tulisan salah seorang blogger (http://maramissetiawan.wordpress.com/2009/03/08/barzanjikitab-induk-peringatan-maulid-nabi-shallallahu%E2%80%99alayhi-wa-sallam/) penulis merasa ada yang perlu penulis sampaikan kepada para blogger mengenai masalah bagaimana sebenarnya cara yang benar dalam mengagungkan Nabi Muhammad SAW itu.

Berdasarkan tulisan bloger tersebut, di mana dinyatakan bahwa “Manusia yang paling besar pengagungannya kepada Nabi Shallallahu’alahi wa sallam adalah para shahabat, sebagaimana perkataan Urwah bin Mas’ud kepada kaum Quraisy : “Wahai kaumku, demi Allah, aku pernah menjadi utusan kepada raja-raja besar, aku menjadi utusan kepada Kaisar, aku pernah menjadi utusan kepada Kisra dan Najasyi, demi Allah aku belum pernah melihat seorang Raja yang diagungkan oleh pengikutnya sebagaimana pengikut Muhammad. Tidaklah Muhammad meludah kemudian mengenai telapak tangan seseorang di antara mereka, melainkan mereka langsung mengusapkannya ke wajah dan kulit mereka. Apabila ia memerintahkan suatu perkara, mereka bersegera melaksanakannya. Apabila beliau berwudhu, mereka saling berebut bekas air wudhunya. Apabila mereka berkata, mereka merendahkan suaranya dan mereka tidak berani memandang langsung kepadanya sebagai wujud pengagungan mereka.” (HR. Bukhari : 3/187, no. 2731, 2732, al-Fath 5/388)

Bentuk pengagungan para shahabat kepada Nabi Shallallahu’alahi wa sallam di atas sangat besar. Namun, mereka tidak pernah mengadakan acara maulid dan kemudian berdiri dengan keyakinan ruh Rasul Shallallahu’alahi wa sallam sedang hadir di tengah mereka.”

Memang kalau kita perhatikan dalam masyarakat kita acara-acara seperti sholawatan itu sebenarnya perlu kita tanyakan pula, apa sih sebenarnya maksud dari menyanyi-nyanyikan atau melagu-lagukan sholawat seperti itu? Kalau sekedar melatih suara sih sepertinya tidak masalah. Tetapi tidak jarang dalam menyanyikan atau melagukan sholawat itu begitu syahdu dan merdunya dengan nada yang diindah-indahkan betul! Memang yang dibaca ini adalah sholawat, bukan yang tidak ada faedahnya. Tetapi kalau maksudnya hanya ingin mengagungkan Nabi Muhammad SAW sih penulis rasa cara seperti itu juga kurang tepat.

Para blogger yang dirahmati Allah,

Kalau kita mempelajari dengan sungguh-sungguh hadits Nabi SAW, kita akan sampai pada kesimpulan bahwa nabi Muhammad SAW ini adalah al-Qur’an yang berjalan. Cara hidup yang diteladankan oleh beliau jika kita kaji secara mendalam merupakan petunjuk hidup yang tidak ada seorang penulis terbaik di dunia saat inipun yang menandinginya. Jika seandainya Rasulullah SAW itu hidup di jaman kita sekarang ini, kemungkinan besar beliau telah mengarang beratus-ratus buku yang akan mengalahkan karya-karya best seller dunia serta mengalahkan rekor penulis buku terbanyak sepanjang masa! Nah, sampai di sini dalam hati kita akan berseru, “allahumma sholli ala Muhammad”, yang kemudian kita ujarkan dengan lisan. Ini adalah manusia yang benar-benar pilihan Allah SWT!

Para blogger yang mendapat syafaat,

Tidak berlebihan kiranya jika acara sholawatan itu digelar adalah untuk kita sampai pada ucapan shalawat seperti yang telah penulis uraikan itu. Adapun melagu-laukan atau menyanyi-nyanyikan secara berlebihan seperti itu, memang tidak ada yang melarang. Akan tetapi penulis, sekali lagi, mengajak para blogger sekalian untuk bertanya kembali, apa maksud dan tujuan dari menyanyi-nyanyikan atau melagu-lagukan seperti itu? Sudah sampaikan suara kita menjadi seindah dan semerdu seperti itu?

Demikianlah yan penulis ingin sampaikan. Semoga kita semua senantiasa dalam syafaat Rasulullah SAW. amin.

Robbanaa aatinaa fid-dunya khasanah, wa fil aakhirati khasanah, wa qina adzaban naar

Alhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin

As-salaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh