Archive

Monthly Archives: November 2013

As-salaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh

Asy-hadu al-la ilaaha illallaah wa asy-hadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuulullaah

Allaahumma shalli wa sallim wa barik ‘alaa sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aalihi wa shahbihi aj-ma’iin

Para blogger yang dikasihi Allah,

Salah satu bukti ke-Maha-Kuasa-an Allah adalah dikaruniai-Nya kita umat manusia dengan kemampuan berfantasi/berimajinasi. Kita memahaminya kemudian mensyukurinya. Tetapi pernahkah para blogger mencoba merumuskan fantasi masing-masing dalam bentuk tulisan?

Membaca tulisan seorang blogger lain (dengan alamat situsnya: http://www.chaidir.web.id/2013/09/antara-impian-dan-khayalan-gila-tokoh-penemu-di-dunia.html), penulis terinspirasi untuk mencoba merumuskan fantasi-fantasi penulis ke dalam bentuk tulisan. Berikut adalah beberapa di antaranya:

1. Pemulung Masa Depan

Di masa depan, pekerjaan sebagai pemulung tidak lagi memungut sampah-sampah seperti botol-botol plastik minuman, kertas-kertas bekas, dan lain sebagainya itu. Di masa depan–entah kapan terjadinya ya?, para pemulung memungut bekas-bekas atau bagian-bagian technology canggih yang terbuang. Seperti potongan mesin pesawat terbang, potongan tangan robot, potongan body pesawat luar angkasa, benda-benda elektronik canggih yang usang, dan sebagainya. Sehingga di masa depan para pemulung merupakan kolektor benda-benda bekas, sisa-sisa, atau potongan-potongan technology canggih masa depan sekaligus pemasok bahan-bahan untuk perakitan benda-benda bekas masa depan. Kalau pemulung itu memiliki bakat, tentu ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk merakit sendiri atau mengotak-atik semua koleksi canggihnya itu sehingga jadi benda yang lebih berguna.

2. Juragan Tanah Dunia Maya

Di masa depan kita umat manusia bisa menjadi tuan tanah di dunia maya. Bagaimana bisnis demikian ini bisa terjadi?

Sebenarnya tanah itu mewakili ukuran memory penyimpanan data, yang saat ini bisa diukur dengan ukuran berapa Mega atau berapa Giga. Dengan makin beragamnya aktivitas manusia di dunia online, kebutuhan akan penyimpanan datapun akan semakin tinggi. Sementara penggunaan memori-memori eksternal seperti flash disk sudah dirasa tidak efisien dan efektif lagi (maklumlah selain merepotkan membawa-bawanya, juga resiko hilang tinggi), maka perlu terobosan baru dalam hal penyimpanan data yang lebih canggih. Nah, atas dasar kebutuhan penyimpanan data yang lebih canggih inilah bisnis ini lahir!

Apa yang bisa kita perbuat setelah membeli ‘tanah maya’ itu? Jawaban sederhananya ya tentu saja untuk menyimpan memori. Ketika kita online, atau melakukan kegiatan apa saja di dunia online, kita bisa titip memori di tanah kita itu. Lebih jauh lagi, besaran memory ini bisa digunakan benar-benar sebagai lahan di mana di atasnya kita bisa membangun rumah maya-online lengkap dengan segala isinya bahkan istana maya-online! Nah, di dalam rumah itu kita bisa membuat kamar-kamar untuk file-file memory, almari dan laci-laci untuk file-file yang lebih spesifik, bahkan sebuah gudang. Kita juga bisa membuatkan halaman lengkap dengan kolam ikan, taman yang isinya bunga-bunga, tanaman hias lain, serta hewan-hewan kesukaan kita. Jadi kita tidak perlu membawa-bawa flash disk jika ke mana-mana. Cukup membeli tanah maya itu lalu online dan kita sudah punya ‘villa’ sendiri untuk singgah dan mengadministrasi memori kita.

3. Pengrajin Pesawat Luar Angkasa

Kelak nenek moyang manusia memiliki warisan peradaban yang sangat canggih, sehingga yang diwariskan bukan hanya hal-hal yang tradisionil semata tetapi teknologi canggih perakitan pesawat angkasa luar! Nah, berdasar warisan leluhur maju inilah beberapa orang lantas bisa membuka UKM di bidang perakitan pesawat luar angkasa, mulai dari yang ukuran “perahu” alias kecil, hingga ukuran “tanker” alias raksasa! Mereka disebut pengrajin karena usahanya memang di tingkat UKM.

Demikianlah kira-kira gambaran akan masa depan itu menurut angan-angan penulis. Mudah-mudahan akan semakin menambah rasa syukur kita akan semua karunia Allah swt kepada kita umat manusia. Amin ya robbal alamin.

Robbanaa aatinaa fid-dunya khasanah, wa fil aakhirati khasanah, wa qina adzaban naar

Alhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin

As-salaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh

As-salaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh

Asy-hadu al-la ilaaha illallaah wa asy-hadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuulullaah

Allaahumma shalli wa sallim wa barik ‘alaa sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aalihi wa shahbihi aj-ma’iin

Para blogger yang dikasihi Allah,

Dalam perkembangan seperti sekarang ini mungkin masih ada yang bertanya-tanya ataupun masih belum memahami tentang apa sebenarnya peran IT itu dalam kehidupan kita. Apakah ia memang benar-benar memegang peranan penting, atau malah hanya sekedar penghias kehidupan dunia yang fana saja? Pada awal kemunculan televisi misalnya, banyak bermunculan suara-suara sumbang. Ada yang mengatakan bahwa televisi hanya akan meracuni mental kita saja karena menayangkan hal-hal yang seharusnya tidak sepantasnya kita lihat. Ada lagi yang mengatakan bahwa televisi hanya menyita waktu kita yang seharusnya untuk bekerja tetapi jadi terbuang dengan duduk nongkrong di depan pesawat teve saja. Dan masih banyak lagi suara-suara negatif lainnya. Tetapi nyatanya sekarang, paling segelintir orang saja yang masih mempertanyakan peran televisi dalam kehidupan ini. Faktanya, justru televisi telah menjadi salah satu kebutuhan hidup kita!

Lain dulu lain sekarang, kata pepatah lama. Sekarang adalah information age, kata orang yang berbahasa Inggris. Dan adalah suatu hal yang aneh jika kita yang tinggal di era informasi seperti sekarang ini masih bertanya-tanya tentang apa sebenarnya peran IT itu dalam kehidupan kita ini. Hal ini akan sama dengan keadaan orang yang tinggal di jaman kemunculan televisi dan ia tidak tahu–atau malah tidak tahu-menahu?–tentang apa sebenarnya peran televisi dalam kehidupannya. Tetapi sebelum menjelaskan peran IT itu dalam kehidupan kita ini, terlebih dahulu penulis ingin menyampaikan pentingnya konsep merubah nasib dalam hidup ini. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat ar-Ra’d ayat 11:

إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” .

Berdasar konsep merubah nasib ini kita bisa menjelaskan dengan mudah apa peran IT dalam kehidupan ini. Mengambil contoh seperti televisi di atas, maka tidak diragukan lagi bahwa televisi memberikan pengaruh pada perubahan nasib manusia secara lebih cepat. Suatu contoh dari perubahan nasib yang lebih cepat ini adalah adanya tayangan berita di televisi. Dengan adanya program berita ini kita lalu jadi banyak tahu tentang keadaan sekitar kita bahkan dunia lain di negara lain. Misalnya, berita menayangkan petinju legendaris Muhammad Ali baru saja divonis dokter menderita penyakit parkinson. Dari sini kita jadi tahu bahwa petinju hebat sekelas Muhammad Ali saja bisa terkena penyakit melumpuhkan semacam parkinson. Kitapun lantas jadi lebih berhati-hati dengan resiko pekerjaan/profesi kita. Nah, berkat berita di teve itu, berubahlah nasib kita dari yang berpotensi menderita penyakit karena resiko pekerjaan (kalau profesinya sebagai petinju resikonya ya terkena parkinson itu) menjadi berpotensi berumur panjang dan tetap sehat wal-afiat!

Para blogger yang senantiasa mendapat petunjuk dari Allah swt,

Dari penjelasan di atas, terbukti bahwa kemajuan jaman memang memberikan pengaruh dalam kehidupan manusia. Hal ini tidak terkecuali dengan kemajuan di bidang IT. Tetapi sebenarnya sama saja pengaruhnya, apapun bidang kemajuannya itu, yaitu memberikan pengaruh pada bagaimana manusia mengelola nasib hidupnya. Kemajuan di bidang IT ini juga membuat nasib manusia berubah dengan cepat. Bisa dicontohkan dengan cerita singkat sebagai berikut.

Kita memiliki seorang sahabat yang lama tidak bertemu. Pada suatu kesempatan secara kebetulan kitapun dipertemukan dengan sahabat itu. Tetapi karena kesibukan masing-masing, kita tidak sempat berlama-lama dengan sahabat kita itu. Jadi setelah melepas rindu sekedarnya, ngobrol sekedarnya, kemudian saling tukar nomor handphone. Dari situ kita jadi tahu bahwa sahabat kita itu ternyata telah berkeluarga selama tinggal di kota yang jauh dari tempat tinggal kita, dan sekarang ini istrinya tengah hamil tua. Beberapa waktu kemudian ada kesempatan sahabat kita itu menelepon kita. Setelah ngobrol lama ke sana ke mari kitapun tahu bahwa istri sahabat kita itu baru saja lahir. Akhirnya sahabat kita itu mengundang kita datang ke rumahnya untuk menghadiri perayaan anak pertamanya yang baru saja lahir itu dengan waktu yang telah disepakati bersama. Kitapun datang, karena kebetulan ada kesempatan. Nah, ketika kita tiba di kota tempat sahabat kita itu, di tengah perjalanan kita berkenalan dengan seorang karyawati sebuah swalayan setempat. Karena merasa ada kecocokan, kitapun saling tukar nomor handphone.

Sampai di sini penulis berhenti karena para blogger tentu sudah bisa menebak bagaimana akhir kisah tersebut. Yang penting adalah, jika kita tidak bertemu sahabat lama kita itu, mungkinkan kita akan segera dipertemukan dengan karyawati sebuah swalayan di kota yang jauh dari tempat tinggal kita itu? Kemungkinan dipertemukan memang bisa lewat jalan lain. Hanya kesegaraannya itulah yang tidak mungkin secepat kalau kita bertemu sahabat kita itu dan kemudian berhubungan lewat handphone.

Para blogger yang bernasib baik,

Dari pembahasan tersebut dapat kita simpulkan bahwa peran kemajuan peradaban manusia, apapun bidangnya, berpengaruh besar terhadap jalannya nasib manusia dan bagaimana manusia mengelola atau memanage nasib hidupnya. Seberapa cepatnya perubahan nasib yang terjadi tergantung dari bagaimana kita mengelola ataupun memanage kemajuan yang terjadi–dan sedang berlangsung–di sekitar kita itu. Adapun dampak yang ditimbulkannya, apakah berdampak positif atau berdampak negatif, tergantung dari seberapa bijaksana kita dalam memegang wewenang sebagai pengelola (bahasa kerennya sebagai manager) dari kemajuan peradaban jaman yang dikaruniakan Allah swt kepada kita itu.

Marilah kita sama-sama berdoa agar Allah swt senantiasa menunjukkan jalan pada kita semua meskipun kita tidak tinggal di jaman yang memiliki peradaban paling maju di dunia ini agar kita senantiasa memiliki inspirasi dalam mengubah nasib kita sendiri melalui cara apapun. Karena sebagaimana kita yakini hanya Dia-lah sebaik-baik pemberi petunjuk.

Robbanaa aatinaa fid-dunya khasanah, wa fil aakhirati khasanah, wa qina adzaban naar

Alhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin

As-salaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh

As-salaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh

Asy-hadu al-la ilaaha illallaah wa asy-hadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuulullaah

Allaahumma shalli wa sallim wa barik ‘alaa sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aalihi wa shahbihi aj-ma’iin

Para blogger yang dikasihi Allah,

Sejak generasi-generasi muda Islam memiliki pemahaman keislaman lebih baik dari generasi-generasi Islam sebelumnya, banyak konsep keislaman muncul ditawarkan di berbagai bidang. Contohnya antara lain konsep Bank Syariah yang kemunculannya seiring dengan makin terpuruknya sistem kapitalisme modern ala barat. Tidak terkecuali di dunia pendidikan, juga banyak bermunculan konsep-konsep pendidikan Islami ditawarkan mulai dari sekolah Islam hingga perguruan tinggi Islam. Nah, khusus mengenai pendidikan tinggi Islam ini, penulis ingin mengungkap rahasia, yaitu tentang bagaimana kurikulum pendidikan ini dilaksanakan, terutama mengenai pengajaran prosanya.

Pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan konsep pendidikan Islam yang ada sekarang ini, yaitu meletakkan al-Quran sebagai kajian yang tidak boleh ditinggalkan bahkan kedudukan al-Quran ini adalah yang paling dan paling utama di antara kajian-kajian prosa lainnya. Penulis bukan bermaksud menganjurkan para blogger untuk seenak sendiri mempelajari al-Qur’an tanpa perlu lagi bimbingan siapa-siapa, akan tetapi penulis hanya ingin mengajak semua blogger, terutama yang beragama Islam, untuk tidak lupa menggali sendiri ke kedalaman ilmunya sendiri tentang al-Qur’an.

Robbanaa aatinaa fid-dunya khasanah, wa fil aakhirati khasanah, wa qina adzaban naar

Alhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin

As-salaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh

As-salaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh

Asy-hadu al-la ilaaha illallaah wa asy-hadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuulullaah

Allaahumma shalli wa sallim wa barik ‘alaa sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aalihi wa shahbihi aj-ma’iin

Para blogger yang dirahmati Allah,

Setiap kita terbangun di waktu subuh sering kita mendengar orang melagukan pujian seusai adzan subuh berkumandang. Tidak jarang di siang hari pula di waktu dhuhur dan ashar. Dan ketika rembang petang menjelang, kembali pujian ini berkumandang setelah adzan maghrib. Dan sebelum kita beranjak ke tempat tidur, sekali lagi kita mendengar pujian dilagukan seusai adzan isya’. Tidak jarang, pujian-pujian yang dilagukan itu berupa shalawat kepada Nabi, yaitu Nabi Muhammad saw. Nah, khusus tentang shalawat ini, bagaimana sebenarnya melagukan shalawat ini? Berikut beberapa kutipan yang berhasil penulis himpun dari berbagai sumber di Internet.

Asal-muasal melagukan Dikia Salawat konon diawali oleh Siti Aqasah, bibi Nabi, yang sering kali menyenandungkan keberuntungan Siti Aminah yang melahirkan seorang bayi bernama Muhammad. Seiring dengan itu Abdul Muthalib, kakek Nabi, di setiap kesempatan tidak lupa pula meninabobokan cucunya dengan segala macam sanjungan dan harapan. Seterusnya, melagukan doa atau pujian atas Muhammad pun selalu diulangi para sahabat, pada upacara memperingati Maulid Nabi, 12 Rabiulawal. [http://letter5today.blogspot.com/2011/07/tradisimelagukan-shalawat-dan-puji.html]

Shalawat Badar adalah “Lagu Wajib” Nahdlatul Ulama. Berisi puji-pujian kepada Rasulullah SAW dan Ahli Badar (Para Sahabat yang mati syahid dalam Perang Badar). Berbentuk Syair, dinyanyikan dengan lagu yang khas.

Shalawat Badar digubah oleh Kia Ali Mansur Banyuwangi, salah seorang cucu dari KH. Muhammad Shiddiq Jember tahun 1960. Kiai Ali Mansur  saat itu menjabat Kepala Kantor Departemen Agama Banyuwangi, sekaligus menjadi Ketua PCNU di tempat yang sama. …
Segera saja Kiai Ali Mansur mengambil kertas yang berisi Shalawat Badar hasil gubahannya semalam, lalu melagukannya dihadapan mereka.  Secara kebetulan Kiai Ali Mansur juga memiliki suara bagus. Ditengah alunan suara Shalawat Badar itu para Habaib mendengarkannya dengan khusyuk. Tak lama kemudian mereka meneteskan air mata karena haru. [http://pembela-aswaja.blogspot.com/2012/08/sejarah-sholawat-badar.html]

Demikianlah sedikit kutipan tentang melagukan shalawat. Adapun apa sebenarnya manfaat dari melagukan shalawat ini penulis belum mendapatkan referensi yang sesuai. Hanya saja sepanjang pengamatan penulis, apabila ditinjau dari sisi dakwah keislaman maka manfaatnya adalah untuk ‘menyentuh’ hati pendengarnya dalam mengikuti jalan Islam yang benar. Mengapa dikatakan untuk ‘menyentuh’ hati?

Telah kita ketahui bersama bahwa lagu-lagu itu sebenarnya sudah menjadi kebudayaan dari kehidupan kita umat manusia. Nah, tentunya ‘sentuhan’ itu akan lebih mengena bukan jika pendekatan yang kita lakukan pun tidak jauh-jauh dari kebudayaan kita sendiri, yang dalam hal ini adalah lagu?

Namun demikian meskipun cara pendekatan melalui lagu ini sudah tepat, tetap perlu diperhatikan bahwa ini tidak lantas dilakukan secara sembarangan. Khusus dalam artikel ini, penulis ingin berbagi soal tips tentang bagaimana cara melagukan shalawat itu biar bisa ‘menyentuh’ hati pendengarnya.

As-salaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh

Asy-hadu al-la ilaaha illallaah wa asy-hadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuulullaah

Allaahumma shalli wa sallim wa barik ‘alaa sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aalihi wa shahbihi aj-ma’iin

Para blogger yang dirahmati Allah,

Penulis teringat ketika masih muda dulu kita dituntut untuk segera menentukan ‘destiny‘ kita di masa depannya. Apakah kita mau jadi pegawai negeri, pengusaha UKM, karyawan swasta, buruh pekerja, dan lain sebagainya. Alih-alih memikirkan hal yang telah lalu, penulis lalu teringat pada seorang tokoh dunia yang pemikirannya sebenarnya bisa menginspirasi generasi muda yang sekarang untuk segera berbuat sesuatu demi ‘destiny’ mereka di masa depan itu. Namun sebelum penulis melakukan pembahasan secara lebih mendalam, marilah kita cermati beberapa kutipan berikut.

Ford menemukan cara bagaimana dapat membuat produk sebanyak mungkin dengan sumber dayayang memang melimpah di Amerika. Sehingga tercetuslah sistem produksi massal yang pertama padasaat itu. Sistem produksi massal itu sendiri terarah pada menghasilkan banyak produk dengan waktusingkat , membuat aliran produksi tidak terputus sepanjang proses,namun dengan varietas yang rendah. Sehingga dalam perkembangannya mengikuti perkembanganperekonomian dunia yang naik turun terutama saat perang dunia, terjadi penumpukan barang-barangdi gudang dan timbullah pemborosan yang juga merupakan cost bagi perusahaan tersebut.Di belahan dunia lain yaitu Toyota yang merupakan sebuah perusahaan otomotif di Jepang, berusahauntuk mengembangkan perusahaannya, salah satunya dengan mempelajari sistem produksi yangditerapkan oleh Ford. [http://www.scribd.com/doc/106583547/Perbedaan-Sistem-Produksi-Ford-Dan-Toyota]

Henry Ford adalah seorang pengusaha yang memperkenalkan konsep lini perakitan mobil menjadi industrialis yang memelopori produksi mobil massal. [http://blogmotivasi.com/3-kunci-sukses-henry-ford-yang-wajib-kita-tiru/]

Sebenarnya, tugas dari Eiji Toyoda bagi Taiichi Ohno adalah untuk “mengejar produktivitas Ford” bukan berarti perusahaan harus bersaing langsung dengan Ford, tetapi Ohno hanya perlu berfokus dalam meningkatkan manufaktur Toyota untuk pasar Jepang yang terlindungi. Selanjutnya, yang dilakukan oleh Ohno adalah mempelajari pesaing (Ford) dengan melakukan kunjungan selanjutnya ke pabrik Ford di AS. Ohno juga mempelajari buku Henry Ford, Today and Tomorrow. Pada akhirnya, salah satu yang menurut Ford perlu dikuasai oleh Toyota adalah proses produksi yang mengalir secara kontinu, sesuai dengan jalur perakitan bergerak milik Ford. Henry Ford telah memecahkan tradisi produksi pengrajin dengan membentuk paradigma produksi massal untuk memenuhi kebutuhan pada awal abad ke-20. Sebuah kunci keberhasilan dari produksi massal adalah perkembangan dari mesin pemrosesan yang presisi dan komponen yang dapat dipertukarpasangkan. Dengan menggunakan prinsip gerakan manajemen ilmiah yang dipelopori Frederick Taylor, Ford juga sangat bergantung pada Time Study, spesialisasi tugas pada para pekerja, dan pemisahan antara perencanaan yang dilakukan oleh para insinyur dan pelaksanaan yang dilakukan oleh para pekerja.

One Piece Flow

Dalam buku Today and Tomorrow, Ford juga menekankan akan pentingnya menciptakan aliran proses yang tidak terputus sepanjang proses, menstandarisasikan proses, dan menghilangkan pemborosan. Walaupun Ford telah mengemukakan poin-poin penting tersebut, perusahaannya sendiri tidak selalu mempraktikannya. Perusahaan Ford menghasilkan jutaan Model T berwarna hitam dan kemudian Model A dengan menggunakan metode produksi batch yang penuh dengan proses pemborosan, yang membentuk tumpukan persediaan barang dalam proses di sepanjang supply chain. Toyota memandang hal itu sebagai kekurangan yang melekat dalam sistem produksi massal Ford. Namun, perusahaan Toyota bertekad menggunakan ide orisinil Ford mengenai aliran material yang tidak terputus, untuk mengembangkan sistem one-piece-flow yang secara fleksibel dan efisien dapat diubah sesuai permintaan pelanggan. [http://faqih-rizza.blogspot.com/2010/04/asal-mula-ford.html]

Para blogger yang penuh semangat kemandirian,

Siapa yang tak kenal Henry Ford? Dia adalah, sebagaimana penulis simpulkan berdasar kutipan bercetak tebal di atas, penemu industrialisasi mobil dengan cara mengembangkan sistem produksi yang lebih efektif dan lebih efisien. Tetapi sayangnya tidak semua konsep Ford dalam bidang produksi mobil itu selalu dipatuhi penerapannya oleh perusahaannya sendiri, hal mana mengakibatkan penumpukan barang-barangdi gudang dan timbullah pemborosan yang juga merupakan cost bagi perusahaan tersebut. Akan tetapi memang patut diakui bahwa pengaruh cara produksi yang diperkenalkan Ford itu bagi industri-industri sudah sangat besar dan meluas. Sayang bukan jika kita tidak mengenalnya. Apalagi prinsip ini sebenarnya sangat mudah untuk dipelajari, diadopsi, dan dipraktekkan meskipun dalam skala UKM (Usaha Kecil-Menengah).

Prinsip Dasar

Apa yang dikonsepkan oleh Ford itu sebenarnya adalah sesuatu yang masuk akal. Suatu misal kita memproduksi barang berupa radio transistor. Maka dapatlah kita memisahkan bagian produksinya menjadi unit perancangan PCB, unit pemasangan komponen, dan unit penyolderan. Unit perancangan PCB melaksanakan tugasnya sendiri dan tidak perlu mengerjakan penyolderan. Demikian juga unit penyolderan tidak perlu mengerjakan pemasangan komponen dalam PCB-nya. Begitu seterusnya. Jadi tidak ada perlunya lagi repot-repot mengerjakan tiga pekerjaan sekaligus mulai dari merancang PCB, memasangkan komponen,hingga menyolder, sehingga tidak bolak-balik ke sana ke mari. Kecuali jika kita hanya memproduksinya secara kecil-kecilan dan tidak secara massal seperti yang dilakukan Ford itu, maka prinsip dasar ini tidak berlaku.

Adapun di level perusahaan Ford ini, unit produksinya kira-kira dibagi menjadi unit pembuatan rangka dasar mobil (yang perencanaannya bisa meliputi mana bagian rangka untuk tempat body mobil, mana untuk kemudi, mana untuk roda-roda, dan mana untuk ruang mesinnya), kemudian unit pembuatan body (bisa meliputi bagian pintu, kap depan, atap, dan seterusnya), unit pembuatan mesin (ini bagian paling rumitnya yang perlu insinyur khusus di bidangnya), unit pembuatan kemudi, dan seterunya hingga jika semua hasil kerja tiap unit itu disatukan nantinya akan membentuk sebuah mobil sesuai dengan rancangannya.

Pengembangan

Nah, setelah prinsip dasarnya diketahui, selanjutnya tinggal mengembangkannya ke dalam ide yang lebih berbobot. Konsep Ford ini sebenarnya tidak hanya bisa diterapkan ke dalam satu bentuk usaha di mana usaha tersebut memerlukan banyak unit yang memproses jalannya produksi. Maksud penulis begini, konsep Ford ini sebenarnya bisa kita kembangkan ke dalam suatu pemilihan bentuk usaha, yang dalam hal ini adalah usaha berbentuk UKM. Lho, kok bisa?

Para blogger yang penuh pengertian,

Katakanlah kita telah memiliki sejumlah uang sehingga pada akhirnya mampu membeli sebuah mesin pemotong kertas. Nah, teringat dengan prinsip Ford, dengan modal satu mesin pemotong kertas itu kita sudah bisa membuka usaha jasa pemotongan kertas. Ya. Hanya dengan menspesialisasi ke dalam jasa pemotongan saja, bukan yang lainnya.

Memang berapa keuntungan yang akan kita dapatkan?

Secara kasar perhitungannya begini. Misalkan pemotongan satu buku biayanya Rp. 100,-. Bagaimana jika yang dipotong itu jumlah 1.000 eksemplar? Atau malah lebih? Belum lagi jika dalam sehari kita bisa menerima permintaan untuk pemotongan ini sebanyak 5 kali, atau malah lebih! Bisa dibayangkan bukan bahwa akan banyak keuntungan yang bisa diperoleh? Padahal sebenarnya yang kita lakukan hanyalah bekerja ‘memotongi kertas-kertas” saja.

Kesesuaian dengan Ajaran Islam

Bagaimana dengan ajaran Islam sendiri? Dalam sebuah hadits disebutkan demikian:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ، يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ

Artinya: Barangsiapa yang melepaskan seorang mukmin daripada satu kesusahan daripada kesusahan-kesusahan dunia, nescaya Allah akan melepaskannya daripada satu kesusahan daripada kesusahan-kesusahan Qiamat. Barangsiapa yang mempermudahkan bagi orang susah, nescaya Allah akan mempermudahkan baginya di dunia dan di akhirat. (Hadis diriwayatkan oleh al-lmam Muslim)

Nah, apa yang dilakukan oleh Ford itu merupakan suatu upaya terobosan untuk mempermudah itu. Bukan hanya sesuatu yang mempermudah itu akan membantu proses produksi, tetapi bagi Ford, misa melejit ke arah produksi massal. Khusus bagi kita yang berada dalam skala kerja UKM, tidak perlulah persis-persis seperti Ford itu. Kecuali satu yang boleh persis seperti Ford, yaitu kekayaan yang brhasil dihasilkan atau dikumpulkan dari hasil usaha sendiri.

Demikianlah mudah-mudahan ada manfaatnya, terutama bagi yang tengah merintis usaha.

Robbanaa aatinaa fid-dunya khasanah, wa fil aakhirati khasanah, wa qina adzaban naar

Alhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin

As-salaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh

As-salaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh

Asy-hadu al-la ilaaha illallaah wa asy-hadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuulullaah

Allaahumma shalli wa sallim wa barik ‘alaa sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aalihi wa shahbihi aj-ma’iin

Para blogger yang dirahmati Allah,

Tanpa kita sadari, sebenarnya sudah terlalu lama kita memakai ‘kaca mata’ teori tentang pembagian wacana dari para pakar bahasa. Akibat dari penggunaan kaca mata ini sudut pandangan kitapun jadi banyak dipengaruhi oleh teori para ahli itu. Apa yang dikatakan salah akan nampak salah dalam pandangan kita, dan sebaliknya apa yang dikatakan benar akan nampak benar dalam pandangan kita. Tetapi bagaimana jika penulis katakan bahwa teori tentang pembagian wacana yang selama ini kita anut dan pelajari di sekolah itu sebenarnya tidak keseluruhannya tepat dalam menyatakan mana yang salah dan mana yang benar? Hal ini dikarenakan bahwa di antara para pakar bahasa itu sebenarnya masih belum ada kesamaan pendapat mengenai pembagian wacana. Nah, jika di antara para pakar bahasa sendiri masih belum ada kesamaan pendapat, bagaimana kita bisa mengatakan bahwa teori yang ini benar, teori itu salah? Tentunya untuk bisa menyatakan bahwa teori ini yang benar dan yang lain salah maka teorinya sendiri itu mestinya telah mengandung kebenaran yang sesungguhnya, bukan?

Sebuah kutipan menyatakan:

Kita sering mendengar kata wacana. Tapi tahukah kita apa wacana itu sesungguhnya? Sampai saat ini batasan atau definisi wacana yang dikemukakan para ahli masih beragam. Antara definisi satu dan yang lainnya terdapat perbedaan. Hal ini semata-mata disebabkan karena sudut pandang yang digunakan para ahli tersebut berbeda. [http://pusatbahasaalazhar.wordpress.com/pesona-puisi/pembagian-jenis-jenis-wacana-genre-teks/]

Kutipan yang lain menyatakan:

Beberapa pakar memerikan pengertian wacana, yaitu antara lain:

Collins Concise English Dictionary (1988)
Wacana adalah (1) komunikasi verbal, ucapan, percakapan; (2) sebuah perlakuan formal dari subjek dalam ucapan atau tulisan; (3) sebuah unit teks yang digunakan oleh linguis untuk menganalisis satuan lebih dari kalimat.
Longman Dictionary of the English Language (1984)
Wacana adalah (1) sebuah percakapan khusus yang alamiah formal dan pengungkapannya diatur pada ide dalam ucapan dan tulisan; (2) pengungkapan dalam bentuk sebuah nasihat, risalah dan sebagainya; sebuah unit yang dihubungkan ucapan atau tulisan.
J.S. Badudu (2000)
Wacana adalah (1) rentetan kalimat yang berkaitan, yang menghubungkan proposisi yang satu dengan yang lainnya, membentuk satu kesatuan, sehingga terbentuklah makna yang serasi di antara kalimat-kalimat itu; (2) kesatuan bahasa yang terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat atau klausa dengan koherensi dan kohesi yang tinggi berkesinambungan, yang mampu mempunyai awal dan akhir yang nyata, disampaikan secara lisan atau tertulis.
Hawthorn (1992)
Wacana adalah komunikasi kebahasaan yang terlihat sebagai sebuah pertukaran di anatara pembicara dan pendengar, sebagai sebuah aktivitas personal di amna bentuknya ditentukan oleh tujuan sosialnya.
Roger Fowler (1977)
Wacana adalah komunikasi lisan atau tulisan yang dilihat dari titik pandang kepercayaan, nilai dan kategori yang masuk di dalamnya; kepercayaan di sini mewakili pandangan dunia; sebuah organisasi atau representasi dari pengalaman.
Foucault (1972)
Wacana adalah kadang kala sebagai bidang dari semua pernyatan (statement), kadang kala sebagai sebuah individualisasi kelompok pernyataan, dan kadang kala sebagai praktik regulatif yang dilihat dari sejumlah pernyataan. [http://www.referensimakalah.com/2012/01/pengertian-wacana-menurut-pakar_6554.html]
Selain itu, dalam melakukan penggolonganpun para pakar tidak terlihat melakukan semuanya. Mari kita perhatikan kutipan berikut:
Berdasarkan saluran komunikasinya, wacana dapat dibedakan atas; wacana lisan dan wacana tulis. Wacana lisan memiliki ciri adanya penutur dan mitra tutur,bahasa yang dituturkan, dan alih tutur yang menandai giliran bicara. Sedangkan wacana tulis ditandai oleh adanya penulis dan pembaca, bahasa yang dituliskan dan penerapan sistem ejaan.
Wacana dapat pula dibedakan berdasarkan cara pemaparannya, yaitu wacana naratif, wacana deskriptif, wacana ekspositoris, wacana argumentatif, wacana persuasif, wacana hortatoris, dan wacana prosedural. [http://cenya95.wordpress.com/2008/10/18/arti-wacana/]
Jelas terlihat di sini bahwa bentuk-bentuk seperti artikel, puisi, pantun, dan sebagainya itu tidak disebutkan. Padahal bukankah bentuk-bentuk seperti itu sudah jelas-jelas ada dan malah sebagian besarnya, kalau tidak bisa dikatakan sedikit, sudah menjadi keseharian kita sebagaimana koran, majalah dan bentuk publikasi tertulis lainnya itu kita kenal dan menjadi keseharian kita seperti sekarang ini?

Rekonstruksi Teori Pembagian Wacana

Pertama-tama marilah kita mencoba menemukan definisi yang tepat tentang wacana itu. Yang bercetak tebal menunjukkan kesesuaiannya dengan pembahasan ini.

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia wacana adalah : 1) Komunikasi verbal ; percakapan ; 2) Keseluruhan tutur yang merupakan suatu kesatuan ; 3) Satuan bahasa terlengkap yang direalisasikan dalam bentuk karangan atau laporan utuh, seperti novel, buku, artikel, pidato atau khotbah ; 4) Kemampuan atau prosedur berpikir secara sistematis ; kemampuan atau proses memberikan pertimbangan berdasarkan akal sehat ; 5) Pertukaran ide secara verbal. [http://ramdayanisiti.blogspot.com/2013/02/jenis-jenis-wacana-narasi-deskripsi.html]

Menurut Kridalaksana, wacana adalah satuan bahasa terlengkap, dalam hierarki gramatikal merupakan kesatuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Wacana ini direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh (novel, buku, seri ensiklopedia, dsb.), paragraph, kalimat, atau kata yang membawa amanat yang lengkap. [http://www.referensimakalah.com/2012/01/pengertian-wacana-menurut-pakar_6554.html]

Sebenarnya masih banyak pakar yang lainnya. Akan tetapi penulis memilihkan yang–menurut pertimbangan pengalaman penulis–lebih mengena dan sesuai dengan kenyataannya. Dikatakan mengena karena memang definisi inilah yang lebih tepat. Dikatakan sesuai dengan kenyataannya karena kenyataannya memang demikianlah wacana yang kita jumpai dalam keseharian kita. Adapun definisi yang berbeda di antara para ahli adalah karena para ahli meninjaunya dari sudut pandang yang berlain-lainan. Berikut adalah kutipannya yang menjadi bukti.

Lebih jauh, pengertian wacana dapat dibatasi dari dua sudut yang berlainan. Pertama dari sudut bentuk bahasa, dan kedua, dari sudut tujuan umum sebuah karangan yang utuh atau sebagai bentuk sebuah komposisi.

Dari sudut bentuk bahasa, atau yang bertalian dengan hierarki bahasa, yang dimaksud dengan wacana adalah bentuk bahasa di atas kalimat yang mengandung tema ini biasanya terdiri atas alinea-alinea, anak-anak bab, bab-bab, atau karangan-karangan utuh, baik yang terdiri atas bab-bab maupun tidak.[http://www.referensimakalah.com/2012/01/pengertian-wacana-menurut-pakar_6554.html]

Wacana secara kasat mata dapat dibedakan berdasarkan struktur generik (generic structure) danfitur-fitur bahasanya (language features). Yang disebut struktur generik di sini adalah struktur yang terbentuk dari perbedaan fungsi-fungsi paragraf dalam membangun sebuah wacana (sepertitesis, argumen, klimaks, dst). Yang disebut fitur bahasa di sini adalah penggunaan atau pemanfaatan bahasa (baik itu tata bahasa maupun diksinya) untuk membangun sebuah wacana. [http://www.scribd.com/doc/134482563/Pembagian-Jenis-jenis-Wacana]

Ditinjau dari sudut bahasa mungkin wacana memiliki definisi yang berbeda seperti itu. Akan tetapi tujuan dari dibuatnya teori itu sendiri sebenarnya untuk membantu agar yang mengenakan ‘kaca mata’ teori itu menjadi ‘bisa melakukan’ dan bukan hanya sekedar ‘bisa melihat atau memiliki pandangan’ saja.

Robbanaa aatinaa fid-dunya khasanah, wa fil aakhirati khasanah, wa qina adzaban naar

Alhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin

As-salaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh

Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh

Asy-hadu al-la ilaaha illallaah wa asy-hadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuulullaah

Allaahumma shalli wa sallim wa barik ‘alaa sayyidinaa Muhammad wa ‘ala aalihi wa shahbihi aj-ma’iin

Para blogger yang bijaksana,

Siapa yang tidak kenal dengan bentuk tulisan berupa artikel? Di jaman seperti sekarang ini, meskipun dikatakan sebagai era globalisasi ataupun era informasi teknologi, sudah semestinya ada yang mengenalnya karena bagaimanapun juga artikel merupakan salah satu langgam tulisan sebagaimana puisi ataupun pantun. Al-Quran juga merupakan bentuk langgam penulisan. Akan tetapi langgam ini hanya Allah SWT sajalah yang menguasainya. Karena itu kurang tepat rasanya membandingkan langgam Yang Maha Kuasa ini dengan langgam manusia biasa seperti kita ini. Adalah lebih bijaksana jika lebih fokus saja pada salah satu langgam penulisan yang kita umat manusia kuasai saja. Hal ini agar tidak menyalahi apa yang telah difirmankan Allah SWT sendiri dalam al-Quran.

فَلْيَأْتُوا۟ بِحَدِيثٍ مِّثْلِهِۦٓ إِن كَانُوا۟ صَٰدِقِينَ

Artinya: Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al Quran itu jika mereka orang-orang yang benar. (QS. At-Tur [52] : 34)

Nah, mengingat bentuk artikel inipun bermacam-macam pula (ada artikiel narasi, artikel eksposisi, dan lain sebagainya sebagaimana nanti kita bahas), maka sudah bisa mengenali langgam tulisan kita tergolong apa masih belum cukup. Ibaratnya seseorang yang telah menemukan bidang pekerjaannya sebagai dokter, maka ia harus lebih spesifik lagi pada spesialisasinya. Kalau memang dokter lalu dokter apa? Apakah dokter gigi, dokter anak, dokter kandungan, dan lain sebagainya. Maka demikianlah jika seseorang itu telah menemukan bahwa dia seorang penulis artikel, maka pertanyaan berikutnya yang harus dijawabnya adalah penulis artikel apa?

Para blogger yang budiman,

Sebelum kita melangkah lebih jauh, perlu penulis ketengahkan kepada para blogger tentang pengajaran bahasa di sekolah kita. Memang, permasalahan pentingnya menentukan spesialisasi ini juga dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan formal yang dalam hal ini pendidikan bahasa di sekolah. Dalam pelajaran bahasa dan sastra di sekolah sering diajarkan bentuk-bentuk wacana. Sementara di antara para ahli bahasa sendiri masih belum ada kata sepakat mengenai pembagian-pembagian wacana, kita seakan tidak diberikan opsi lagi bagaimana sebaiknya belajar mengenai wacana ini. Ya, sampai di sini penulis tidak setuju. Mestinya kita tidak perlu mengikuti pembagian di antara para ahli sementara para ahlinya sendiri tidak kelihatan sepakat satu sama lainnya. Benar ‘kan? Penulis sendiri bukanlah seorang pakar di bidang ini. Tetapi berdasar pengalaman penulis sendiri dalam menulis artikel, mestinya dalam mengajarkan bentuk-bentuk wacana itu kita langsung menunjuk pada bentuk langgamnya itu. Dengan kata lain dalam pelajaran menulis kita langsung pada pelajaran bagaimana menulis artikel itu, misalnya, atau bagaimana menulis pantun, bagaimana menulis puisi. Atau kalau pelajarannya berbentuk teoritis, maka pelajarannya menjadi mengenali bentuk-bentuk artikel misalnya, mengenali bentuk-bentuk puisi, mengenali bentuk-bentuk pantun. Hal ini penting untuk memulainya dengan cara ini. Mengapa? Salah satu alasan pentingnya adalah untuk mengantisipasi perkembangan selanjutnya di masa depannya. Mungkin pada jaman dulu artikel masih belum begitu banyak ragamnya. Tetapi pada perkembangan selanjutnya artikel ini bukan hanya ditulis untuk majalah, surat kabar, dan lain sebagainya bentuk penerbitan, di mana satu dan yang lain memiliki ciri masing-masing. Sekarang ini bentuk artikel telah mengalami perkembangan yang sangat pesat, yaitu dengan kemunculan ragam artikel online! Entah perkembangan apa lagi yang akan dialami artikel ini di tahun-tahun ke depannya.

Satu yang penulis rasakan sebagai suatu ganjalan di benak penulis mengenai artikel ini sebagai salah satu langgam penulisan. Pada saat orang bicara mengenai pekerjaan seseorang, maka yang muncul adalah pernyataan ‘ya memang begitu’ harusnya seseorang itu. Misalnya mahasiswa yang kos. Kalau ada komentar mahasiswa kok kos, pasti akan dijawab dengan segera ‘ya memang begitu’. Tetapi saat mendengar kata artikel, komentarnya menjadi lain: orang pandai kok menulis artikel. Lho, bukankah ini adalah komentar yang lucu? Sekarang kalau penulis balik pertanyaannya, memangnya orang pandai itu harusnya bagaimana dalam menulis? Kesannya jadi menulis artikel itu kurang keren bagi orang pandai. Padahal ada contohnya orang pandai yang sangat suka menulis artikel. Isaac Asimov misalnya. Telah banyak artikel yang diterbitkannya.

Masih ada lagi ganjalan lainnya. Penulis seperti mendapat kesan bahwa karena al-Quran adalah kitab yang tidak terbantah dan tertandingi lagi, maka karya tulis apapun tidak akan bisa menandingi kehebatan al-Quran. Dan karena tidak dapat menandingi kehebatan al-Quran maka tidak akan ada satu bentuk tulisan yang bisa dibuat. Terus terang penulis tidak mengerti, kenapa kehebatan al-Quran justru tidak bisa membuat seseorang menulis. Bukankah banyak tulisan dipublikasikan dengan mengambil sumber utamanya adalah al-Quran? Bahkan penulis puisipun bisa menerbitkan buku, yaitu buku yang berisi kumpulan puisi. Ini adalah argumentasi yang mematikan, yaitu mematikan semangat untuk berkreasi!

Para blogger yang baik hati,

Kita sama-sama mengerti bahwa ilmu apapun itu namanya, mestinya kalau digunakan akan membuat ‘pengguna’ ilmu itu menjadi ‘mampu’ dan bukan malah sebaliknya. Hal ini sesuai dengan yang dicontohkan al-Qur’an sendiri yang terbukti mampu membuat pembacanya menggali berbagai sumber untuk tulisan-tulisan berbobot. Maka demikianlah hendaknya keberadaan ilmu bahasa.

Namun demikian ada hal menarik yang dikemukakan oleh ilmu bahasa. Artikel ini sebenarnya digolongkan pada prosa, untuk membedakannya dengan puisi ataupun pantun. Alih-alih mengkritik sistem pengajaran bahasa, penulis tergelitik untuk membuat semacam seruan, ya katakanlah slogan atau yang mirip dengan itulah, untuk lebih menggiatkan upaya perkembangan ilmu pengetahuan pada umumnya dan dunia tulis-menulis pada khususnya. Itulah sebabnya tulisan ini penulis beri judul: Gunakan Prosamu!

Akan ada banyak jalan memang kalau kita mau berupaya. Semoga bermanfaat.

Robbanaa aatinaa fid-dunya khasanah, wa fil aakhirati khasanah, wa qina adzaban naar

Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh